Senin, 02 Desember 2019

Cara Bijak Menggunakan Antibiotik


Saya selama ini masih perlu belajar banyak tentang dunia kesehatan. Baik masalah penyakit, tata laksana penanggulangan, pengobatan penyakit dan juga masalah RUM (Rational Use of Medicine). Ada pengalaman pahit saat kecil dulu. Saat saya usia balita sampai SD kelas 3 sering sakit batuk, flu dan radang tenggorokan. Saya didiagnosa 'sakit' amandel. Setiap kali saya sakit batuk, flu atau radang tenggorokan selalu diberi antibiotik.

Saat dewasa dan mengenal RUM, saya ngeri mendengar cerita Ibu tentang riwayat pengobatan diri ini sejak masih bayi. Saya mulai sungguh-sungguh belajar tentang kesehatan keluarga. Bukan sok menjadi dokter sendiri. Namun untuk menambah pengetahuan tentang masalah penyakit dan pengobatannya.

Maka itu senang sekali bisa ikut Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 pada tanggal 30 November 2019. Seminar ini diadakan oleh RSUD dr, Soetomo Surabaya sebagai rangkaian acara World Antibiotic Awareness Week (WAAW). Temanya sangat menarik, masa depan antibiotik seluruhnya ada pada tangan kita.

Loh kok tangan kita? Bukannya ditangan tenaga medis dan paramedis? Pertanyaan saya ini terjawab saat pembukaa seminar. Direktur RSUD dr. Soetomo, Dr. dr. Joni Wahyuhadi, SpBK(K) mengungkapkan bahwa WHO khawatir dengan peningkatan bakteri resistan yang terus bermunculan saat ini.

Bahaya Resistan Antibiotik

Menurut penelitian Jaringan Pengawasan Resistensi Antimikroba Eropa, 33.000 orang meninggal di Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa pada tahun 2018 karena infeksi dari bakteri resistan antibiotik. Sedangkan menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) 23.000 warga Amerika Serikat meninggal setiap tahun karena resistan antibiotik.


Dr. dr. Joni Wahyuhadi, SpBK(K)

Itu masih laporan resmi dari Uni Eropa dan America Serikat. Saya belum menemukan laporan terkini yang terlacak di search engine internet untuk negara-negara lain. Bisa jadi sudah ada informasi sampai dengan 2018 namun statusnya offline. Sebab WHO memperkirakan kalau kematian akibat bakteri resistan akan mencapai 10.000.000 pada tahun 2050 nanti.

Mungkin Anda penasaran, apa sih bakteri resistan itu? Bakteri resistan adalah bakteri yang 'ada' akibat dari perubahan biologis, salah satunya karena mengalami mutasi. Sehingga tidak bisa dihambat atau dimatikan oleh antibiotik yang biasanya digunakan. Munculnya bakteri resistan ini karena penggunaan antibiotik yang tak terkendali.

Banyak pihak yang memperkirakan masih ada penjualan antibiotik secara bebas tanpa resep dokter di berbagai negara. Semakin tidak rasional penggunaan antibiotik maka akan semakin tinggi resiko munculnya bakteri resistan. Bahkan akan muncul bakteri yang multi resisten atau pan-resisten, yang disebut Super Bugs. Ini yang paling dikhawatirkan. Super Bug tidak bisa dimatikan oleh semua jenis antibiotik yang ada saat ini.

Hal ini perlu kampanye luas di kalangan masyarakat. Antibiotik tidak digunakan untuk mengobati semua penyakit. Ada banyak penyakit yang tidak memmerlukan antibiotik. Masyarakat harus bijak menggunakan antibiotik.

World Antibiotic Awareness Week (WAAW) ini adalah kampanye bijak menggunakan antibiotik. WAAW dilakukan oleh seluruh negara yang menjadi anggota WHO. Seluruh rangkaian acara Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 yang di Indonesia juga tercatat di WHO. Indonesia masuk rangking 2 untuk yang banyak melaksanakan kegiatan dalam rangka WAAW 2019. Rangking 1 adalah negara Kuwait.



Tentang Antibiotik

Pembahasan lebih mendalam tentang masalah penggunaan antibiotik secara tuntas oleh dr Dominicus Husada SpA(K) dan dr Arief Bakhtiar SpP. Beliau berdua ini adalah Duta AMR RSUD dr. Soetomo.

Tiga musuh utama manusia adalah perang, kelaparan dan penyakit. Sedangkan yang paling banyak menimbulkan kematian adalah penyakit. Banyak jenis penyakit dan pembagiannya. Bisa dari usia, penyebab, resiko kematian dan lain-lain. Ada penyakit yang menular dan tidak menular. Ada pula penyakit karena infeksi dan bukan infeksi.

