Cerpen Anak Khawatir

Kakak melihat jam dinding. Jam delapan malam.
"Bapak lembur lagi, Bu?" tanya Kakak
"Iya." jawab Ibu sambil tetap melihat televisi.
"Bapak sudah tiga hari berturut-turut lembur."
"Gimana lagi. Dua teman Bapak isoman. Tim Bapak kekurangan orang."
"Jadi Bapak akan lembur selama dua minggu?"
"Mungkin."

Ibu melihat Kakak di sebelahnya. Kakak diam. Matanya menatap televisi. Seminggu ini, Kakak lebih pendiam. Makannya tak berselera. Dia lebih banyak di kamar. Ayah sahabat Kakak meninggal seminggu yang lalu karena Covid-19.

Beberapa kali Kakak bertanya, kenapa Bapak tidak kerja online di rumah saja. Sudah dijelaskan tapi sepertinya Kakak masih belum puas. Pekerjaan Bapak berurusan dengan berbagai mesin. Bapak harus mengawasi mesin-mesin itu agar bekerja dengan baik. Bapak harus mengawasi secara langsung tak bisa hanya lewat CCTV.

Kakak tiba-tiba berdiri. Di menuju meja makan. Botol vitamin Bapak diambil.
"Bu, vitamin Bapak tinggal tiga biji."
"Iya. Ibu sudah pesan ke apotek. Besuk diantar."

Kakak pindah ke rak bumbu, "Jahe Bapak tinggal sedikit, Bu. Sereh juga."
"Ibu sudah pesan Pak sayur. Insyaa Allah besuk dibawain."

Kakak mencuci tangan lalu duduk di sebelah Ibu. Mereka menonton televisi bertiga. Adik merebahkan kepala di pangkuan Ibu. Kakak melihat jam dinding berkali-kali. Setiap ada suara mobil langsung menoleh ke pintu ruang tamu. Ibu menarik nafas panjang berkali-kali.

Kakak tiba-tiba berdiri.
"Kemana?" tanya Ibu.
"Cari angin." jawab Kakak.
"Loh, ini kipas angin nyala. Masih kurang, ya?" ucap Adik.
Ibu hanya tersenyum. Beliau membelai-belai kepala Adik. Ibu memandang punggung Kakak hingga menghilang dari pandangan.

Kakak duduk di lantai teras. Dia bersandar di kursi teras. Pandangannya lurus ke pintu pagar. Matanya berkaca-kaca. Tak lama, air mata turun ke pipinya. Semakin lama semakin deras. Berkali-kali air mata diusap tapi tak juga berhenti.

Kakak terisak-isak. Mulutnya ditutup dengan tangan. Ibu tiba-tiba ada di sampingnya. Ibu memeluk Kakak. Tangisan Kakak semakin keras. Kakak memeluk Ibu erat.

"Doakan Bapak selalu sehat dalam lindungan Allah. Terhindar dari segala penyakit yang membahayakan. Terhindar dari segala bahaya." ucap Ibu dengan suara bergetar.

Kakak memeluk Ibu dengan kuat. Isak tangis Kakak semakin keras. Bahunya berguncang. Air mata Ibu pun turun membasahi pipi.(Ugik Madyo)

Komentar