Tips Puasa Ramadan untuk Lansia

tips puasa ramadan untuk lansia



Bagi yang usianya sudah lanjut memang tidak diwajibkan puasa ramadan. Hanya saja banyak lansia yang memang ingin tetap menjalankan puasa ramadan. Mereka beralasan "mumpung masih kuat puasa". Ini alasan kedua orang tua dan mertua saya. Tentu saja saya dan semua anak-anak beliau tidak akan melarang. Bulan Ramadan adalah bulan dengan banyak pahala, yang dilipatgandakan saat beribadah. Termasuk ibadah puasa.

Ibu dan Bapak sudah terbiasa puasa senin kamis. Jadi saya tidak terlalu khawatir. Insyaa Allah beliau berdua aman menjalankan puasa ramadan. Saya hanya perlu ekstra perhatian pada Ibu Mertua. Beliau sudah berumur hampir 80 tahun. Tidak pernah menjalankan puasa sunnah plus ada penyakit bawaan. Tenang. Banyak tips lansia puasa Ramadan tetap sehat.

Qodarullah Ibu dan mertua sakit bergantian mulai akhir Februari. Beliau berdua butuh masa penyembuhan yang lumayan lama. Sebenarnya saat awal bulan puasa masih masuk masa penyembuhan. Beliau semangat untuk menjalankan puasa ramadan. Kami sebagai anak hanya bisa mengiyakan. Bismillah Ibu, Bapak dan Mertua diberikan kesehatan dan kekuatan bisa menjalankan puasa Ramadan hingga akhir.

Sebelum masuk bulan puasa, saya membuat berbagai persiapan. Hal ini harus dilakukan demi menilik riwayat kesehatan Ibu dan Mertua. Tidak sulit sebenarnya. Hanya perlu disiplin tinggi. Berikut ini tips berpuasa di bulan Ramadan untuk lansia:

1. Wajib Sahur
Ibu saya termasuk yang malas sahur dengan makan lengkap. Beliau biasanya sahur hanya minum air putih saat puasa sunnah. Kalau sahur dengan makan roti pun jarang. Puasa Ramadan adalah ibadah marathon. Puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh. Berbeda dengan puasa senin kamis. Stamina tubuh harus dijaga mulai awal puasa hingga akhir. Selain itu salah satu berkah puasa Ramadan ada di makan sahur.

Ibu makan sahur ala kadarnya saat Puasa Ramadan sebelum-sebelumnya. Saat ini, Ibu baru sembuh dari sakit. Tugas besar saya adalah memaksa Ibu untuk sahur dengan makan nasi, lauk dan sayur. Bukan berarti Ibu harus makan besar dengan porsi banyak setiap sahur. Saya hanya memastikan ada karbohidrat, protein dan sayuran dalam setiap piring. Untuk masalah porsi makan, saya bebaskan. Ibu memang terbiasa makan hanya sedikit. Pokoknya tidak boleh sahur hanya minum air putih atau makan roti. Ini adalah tantangan paling berat karena Ibu memang tidak suka makan dini hari.

2. Cukup Minum Air Putih
Dokter menganjurkan untuk mengkonsumsi air putih yang cukup selama puasa Ramadan. Saya tidak menghawatirkan Bapak dan Mertua, yang memang punya kebiasaan banyak minum air putih. Saya jadi bisa fokus untuk mengawasi asupan air minum untuk Ibu. Beliau butuh perjuangan ektra agar bisa minum banyak air putih. 

Saya pakai sistem minum air putih dengan cara mencicil. Ibu biar tidak merasa terbebani. Ibu minum satu gelas setelah bangun tidur, satu gelas sebelum sahur dan satu gelas setelah sahur. Lalu untuk sore hari Ibu minum satu gelas setelah adzan magrib, satu gelas setelah buka puasa. Kemudian satu gelas sebelum tarawih, satu gelas setelah tarawih dan satu gelas setelah tadarus Al Qur'an. Pas 8 gelas. 

Meski pada prakteknya terkadang tidak langsung minum satu gelas. Air putih segelas diminum dua kali. Tidak masalah. Satu gelas itu menjadi ukuran air putih yang dikonsumsi. 

3. Buka Puasa Sehat
Menu buka puasa untuk lansia harus yang sehat. Maksudnya hindari aneka gorengan, terutama yang beli di luar. Selain itu juga hindari makanan yang asin. Tentu saja juga harus menghindari makanan dan minuman manis. Ketiganya ini musuh besar para lansia.

Banyak penjual makanan saat menjelang buka puasa. Aneka makanan dan minuman tersedia dengan berbagai jenis yang menggiurkan. Bisa membuat lapar mata. Lansia boleh jajan untuk takjil. Tidak masalah asalkan harus taat dengan rambu-rambu. Makanan yang gurih atau asin, makanan manis atau minuman manis.dan gorengan kesukaan banyak. Para lansia juga masih suka. Terkadang niatnya hanya incip sedikit. Kenyataannya, beberapa jajanan sudah masuk mulut. 

Saya tahu bukan hal mudah untuk melarang orang tua atau mertua kalau urusan makanan. Namun kami tetap harus tegas karena kami sayang. Demi kesehatan beliau juga. Senjata andalan saya adalah "nanti kalau puasanya gak sebulan penuh kan sayang". Terkadang juga pakai sedikit ancaman. "Nanti kalau sakit, lebaran istirahat saja di rumah. Tidak usah ikut mudik". Kalimat terakhir ini biasanya ampuh. 

4. Tidur 7-8 Jam Sehari
Bulan Ramadan adalah bulan ibadah. Iya memang betul. Jam istirahat malam hari akan berkurang. Kondisi ini harus disiasati agar para lansia tetap punya waktu istirahat yang cukup. Para lansia wajib tidur siang. Waktu tidur siang dimulai setelah sholat dhuhur. Bisa 1-2 jam. Tergantung situasi dan kondisi.

Malam hari setelah sholat tarawih biasanya dilanjutkan dengan tadarus Al Qur'an di masjid hingga jam 21.00. Lalu setelah tadarus di masjid, pulang ke rumah masih ngaji lagi sampai jam 22.00 atau 23.00. Kali ini saya batasi. Jam 21.00 harus sudah tidur. Lansia pada umumnya hanya bisa tidur sebentar di malam hari. Sebagai ganti waktu tadarus bisa dilakukan sebelum makan sahur atau setelah sahur sambil menunggu subuh.  

5. Aktivitas Ringan
Kondisi badan yang sedang berpuasa akan berbeda seperti saat tidak berpuasa. Begitupun dengan badan para lansia. Saat kondisi sehat dan tidak berpuasa aktivitas fisik masih dibatasi. Tidak boleh terlalu capek. Apalagi saat berpuasa. Aktivitas yang dilakukan harus yang ringan. Sebisa mungkin malah harus menghindari aktivitas berat.

Begitupun dengan tiga lansia kami. Urusan masak yang biasanya dilakukan setiap hari. Tidak lagi untuk bulan puasa. Anak-anak bergantian kirim makanan. Kebetulan tetangga dekat rumah ada yang buka catering. Lebih baik pesan makanan saja. Tetangga juga banyak yang berjualan takjil. Urusan buka puasa bisa lebih mudah. Ibu kalau ingin masak sesekali saja jika ingin makanan tertentu, yang tidak dijual dekat rumah.

Pada intinya aktivitas fisik ini ukurannya adalah kekuatan tubuh. Setiap lansia mempunyai kekuatan yang berbeda. Masak termasuk aktivitas ringan pada seorang lansia. Sedangkan pada lansia yang lain termasuk aktivitas berat. Jadi tidak bisa disamakan. Biarkanlah mereka mengukur kekuatannya sendiri.    
Begitulah tips sederhana dari saya. Kebetulan saya mendapat amanah menemani 3 lansia yang alhamdulillah kondisi kesehatannya naik turun. Alhamdulillah beliau bertiga lebih banyak sehatnya. Meski begitu tetap selalu dalam pengawasan ketat. Terkadang kondisi kesehatan bisa turun hanya karena salah makan atau kecapekan. Semoga sehat semua para lansia yang berpuasa Ramadan. Begitu juga dengan semua keluarganya.

Komentar