Penyakit infeksi disebabkan oleh masuknya makhluk hidup kecil (jasad renik) yang akan menimbulkan gejala dan tanda pada tubuh yang dimasuki. Jasad renik bisa berupa bakteri, virus, jamur atau parasit.

Apabila penyakit disebabkan oleh bakteri maka harus dihambat atau dimatikan pertumbuhan bakteri dengan menggunakan antibiotik. Bentuk kemasan antibiotik adalah kapsul, kaplet, tablet, sirup, supposituria dan injeksi. Antibiotik umumnya sudah dibuat secara modern tetapi hampir seluruhnya bersumber asli dari alam.

Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928. Antibiotik pertama ini adalah pinisilin. Namun baru pada tahun 1940 pinisilin diproduksi secara massal karena proses penelitian yang panjang. Setelah itu banyak antibiotik diproduksi.

Untuk saat ini antibiotik berada dalam taraf yabf berbahaya. Lebih dari 30 tahun terakhir tidak ada antibiotik yang benar-benar baru. Biaya penelitian antibiotik sangat mahal. Ketika antibiotik diproduksi dan dipasarkan, dalam waktu singkat sudah mengalami resistan atau tidak dapat mematikan bakteri. Perusahaan akan rugi karena biaya penjualan belum menutup seluruh biaya produksi dan penelitian. Sementara itu, musuh (bakteri) terus berevolusi 'memperbaiki dirinya'.




Satu hal yang sangat penting untuk diketahuai. Antibiotik hanya digunakan bila diperlukan, hanya untuk mengobati bakteri. Berikut ini adalah daftar penyakit yang harus diobati dengan antibiotik dan penyakit yang pengobatannya tidak membutuhkan antibiotik sama sekali.

Penyakit harus dengan pengobatan antibiotik:
1. TBC
2. Dipteri
3. Tetanus
4. Pertususis (batuk hebat selama 100 hari)
5. HIB (Haemophilus Influenza type B)

Penyakit yang pengobatannya tidak perlu antibiotik:
1. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
2. Influenza/ Flu
3. Batuk pilek
4. Diare cair tanpa darah atau lendir
5. Demam berdarah
6. Cacar air
7. Campak/ gabag/ morbili/ rubeola
8. Hepatitis
9. Gondongan
10. Demam tifoid
11. Luka
12. Operasi. Ada beberapa operasi yang tidak memerlukan antibiotik baik sebelum atau sesudah operasi antara lain: operasi amandel/ tonsilektomi, operasi polip hidung, operasi struma/ tumor leher, operasi tumor jinak payudara, operasi tumor jinak pada otot/ lemak/ kulit, cabut gigi dan sunat/ sirkumsisi.


Blogger dan para dokter RSUD dr. Soetomo

Apabila penyakit memang membutuhkan antibiotik ada aturannya yaitu 4 tepat dan 1 waspada.
1. Tepat obat
2. Tepat dosis
3. Tepat penderita
4. Tepat indikasi
5. waspada efek samping

4 tepat ini yang bisa mengetahui hanya dokter. Jadi harus menggunakan antibiotik sesuai dengan resep dokter. Minum antibiotik sesuai dengan dosis yang sudah diberikan oleh dokter. Pemakaian yang tidak sesuai, tidak ada indikasi, terlalu lama, terlalu banyak atau terlalu sedikit akan menyebabkan bakteri menjadi resistan atau kebal.

Ketika minum antibiotik harus juga mewaspadai efek samping yang mungkin saja timbul. Apa saja efek sampingnya? Alergi. Mulai dari gatal biasa hingga bengkak pada muka. Alergi yang serius dapat menyebabkan sumbatan pada jalan nafas dan bisa mengakibatkan kematian.

Kewaspadaan efek samping antibiotik ini harus dipahami betul. Terutama pada pasien anak-anak. Efek samping pada anak terkadang tidak kelihatan secara langsung. Para orang tua dan orang dewasa di sekitar anak-anak harus sangat jeli mengamatinya.


Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

Lalu bagaimana agar tubuh kita tidak resistan antibiotik. Sesuai dengan judul sub tema diatas. Intinya adalah Jangan Sakit. Maksudnya untuk menghindari kekebalan obat upayakan semaksimal mungkin jangan sakit. Jika tidak sakit kan tidak perlu minum obat.

Apa yang harus dilakukan agar diri kita selalu sehat?

  •  Jalanilah pola hidup sehat. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan sehat yang nilai gizinya seimbang bukan sekedar makan enak, olahraga, istirahat yang cukup dengan kuantitas dan kualitas yang baik. 
  • Hindari stress. Lakukan rekreasi. Tidak perlu mahal, yang terpenting bikin pikiran dan badan lebih santai. Jangan berhutang. Hutang membuat tingkat stress diri makin tinggi. 
  • Lakukan imunisasi lengkap. Terutama saat masih bayi hingga usia sekolah.  
  • Sebisa mungkin hindari orang sakit yang menular. 



