Sabtu, 13 Juli 2019

Cegah Penyakit Tidak Menular dengan 3 Perilaku Germas


mencegah penyakit tidak menular

Masih ingat dengan moto mensana in corpore sano? Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kalau semakin banyak individu yang sehat secara otomatis akan menular pada individu yang lain. Sehingga akan terwujud masyarakat yang sehat. Kalau semakin banyak masyarakat yang sehat tentu saja negara akan menjadi lebih kuat.

Kondisi kesehatan masyarakat Indonesia untuk saat ini belum bisa dikategorikan sebagai masyarakat yang sehat secara keseluruhan. Pada tahun 1990-an penyakit yang diderita oleh masyarakat didominasi oleh penyakit menular. Tiga peyakit menular yang banyak diderita adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), diare dan tuberkolosis (TBC). Depertemen kesehatan dengan segenap upaya akhirnya bisa memberantas penyakit menular tersebut dan menurunkan angka penderitanya.

Lalu pada tahun 2000-an mulai muncul penyakit tidak menular, namun dianggap membahayakan di masyarakat Indonesia. Penyakit tidak menular tersebut adalah diabetes, jantung, kencing manis, hipertensi dan kanker. Angka penderita penyakit ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2015 Kementrian Kesehatan Indonesia mencanangkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat).

Tentang GERMAS

Germas adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi germas yang dilakukan oleh pemerintah ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.

Dasar pondasi germas adalah membangun akses untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, instalasi kesehatan masyarakat dan pembangunan pemukiman yang layak. Germas dirancang oleh Kementrian Kesehatan Indonesia untuk menguatkan tiga pilar progran Indonesia Sehat, yaitu penerapan paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional.


mencegah penyakit tidak menular


Saat ini Indonesia menghadapi 3 masalah kesehatan penting yaitu pemberantasan penyakit infeksi, bertambahnya kasus penyakit tidak menular serta munculnya kembali jenis penyakit yang seharusnya telah berhasil diatasi. Untuk penyakit tidak menular ini mendapatkan perhatian lebih. Dengan dicanangkankannya germas mempunyai tujuan untuk mengatasi 3 masalah penting kesehatan tersebut.

Sosialisasi germas dan penerapannya dilakuan di seluruh Indonesia akan mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
1. Kesehatan masyarakat yang selalu terjaga.
2. Masyarakat menjadi lebih produktif.
3. Lingkungan tempat tinggal  yang bersih
4. Biaya berobat berkurang.

Keuntungan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain. Tubuh yang sehat akan meningkatnya produktifitas baik mental maupun fisik. Seseorang yang selalu menjaga kesehatannya tentu dia akan berusaha agar lingkungan tenpat tinggalnya selalu bersih. Jika tubuh sehat otomatis mempunyai kekebalan tubuh yang baik. Jadi jarang sakit. Ini akan membuat biaya berobat akan berkutang. Uang yang biasanya untuk berobat bida digunakan untuk keperluan rumah tangga yang lain. Anggaran negara untuk kesehatan juga bisa dialihkan ke bidang yang lain.

Penyakit Tidak Menular di Indonesia

Saya sudah menyebutkan diatas kalau angka penyakit tidak menular yang terus naik. Informasi ini berdasarkan data yang saya ambil dari Riskesdas tahun 2013 dan 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan yang telah menyelesaikan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara terarah terintegrasi dengan Susenas Maret yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Ada lima penyakit tidak menular yang berada di posisi tertinggi. Secara kuantitatif mengalami peningkatan jumlah penderita penyakit-penyakit ini. Silahkan cermati tabel berikut ini. Sebagai perbandingan adalah data angka di tahun 2013 dan 2018.

mencegah penyakit tidak menular

Kelima penyakit tidak menular tersebut disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat dan pola makan yang mengabaikan kaidah gizi yang cukup. Saat ini jaman milenial semua serba ada dan serba mudah. Segala urusan yang biasanya harus diselesaiakan dengan banyak kerja fisik digantikan oleh teknologi yang semakin canggih. Hal ini menbuat orang semakin malas bergerak. Aktifitas pekerjaan juga lebih sering dilakukan dengan duduk.

Begitu juga dengan makanan. Teknologi pangan berkembang sangat pesat. Semakin banyak makanan instan yang diproduksi. Tentu saja mempermudah kita untuk makan. Tidak perlu lagi masak berjam-jam. Beli saja makanan instan. Sudah ada dalam kemasan plastik, pack atau kaleng tinggal dipanaskan dan langsung dimakan. Kalau mau lebih gampang lagi tinggal beli. Banyak tempat makan siap saji. Tinggal telefon atau klik ponsel, makanan sudah hadir di depan rumah dalam waktu yang tak lama. Apalagi ada banyak penjual makanan cepat saji saat ini. Lebih praktis lagi.

Untuk mengatasi penyakit tidak menular agar tidak semakin banyak penderitanya setiap tahun, Germas mencanangkan 3 perilaku preventif yang disebut dengan 3 perilaku Germas, yaitu:

1. Aktifitas fisik 30 menit di pagi hari
Aktifitas fisik ini bisa olah raga atau sekedar jalan kaki di sekitar rumah. Dengan aktifitas 30 menit saja akan membangunkan sel-sel yang tidur dalam tubuh. Memperkuat jantung, melancarkan peredaran darah dan kinerja paru-paru. Jangan dibiasakan bangun siang. Kalau yang muslim usahakan jangan tidur setelah sholat subuh.

2. Konsumsi sayur dan buah
Tingkat konsumsi sayur dan buah di masyarakat Indonesia masih rendah. Hanya sekitar 40% saja yang mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin. Pada anak usia 5 tahun ada 95% yang tidak mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin (sumber: Riskesdas 2018). Padahal sayur dan buah ini mengandung banyak vitamin dan mineral alami yang dibutuhkan badan.

3. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
Ada beberapa cek kesehatan yang harus dilakukan secara berkala oleh masyarakat Indonesia untuk memantau kesehatnnya secara mandiri. Jika ada gejala penyakit tidak menular bisa diobati secara dini. Pemeriksaan ini bisa dilakukan di Puskesmas yang dekat dengan tempat tinggal. Puskesmas saat ini sudah dilengkapi dengan laboratorium untuk pemeriksaan kesehatan. Jika memang dibutuhkan pemeriksaan kesehatan lebih komplek, pasien akan dirujuk ke Klinik atau Rumah Sakit tipe B atau A.

Pemeriksaan kesehaatan yang harus dilakukan secara berkala (minimal 1 bulan sekali) secara mandiri, antara lain:
- Cek berat badan dan tinggi badan. Jangan sampai mengalami obesitas.
- Cek lingkar perut. Angka normal lingkar perut orang dewasa untuk wanita kurang dari 80cm. Sedangkan untuk pria kurang dari 90cm.
- Cek tekanan darah.
- Cek kadar gula darah.
- Cek fungsi mata dan telinga.
- Cek kolesterol tetap, meliputi kolesterol buruk (LDL), kolesterol baik (HDL) dan trigliserida.
- Cek arus puncak ekspirasi. Pengujian ini untuk mengecek fungi paru-paru. Biasanya dilakukan oleh penderita asma atau gangguan pada paru menahun lainnya.
- Cek SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Selain dilakuakn oleh tenaga medis, SADARI bisa juga dilakukan sendiri di rumah.
- Cek dan deteksi dini kanker leher rahim melalui tes PAPSMEAR dan tes IVA. Khusus untuk kedua tes ini dilakukan oleh para wanita yang sudah menikah atau sudah berhubungan intim. Kedua tes ini bisa dilakukan 6 bulan - 1 tahun sekali tak perlu setiap bulan.

mencegah penyakit tidak menular


Sebenarnya ada 7 perilaku Germas yang sudah dirumuskan oleh Departemen Kesehatan Indonesia. Namun 3 perilaku Germas diatas adalah perilaku utama yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah peningkatan penderita penyakit tidak menular. 4 perilaku germas yang lain adalah:

1. Tidak merokok
Secara de facto merokok tidak baik untuk kesehatan. Baik untuk kesehatan perokok sendiri maupun untuk orang-orang yang berada di sekitarnya (perokok pasif). Di Indonesia, anak-anak mulai merokok usia 10 tahun (sumber: Riskesdas 2018). Untuk perokok usia 10-18 tahun jumlahnya terus meningkat. Tahun 2013 7,2 %; 2016 8,8 % dan di tahun 2018 sebesar 9,1% (sumber: Riskesdas 2018).

2. Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol
Apabila tubuh mengkonsumsi alkohol akan mengakibatkan peredaran darah yang tidak lancar. Selain itu juga akan mengganggu kinerja ginjal, yang bisa berakibat gagal ginjal. Bahkan bisa juga terjadi pengerasan hati menjadi penyakit kanker hati. Menurut data Riskesdas tahun 2018 3,3 % masyarakat Indonesia mengkonsumi alkohol. Sedangkan 0,8 % mengkonsumsi alkohol secara berlebihan.

3. Menjaga kebersihan lingkungan
Perilaku ini sebenarnya adalah sikap hidup germas yang sangat mendasar. Kebersihan lingkungan terutama rumah akan berpengaruh pada kesehatan setiap anggota dalam keluarga. Tentu tak mungkin hanya lingkungan rumah saja yang harus bersih. Lingkungan di sekitar rumah juga harus bersih. Tidak ada gunanya kalau hanya lingkungan rumah saja yang bersih. Bakteri dan kuman bisa saja datang dari luar lingkungan rumah. Mulailah dari perilaku yang paling sederhana. Biasakan membuang sampah di tempat sampah. Bisa sampah sudah penuh segera angkut ke Tempat Penampungan Sampah (TPS) yang terdekat dengan tempat tinggal..

4. Menggunakan jamban
Kotoran manusia mengandung bakteri E-coli bahkan mungkin juga bakteri yang lain. Sangat berbahaya jika bakteri ini bercampur dengan air tanah lalu kita konsumsi. Sudah seharusnya Buang Air Besar (BAB) harus dilakukan di jamban yang berseptitank. Kalau di perkotaan sudah banyak rumah yang mempunyai jamban. Sedangkan di pelosok pedesaan, mungkin ada yang belum mempunyai jamban di rumah. Jika tidak memungkinkan untuk mempunyai jamban sendiri di rumah bisa membangun jamban umum yang bisa digunakan beberapa rumah. Pembangunannya bisa secara gotong royong, lebih murah biayanya.

Nah, mudah kan? Hanya menata kembali pola hidup dan pola makan untuk mencegah penyakit tidak menular. 3 perilaku germas ini sudah disosialisasikan ke seluruh jajaran Departemen Kesehatan Indonesia. Tinggal kita sendiri. Mau melakukannya dan mempunyai badan yang sehat atau masih mengabaikan pola hidup sehat dan pola makan sehat.



Foto: koleksi pribadi dan kemkes.go.id

Referensi penunjang:
1. http://www.depkes.go.id/
2. http://promkes.kemkes.go.id/
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Riskesdas tahun 2013 dan 2018



47 komentar:

  1. Waaah angka persentasi penyakit tidak menular dari tahun 2013 ke tahun 2018 lumayan juga kenaikannya ya mba... emang gaya hidup & stress itu ngaruh banget. Apalagi sekarang gampang dapetin makanan yg cepat saji daripada makanan rumahan, semoga dengan tulisan ini yang lain tercerahkan & mulai tergerak menjalani pola hidup sehat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaya hidup ini emnag harus sehat. Semoga kita semua terhindarkan dari segala penyakit.

      Hapus
  2. Yang saya khawatirkan sekarang itu aktifitas fisik mulai berkurang. Apalagi semenjak tempat kerja nggak lagi sering turun ke produksi. Jadi kebanyakan duduk mager depan komputer. Duh kudu buru² diperbaiki nih pola hidup sehatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama nih mbak kayak aku. Kebanyakan duduk sekarang. Jarang banget kerja fisik.

      Hapus
  3. Bagus! artikel yang harusnya saya catat dan pajang di depan wajah apalagi di usia saya yang tidak muda lagi. Sekarang udah jarang banget jalan kaki atau olahraga lain. Kudu dipaksain deh.
    Kanker memang masih jadi penyakit tidak menular no.1, tapi stroke dan hipertensi pertumbuhannya jauh lebih drastis ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima aksih mbak. Pengingat diri sendiri juga ini. Jarang banget olah raga padahal usia semakin menua.

      Hapus
  4. iya ya, jaman sekarang PTM juga menjadi ancaman. Apalagi generasi milenial udah berubah jadi bapak-bapak ibu-ibu yang mana dari kecil perilaku terutama makannya udah gak asing lagi dengan junkfood dll. Emang harus terus olahraga deh kita ya, dan ikut germas ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silent killer ini penyakit tidak menular. Sering kali tidak terdeteksi secara dini.

      Hapus
  5. Dulu kalau dengar ada orang kena penyakit stroke itu, bayangannya penderitanya sudah tua. Tapi kini, anak muda pun bisa terkena stroke. Saya dulu kaget waktu diberitahu ada teman yang kena stroke, padahal dia masih muda. Rupanya memang pertumbuhannya termasuk tinggi di Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stroke ini yang paling ngeri. Banyak yang usia muda kena stroke sekarang ini. Umur masih 40an.

      Hapus
  6. Nah ini, lingkar perut!
    Hahaha...
    Kayaknya sudah lewat ne!

    Masih banyak yang harus aku benahi, hiiks.
    Terutama 30 menit aktivitas fisik di pagi hari itu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mak. Lingkar perutku sudah lebih dari nomal. Hiks.

      Hapus
  7. Aku nih masih suka lupa SADARI dan belum sempat papsmear. Penting banget ya menjaga kesehatan ini biar masyarakat kita semua sehat2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Aku juga jarang banget SADARI. Belum pernah papsmear juga.

