[Cerpen Anak] Pasukan Kitik Kitik

Pasukan Kitik-Kitik

Oleh Ugik Madyo




Raja Kerajaan Bahagia sedang berdiri di balkon istana. Dia memandang murung ke bawah. Ada kabut tipis yang sejak beberapa hari lalu datang. Kabut ini tak mau hilang meski matahari bersinar dengan terik. Banyak orang yang berjalan hilir mudik di bawah sana. Mereka terlihat sibuk tapi sayang, tidak ada senyuman di wajah mereka sama sekali. Raja sedih memikirkan rakyatnya. 

“Yang mulia tuanku Raja.” Perdana Menteri berjalan cepat ke arah Raja. Lalu menyerahkan gulungan kertas ke baginda Raja. 

Dengan tergesa Raja membuka gulungan kertas. Ketika mulai membaca, wajah Raja terlihat pucat. Gulungan kertas itu adalah surat dari Kerajaan Seberang. Raja Kerajaan Seberang telah menyuruh penyihirnya untuk mengirimkan kabut sedih ke seluruh wilayah kerajaannya. 

Kabut ini semakin lama akan membuat sedih siapa saja yang berada di dalamnya. Jika terus menerus bersedih, mereka akan mati dalam hitungan satu bulan. Penawar kabut sedih akan diberikan, asalkan Raja Bahagia bersedia menyerahkan seluruh kerajaannya pada Raja Seberang. 

“Tolong panggilkan semua mentri. Segera!”

“Baik yang mulia.” Perdana menteri segera pamit dan menjalankan tugasnya.

* * *

Raja memanggil para menteri dan juga para ahli terbaik di seluruh negeri. Mereka berkumpul di ruang rapat selama berhari-hari. Setelah melakukan berbagai penyelidikan, para tim penyelamat kerajaan menyimpulkan, hanya kekuatan tertawa saja yang bisa menyingkirkan kabut sedih. 

Beberapa orang mengusulkan berbagai ide agar penduduk bisa tertawa. Raja sampai pusing memilih karena banyak ide yang diberikan. Akhirnya terjadi kesepakatan diantara mereka. Tim penyelamat akan melakukan pertunjukan lawak di tengah kota. Bagi yang sukses membuat rakyat tertawa akan mendapatkan hadiah besar dari kerajaan.

Raja mulai membentuk sebuah panitia pertunjukan yang diketuai oleh menteri kesenian. Pengumuman terpasang di seluruh penjuru kota untuk mengundang para pelawak handal. Banyak orang yang mengantri ingin mendapatkan kesempatan ini. Para pekerja kerajaan juga mulai membangun sebuah panggung di tengah alun-alun pusat kota. 

Berbagai pertunjukan lawak mulai dipertontonkan sepanjang hari. Tapi Raja tetap saja kecewa. Jangankan tawa, senyum atau tepuk tangan sangat jarang terdengar. Bagaimana mungkin penonton akan tertawa, kalau para pelawak itu juga berwajah sedih. 

Raja semakin bingung. Mungkinkah akan mengundang para penghibur dari luar kerajaan? Bukankah ini akan memakan waktu lama dan banyak biaya? Raja berpikir keras. Beliau termenung di kamar pribadinya.

“Pelayan! Minta tolong panggil Perdana Mentri dan Panglima. Cepat!” tiba-tiba raja berteriak kencang. Permaisuri dan Pangeran terkejut bukan main. Permaisuri menghampiri Raja dengan menggendong Pangeran muda. 

“Suamiku, ada apakah gerangan?”

“Tidak apa-apa. Maafkan aku yang mengejutkanmu. Aku pergi dulu.” Sang Raja bergegas berganti baju dan menuju ruang kerjanya.

Ketiga orang penting itu melakukan rapat hingga siang. Begitu selesai melakukan rapat, terjadi kesibukan luar biasa di halaman depan istana. Dua ribu pasukan berbaris dengan rapi. Panglima bersama para Kepala Prajurit sibuk berdiskusi di depan peta kerajaan. Raja pun turut serta memberikan perintah. Para pasukan mulai meninggalkan gerbang istana ketika matahari mulai terbenam. 

“Paduka Raja, apakah kita akan berperang?” Permaisuri tergesa-gesa menghampiri Sang Raja.

“Tidak istriku. Semoga setelah ini. Kerajaan kita akan kembali normal. Bantulah aku, berdoalah untuk negeri ini.”

“Tentu, paduka Raja.” Permaisuri dan Raja mulai berdoa bersama untuk mengiringi tugas para pasukan di luar sana.

* * *

Sebelum berangkat, pasukan dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil. Terdiri dari 10 – 20 orang. Mereka disebar ke seluruh desa dan dusun di seluruh pelosok kerajaan. Tugas mereka mengkitik-kitik setiap penduduk. Baik tua muda atau pria wanita. Mulai dari anak-anak sampai tua renta semua harus dikitik-kitik sampai mereka tertawa dan kabut sedih di sekitar mereka hilang. 

Begitulah perintah baginda Raja. Tugas ini harus dilaksanakan sampai berhasil. Kalau kabut sedih tidak benar-benar hilang dari seluruh wilayah kerajaan. Maka pasukan kitik-kitik tidak boleh kembali ke istana. 

Pasukan kadang dapat dengan mudah melakukan tugasnya. Namun kadang mereka juga harus bekerja keras. Ada penduduk yang bandel, mereka berlari menghindar. Para prajurit harus bersusah payah mengejar mereka, yang kadang larinya jauh lebih cepat dari para prajurit terlatih itu. Setelah mereka tertangkap, baru pasukan bisa mengkitik-kitik hingga orang tersebut tertawa. 

Ketika para pasukan menjalankan tugas, sering pasukan yang bermuka seram ikut juga tertawa. Pernah ada, seorang pemuda penduduk dusun di sebuah bukit pojok, yang paling tak tahan dikitikin. Begitu seorang pasukan meletakkan tangan di tubuhnya. Pemuda itu langsung menggerak-gerakan tubuhnya dengan beraneka gerak lucu juga ekspresi wajah lucu. 

Maka beberapa pasukan dan penduduk yang melihat adegan itu ikut tertawa-tawa. Kabut sedih yang menyelimuti dusun itu segera pergi dan tak kembali lagi. Tentu itu menyenangkan bagi para pasukan. Tugas mereka untuk membuat orang tertawa jauh lebih ringan. 

Semenjak para pasukan meinggalkan istana, Raja dan Perdana Menteri dengan setia berada di puncak menara tinggi kerajaan. Setiap hari dengan teropong, mereka mengamati kabut sedih di berbagai wilayah kerajaan. Kabut itu berlahan-lahan naik ke angkasa dan hilang. Kehidupan di sekitar istana sudah normal kembali. Senyum bahagia mulai menghiasi wajah-wajah ceria. Sapa dan tawa canda kembali mengiringi mereka dalam bekerja. 

“Syukurlah. Rencana kita berjalan dengan sempurna.” Raja tersenyum bahagia

“Anda sungguh cerdik Tuan Raja. Darimana ide pasukan kitik-kitik itu?” Perdana menteri mengelus-elus jenggotnya.

“Waktu itu aku teringat saat bermain dengan para Pangeran. Mereka selalu suka bermain kitik-kitik. Setiap kali dikitik-kitik, mereka selalu saja tertawa gembira. Aku pikir, semoga saja ini berhasil juga pada rakyatku.” Raja melihat ke arah Perdana Menteri. Keduanya lalu tertawa bahagia. 

Akhirnya, kutukan penyihir jahat dari Kerajaan Seberang itu bisa mereka kalahkan. Kerajaan kembali normal dan mereka tak perlu menyerahkan kerajaan untuk mendapatkan obat penawar. Raja beserta keluarga dan rakyatnya berbahagia dalam kelimpahan hasil panen dan keamanan yang terjamin. Ketika Raja meninggal dan digantikan oleh Pangeran Muda, Kerajaan Bahagia semakin luas wilayahnya. Masyarakat juga selalu bahagia dan sejahtera, serta selalu rukun damai.



Ilustrasi oleh ugik Madyo dengan Canva

Note: Bongkar-bongkar file di laptop ketemu cerpen anak ini. Pernah saya kirim ke majalah Bobo  bertahun-tahun yang lalu. Selama 6 bulan lebih tidak ada kabar berita. Ya sudahlah saya anggap ditolak naskah ini. Daripada nganggur di dalam laptop, saya posting saja di sini.  

Komentar