Ada beberapa cara pencegahan penyakit menular yang bisa dilakukan, antara lain:
- Gunakan masker ketika berada di lokasi yang banyak orang
- Ketika batuk atau bersin pergunakan tisyu untuk menutup mulut dan hidung
- Cuci tangan dengan sabun secara rutin
- Hindari kontak secara langsung dengan tangan, hidung dan mulut
- Ketika sedang sakit mata serta batuk dan flu
- Hindari berjabat tangan atau memeluk dengan penderita yang sedang sakit atau saat kita sakit
- Hindari kontak terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit dan segala peralatannya.


Perlu diingat masih ada beberapa penyakit yang belum ada obatnya. Penyakit polio, campak, demam berdarah dan rubela tidak ada obatnya hingga saat ini. Tindakan pencegahan jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati penyakit. Jagalah selalu keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar Anda. Jika memang harus minum antibiotik perhatikan dengan cermat. Jangan sampai resistan pada antibiotik.

Padat dan berat seminarnya. Memang. Namun selama acara tidak membosankan dan bikin ngantuk. Selain dua dokter pembicara yang komunikatif dan kocak, ada berbagai acara menarik disela-sela acara. Ada drama singkat tentang bijak menggunakan antibiotik yang pemerannya adalah para dokter anak. Dikemas secara komedi namun dengan pesan yang padat. Bikin kami sesudah tertawa jadi mikir serius.

Sebelumnya telah diadakan lomba AMR Competition 2019. Pada akhir seminar diumumkan para pemenang sekaligus penyerahan hadiahnya. Video pemenang WAR and AMR juga ditayangkan. Kami jadi lebih paham tentang resistan antibiotik. Sebagai penutup adalah bank akustik dari para dokter calon spesialis syaraf. Ini nih yang bikin para hadirin yang sebagian besar Ibu-Ibu ambyar.

Seru banget acaranya dari awal hingga akhir. Padat ilmu dan hiburan. Semoga saya bisa ikut lagi tahun depan. 


Foto: koleksi pribadi dan grup WAAW 2019 RSUD dr. Soetomo


48 komentar:

  1. Ternyata mengonsumsi antibiotik ini tidak bisa sembarangan ya, mbak. Perlu disosialisasikan secara menyeluruh ini. Karena faktanya di lapangan, antibiotik ini dijual dengan bebas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sedih juga nih waktu tahu kalau ternayata antibiotik dijual bebas tanpa resep dokter.

      Hapus
  2. wah bermanfaat banget acaranya. penggunaan antibiotik emang ga bisa diterapkan untuk segala penyakit. untungnya dokter di deket rumahku ga sembarangan ngasi antibiotik kalo anaku sakit :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rejeki banget kalau ketemu dokter yang kayak gini Mbak.

      Hapus
  3. Dulu pernah amat sering neggak antibiotik. Bukan karena sembrono, tapi emang diresepinnya gitu. Sampai suatu saat alergi salah satu jenis AB. Parah bgt sampai harus lari ke UGD. ABis itu kapokkkk. Walau 'cuma' jadi pasien kudu bener2 smart.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi. Semoga selalu sehat dan nggak perlu minum antiniotik lagi.

      Hapus
  4. Wah acaranya mengedukasi sekali ya mba. Aku terkadang suka aneh. Kenapa orang suka mengkomsumsi antibiotik tanpa ilmu. Tapi ada malaj juga dokter yang memberikan antibiotik tapi tidak sesuai kebutuhan pasien. Makanya aku kalau cari dokter juga yang pro RUM juga mba. Semoga banyaknya tulisan edukasi ini mengedukasi para pembaca juga ya mba di dunia digital. Terima kasih tulisannya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang ada sebagian orang yang fanatik dengan antibiotik. Sakit apa saja harus minum antibiotik. Antara sugesti dan wawasan yang sempit beda tipis hehe.

      Hapus
  5. Saya gak berani mengkonsumsi obat sembarangan, apalagi antibiotik. Pokoknya harus dengan resep dokter kalau antibiotik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak. Aku pernah alergi antibiotik soalnya.

      Hapus
  6. Antibiotik bukan obat dewa! Ini yg kudu gencar disampaikan k khalayak ramai ya mba. Semoga semua sehaattt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya nih Mbak. Banyak yang masih mengganggap obat dewa.

      Hapus
  7. Sedihnya lagi, banyak orang yang jadi sok pintar kalau lihat ada temannya sakit. Karena pernah punya penyakit yang sama, jadi merasa paling tahu obatnya. Padahal kan kondisi tubuh tiap orang beda-beda ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini. Makasnya aku kalau sakit pilih diem saja nggak cerita. Males kalau disuruh minum obat ini itu.