      Hapus
  8. Benar nih,harus cek kesehatan berkala danengikuti gaya hidup sehat biar lebih sehat dan terhindar dari penyakit degradatif ya Ugik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dew. Semoga kita smeua sehat ya.

      Hapus
  9. Skarang harus deh benar-benar jaga pola hidup yang sehat bir nggak terkena penyakit menular. DUh sedihnya ya mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita semua selalu sehat ya Mbak.

      Hapus
  10. Perlu tahu ya yang seperti ini, semoga saja kita bisa menjadi bagian masayarakat yang sadar akan kesehatan ya. aamiin

    BalasHapus
  11. Zaman skrng PTM makin ngeri, gak hanya menyerang yang udah sepuh tapi yang muda2 dan produktif. Wajib banget ya GEZRMAS ini sesuai anjuran pemerintah supaya jauh dari penyakit dan jg gak membebani negara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penyakit tidak menular sekarang mulai menyerang usia muda. Umur 40an sudah banyak yang terkena stroke atau gangguan di jantung.

      Hapus
  12. jadi koreksi diri nih. gaya hidup saya udah gak sehat sejak ada promo ojol, haha. kemana2 jarang jalan kaki dan sering jajan di luar rumah, gorengan dan teman2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ini kayaknya banyak yang kayak gini. Aku juga Mbak.

      Hapus
  13. Wah,aktivitas 30 menit ini saya yang kurang, bangun tidur bukannya olah raga malah sibuk nerusin tugas deadline tulisan. Harus diubah nih. Mksh sudah diingatkan. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Saya juga masih sering bangun tidur langsung anteng depan laptop ngejar deadline.

      Hapus
  14. Penyakit Tidak Menular ini pembunuh tertinggi di dunia, anehnya walau banyak yang tahi bisa menyebabka kematian, banyak yang menyepelkan terutama gaya hidup yang kurang baik. Termasuk aku.. hehe.... Kesadaran diri itu yang penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena masih ada persepsi kalau penyakit tidak menular ini hanya diderita orang yang sudah tua.

      Hapus
  15. Rada kaget liat peningkatan angka penderita hipertensi itu..Wah jangan2 aku termasuk ya, soalnya wlaupun tahu harus olahrga adan makan sayur, tetap aja aku suka lupa ngelakonin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Angka penderita hipertensi meningkat ini kemungkinan juga bisa karena tingkat stress yang tinggi di masyarakat.

      Hapus
  16. Setuju sekali sama statement ini: Tubuh yang sehat tentu akan meningkatnya produktifitas baik mental maupun fisik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tubuh kita semua selalu sehat sampai tua nanti.

      Hapus
  17. Ptm itu diam2 banyak, biaya besar dan bahaya ga sadar mak hikz. Harus hidup sehat ini aku :"(


    Sadari, papsmear wajib ini kayaknya aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mak. Aku juga belum pernah papsmear hiks.

      Hapus
  18. Huhu, yang nomor 3 nih aku enggak lakuin. Cek kesehatan palingan cuma tes gula dan kolesterol. Sama tesi darah aja. HUhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Aku cek kesehatan ini yang sering lalai.

      Hapus
  19. Gaya hidup dan pola pikir ini memang ngaruh banget ya, Mbak. Gitu lho, aku kok ya masih malas-malasan aja untuk urusan olahraga. Cek-up juga nggak rutin, cuma kalau lagi sakit aja. Duh, kayaknya memang perlu bujet khusus nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya mulai sekarang kita harus disiplin jaga kesehatan, nih. Smeoga kita sehat terus sampai tua nanti.

      Hapus
  20. Ini tuh penting banget deh kita kudu jaga makan dan olah raga, karena menurutku panyakit tidak menular ini lebih menyeramkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pola hidup sehat dan pola makan ini memang penting ahrus dijaga ya.

      Hapus
  21. Saya dari ketiga germas itu yg belum, memeriksakan secara berkala kesehatan kita. Itu kebanyakan org memang memeriksakan keaehatan setelah sakit. Padahal haruanya aebelum sakit dah memeriksakan diri ya buat mencegah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mulai dibiasakan cek kesehatan mbak. Biar bisa terpantau terus badannya.

      Hapus
  22. Asa sudah melakukan semua...tapi kalau sakit semoga jangan yang berat-berat, kalau boleh memohon sama Allah.
    Karena Germas ini dimulai dari kebiasaan baik di lingkungan keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Smeoga kita semua sehat terus sampai ajal menjemput.

      Hapus
  23. Hal kecil dan mudah sebenarnya ya.. tapi manfaatnya besar banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal kecil bermanfaat yang sering kali terlupa.

      Hapus