Thursday, 1 November 2018

Nikmatnya Nasi Tiwul Trenggalek Rasa Nostalgia

nasi tiwul enak 2018 nasi tiwul trenggalek

Minggu lalu, saya diajak suami ke Trenggalek. Kami menuju daerah pucuk gunung yang susah signal operator seluler. Begitu sampai tujuan, kami langsung disuguhi nasi tiwul. Duh, rasanya seneng pake banget yang banyak. Sudah lama sekali saya nggak makan nasi tiwul. Saya makan terakhir kali saat dibuatkan almarhum Mbah. Bertahun-tahun yang lalu.

Saat lebaran kala itu. Ibu dan kakak-kakaknya sedang nostalgia tentang masa kecil. Salah satu materi bahasan beliau yang seru adalah nasi tiwul. Saya yang belum pernah makan tentu penasaran. Akhirnya Mbah sengaja bikin buat saya dan cucu-cucu yang lain. Nasi tiwul lengkap dengan sayur lodeh tewel plus tahu tempe dibumbu lodho pedas. Gimana rasanya? Enak tak terlupakan.  

Kalau Nasi Tiwul yang disuguhkan kali ini agak berbeda. Tuan rumah sengaja menambah sedikit beras untuk campuran tiwul. Menurut Beliau, kalau nggak biasa makan nasi tiwul perut bisa begah. Biasanya hal ini terjadi para pemilik perut yang agak sensitif atau punya sakit maag. Kalau yang perutnya kategori bandel ya aman-aman saja. Nasi tiwul kali ini disuguhkan dengan ikan laut panggang bumbu pedas dan ayam suwir bumbu kecap. Ternyata tiwul kalau dicampur dengan nasi putih rasanya lebih enak. Lebih berat dan lebih mengenyangkan.

Sebenarnya apa sih nasi tiwul ini? Baiklah saya ceritakan dari tiwulnya dulu, ya. Bahan dasar tiwul sebenarnya dari ketela pohon atau singkong. Setelah disuci dan dipotong balok besar lalu dijemur. Kalau sudah kering namanya berubah menjadi gaplek. Nantinya, gaplek ini bisa jadi bahan baku gatot dan tiwul. Saya langsung cerita proses pembuatan tiwulnya saja, ya. Gaplek kering ditumbuk halus menjadi tepung gaplek. Dari tepung gaplek ini dicampur air jadilah tiwul.

Kalau sudah jadi tiwul bisa dibuat menjadi dua macam hidangan. Nasi tiwul dan tiwul jajan pasar. Mungkin sudah banyak yang tahu kalau tiwul sebagai jajan pasar. Tiwul sebelum dikukus akan dicampur dengan gula merah terlebih dahulu. Setelah matang ditaburi kelapa muda parut.

Kalau bikin nasi tiwul lebih mudah. Tiwul langsung saja dikukus. Bisa tiwul saja atau dicampur dengan sedikit beras yang sudah direndam terlebih dahulu. Nanti beras teksturnya akan seperti lontong dan mengumpal bersama tiwul. Saat ini sudah tersedia juga nasi tiwul instan di Supermarket atau pasar. Saya pernah coba yang instan, namun rasanya sepoh atau hampar. Lebih enak tiwul biasa. Meski tak dibumbuin terasa sedikit gurih.

Pada jaman penjajahan Jepang, beras adalah bahan mewah yang sangat langka. Banyak masyarakat menengah kebawah di desa Ibu saya, yang makan bulgur. Konon katanya, bulgur ini makanannya babi. Nenek saya nggak tega kasih makan anak-anaknya dengan bulgur. Beliau selalu menyajikan gaplek atau tiwul sebagai pengganti nasi.

Nasi tiwul ini kondang di daerah Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung dan sebagian daerah Blitar. Kota-kota tersebut termasuk wilayah pengunungan kering yang hanya mengandalkan air hujan sebagai pengairan sawahnya. Meski Jepang sudah angkat kaki dari Indonesia namun masih banyak penduduk di kota-kota tersebut yang makan tiwul sebagai pengganti nasi. Kalau sekarang, sepertinya sudah tidak ada. Mungkin hanya sesekali disajikan nasi tiwul atas nama nostalgia. Seperti tuan rumah yang kita datangi kali ini.

Kalau dari penelusuran saya, kandungan dalam tiwul adalah air, fosfor, karbohidrat, kalsium, vitamin C, protein, zat besi, lemak dan vitamin B1. Tiwul juga mengandung kalori namun lebih rendah dari nasi. Pantesan, meski makan tiwul puluhan tahun tanpa makan beras sama sekali, badan masih tetap sehat. Masih kuat mencangkul di Sawah seharian. Masya Allah. Tiwul ini salah satu anugerah Allah untuk penduduk Indonesia disaat penuh keterbatasan.


Foto: koleksi pribadi


Referensi Tambahan:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Thiwul
2. https://budaya-indonesia.org/Tiwul-Makanan-Khas-Pegunungan-Kidul

Saturday, 27 October 2018

Serabi Mbak Rini Banjarnegara, Enak dan Murah

serabi banjarnegara mbak rini enak

Saya pernah coba makan serabi di 3 kota. Semuanya berbeda penampakan dan rasanya. Serabi Bandung rasanya plan. Nggak seberapa menonjol namun punya aneka topping. Mau yang manis atau gurih tinggal pilih rasa topping yang diinginkan. Kalau serabi Solo teksturnya lembut dan sangat terasa santan kelapa. Bagian tengah teksturnya lembek seperti belum matang. Pilihan topping hanya coklat dan keju. Namun, saya lebih suka yang original. Sensasi rasa santannya sangat menggoda.

Nah, yang terakhir saya cicipin adalah serabi Banjarnegara. Kalau boleh saya bilang, ini serabi minimalis. Tekstur serabi padat dan bantet. Rasa santan tidak terlalu terasa. Justru rasa yang dominan adalah gula merah. Topping serabi Banjarnegara hanya gula merah. Namun nggak manis eneg. Manisnya pas.

serabi banjarnegara mbak rini enak
Ada banyak penjual Serabi di Banjarnegara tetapi saya paling cocok dengan racikan Mbak Rini. Tekstur serabi empuk. Kering kriuk di bagian pinggir. Meski dalam kondisi sudah dingin, teksturnya tetap empuk. Ini berbeda dengan serabi-serabi yang pernah saya makan. Kalau sudah dingin pasti jadi keras. Rasa serabi Mbak Rini ada perpaduan gurih dan manis. Biasanya, serabi Banjarnegara dominan dengan rasa manis. Kalau yang satu ini rasa gurih santan masih terasa. Lebih bertahan lama rasanya ketika masuk mulut.

Saya -boleh dibilang- pecinta fanatik Serabi Mbak Rini. Beliau memang baru berjualan tiga tahun. Namun Mbak Rini adalah generasi ketiga penerus usaha Serabi. Keluarga Mbak Rini turun temurun berjualan serabi Banjarnegara. Sang Nenek yang memulai usaha ini terlebih dahulu. Beliau malang melintang di dunia per-serabi-an selama 30 tahun. Setelah tua dan tidak kuat lagi berjualan, usaha ini diteruskan oleh Ibunya Mbak Rini. 27 tahun Sang Ibu menjalankan warisan sang Nenek. Kemudian di teruskan oleh MBak Rini.

Meski sudah berjualan selama 60 tahun, jangan bayangkan Mbak Rini menggelar dagangannya di sebuah outlet megah. Mbak Rini berjualan serabi Banjarnegara di trotoar. Tepatnya di pojok perempatan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Dipayuda. Buka setiap hari setelah subuh sampai habis. Saya pernah ke sini jam 7 pagi sudah habis. Saya coba datang 5.30 ternyata sudah banyak yang antri. Pantesan jam 7 sudah habis. Harga serabi ini Rp 1.000/biji.

Harganya memang sama dengan serabi Banjarnegara di tempat-tempat lain. Namun soal rasa, lidah memang tak bisa berbohong. Meski harus antri pagi-pagi ditengah cuaca dingin, saya ikhlas. Bagi pecinta kuliner pasti paham dengan tulisan saya di paragraf terakhir ini.  


Foto: koleksi pribadi

Thursday, 25 October 2018

Kupat Tahu Banjarnegara Mirip Karedok

kupat tahu banjarnegara 2018

Pagi ini udara Banjarnegara lumayan sejuk. Ternyata Banjarnegara juga terasa panas. Nggak dingin blas. Padahal, saya niat ngadem pas berangkat ke sini. Eh, ternyata sama juga. Namun meski panas, anginnya tetap sejuk segar. Jadi nggak terlalu terasa panas banget. Pagi sejuk gini enaknya jogging. Saya rayu Suami ikutan. Kemana? ya ke Alun-Alun Banjarnegara, lah.

Begitu sampai di Alun-Alun Banjarnegara ternyata sudah banyak orang yang sedang olah raga. Para penjual makanan juga sudah banyak berjejer *galfok. Kami berencana untuk jogging keliling 5 putaran. Setelah itu istirahat sekalian sarapan. Mulai lah pemanasan. Peregangan. Go... lari-lari kecil. Keciiil banget pokok-e. Sambil tengok kanan kiri survey menu buat sarapan nanti. (((survey))).

Saya : Kok, banyak yang jual kupat tahu ya?
Suami : Heemmm
Sa: Udah pernah makan?
Su : Dah
Sa : enak?
Su : enak.

Saya penasaran kenapa banyak penjual kupat tahu di sekeliling Alun-Alun. Memang ini salah satu makanan khas Banjarnegara. Menu 'wajib' pagi hari juga mungkin, ya. Baru jogging satu kali putaran, suami narik saya ke gerobak kupat tahu. Beliau langsung pesan dua piring.

Saya: Kan baru satu putaran?
Suami : Ngak papa, daripada nggak konsen tolah toleh terus.

kupat tahu banjarnegara 2018


Alhamdulillah, gini ini enaknya punya suami pengertian *nyengir. Akhirnya kami pun melipir ke gerobak tahu terdekat. Nggak pake lama kupat tahu dan teh hangat sudah di depan mata. Ada kupat yang dipotong-potong sedang, tahu goreng dipotong sedang juga, kecambah mentah dan kubis mentah yang dirajang agak halus. Semua itu disiram dengan bumbu kacang yang diulek kasar. Sebagai penutup, kerupuk warna-warni sebagai topping.

Kalau dari penampilan dan isi dalam piring mirip karedok. Kecambah dan kubis kalau karedok direbus matang. Kalau kupat tahu kedua sayuran ini betul-betul mentah. Rasa bumbu kacangnya juga beda, terasa lebih manis. Rasa kacang sangat dominan. Kacang diulek ronyah-ronyah kata orang Jawa. Wujud kacang masih kelihatan. Mak kletus-kletus kalau kegigit. Sensasinya berbeda dengan makan karedok.

Harga: biasanya Rp 8.000/piring. Tetapi saya kena harga Rp 13.000/piring pas penjual ini.
HALAL


Foto by Ugik Madyo

Tuesday, 23 October 2018

Dawet Ayu Banjarnegara, Bikin Kangen Selalu

dawet ayu banjarnegara
Ada guyonan, kalau ke Banjarnegara belum minum dawet ayu sama seperti makan lalapan nggak pakai sambel. Haha. Saking apanya coba. Banjarnegara dan dawet ayu layaknya sejoli yang tak terpisahkan.

Apa sih dawet ayu ini. Minuman ini sama seperti es cendol bagi Anda yang belum paham apa itu dawet. Hanya saja rasa gula merahnya khas. Pembuatan gula merah tergantung dari tempat penanaman aren, cara penyimpanan nira, suhu ruangan dan air yang digunakan. Itulah kenapa rasa gula merah di setiap daerah akan berbeda-beda.

Saya pernah berbincang dengan salah satu pemilih kedai dawet ayu, yang sudah buka cabang di Jakarta dan Palembang. Awalnya, Beliau menggunakan gula merah dari Banjarnegara. Setelah stock habis, menggunakan gula merah produksi setempat untuk menghemat biaya produksi. Ternyata rasanya berbeda. Beberapa pelanggan komplen. Penjualan mulai menurun setiap hari. Beliau lalu memutuskan untuk menggunakan gula merah buatan Banjarnegara. Penjualan berangsur-angsur naik kembali. Tidak ada lagi pelanggan yang komplen. Sejak saat itu, Beliau tidak berani mengganti gula merahnya. Harus produksi Banjarnegara.

Masa sih? Saya ingin membuktikan. Saya coba beli dawet ayu yang ada di Jogjakarta dan Surabaya. Hasil ngobrol sama penjualnya kalau gula merah beli di pasar setempat. Rasanya memang beda. Seperti es dawet biasa. Nggak selegit dan khas seperti yang asli Banjarnegara. Apa mungkin perasaan saya saja? Tersugesti cerita Bapak pemilik dawet ayu itu hehe.

Penampakan dawet ayu sebenarnya sederhana saja. Sama seperti es dawet atau es cendol pada umumnya. Komponennya adalah dawet, santan dan gula merah. Ada beberapa penjual yang memberi tambahan sesendok durian yang dihaluskan. Dawet dibuat dari campuran tepung beras dan tepung ketan. Kalau biasanya dawet berwarna hijau cerah, dawet ayu ini warnanya hijau tua. Hal ini karena penjual dawet ayu hanya menggunakan daun suji sebagai pewarna.

Kalau penjual dawet ayu Banjarnegara asli, santan kelapanya kental dan gula merahnya pekat. Saya selalu eneg kalau habis minum segelas. Saya sih lebih suka dawet ayu yang versi kaki lima. Santan dan gula merah tidak terlalu kental. Rasanya juga tidak terlalu manis. Lebih segar dan yang pasti lebih cocok dengan lidah Jawa Timur.

sejarah dawet ayu banjarnegara
Dawet Ayu Pak Ikhsan di depan Alun-Alun Banjanegara


Sejarah dawet ayu Banjarnegara ini ada beberapa versi menurut wikipedia Indonesia. Versi pertama, berasal dari penuturan Tjundaroso (Ketua Dewan Kesenian Banjarnegara). Bono, salah satu seniman Banjarnegara membuat lagu yang berjudul 'Dawet Ayu Banjarnegara' sekitar tahun 1980-an. Lagu itu dipopulerkan oleh Peang Penjol, seniman calung dan lawak Banyumas. Lagu ini populer di karesidenan Banyumas. Sejak itu, dawet ayu identik dengan Banjarnegara.

Versi kedua berasal dari keterangan Ahmad Tohari. Ada cerita turun temurun tentang seorang penjual dawet di Banjarnegara. Generasi ketiga keluarga penjual dawet ini sangat cantik. Para pelanggan dan masyarakat setempat menyebut sebagai dawet ayu.

Sedangkan versi terakhir, menurut salah satu tokoh masyarakat Banyumas, Kyai Haji Khatibul Umam Wiranu. Seorang pedagang dawet Ayu bernama Munardjo mempunyai istri yang cantik. Oleh sebab itu jualannya dikenal dengan sebutan dawet ayu. Keluarga Munardjo ini tinggal di Kelurahan Rejasa, Banjarnegara.

Hmm... mendadak jadi pengen minum es dawet ayu Banjarnegara yang seger dan enak tenan. Tapi kok ya jauh bener tempatnya *nyengir.



Foto: koleksi pribadi        

Saturday, 20 October 2018

Review Drama Indonesia The East 2018

drama indonesia the east 2018


Kalau urusan nonton drama Indonesia saya selalu pilih-pilih. Mohon maaf, kebanyakan serialnya selalu panjang-panjang. Ada juga yang setelah tayang lama ceritanya jadi kedodoran. Aneh-aneh jalan ceritanya jadi nggak masuk akal dan banyak kebetulan yang kelihatan banget dipaksakan. Kalau sudah begini males nonton lagi. Pindah lah ke stasiun televisi Indonesia yang lain.

Pertama kali lihat iklan drama The East di NetTV, saya langsung tertarik. Ceritanya tentang dunia kerja di stasiun televisi. Jalan cerita yang jarang diangkat. Seri ini dipatok genre sitkom. Menarik, nih. Apakah akan seseru 'Tetangga Masak Gitu'. Ada faktor yang lebih menarik lagi, banyak pemain baru yang main. Ini yang makin bikin penasaran. Kekuatan apa saja yang mereka miliki hingga bisa membuat sutradara dan produser berani memasang mereka.

Selain pemainnya banyak yang baru, karakternya juga unik. Pemain The East session 1 ini ada Mas Dewo (Sutan Simatupang) Kepala Departemen Produksi yang sok teu, nyiyir dan naksir berat sama Mbak Mutia (Tara Basro). Adegan PeDeKaTe Mas Dewo ke Mbak Mutia ini yang sukses bikin saya ngakak. Mas Dewo selalu mati kutu dan salah tingkah kalau di depan MBak Mutia. Tara Basro berperan sebagai Produser Senior yang cerdas, cuek, jutek namun cantik eksotis maksimal. Gista Putri berperan sebagai Gista seorang Produser junior. Putri yang seorang Reporter Senior dan sahabat Gista diperankan oleh Ayushita. Sedangkan Ge Pamungkas sebagai Asisten Produksi bernama Andika. 

drama indonesia the east 2018
Tomo dan Vira. Dua orang ini yang bikin saya rajin nonton The East Lagi.


Mungkin Ge Pamungkas dihadirkan untuk memancing kelucuan. Namun menurut saya, kelucuan Ge garing. Ada tokoh-tokoh lain yang lebih lucu dan segar yaitu Iren, Mas Fajar dan Caesar. Iren (Sahira Anjani) yang lola dan polos selalu berhasil menyegarkan suasana. Mbak satu ini aktingnya keren banget. Mas Fajar (Tanta Ginting) yang tengilnya minta ampun, sok ganteng dan hobi ngutang. Caesar ini sok teu, sok pinter dan sok ganteng pula. Namun dari ke-sok-annya ini muncul adegan-adegan lucu yang sukses bikin ngakak.

Pada session-session awal, saya rajin nonton setiap episode. Ketika Fajar pacaran sama Beby saya mulai jarang nonton. Lalu saya ganti langganan TV kabel yang tidak ada NetTV. Duh. Tambah, wis. Hilang kontak sama The East. Pas nonton lagi muncul tokoh Karin. Produser baru yang juteknya minta ampun. Saya kok mendadak jadi kangen Mbak Mutia. Entah kenapa di session ini saya merasa bosan sama The East. Terakhir kali saya nonton ceritanya Mas Bima, produser baru yang ganteng, sabar dan jadi idola para kru cewek, malah suka sama Mbak Karin.

Minggu lalu, Saya iseng-iseng pencet tombol NetTV pas sabtu jam 6 sore. Eh, The East masih ada. Lah kok Mbak Karin sudah melahirkan. Saya justru tertarik dengan kedekatan Tomo dan Vira. Mulai deh, saya searching youtube. Mulai kepo The East episode-episode sebelumnya. Ya ampun ternyata seru mengikuti kisah roman tarik ulur ala Tomo Vira. Meski begitu saya masih tetap penggemar setia Iren. Iih, Mbak satu ini mainnya konsisten. Konsisten nggemesin. Plus ngangenin haha.    

Eh, hari ini kan sabtu. Hasyeeek. Mbak Iren... aku datang...


Foto pinjam pakai koleksi Google

Thursday, 18 October 2018

HIJUP Bloggers Meet Up ResikV Surabaya, Menjaga Keluarga Harmonis

hijup bloggers meet up resik v surabaya
Para narasumber talkshow

HIJUP bloggers meet up dan arisan Resik hadir kembali di Surabaya. Acara ini berlangsung tanggal 6 Oktober 2018 di Yello Hotel. Seperti biasanya. Acara ini selalu seru. Ada bincang bergizi dengan para ahli, workshop craft dan tentu saja... banjir doorprize dan hadiah. Pada kesempatan kali ini yang hadir khusus para wanita yang sudah menikah. Berbeda dengan acara sebelumnya.

Sesi pertama dengan narasumber Mbak Sarah Sofyan, pemilik Rumah Ayu sekaligus juga psikolog. Mbak Sarah mengupas berbagai tips dan trik agar keluarga harmonis selalu. Beliau mengajak menggali pondasi dasar pernikahan. Saling memahami kekurangan dan kelebihan pasangan. Selalu belajar berdamai dengan kekurangan suami. Tak ada manusia yang sempurna, kan?

Kalau ada ucapan atau sikap suami yang bikin kita tidak nyaman, komunikasikan. Pria mempunyai sifat dan perilaku yang berbeda dengan wanita. Kita harus paham ini. Kalau ada ucapan atau sikap suami yang bikin tidak nyaman kasih tahu suami. Tentu dengan lembut dan memilih suasana hati suami pada saat yang tepat. Memang sifat pria tidak akan mempan didiamkan atau disindir. Harus dikasih tahu langsung. Asalkan cara penyampaian kita tepat tidak akan ada pertengkaran. Bisa jadi malah suami sangat berterima kasih karena selama ini Beliau tidak tahu kalau kita merasa tidak nyaman.

hijup bloggers meet up resik v surabaya
Sesi pertama ini berjalan seru. Mbak Sarah dan Mbak Wina sebagai MC mengajak kita untuk saling berbagi cerita. Kita tidak bosan dan ngantuk. Kebetulan ada beberapa blogger yang sudah menikah lebih dari 20 tahun. Beliau-beliau ini diminta untuk berbagi cerita pengalamannya mempertahankan keluarga harmonis hingga saat ini.

Sesi kedua hadir dr Muhammad Ilham Aldika Akbar SPOg. Pada sesi ini dr Ilham menjelaskan tentang menjaga dan merawat organ intim kewanitaan. Hal pertama yang ditekankan dr Ilham tentang kebiasaan untuk rajin mengganti celana dalam. Kelihatannya sepele tapi celana dalam berperan penting agar organ kewanitaan lebih sehat. Banyak wanita yang berganti celana dalam hanya ketika mandi. Dua kali sehari. Sebaiknya celana dalam ganti 4-5 kali sehari dalam kondisi normal.

Bagi yang sedang keputihan atau sering buang air kecil harus lebih sering lagi. Ganti celana dalam bisa lebih dari 5 kali. dr Ilham menyarankan untuk rajin menggunting bulu kemaluan. Bukan mencukur, yang dikuatirkan akan membuat kulit iritasi atau terluka karena gesekan dengan alat cukur. Lebih baik dipotong pendek agar mudah dibersihkan. Bulu kemaluan yang terlalu lebat dan terlalu panjang akan menjadi tempat berkumpulnya kuman atau bakteri.

Pastikan juga ketika selesai buang air kecil untuk membersihkan dari arah depan ke belakang. Bukan sebaliknya. Kuman dan bakteri lebih banyak berada di area belakang. Setelah buang air kecil juga harus dikeringkan. Pastikan untuk benar-benar kering agar tidak lembab ketika menggunakan celana dalam kembali. Selain itu seorang wanita juga harus menjaga asupan makanan. Protein, sayur dan buah diharapkan selalu dalam kadar yang seimbang.

Penjelasan dr Ilham langsung bersambung dengan narasumber Ibu Yuna Eka Cristina dari PT Kino Indonesia. Ibu Yuna memperkenalkan produk ResikV Manjakani yang dibuat khusus untuk para wanita yang sudah menikah. Produk ini diformulakan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Bisa sebagai 'senjata andalan' menghangatkan kembali hubungan suami istri layaknya jaman pengantin baru. Masak sih?

hijup bloggers meet up resik v surabaya
Bau seger sepanjang acara bikin betah.
 
ResikV Manjakani ini mengandung ekstra bengkoang dan ekstra manjakani. Bengkoang berfungsi untuk memutihkan kulit. ResikV digunakan untuk memutihkan area lipatan paha. Sedangkan ekstra manjakani bisa mengencangkan otot vagina luar yang mengendur. Baik bila pernah melahirkan atau karena faktor usia.

Buah manjakani telah diteliti lebih mendalam ternyata mengandung vitamin A, Vitamin C, antioksidan, tanin, astrigent, serat, protein, asid, tanik, protein, kalsium, zat besi, karbohidrat, anti radang dan anti mikroba. Ya ampun. Buah sekecil ini ternyata membunyai banyak keuntungan yang bisa dimanfaatkan. Tanin berfungsi untuk mengencangkan otot vagina yang sudah mengendur.

Sebenarnya, buah manjakani atau disebut juga buah oak sudah digunakan para leluhur wanita Aceh. Ada resep turun temurun untuk merawat organ intim kewanitaan. Buah kecil ini banyak digunakan wanita Aceh jaman dulu untuk merawat daerah kewanitaannya agar selalu harum dan kembali kencang otot vagina setelah melahirkan. Sebutannya ramuan Manjakani Aceh. Ramuan ini biasanya diminum pada akhir masa nifas. Entah kalau sekarang. Wanita Aceh masih banyak yang minum ramuan ini atau tidak sama sekali.


hijup bloggers meet up resik v surabaya
Mbak Meita demo bikin decoupage dengan media kayu

ResikV menghadirkan kembali warisan ramuan manjakani untuk para wanita. ResikV menggunakan buah manjakani dari Persia. Terus terang, saya baru tahu kalau buah Manjakani bisa digunakan untuk mengencangkan otot vagina. Perhatian ya. ResikV Manjakani ini hanya digunakan untuk bagian luar area kemaluan. Jangan sampai masuk ke dalam. ResikV sudah teruji secara laboratoris sudah dinyatakan aman untuk digunakan. Ph nya dibuat sama dengan PH area kemaluan kita. Produk ini juga sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI. Jadi lebih tenang dan nyaman memakainya.

Di lokasi acara, tersedia banyak produk ResikV dan boleh kami buka. Pas kotak kemasan dibuka bau harum lembut langsung menguar. Oalah ini to bau harum yang saya rasakan dari tadi. Begitu masuk ruangan memang tercium bau harum lembut yang khas. Saya pikir pengharus ruangan. Ternyata dari botol-botol ResikV Manjakani yang banyak tersebar diberbagai tempat di ruangan ini. Bau harum ini berasal dari buah manjakani. Hemm... gimana ya kalau pas dipakai nanti. Nggak sabar ingin segera pulang dan pamer ke suami hehe. Eh iya lupa, setelah makan siang masih ada acara lagi. Bikin home decor.

hijup bloggers meet up resik v surabaya
Lumayan lah buat pemula *ngeles* haha


Mbak Meita dari Meita Heart Work mengajari kami untuk membuat decoupage. Kami membuat home decor kalimat manis. Sebenarnya tidak sepenuhnya kami yang membuat. Keterbatasan waktu. Tentu saja. Papan pigura sudah disediakan dan sudah dicat cantik. Aneka hiasan dari kertas juga sudah ada. Kami tinggal menyusun hiasan tersebut dan membuat tulisan timbul dengan pasta. Meski begitu tetap saja mengasyikkan. Serasa bikin sendiri. Acara ini molor hingga satu jam karena kita keasyikan mengjias pigora. Seru banget. Nanti kalau di rumah ingin coba bikin yang lain, ah.

Terima kasih HIJUP dan ResikV atas semua ilmu baru yang saya dapatkan kali ini. Semoga pada kesempatan mendatang, saya bisa ikut acara HIJUP bloggers meet up dan arisan Resik lagi. Ada kabar gembira dari HIJUP. Anda bisa menggunakan voucher potongan Rp 50.000 dengan kode voucher: HIJUPRVMSURABAYA untuk setiap pembelian minimal Rp 250.000. Voucher ini berlaku sampai tanggal 30 November 2018. Langsung klik banner di bawah ini, ya. Selamat berbelanja.

