Selasa, 30 April 2019

Cara Mendongeng Efektif untuk Anak

cara mendongeng efektif untuk anak


Kata mendongeng kesannya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Ada anggapan mendongeng butuh kepandaian khusus. Sebenarnya mendongeng itu sama dengan bercerita. Semua orang bisa melakukannya. Setiap hari, kita selalu bercerita pada suami, anak, tetangga, teman, penjual sayur dan banyak lagi. 

Kalau ada Ibu-Ibu yang bilang nggak bisa mendongeng, saya nggak percaya banget. Coba kalau ngerumpi sama teman atau tetangga, lancar kan? bercerita tentang suatu hal, suatu peristiwa atau seseorang. Ada gesture tubuh yang mendukung. Mimik muka juga ikut berubah sesuai dengan isi cerita. Mendongeng sama seperti itu.

Hanya saja mendongeng adalah bercerita pada anak dengan isi cerita yang banyak muatan kebaikan. Bukan cuma asal bercerita tanpa makna. Nah, bagaimana sih cara mendongeng yang efektif untuk anak? Simak ulasan berikut ini.  

1. Mendongeng tugas ibu dan ayah. 
Ajak suami ikut serta. Gantian mendongeng dengan suami. Kalau suami nggak mau, sekali-sekali minta suami mendengarkan ibu mendongeng. Untuk menstimulus suami agar mau mendongeng. Namun nggak usah dipaksa. Biar suami mau sendiri.

2. Pilih waktu mendongeng ketika ibu dan anak sama-sama on. 
Hindari mendongeng sebelum tidur. Waktu mendongeng bisa kapan saja. Tidak setiap hari juga tidak apa-apa. Namun usahakan sesering mungkin. Lama mendongeng juga terserah. Mau 15 menit atau sampai satu jam lebih juga boleh.
Tempat untuk mendongeng bisa dimana saja. Tidak harus di rumah. Bisa di mobil ketika perjalanan butuh waktu lama sampai ke tempat tujuan. Di ruang tunggu dokter juga bisa.

3. Usahakan mendongeng tanpa buku. 
Baca dulu buku yang akan diceritakan pada anak. Hapalkan garis besar ceritanya. Ceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Jalan ceritanya diganti atau dibelok-belokkan ya tidak apa-apa. Bebas saja.

4. Lakukan interaksi dua arah dengan anak. 
Posisi ibu dan anak harus berhadapan selama aktivitas mendongeng. Mimik wajah & bahasa tubuh anak harus kelihatan.
Sesekali ajak anak untuk menentukan jalan cerita selanjutnya atau menentukan nama tokoh. Ibu bisa pura-pura lupa atau bertanya "enaknya Dito main apa aja ya di Taman?"
Kalau anak nggak mau jawab atau bilang terserah. Pancing dengan jenis permainan yang tidak disukai anak agar anak aktif memberikan usul.

5. Gunakan benda-benda di sekitar untuk menghidupkan suasana. 
Paling mudah menggunakan mainan kesukaan anak. Bisa juga menggunakan bantal, guling, alat tulis, alat dapur. Saya pernah pakai helm buat jadi bukit. Sendok jadi jembatan. Taplak meja makan atau seprai jadi sayap.
Dulu waktu kecil ibu pernah main bongkar pasang, kan? Itu loh mainan orang-orangan dari kertas? Bayangin aja kita lagi mainan bongkar pasang tapi ada anak kita sebagai penontonnya.

6. Totalitas dalam bercerita.
Mainkan mimik wajah ibu semaksimal mungkin. Nggak usah takut jelek di depan anak dan suami.
Kalau tokohnya kucing bersikaplah seperti kucing. Kalau perlu dandan kayak kucing dengan benda-benda di sekitar ibu. Saya pernah jadi kucing dengan rambut tak kasih jepit jemuran 2 biji buat jadi telinga. Pipi ditempel kertas post it yang dipotong 2 buat jadi kumis. Kemoceng kain ujungnya saya kasih rafia trus diikat diperut buat jadi ekor.

7. Improvisasi bebas merdeka.
Ketika mendongeng, lepas buku. Berimprovisasi sebebas-bebasnya. Selami dunia anak. Kalau anak-anak kelihatan bosan mulailah mengarang bebas. Kalau anak suka main air, selipkan main air dalam cerita. Masukkan binatang kesukaan anak sebagai tokoh cerita. Bisa juga makanan kesukaannya atau warna favorit anak.

8. Pergunakan bahasa dominan di rumah. 
Ada keluarga yang menggunakan lebih dari dua atau tiga bahasa pengantar di rumah. Untuk menghindari anak gagap bahasa, mendongeng harus konsisten menggunakan satu bahasa yang dominan. Hal ini berlaku untuk anak yang berusia 1-5 tahun. Manfaatkan mendongeng untuk menambah kosakata sebanyak-banyaknya pada anak. 

9. Melatih kecakapan bahasa anak. 
Anak usia 2-5 tahun terkadang masih ada ucapan kata yang belibet. Misalnya, menyebut jilbab dengan jlibab. Pengucapan huruf R, NG yang belum jelas. Ketika mendongeng sering-seringlah menggunakan kata-kata yang masih susah diucapkan oleh anak. Ucapkan kata-kata tersebut dengan pelafalan yang benar. Masukkan dalam cerita agar kata-kata tersebut 'nempel' di memori anak.  

10. Gunakan aktivitas mendongeng untuk menasehati anak namun bukan menggurui. Sesuaikan dongeng yang Ibu bacakan dengan kondisi Anak. Berimprovisasilah sebebasnya.
Just Sharing. Sewaktu ponakan umur 3 tahun susah sekali makan. Saya bercerita tentang nasi menanangis. Jalan ceritanya sederhana saja. Nasi sedih karena nggak dimakan karena nggak bisa masuk tubuh. Si Nasi pengen banget bisa membantu si anak untuk sehat tapi malah masuk ke tempat sampah. Memang setelah mendongeng ponakan nggak langsung suka makan. Tetapi dia jadi berusaha untuk menghabiskan makanannya. 

Mudah, kan? Ingatlah selalu mendongeng itu sama dengan bercerita. Biar nggak ada beban mental akan terasa berat kalau mau mulai mendongeng. Selamat mendongeng.



Gambar ilustrasi by Tya Listya     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar