Senin, 16 September 2019

Sawit Kuat Indonesia Hebat Jika Perkebunan Kelapa Sawit Dikelola Dengan Benar



Beberapa waktu terakhir berita tentang kabut asap akibat kebakaran hutan menghiasi banyak media cetak dan televisi. Bahkan di media sosial lebih ramai lagi. Bukan saja dirasakan oleh penduuk Indonesia. Para penduduk di negara tetangga juga merasakan dampak kabut asap yang belum juga hilang.

Kebakaran hutan ini diduga akibat kebakaran yang terjadi di lahan gambut dan perkebunan sawit. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah menyegel 42 perusahaan. Beberapa diantaranya ada perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sayang sekali kalau masih harus membakar lahan untuk memulai penanaman kelapa sawit. Ini tentu saja akan mencoreng nama kelapa sawit lebih dalam.

Bisa dibilang kelapa sawit ini seperti pisau bermata dua. Eksport kelapa sawit sampai tahun 2018 sudah menyumbang devisa negara terbesar. Berkontribusi besar untuk keuangan negara. Namun juga berkontribusi banyak bikin pemerintah pusing mengatasi kebakaran lahan yang terjadi setiap tahun. Selain itu ada isu dampak lingkungan yang buruk dan masalah ketenagakerjaan di perkebunan kelapa sawit swasta masih bertiup kencang.

Tahun 2018 lahan sawit ada 14,31 juta hektar. Lahan yang termasuk perkebunan rakyat seluas 5,81 juta hektar. Perkebunan negara 713,000 hektar. Sedangkan 7,79 juta hektar dikelola oleh perusahaan swasta. Untuk perusahaan swasta selain dari perusahaan Indonesia ada perusahaan asing, yaitu dari Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, Belgia dan Inggris.

Lahan sawit tersebar di Pulau Sumatera, Jawa Barat, Banten, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Untuk lahan sawit yang paling luas ada di Riau. Disusul oleh daerah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Pertumbuhan lahan sawit yang paling cepat ada di Kepulauan Riau (220,07%). Prosentase ini dihitung dari tahun 2015- 2018. (sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan).

Perkebunan Kelapa Sawit terbentang luas

Pengelolaan Limbah Kelapa Sawit

Memang eksport kelapa sawit yang paling diandalkan untuk devisa negara kita. Kepopuleran kelapa sawit ini juga membawa isu tak sedap tentang dampak lingkungan akibat limbah pengolahan minyak kelapa sawit. Kelapa sawit hasil perkebunan diolah menjadi minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

CPO ini yang akan dijual ke produsen untuk digunakan sebagai bahan baku industri lainnya. Selain untuk pemenuhan kebutuhan di Indonesia, CPO di eksport juga. Dari hasil eksport CPO ini  membuat kelapa sawit jadi sember devisa terbesar di Indonesia.

Mirisnya, perusahaan perkebunan kelapa sawit dituding juga sebagai penyebab utama kerusakan lingkunan. Hal ini terjadi karena proses pengolahan CPO yang menghasilkan limbah cair dan gas buangan CPO (gas metana). Limbah cair ini menyebabkan air sungai tercemar. Dengan indikasi warna air sungai menjadi hitam. Sedangkan gas buangan CPO dampaknya 24 kali lebih kuat dari karbondioksida (CO2). Hal ini yang menyebabkan pemasanan global semakin meningkat.

Limbah hasil produksi minyak sawit yaitu Palm Oil Mills Effluent (POME) dan gas buangan metana sebenernya bisa dikelola dengan pembangunan Instalasi Bio Gas Plant.

Instalasi Bio Gas Plant melakukan fermentasi POME yang menghasilkan ampas POME dan gas metana. Ampas POME bisa dijadikan kompos. Sedangkan gas metana jadi bahan bakar penggerak turbin pembangkit listrik dengan daya 7MW listrik. Daya listrik sebanyak ini didapat dari pengelolaan 2.800 ton limbah POME perbulan.




Daya listrik yang dihasilkan tersebut bisa digunakan untuk konsumsi listrik perkebunan dan tempat produksi. Perusahaan bisa hemat sekitar 25 milyar/ tahun. Warga sekitar perkebunan juga bisa menikmati listrik tersebut. Perusahaan bisa menjual 'sisa listrik' ke PLN 900kwh dengan harga Rp 1.050/kwh. Perusahaan bisa tambah pendapatan sekitar Rp 900.000.000/ bulan.

Memang sih untuk pembangunan Instalasi Bio Gas Plant membutuhkan dana yang sangat besar. Sekitar 100 milyar. Sekitar 60 milyar untuk ganti tabung BBG, converter kit dan peralatan penunjang gas.

Investasi yang besar ini akan terbayar dengan lingkungan sekitar perkebunan kelapa sawit yang lebih baik. Perusahaan juga bisa berhemat banyak biaya listrik dan ada tambahan dana. Kalau untuk land clearing pakai alat butuh dana 6-7 juta/hektar. Tak perlu lagi bakar lahan dengan alasan penghematan dana.

Saya tahu tidak semua perusahaan perkebunan kelapa sawit mau melakukan hal tersebut. Butuh kesadaran masih-masing pengusaha. Namun juga perlu dorongan lebih kuat dari pemerintah daerah dan pusat agar para pengusaha mematuhi ketentuan tersebut.

Kalau hanya memikirkan diri sendiri bagaimana dengan masyarakat luas yang lainnya. Sudah banyak korban yang jatuh sakit bahkan meninggal dunia. Baik korban di pihak masyarakat di sekitar lahan, petugas dan relawan pemadan kebakaran maupun para pekerja di perkebunan. Akankan masih tutup mata terus dengan dampak lingkungan yang buruk akibat kelapa sawit. Bagaimana dengan kehidupan anak cucu kita kelak. Ikhlaskah kita melihat mereka nanti hidup di lingkungan dengan kondisi air dan udara yang terus memburuk.




Referensi tambahan :
1. www.pertanian.go.id
2. www.bps.go.id
3. www.infosawit.com
4. www.liputan6.com
5. www.gapki.id
6. www.walhi.or.id


Foto: koleksi Google.

43 komentar:

  1. Kudu bahu-membahu utk mewujudkan iklim industri sawit yg sehat. karena memang banyak faktor yg bermain di dalamnya
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain saling bahu-membahu juga harus ada komitmen yang kuat upada semua pihak.

      Hapus
  2. Iya, benar2 seperti pisau bermata dua ya sawit ini.
    Semoga tetap bisa melakukan penananam kelapa sawit tanpa perlu membakar lahan. Hal ini memang perlu kesadaran dari para pengusaha. Semoga semuanya dilakukan dan dikelola dengan cara bijak dan benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para aparat harus tegas juga. Jangan tebang pilih dalam menindak pemilik yang melakukan pembakaran lahan.

      Hapus
  3. Semoga makin banyak pihak yang sadar cara pengelolaan sawit yang benar, ya. Agar tak ada lagi korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai ada lagi korban gara-gara kabut asap. Ini harus yang terakhir.

      Hapus
  4. semoga banyak pihak yang melihat peluang sawit yang menghasilkan ini juga melakukan pengelolaan yang benar. Termasuk kewajiban untuk melakukan CSR.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya tidak banyak yang melakukan pengelolaan sawit secara benar serta melakukan kewajiban CSR.

      Hapus
  5. Di satu sisi hasil olahan sawit ini sudah banyak yang kita nikmati dalam kehidupan sehari-hari..di sisi lain..banyak juga dampak negatifnya ke lingkungan...Semoga dampak negatifnya bisa dikurangi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dampak negatif inin yang harus dihilangkan, agar hasil sawit bisa tetap kita nikmati.

      Hapus
  6. Padahal kelapa sawit ini termasuk komoditas yang sangat penting dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitar ya. Sawit pun menjadi andil dalam kehidupan sehari-hari kita juga ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Bila dikelola dengan baik sawit bisa mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

      Hapus
  7. Sawit aslinya sangat bermanfaat dan menyumbang devisa negara dengan besar. Tapi kalau cara pengadaan dan penanamannya harus membakar hutan dulu ya, gimana ya. Miris juga. Perusahaan-perusahaan yang seperti itu harusnya mendapatkan hukuman yang setimpal karena sudah merusak alam. Semoga segera ditemukan jalan keluar selain harus membakar hutan. :( Sedih melihat lahan yang sangat luas dibakar gitu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya ada yang benar-benar dihukum untuk efek jera. Hotspot-nya kan sudah kelihatan jelas di lapah milik siapa.

      Hapus
  8. Memang betul beberapa produk menggunakan sawit, tapi perlu banget regulasi yang jelas dan tegas untuk perkebunan sawit.jangan pas kebakaran begini baru pemerintah sibuk. Sebelum2nya dibiarkan saja huh sedih aku tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengawasan harus dilakukan sejak awal ijik diberikan kayaknya ya Mbak. Biar selalu terpantau kalau ada perusahaan yang nakal.

      Hapus
  9. Benar juga ya kalo perkebunan sawit ini ibarat pedang bermata dua. Dibutuhkan tapi juga bikin nyesek kalo sampai kebakaran. Apalagi padamnya susah ya. Semoga ada langkah dan regulasi yang terbaik untuk semua kalangan, nggak ada yang disusahkan. Namun juga tetap bisa jadi devisa buat negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh komitmen semua pihak yang bergerak dibidang sawit. Komitmen untuk berbuat dan bertindak sesuai aturan yang berlaku.

      Hapus
  10. Saya pengennya ada regulasi dan teguran yg jelas untuk perusahaan2 pengelola sawit yang nakal. Selama ini juga pembakaran pohon sawit emang paling praktis dan minim biaya sih untuk buka lahan baru. Nah, itu juga mesti dicarikan solusi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju, mbak. Harus ada regulasi dan teguran yang keras dari pihak pemerintah maupun kepolisian.

      Hapus
  11. Saya percaya kalau sawit baik. Gak ada yang sia-sia dari apapun yang diciptakan oleh Allah. Memang faktor manusianya, nih. Kalau dikelola dengan baik, insya Alah akan memiliki manfaat maksimal. Tetapi, kalau kejadian seperti saat ini, banyak makan korban, rasanya sedih banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktor manusia ini yang sering banyak akalnya. Tapi masak aparat dan jajaran pemerintah bisa dibohongin terus. Nggak mungkin kan ya hehe.

      Hapus
  12. Iya mba, persoalan sawit kita emang ada di tata kelola dan law enforcement ketika ada tindak pelanggaran maupun pidana. Harapannya sih, nggak lagi memakai cara membakar dalam membuka lahan utk perkebunan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga harapan ini juga diiringi dengan tindakan yang tegas dari aparat.

      Hapus
  13. Manfaat sawit memang baik untuk kita semua, tapi pengelolaan sisa sawitnya yg ga bener. Semoga kedepannya ga ada lagi pembakaran hutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini harapan kita semua. Semoga tahun ini terakhir kalinya bencana asap terjadi di Indonesia.

      Hapus
  14. Semoga ke depan situasinya lebih baik ya, ada sangsi tegas untuk perusahaan yang melanggar aturan dan mengakibatkan kerusakan lingkungan..

    BalasHapus
  15. jika dimulai dengan niat yang baik, dengan cara baik, pengelolaan yang baik, perawatan yang baik hasilnya bisa ikut baik.

    BalasHapus
  16. Banyak sekali memang manfaat dari sawit asalkan pengelolaannya benar dan tepat. Bahkan dibisa menjadi pendapatan yang besar bagi Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sawit sudah menjadi pendapatan yang besar untuk Indonesia saat ini. Sayang ada beberapa perusahaan yang tidak mengelola dengan baik.

      Hapus
  17. Bener banget, kalo dikelola dengan baik, sawit yang memang banyak manfaatnya ini pasti lebih banyak membawa berkah ya. Semoga saja permasalahan yang berkaitan dengan sawit ini bisa segera tuntas. Supaya kita memang hanya mendapat manfaat sawit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doa kita semua ini. Masalah persawitan bener-bener tuntas.

      Hapus
  18. Setuju sekali Mbak
    Sawitnya emang baik kok apalagi jika ditangani oknum yg bertanggung jawab dan juga memenuhi SOP untuk pengelolaan sawit.
    TFS ya mbak

    BalasHapus
  19. Sawit ini sebenarnya kayak pedang bermata dia ya bagi Indonesia. Keuntungan nya lumayan tapi dampak kerusakan lingkungan nya juga besar kalau pengelolaan nya asal2 an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga semakin banyak pengusaha yang tidak mengelola asal-asalan.

      Hapus
  20. Andai saja manfaatnya bener2 ke rakyat tentu sawit semakin baik ya mba,, lahannya tidak membakar hutan Dan upah bener2 sesuai standard

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak ada lagi pembakaran lahan untuk pembukaan lahan baru.

      Hapus
  21. Aku setuju kalau Indonesia bisa mengelola hasil mentah sawit ini untuk dirinya sendiri daripada dijual murah ke luar negeri dan ujung-ujungnya, kita beli kembali si sawit-sawit ini dalam bentuk lain.
    Sedih deh..

    BalasHapus
  22. Di kampungku tahun lalu nilai jual sawit sedang anjlok, nggak tau deh sekarang. Semoga sudah naik lagi. Kasihan petani sawit.

    BalasHapus