Thursday, 25 October 2018

Kupat Tahu Banjarnegara Mirip Karedok

kupat tahu banjarnegara 2018

Pagi ini udara Banjarnegara lumayan sejuk. Ternyata Banjarnegara juga terasa panas. Nggak dingin blas. Padahal, saya niat ngadem pas berangkat ke sini. Eh, ternyata sama juga. Namun meski panas, anginnya tetap sejuk segar. Jadi nggak terlalu terasa panas banget. Pagi sejuk gini enaknya jogging. Saya rayu Suami ikutan. Kemana? ya ke Alun-Alun Banjarnegara, lah.

Begitu sampai di Alun-Alun Banjarnegara ternyata sudah banyak orang yang sedang olah raga. Para penjual makanan juga sudah banyak berjejer *galfok. Kami berencana untuk jogging keliling 5 putaran. Setelah itu istirahat sekalian sarapan. Mulai lah pemanasan. Peregangan. Go... lari-lari kecil. Keciiil banget pokok-e. Sambil tengok kanan kiri survey menu buat sarapan nanti. (((survey))).

Saya : Kok, banyak yang jual kupat tahu ya?
Suami : Heemmm
Sa: Udah pernah makan?
Su : Dah
Sa : enak?
Su : enak.

Saya penasaran kenapa banyak penjual kupat tahu di sekeliling Alun-Alun. Memang ini salah satu makanan khas Banjarnegara. Menu 'wajib' pagi hari juga mungkin, ya. Baru jogging satu kali putaran, suami narik saya ke gerobak kupat tahu. Beliau langsung pesan dua piring.

Saya: Kan baru satu putaran?
Suami : Ngak papa, daripada nggak konsen tolah toleh terus.

kupat tahu banjarnegara 2018


Alhamdulillah, gini ini enaknya punya suami pengertian *nyengir. Akhirnya kami pun melipir ke gerobak tahu terdekat. Nggak pake lama kupat tahu dan teh hangat sudah di depan mata. Ada kupat yang dipotong-potong sedang, tahu goreng dipotong sedang juga, kecambah mentah dan kubis mentah yang dirajang agak halus. Semua itu disiram dengan bumbu kacang yang diulek kasar. Sebagai penutup, kerupuk warna-warni sebagai topping.

Kalau dari penampilan dan isi dalam piring mirip karedok. Kecambah dan kubis kalau karedok direbus matang. Kalau kupat tahu kedua sayuran ini betul-betul mentah. Rasa bumbu kacangnya juga beda, terasa lebih manis. Rasa kacang sangat dominan. Kacang diulek ronyah-ronyah kata orang Jawa. Wujud kacang masih kelihatan. Mak kletus-kletus kalau kegigit. Sensasinya berbeda dengan makan karedok.

Harga: biasanya Rp 8.000/piring. Tetapi saya kena harga Rp 13.000/piring pas penjual ini.
HALAL


Foto by Ugik Madyo

No comments:

Post a Comment