Selasa, 03 Maret 2020

Lontong Mie Enak di daerah Wiyung Surabaya


Mungkin sudah banyak yang tahu lontong balap makanan khas Surabaya. Kalau makanan yang satu ini sebenarnya juga makanan Surabaya tapi belum kondang namanya. Ini makanan yang unik. Bisa dibilang masih saudara dengan lontong balap.

Perkenalkan. Lontong mie makanan khas dari Surabaya juga. Kalau yang pernah makan lontong balap nggak akan kaget makan lontong mie. Ada bumbu petis pedes sebagai tambahan rasanya. Sama seperti lontong balap.

Baiklah saya fokus cerita tentang lontong mie saja ya. Lontong balap sudah pernah saya bahas di sini. Lontong mie ini sesuai dengan namanya ada lontong, mie dan sedikit kecambah panjang. Urutannya, bumbu petis yang dicampur cabai rawit dahulu. Diatasnya baru diberi lontong, mie dan kecambah panjang serta kuah. Sebagai topping adalah irisan tahu goreng dan taburan bawang merah goreng.

Rasa mie dan kuahnya ini persis seperti lontong balap. Begitu juga dengan warna kuah. Memang bumbunya sama. Hanya beda di mie dan kecambah panjang. Kalau lontong balap dominan dengan kecambah panjang tanpa ada mie sama sekali. Kalau lontong mie dominan dengan mie dengan sedikit kecambah panjang.

Lontong Mie Bumbu Rujak Petis

Nah, itu adalah komposisi lontong mie pada umumnya. Saya pernah mencicipi lontong mie di Karangan gang 2 daerah Wiyung Surabaya. Bukan sekedar pakai bumbu petis namun menggunakan bumbu rujak petis.

Jadi gini. Bumbu rujak petis dibuat terlebih dahulu. Cara bikinnya sama dengan bumbu rujak kikil atau bumbu rujak cingur. Kikil, tahu goreng dan tempe goreng dicampur dengan bumbu rujak petis tersebut. Lalu disajikan di piring. Kemudian baru ditambah dengan mie dan kuahnya.

Ternyata rasanya jauh lebih enak. Mie dan kuah rasanya memang sangat ringan. Kuah encer yang segar. Rasa bumbunya hanya tipis di lidah. Nah, kalau pakai bumbu rujak petis lebih berat rasanya. Dominan petis yang legit. Kuahnya juga jadi lebih pekat dan kental karena diikat bumbu rujak petis ini.



Ada campuran kikil yang sudah digoreng juga kan. Nah, kikil menambah kaya rasa makanan ini. Perpaduan kikil dan petis yang biasa dirasakan pada makanan rujak sangat terasa. Rasa mie dan kuahnya juga terkontaminasi dengan kikil dan bumbu petis tersebut.

Tersedia tambahan aneka lauk sate-satean sebagai pelengkap. Ada cecek bumbu petis pedas, usus bumbu rujak dan telur puyuh bumbu coklat. Semua makanan tersebut ditusuk dengan bilah bambu. Penampakannya persis seperti sate. Bagaimana rasanya? enak semua. Saya paling sering beli sate cecek dan sate usus.

Lontong mie di sini rasanya jadi lebih kaya. Lebih enak. Pantesan tempat ini selalu ramai. Baru buka jam 10.00 WIB, sekitar jam 14.00 WIB sudah habis. Bahkan kalau sabtu minggu jam 12.00 WIB sudah habis. Harganya juga tidak mahal, Rp 8.000/porsi. Kalau untuk sate cecek, dan sate usus Rp 1.000/tusuk. Sedangkan sate telur puyuh Rp 2.000/tusuk.

Kalau masuk daerah Wiyung cari saja Jalan Karangan gang 2. Ada di seberang perumahan Pratama Estate. Dekat dengan Rumah Sakit Wiyung Sejahtera. Pastikan di daerah Wiyung ya. Soalnya Jalan Karangan ini ada 2 di Surabaya. Satu lagi ada di daerah Kodam V Brawijaya.

Lokasi tempat ini tidak di pinggir jalan besar. Masuk gang kecil. Masuk Jalan Karangan gang 2. Sekitar 200 meter ada perempatan kecil, lalu belok kiri. Sekitar 100 meter disebelah kanan tempatnya. Jualannya di teras rumah. Tempat jualannya sederhana namun bersih.

Tenang saja meski harus masuk gang kecil namun gampang dicari. Lebih baik baik naik motor saja kalau ke sini. Kalau naik mobil harus parkir di jalan besar. Lalu jalan kaki masuk gang.

Jadi ingin makan lontong mie, nih. Nunggu jam 10 dan langsung beli. Ternyata masih lumayan lama. Padahal sudah kepengen tingkat dewa, nih.





Foto: koleksi pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar