Momen Ramadan Tak Terlupakan Saat Merantau

momen ramadan tak terlupakan dalam hidup



Ramadan tahun 2011 jadi bulan ramadan yang tak terlupakan sampai saat ini. Tahun itu, saya pertama kali merantau ke Bandung. Pertama kali juga tinggal terpisah jauh dari orang tua. Beberapa teman kantor dan teman kos sudah mulai meledek. 'Ramadan saat merantau pertama tuh rasanya merana banget, loh'. Saya cuma membalas dengan senyuman. Saya sudah sering dengar tentang mitos ramadan pertama saat merantau pertama kali. Dramanya ada saja. Mulai dari yang bengong, nangis berlinang tak ada suara, sampai nangis kejer sambil telepon rumah.   

Saya masih bisa tenang sebulan sebelum Ramadan. Teman kos banyak. Teman kantor juga banyak. Saya akan baik-baik saja. Tempat kos selalu ramai. Teman kantor banyak yang kocak. Mana mungkin ada drama saat puasa hari pertama

1. Hari Pertama Ramadan
Beberapa hari kemudian, saya baru sadar kalau bulan Ramadan tahun ini bertepatan dengan libur semester anak kuliah. Nah, loh. Anak kos di tempat saya kan mahasiswi semua. Apakah mereka akan mudik semua selama Ramadan? Ya sudahlah, tak masalah. Sehari sebelum Ramadan, saya sengaja pulang cepat untuk sholat tarawih perdana. Loh, rumah kos kok kosong. Ternyata semua teman kos beneran pulang. Baru terasa ada yang kosong. Ya sudahlah. Nanti di masjid kan ramai.

Alhamdulillah masjid penuh. Banyak jama'ah yang datang bersama keluarga. Saya mendadak ingat rumah. Kami sekeluarga biasanya juga selalu berangkat terawih bersama. Mata mulai berkaca-kaca. Eits. Tahan. Banyak orang tidak boleh nangis. Saat sholat witir, air mata berlinang tanpa bisa ditahan. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, memang kangen keluarga. Selesai tarawih langsung pulang dan tidur. 

Saya sengaja bangun jam 2.30. Niat hati ingin sahur di warteg saja, biar banyak temannya. Saat menunggu giliran dilayani, datanglah seorang lelaki setengah baya yang wajah dan perawakannya mirip Bapak. Mak deg. Mata mulai berkaca-kaca. Akhirnya, saya minta nasi dan lauk dibungkus. Sungguh tidak lucu kalau saya makan sambil berlinang air mata di sini. Ya sudahlah, makan di kos saja.

Saya memilih makan di kamar kos, sambil nonton YouTube dari laptop. Biar tidak terlalu terasa kalau sendirian. Ibu telepon. Kami ngobrol, ada suara Bapak dan Adik yang menimpali obrolan kami. Air mata tiba-tiba jatuh. Saya sengaja banyak tertawa agar suara tidak terdengar parau. Begitu telepon ditutup Ibu. Saya ambil bantal dan nangis sepuasnya. Makanan saya geletakin begitu saja. Laptop juga masih memutar video, yang entah apa isinya.

Speaker masjid mengumumkan kalau imsak kurang 15 menit. Saya sudah malas makan. Nasi dan lauk sudah dingin tetapi saya paksa untuk makan. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan besok. Daripada lemes nanti. Sisa-sisa tangis ternyata masih susah dihentikan. Ternyata makan sambil nangis tuh tidak enak banget. Ada acara keselek segala. Lauknya sudah tercampur sambal pula. Pedes. Tenggorokan rasanya terbakar. Salah sendiri wakakaka.

Drama nangis mulai lagi saat sholat subuh. Masih lanjut lagi sampai mengaji setelah subuh. Selesai mandi baru sadar. Wajah sudah seperti badut. Mata bengkak, hidung merah dan wajah bengep. Asli ngakak kalau ingat wajah saya saat itu. Saya buru-buru kompres mata dengan es batu. Namun tetap saja tak kunjung membaik. Saya sudah pasrah saja saat berangkat ke kantor. Sampai kantor, habis sudah saya diledek teman-teman. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Wajah ini pengen banget saya taruh rumah, ganti sementara pakai wajah Dian Sastro. Tentu saja tidak mungkin, kan? Hehe.

2. Safari Masjid
Saya dan teman-teman di Surabaya mempunyai kebiasaan safari masjid setiap Ramadan. Kami keliling ke beberapa masjid untuk berbuka puasa sampai sholat tarawih. Kebetulan, saya belum sempat keliling masjid selama di Bandung. Kebetulan, lagi. Ternyata teman-teman di kos belum pernah safari masjid. Banyak teman kos yang enggan dan memilih untuk ngabuburit di mall atau cafe. Menurut saya tidak seru. Suasananya berbeda.

Akhirnya, saya dan beberapa teman saja yang melakukan safari masjid. Kami berempat berboncengan motor. Berhubung kami anak rantau semua, jadi hanya mengandalkan informasi dari internet dan media sosial. Ternyata jalanan Bandung sore hari macet parah. Saat itu memang hari sabtu. Padahal kami sengaja berangkat setelah ashar, ternyata sudah macet dimana-mana. Ya sudah lah, balik saja. Kami memutuskan buka puasa dan sholat magrib di masjid terdekat. Kebetulan, kami hanya bisa safari masjid pada akhir pekan. Ini berarti kami akan menjumpai kemacetan parah. 

Ya sudahlah. Akhirnya acara safari masjid dibatalkan demi hati damai. Daripada dipaksakan tapi hati kemrungsung, lebih baik tidak usah. Saya akhirnya memilih berbuka puasa bersama di kos atau kantor.

3. Rejeki Makanan
Saya usahakan tarawih di masjid kalau tidak lembur, kebetulan ada masjid dekat kos. Mulai dari kebiasaan tarawih ini, saya mengenal tetangga di sekitar kos. Begitu tahu kalau saya anak rantau, alhamdulillah dapat banyak rejeki makanan. Jika ada sisa takjil selalu disisihkan lalu dibagikan pada saya dan anak-anak kos lainnya. Saya dapat nama baru 'Teteh Surabaya'. Ketika saya pindah kos ke Jalan Venus, saya dapat nama baru lagi 'Teteh Venus'. Saya sih tidak keberatan. Jama'ah ibu-ibu banyak yang lanjut usia. Mungkin beliau sudah susah menghapal nama tiap orang baru. 

Ibu-ibu jama'ah masjid banyak yang anak-anaknya merantau. Kami para anak kos dianggap seperti anak sendiri. Bahkan kami diminta buka puasa bersama di masjid. Kalau pas saya lembur, ada kresek di gagang pintu kamar. Kata teman kos, kue kiriman dari 'Ibu masjid'. Huaaa. Saya jadi terharu. Padahal tempat kos saya paling jauh dari masjid. Sedangkan Ibu- Ibu tersebut rumahnya disekitar masjid. Akhirnya saya sering membawa kerjaan ke kos. Biar bisa buka puasa sampai sholat tarawih di masjid. Saya senang punya banyak Ibu jika kumpul bersama di masjid. 

4. Pekerjaan Padat
Sebelum Ramadan, Bos Teteh sudah memberi pengumuman kalau dummy book harus sudah selesai sebelum libur lebaran. Padahal baru setengah jalan prosesnya. Kerjaan harus dikebut. Saya dapat tugas tambahan mencari dubber untuk edisi 'buku bercerita'. Saat itu Bandung sedang persiapan pentas teater Lutung Kasarung. Semua dubber Bandung terlibat dalam pertunjukan ini. 

Saya curhat ke penulis senior. Beliau mantan mentor saya. Lalu saya disuruh untuk menghubungi mendiang Kak Mercy Sitanggang, seorang produser di RCTI. Saya minta tolong rekomendasi Beliau untuk dubber, yang khusus dubbing suara anak-anak. Kak Mercy memperkenalkan saya pada Bang Anies, seorang dubber senior di Jakarta. Setelah rapat marathon, Bang Anies dan anak buahnya yang handle dubber untuk proyek 'buku bercerita'. Alhamdulillah saya dibantu banget oleh mendiang Kak Mercy. Beliau baik sekali, mau bantu saya ngurusi detail segala urusan soal dubber. Terima kasih banyak Kak Mercy. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan Kakak.

