Kamis, 19 September 2019

Kita Jaga Alam Maka Alam Akan Jaga Kita

siaga bencana alam


Indonesia berlokasi di Cincin Api Pasifik. Secara teori tempat yang paling rawan bencana. Termasuk dalam lokasi barisan gunung berapi berbahaya dunia. Banyak gunung berapi aktif rawan meletus berada dalam wilayah Indonesia.

Selain itu, ada 3 lempeng yang ada di Indonesia, yaitu Lempeng Eurosia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia. Lempeng Eurosia berada di daratan Eropa dan Asia, kecuali daerah India, Arab Saudi dan Siberia Timur. Termasuk lempeng tektonik terbesar ketiga di dunia. Lempeng Pasifik ini berada di dasar samudera Pasifik.

Lempeng ketiga ini yang lumayan aktif bergerak. Lempeng Indo-Australia adalah dua lempeng yang memanjang dari Australia sampai ke India. Aslinya ini adalah dua lempeng. Seiring dengan perubahan daratan diatasnya bergabung menjadi satu lempeng. Beberapa ahli mencurigai kalau lempeng ini sedang bergerak untuk menjadi dua lempeng lagi. Namun masih belum ada bukti kuat tentang hipotesa tersebut.

Ketiga lempengan ini saling 'bersenggolan' di wilayah Indonesia. Di beberapa daerah ada zona-zona tumbukan antar lempengan tersebut. Ada tambahan lagi Indonesia berada di garis khatulistiwa yang mendapat 'anugerah' cuaca ekstrim baik saat musim hujan ataupun musim kemarau. Musim kemarau panjang yang kering. Musim hujan dengan curah hujan tinggi disertai dengan angin kencang. Sudah seharusnya kita menggalakkan budaya sadar bencana.

Bencana Alam di Indonesia

Demografi Indonesia sangat lengkap. Terdiri dari lautan, daratan, pegunungan dan dataran rendah. Ada sederetan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Baik yang berasal dari lautan ataupun daratan. Oleh karena itu kenali ancamannya, siapkan strategi, siap untuk selamat. Apa saja strategi yang sudah disiapkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)? 


Gunung Berapi Meletus

Saya sudah menyebutkan diawal bahwa Indonesia berada di Cincin Api Pasifik. Deretan gunung berapi berjajar dari Sabang sampai Merauke. Para ilmuwan memperkirakan ada sekitar 129 gunung berapi aktif di Indonesia. Gunung berapi tersebut ada di daratan dan lautan.

Sekitar 5 juta orang yang tinggal di zona bahaya gunung berapi. Tidak bisa dipungkiri bahwa tanah lava dari gunung merapi sangat subur. Tak perlu banyak perawatan, segala tanaman yang ditanam akan tumbuh dengan kualitas yang bagus.

Bisa dimaklumi jika banyak orang yang bertahan tinggal disekitar gunung berapi. Selain itu juga ada keterikatan dengan para leluhur yang sudah tinggal di sana. Penduduk akan berat hati kalau harus pindah dari tempat tinggal peninggalan leluhurnya.


penangggulagan bencana
3 lempeng bumi yang ada di Indonesia

Maka jalan keluar yang diambil adalah dengan melakukan pengawasan Gunung Berapi setiap waktu. Metode pengawasan Gunung Berapi dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Peralatan yang digunakan juga sudah canggih.

BNPB memberikan pelatihan penanggulangan bencana pada masyarakat sekitar gunung berapi. Penyadaran masyarakat lokal tentang pentingnya keselamatan terlepas dari kepercayaan animisme masyarakat. Penyadaran ini penting sekali. Terkadang karena fakor kepercayaan ada masyarakat yang enggan untuk diungsikan. Padahal kondisi Gunung Berapi sudah sangat berbahaya.

Gunung berapi yang meletus biasanya sudah bisa diprediksi. Aliran lava juga bisa diperkirakan. Dalam pelatihan dan sosialisasi ini juga disampaikan beberapa skenario penyelamatan. Pemasangan rambu-rambu pusat evakuasi masyarakat. Intinya adalah masyarakat sudah siap bila sewaktu-waktu gunung berapi meletus.

Gempa Bumi

Indonesia hampir setiap hari mengalami gempa. Namun dengan skala kecil, maksimal 5 skala richter. Gempa ini tidak menimbulkan kerusakan, hanya terasa bergoyang seperti sedang pusing. Kalau gempa sudah mencapai 6 skala richter, beberapa tempat akan mengalami kerusakan. Dalam satu tahun, rata-rata ada satu gempa dengan kekuatan 6 skala richter atau lebih yang terjadi di Indonesia.

Gempa di Indonesia terjadi karena faktor tektonik dan vulkanik. Gempa tektonik terjadi karena tumbukan antara lempeng bumi. Bisa juga karena pergerakan lapisan bumi. Sedangkan gempa vulkanik terjadi akibat aktivitas gunung berapi yang masih aktif.

Terjadinya gempa bumi sama sekali tidak bisa diprediksi. Meski menggunakan alat secanggih apapun. Para ahli geologi hanya bisa memprediksi adanya getaran di permukaan bumi. Hanya sebatas itu. Tidak bisa memperkirakan kapan gerakan akan terjadi dan berapa kecepatan geraknya.

Para ahli gempa bisa menganalisis daerah mana saja yang termasuk rawan gempa. Setelah itu BNPB melalui BPBD akan mengadakan serangkaian pelatihan agar masyarakat paham apa yang harus dilakukan ketika gempa. Terutama pada anak-anak dan masyarakat umum yang awam pengetahuan tentang gempa. Hal ini harus dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban.

Salah satu penyebab banyaknya korban gempa di Indonesia karena konstruksi bangunan dan infrastruktur yang belum 'ramah' gempa. Patut disayangkan jika saat perencanaan bangunan dan infrastruktur hanya sekedar jadi. Masyarakat yang rumahnya rusak akibat gempa akan membangun rumah yang tahan gempa.

Bagaimana dengan pemilik rumah yang selamat. Mereka cenderung mengabaikan hal ini. Rumah dianggap masih kuat dan akan cukup kuat jika ada gempa berikutnya. Ironisnya masyarakat yang belum pernah mengalami gempa tak peduli dengan konstruksi bangunan tahan gempa.

cara penyelamatan gempa bumi
Teori penyelamatan diri ketika gempa bumi


Tsunami

Ada dua penyebab terjadinya tsunami, karena gempa bumi atau letusan gunung berapi dalam laut. Biasanya kalau ada peringatan gempa bumi akan muncul peringatan tsunami juga. Apabila gempa memang tidak menimbulkan tsunami, beberapa menit kemudian dicabut peringatan tsunami. Bagaimana bisa begitu? Sudah ada alat deteksi tsunami yang dipasang di laut. Langsung bisa ketahuan apakah memang ada tsunami atau tidak. Namun sempat beredar berita beberapa alat pendeteksi tsunami rusak. Semoga saja ini hanya berita hoax.

BPBD mengadakan pelatihan penyelamatan diri bagi masyarakat yang tinggal dekat pantai. Bukan hanya yang tinggal di pesisir pantai. Biasanya tsunami berlangsung sangat cepat. Luas air laut yang menjangkau daratan tidak bisa diprediksi. Begitu juga ketinggiannya. Masyarakat sekitar harus saling menolong satu sama lain. Latihan evakuasi sejak dini dan skenario evakuasi dilakukan secara berkala.

Banjir

Jika musim hujan mulai datang, berita banjir mulai berseliweran. Baik di media sosial, televisi maupun media cetak. Percepatan informasi yang terjadi saat ini membuat berita tentang banjir dapat segera diketahui. Jika ada berita penduduk hulu sungai mengalami banjir maka penduduk di hilir akan bersiap siaga.

Namun ada kalanya banjir datang lebih cepat atau bahkan lebih dulu datang sebelum pesan tentang banjir diterima penduduk hilir sungai. Oleh karena itu dibangunlah pintu air. Bila ketinggian air sungai sudah dalam taraf siaga, masyarakat sekitar sungai harus segera siap-siap menghadapi banjir.

Bagaimana jika yang datang adalah banjir bandang atau banjir rob. Kedua jenis banjir ini datang tak terduga. BNPB memberikan banyak informasi untuk penyelamatan diri ketika banjir di media massa. Pelatihan juga dilakukan di daerah lewat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).

Selain itu juga dilakukan pemetaan tempat tinggal warga lansia, ibu hamil, keluarga dengan balita dan sakit yang tidak bisa beraktivitas (misalnya: stroke). Tentu saja untuk memudahkan evakuasi jika banjir cukup tinggi.

Harapannya agar masyarakat siap jika sewaktu-waktu banjir. Meski daerah rumahnya bukan di daerah rawan banjir. Semua ini dilakukan untuk meminmalisir korban jiwa atau luka-luka. Indonesia termasuk negara yang rawan banjir. Perkotaan, pedesaan bahkan kawasan hutan pun tak luput dari bencana banjir.

Langkah utama yang dilakukan masyarakat adalah pencegahan banjir terlebih dahulu. Kita jaga alam, alam jaga kita. Apa yang harus dilakukan? Jangan menebang pohon di hutan sembarangan. Jaga selalu kebersihan dan kelancaran aliran sungai dan selokan. Lakukan reboisasi pada perbukitan atau pengunungan yang gundul. Pembuatan banyak lubang resapan biopori di daerah perkotaan. Klise sepertinya. Namun ini yang memang harus dilakukan.

isi ransel siaga bencana
Selalu siapkan dan cek secara berkala ransel siaga bencana di rumah


Tanah Longsor

Pada daerah perbukitan dan pegunungan tertentu hujan deras kadang disertai dengan tanah longsor. BPBD menggalang kerjasama dengan para perangkat desa untuk melakukan pemetaan daerah rawan tanah longsor.

Berbagai penyuluhan dan pelatihan dilakukan secara intensif pada masyarakat di daerah perbukitan dan pegunungan. Meski saat ini sudah jarang dilakukan peladangan berpindah di hutan. Namun masih saja ada masyarakat yang mengambil kayu di hutan lereng gunung secara sembarangan.

Angin Puting Beliung

Angin puting beliung adalah angin yang berputar kencang dan 'menyapu' apa saja yang dilewati. Angin kencang ini keluar dari awan Cumulonimbus. Ini adalah salah satu bencana alam yang menakutkan. Datangnya tiba-tiba dan biasanya memakan banyak korban jiwa dan material.

Para pengamat cuaca hanya bisa melihat adanya kemunculan dan pergerakan awan yang berpotensi menyebabkan angin puting beliung. Namun tak bisa memperkirakan dimana kelaurnya angin ini dari awan. Hanya bisa dilakukan berita siaga untuk daerah yang dinaungi awan tersebut. 

BNPB tidak hanya melakukan berbagai penyuluhan, pendidikan dan pelatihan penaggulangan bencana serta penangangan darurat saat bencana. Melalui BPBD juga mengadakan pencegahan dan kesiapsiagaan di daerah rawan bencana.

Setelah bencana alam terjadi akan dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi hingga suatu daerah bencana pulih seluruhnya. Penyediaan logistik dan peralatan dalam menghadapi bencana alam sudah siap sepenuhnya. Tentu saja siap digunakan sewaktu-waktu ketika bencana alam terjadi.

Namun tetap saja bantuan dan kerjasama dengan seluruh masyakat sangat diperlukan. Baik saat pencegahan, penanganan darurat hingga rekonstruksi dan rehabilitasi. Tentu yang lebih terutama selalu menjaga alam yang ada di sekitar kita. Namun yang utama tentu saja banyak berdoa memohon perlindungan dan pertolongan keselamatan kita semua. Dijauhkan dari segala macam bencana. 





Referensi tambahan:
1. www.bnpb.go.id
2. www.bmkg.go.id



Foto: koleksi pribadi, BNPB dan BMKG.

52 komentar:

  1. Bener banget Mba
    Musti ngajarin soal survival kepada semua orang, utamanya anak2.
    Karena bencana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ,Mbak. Ini yang terpenting harus paham teknik survival bila terjadi bencana.

      Hapus
  2. Aminnnn semoga selalu dalam lindunganNya ya...Mau gemana lagi ya..Indonesia memang indah meskipun bencana adalah bagian dari keindahan itu sendiri... Kita aja yang harus selalu siaga menghadapi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Yang penting tetap siaga selalu.

      Hapus
  3. Bencana memang bisa terjadi di mana saja ya, bahkan dalam rumah juga bisa. Sekarang ini banyak gempa terjadi di Indonesia. Memang harus tetap siaga ya, semoga kita semua selalu dalam lindunganNya.amin.

    BalasHapus
  4. Emang penting banget ya mengajarkan siaga bencana pada masyarakat, bisa diawali dengan diri dan keluarga dulu. Bagus juga nih kalau ada semacam penyuluhan dari BNPB ke sekolah-sekolah atau komunitas mengenai siaga bencana ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. BNPB lewat BPBD sudah melakukan berbagai penyuluhan ke sekolah dan kelurahan serta komunitas.

      Hapus
  5. Saya pernah berpikir serem banget ya tinggal di Indonesia dengan banyaknya bencana alam. Tetapi, di sisi lain, kejadian yang menurut kita semua bencana ini juga yang membuat Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

    Memang yang terpenting adalah mengajarkan masyarakatnya untuk siaga bencana. Pengennya sih kayak di Jepang yang katanya rutin mengadakan pelatihan hingga ke sekolah-sekolah. Sayangnya di kita belum seperti itu.

    Saya juga setuju banget dengat judul artikel ini. Kalau alam sudah sakit, yang bakal sakit juga manusianya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebeanrnya bisa sih kalau dibuat model pelatihan siaga bencana seperti di Jepang. Para guru dan pengurus kampung yang sudah mendapatkan pelatihan harus aktif sosialisasi ke para murid dan warga masyakat. Namun kayaknya kalau di Indonesia masih kurnag inisiatifnya. Kalau daerahnya belum kena bencana masih tennag-tenang saja hehe.

      Hapus
  6. Salut banget sama BNPB ini komitmennya untuk mengedukasi hingga menyelamatkan korban patut diacungi jempol

    BalasHapus
  7. sampai ada yang bilang, Indonesia ini supermarketnya bencana, maksudnya mau bencana apa aja ada. BNPB pun membuat saya mengacungi jempol, bagaimana pun tetap cinta negeri ini, semoga kita tidak menjadi pelaku perusak alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Saking apanya coba sampai dapat julukan supermarket bencana.

      Hapus
  8. waspada bencana pas dulu tinggal di dekat pantai. udah siap tas isi barang2 penting. lokasi berkumpul di lapangan terdekat juga udah ditandai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penduduk di daerah dekat pantai ini sepertinya yang paling siap dengan bencana.

      Hapus
  9. Aku juga belajar survive karena tinggal di Indonesia memang rawan bencana. Aku juga ngajarin ponakanku buat menyelamatkan diri. Kuta enggak oernah tahu apa yang terjadi, kan?! Jangan lupa tetap berdoa buat keselamatan bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Kak. Anak-anak ini emang perlu banget diajari survival bencana. Kuatirnya pas terjadi bencana lagi nggak di dekat kita.

      Hapus
  10. Baru kemarin liat pengenalan survival ke anak2 jika terjadi bencana mbak. Dan hal itu penting sekali. Karena kita semua ga tau kapan bencana itu datang,
    Wallahu a'lam
    Makasih informasinya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. Pengenalan survival ke anak-anak ini penting banget.

      Hapus
  11. Iya, kesadaran masyarakat akan rawannya bencana di negara kita masih kurang. Disamping itu orang indonesia mudah lupa. Contohnya Jogja. Pasca bencana gempa, masih banyak yang mendirikan bangunan bertingkat. Semoga saja konstruksinya kuat. Karena memang kita yg harus beradaptasi karena tinggal di daerah rawan bencana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja meski bangunannya bertingkat sudah menggunakan rancang bangun anti gempa. Memang salah satu problem BNPB adalah masyarakat yang merasa sudah aman ketika bencana alam sudah selesai.

      Hapus
  12. Indonesia memang tempat riset kebencanaan paling populer ya mbak. Semua jenis bencana alam ada. Entah tsunami, banjir, gunung merapi, dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Banyak ilmuwan luar negeri yang melakukan riset bencana alam di Indonesia.

      Hapus
  13. Aku kadang juga kepikiran menyiapkan ransel isinya yang penting aja, macam obat-obatan, minuman dan makanan ringan. Tapi trus mikirnya, kan aku enggak tinggal di daerah bencana. Cuma trus mikir juga misal mendadak ada banjir juga repot ya kalo enggak ada persiapan seperti yang mba Ugik tuturkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu juga kepikiran gitu, Mbak. Setelah riset buat bikin tulisan ini, langsung packing tas siaga bencana. Kayaknya meski bukan tinggal di daerah bencana tetep harus nyiapin tas siaga bencana.

      Hapus
  14. Masih ingat bencana tsunami n gempa yg lalu. N sekarang disini lg bencana asap yg belum kelar2. Hiks. Semoga kita semua dijauhkan dr bencana n bs menghindarinya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah hujan di sana, Kak? Semoga asapnya segera hilang tak berbekas sama sekali.

      Hapus
  15. Wah artikelnya sangat mencerahkan!
    Jadi lebih bertambah wawasan tentang bencana alam.
    Terutama yang bagian menyelamatkan diri itu.
    Aku juga pernah menonton cara penyelamatan yang kurang lebih sama dari bencana di channel Nat Geo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak. Aku juga pernah nonton di channel itu. Kayaknya perlu nih BNPB kerjasama dengan stasiun televisi. Biasa sosialisasi penyelamatan diri bisa lebih luas lagi.

      Hapus
  16. kalo kata walikota Bengkulu, bapak helmi hasan, jaga yang di bumi, niscaya yang di langit akan membantu

    BalasHapus
  17. Di Jogja sering ada pelatihan survival dan mitigasi bencana. Mungkin karena Jogja termasuk daerah rawan bencana kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Jogja sering banget ada pelatihan. Mungkin karena banyak masyarakat yang sudah sadar bencana.

      Hapus
  18. Inget banget dulu mas tinggal di Jepang.
    Karena Jepang rawan bencana gempa, maka di pintu apartemennya sudah tersedia tas ransel siaga.
    Isinya bener-bener lengkap untuk kebutuhan 1-2 hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Jepang seperti wajib ya Kak menyediakan tas ransel bencana. Sering banget gempa di sana.

      Hapus
  19. Baru tahu tas ransel siaga ini ya. Kalau di kapal besar itu kayak kapal sekoci yang makanan dan minumnya bisa buat 1 tahun bertahan di laut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam itu lah, Kak. Tas ransel siaga ini seperti sekoci kita kalau ada bencana.

      Hapus
  20. suka sedih banget sama manusia ataupun golongan manusia yang begitu tega menghancurkan alam hanya semata menurut akal mereka itu benar dilakukan dan untuk keuntungan mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, Mbak. Kok ya tega demi keuntungan sesaat saja.

      Hapus
  21. hukum alam berlaku what goes around, comes around. Kalau manusia sebagai penduduk bumi peduli untuk menjaga tempatnya ya bumi insya Allah akan bersahabat dan lestari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusia harus peduli pada alam. Alam akan baik-baik saja kalau dijaga dengan baik juga.

      Hapus
  22. Menambah ilmu baru, memang masih jarang blog yang membahas tentang bencana alam berikut mitigasinya. Memang bencana tidak bisa dipastikan secara tepat, tapi bisa diprediksi melalui kajian ilmiah. Dan itu semua ulah oknum manusia yang senang merusak alam, sehingga semua orang (baik maupun jahat) terkena dampaknya, misal kabut asap Riau. Saya juga menulis artikel tentang manajemen, di antaranya manajemen mitigasi bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga semakin banyak orang yang sadar akan bencana.

      Hapus
  23. Bangunan di Indonesia harus mulai meniru bangunan di Jepang nih karena ternyata Indonesia juga rawan gempa ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk bangunan yang dibangun ulang setelah hancur setelah gempa, konstruksinya bangunan sudah kuat nahan gempa. Namun daerah-daerah yang belum kena gempa ini yang menguatirkan.

      Hapus
  24. Jogja termasuk daerah yang rawan bencana. Alhamdulillah pemerintahnya aware dan sering ngajarin mitigasi bencana ke sekolah dan kampus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah banget kalau pemerintah daerah-nya sudah sadar bencana. Masyarakat jadi lebih mudah dididik sadar bencana.

      Hapus
  25. Ini PR kita bersama ka.. hancurnya alam memang karena manusia jugalah.. semoga semakin aware dengan lingkungan dan alam, paling tidak dimulai dr diri sendiri ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Kita semua sebagai masyarakat harus kerja sama memelihara alam.

      Hapus
  26. Kalau mikirin bencana itu serem banget ya. Bencana datang juga sebagian besar karena ulah manusia yang ga menjaganya. Duh, semoga kita terhindar dari segala bencana alam tersebut ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Doa yang kenceng nih. Ambon gempa susulannya masih datang berkali-kali.

      Hapus