#ArisanResik, #ResikVManjakaniWhitening #IstriResik #HIJUPbloggersmeetup





Foto by Ugik Madyo

Tuesday, 16 October 2018

Opak Gapit Warna Warni

opak gapit khas blitar warna warni

Opak gapit adalah salah satu jajanan lebaran yang sudah langka. Kalau mudik lebaran ada tradisi silaturahim keliling desa. Setelah itu keliling ke saudara-saudara yang masih tetangga Desa. Ritual keliling ini tidak pernah saya lewatkan. Saat itu adalah moment perburuan bagi saya. Berburu aneka suguhan makanan atau jajanan yang hanya ada saat lebaran. Salah satu target perburuan saya adalah opak gapit.

Jajanan ini sering disebut juga dengan nama opak gambir atau kue semprong. Kalau di daerah Blitar, Kediri, Malang dan sekitarnya menyebut jajanan ini opak gambir. Kalau daerah Nganjuk, Jombang, Tulungagung, Trenggalek menyebutnya opak gapit. Kalau di Surabaya saya pernah dengar orang menyebut jajanan ini dengan kue semprong. Kalau di daerah Anda, jajanan ini dikenal dengan nama apa?

Kalau di Desa, opak gapit selalu dibikin sendiri. Ada resep turun temurun antar generasi yang selalu dipertahankan. Oleh karena itu, setiap keluarga mempunyai rasa yang berbeda meskipun berada dalam satu desa atau bahkan bertetangga dekat. Ini yang saya suka. Ada beragam rasa yang bisa dinikmati. Selain itu ada 'sentuhan' tempo dulu yang membekas di hati. Saya hapal rumah mana yang opak gapit-nya enak, enak sekali atau biasa saja.

Namun sayang, beberapa tahun terakhir opak gapit mulai banyak yang hilang dari peredaran. Hal ini berjalan seiring dengan semakin banyaknya generasi seangkatan Mbah saya yang meninggal. Toples-toples lebaran di Desa bertransformasi, isinya kue nastar and the gank. Ada juga aneka blek warna warni made in pabrik. Beberapa keluarga masih mempertahankan suguhan opak gapit tapi... beli jadi. Bukan dari resep turun temurun keluarga. Suguhan lebaran sudah tak ada gregetnya.


opak gapit khas blitar warna warni

Saya maklum. Pembuatan opak gapit memang membutuhkan ketelatenan dan ketabahan. Hanya orang-orang dengan kecintaan tinggi pada kuliner ini yang sanggup membuatnya. Adonan yang sudah matang harus segera diangkat dari cetakan dan langsung dilipat saat panas. Pembuatan opak ini juga menggunakan tungku arang. Ini satu hal yang wajib karena rasanya jauh lebih enak dan adonan lebih cepat matang seluruhnya. Tungku arang ini jauh lebih panas dari kompor biasa atau kompor gas. Kebayang kan susahnya? Suoro yo, Rek. Tapi enak pas sudah matang.

Lebaran kemaren, saya dapat kejutan manis. Pas lagi silaturahim ke rumah teman eh langsung disuguhi opek gapit. Tetapi tampilannya unik. Biasanya opak gapit hanya berwarna coklat. Bentuknya panjang digulung, dilipat seperti segitiga atau bentuk segitiga agak melengkung.

Kalau opat gapit ini warna dan tampilannya berbeda. Tampil dengan aneka warna meriah yang mencolok. Hijau, pink, kuning dan ungu. Bentuknya lipatan segitiga agak melengkung dengan diameter adonan yang lebih besar. Penampakannya seperti kelopak bunga yang akan mekar. Cantik. Inovasi baru ini. Adonan opak gapit lebih tebal dari biasanya. Tidak gampang prothol kalau disentuh. Rasanya juga gurih.  

Jadi ingin makan opak gapit lagi. Hayuk ah, cari!


Foto by koleksi pribadi