Selain mengurusi masalah dubber, saya tetap harus mengerjakan pekerjaan saya di bagian editing. Kebetulan saya juga sedang menulis buku untuk penerbit tetangga. Waktu rasanya cepat sekali berjalan. Tiba-tiba sudah menjelang magrib. Saya jadi tidak terlalu galau kangen rumah. Pikiran sudah penuh dengan pekerjaan. 

5. Berburu Tiket Kereta Api
Pikiran saya sudah penuh dengan pekerjaan, saya sampai lupa pesan tiket mudik ke Surabaya. Saya baru sadar saat Ibu telepon dua minggu sebelum lebaran, "Mbak sudah beli tiket kereta?". 
Saya hanya mampu menjawab 'belum' dengan nyengir. Ibu ngomel panjang lebar. Ternyata, Ibu tanya lagi keesokan harinya. Saya jawab saja 'sudah'. Daripada panjang urusannya kalau Ibu sampai marah soal tiket. 

Saya pun berjibaku dengan setumpuk pekerjaan. Sampai akhirnya keluar pengumuman dari KAI kalau semua tiket sudah habis sampai H+5 lebaran. Tenang. Masih ada bus. Pulang kantor, saya langsung ke terminal. Ternyata saat masa mudik lebaran tiket bus patas harus dipesan dulu jauh-jauh hari. Tidak bisa dadakan. Ya sudahlah. Saya berencana naik bus ekonomi atau sistem sambung-menyambung. Oper dari satu bus ke bus lain. Resikonya, saya bisa berdiri sepanjang perjalanan. Ya wis lah. Mau bagaimana lagi. Pokoknya bisa sampai rumah pas lebaran.

Minggu terakhir Ramadan ada kabar KAI menambah gerbong khusus angkutan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saya dan teman satu divisi sudah heboh menyusun strategi supaya bisa dapat tiket kereta. Kabar yang beredar simpang siur soal gerbong tambahan ini. Ada berita online yang menyebut 2 gerbong. Ada lagi hanya 1 gerbong. Saat itu belum ada sistem beli tiket online. Penumpang harus beli langsung di loket stasiun. Terbayang banyaknya orang yang akan antri tiket nanti.

Ternyata kabar soal saya war ticket kereta ini sudah tersebar ke divisi lain. Ruang kerja divisi kami jadi riuh reda dengan aneka saran dan ledekan. Setelah berunding alot dengan tim satu divisi plus dengan mempertimbangkan semua masukkan, saya harus berangkat sebelum subuh ke Stasiun Kota. Saya langsung telepon akang ojek langganan, beliau langsung menyanggupi permintaan saya.

Saya berangkat jam 03.30 dari kos. Bandung pas lagi dingin-dinginya waktu itu. Naik motor di pagi buta lumayan menggigil. Tak apakah. Rela. Demi tiket mudik. Sampai depan loket, banyak orang yang sudah antri. Ya ampun orang-orang ini datang jam berapa. Alhamdulillah antrian depan dan belakang orang Surabaya. Seperti bertemu saudara saja. Kami duduk di lantai sambil melanjutkan sahur. Kami ngobrol dengan bahasa Suroboyoan. Rasanya bahagia seperti sedang di rumah. Kami bisa bergantian sholat subuh dan ke toilet. Alhamdulillah akhirnya bisa dapat tiket kereta. Emak... aku moleh hehe.

Sebenarnya saya tidak begitu konsentrasi selama ngobrol saat antri tiket. BBM centang-centung terus. Pesan dari teman-teman kos dan kantor datang silih berganti. Merka bertanya soal kondisi saya selama antri. Bukan hanya teman satu divisi tapi juga divisi tetangga. Ah, jadi terharu. Saya merasa tidak sendiri meski jauh dari rumah.

Pengakuan nih, ya. Saya mengetik tulisan ini sambil senyum-senyum sendiri. Ternyata seru juga pengalaman ramadan pertama jadi anak rantau. Insyaa Allah saya akan baik-baik saja kalau merantau lagi dan harus menjalani Ramadan jauh dari keluarga. Mungkin akan banyak momen tak terlupakan seperti saat saya di Bandung. Semoga saja itu adalah momen yang baik dan indah untuk dikenang.

Komentar