      Hapus
  8. Di masyarakat kita, masih banyak yang asal beli obat tanpa resep dokter. Asal merasakan sakit udah langsung beli obat sendiri gitu. Kebiasaan seperti ini juga menjadi PR bagi kita semua dalam mengontrol penggunaan obat antibiotik yang beredar di masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Seperti harus lebih digencarkan lagi kampanye penggunaan antibiotik yang tepat.

      Hapus
  9. Nah ini satu sisi kita harus bijak mba untuk gunakan antibitik. Aku dukung. Aku pun selalu nanya ke dokter kalau direkomendasikan kasih antibiotik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Aku juga selalu tanya dulu alasan dikasih antibiotik.

      Hapus
  10. Sebenarnya antibiotik itu diperbolehkan asalkan memang sesuai ya mbak. Aku sejauh ini kalau anakku batuk atau flu gak pernah aku kasih antibiotik. Soalnya ada dokternya ngasih resep antibiotik jugakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Kalau batuk dan flu tidak usah minum antibiotik.

      Hapus
  11. Antibiotik memang tidak boleh sembarangan yah, jangan setiap sakit dikasi antiobiotik tapi dokter kebanyakan asal kasi sih huhuhu jadi pasien memang harus cerdas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya kita pasien sok tahu ya. Kita yang punya badan harus tahu apa akibat obat yang kita minum.

      Hapus
  12. Sedih maaak. Makin kesini banyak yg resistensi huhuhu gara2 antibiotik keseringan sehingg kudu naik tingkat karena dah kebal huhuhu.main dikit2 obat sih ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak. Sebaiknya jaga badan biar gak gampang sakit. Ini sepertinya yang harus kita lakukan saat ini. Jaga pola hidup dan pola makan.

      Hapus
  13. Zaman sekarang dengan makin mudahnya akses informasi org bisa juga nanya ke dokter tentang butuh atau enggaknya antibiotik ya mbak. Gak kyk zaman kita kecil dulu, dokter main hajar aja pakai antbiotik hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kita jadi lebih paham lagi tentang kesehatan.

      Hapus
  14. jadi ingat bapakku yang hobi banget minum antibiotik tapi enggak sampai habis, huhuhu, Aku gak tahu lagi gimana caranya kasih tahu. Semoga saja bapak mau membaca tulisan ini kalau aku share ke beliau, makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sama-sama, Mbak. Semoga Bapaknya segera insaf antibiotik. Ibu mertuaku juga sama kayak Bapak. Kita bingung banget ngasih tahunya.

      Hapus
  15. Saya banget, alergi beberapa jenis antibiotik... Bibir dan mata langsung bengkak, serem...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dulu juga pernah alergi antibiotik.

      Hapus
  16. Obat antibiotik emang ngeri efeknya bila tidak mengikuti aturan dari dokter. Trus jaman anakku masih kecil dulu, ada loh dokter yang senang banget ngasih obat antibiotik. Makanya aku gak mau gampang ke dokter, mending dikasih asupan makanan dan buah yang cukup agar tubuh jadi fit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak. Waktu kecil dulu aku juga sering banget dikasih antibiotik sama dokter.

      Hapus
  17. Naiya ini, kak...
    Tepat obat, tepat dosis, tepat penderita, tepat indikasi ini ternyata penting banget. Terutama untuk pengobatan untuk anak-anak.
    Aku sampai sekarang masih belajar ngitung antara TB sama dosis obat yang dibutuhkan.
    Terlebih pemberian antibiotik yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Untuk anak-anak ini memang harus hati-hati soal pemberian obat ya.

      Hapus
  18. dikit dikit antibiotik emang ga sehat at all ya Mbak. apalagi antibiotik.

    Obat antibiotik ngeri efeknya bila tidak mengikuti aturan dari dokter. mendingan minum antioksidan alami A C E

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kalau Salfa sakit, saya selalu bilang sama dokter jangan antibiotik dulu kalau masih bisa obat lain.
      Khawatir banyak soalnya ke masa depan.

      Hapus
    2. Iya mbak. Aku sekarang juga kalau emang nggak butuh obat banget nggak usah minum obat. Mending naikin imun tubuh.

      Hapus
    3. Mbak Rahmah: Iya ya mbak. Khawatir kesehatan anak nantinya.

      Hapus
  19. ahh inget banget anakku demam aja disuruh minum antibiotik.
    semenjak tau kudu bijak menggunakan anti biotik aku pun lebih hati2 nerima resep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Kita juga harus paham tentang obat juga.

      Hapus
  20. nah, buatku yang awam ini ga berani deh kalau beli antibiotik sendiri. Lebih baik konsultasi ke dokter sebelum konsumsi antibiotik supaya penggunaannya tepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak. Aku juga nggak berani beli antibiotik sendiri.

      Hapus
  21. Kadang ada dokter yang seenaknya kasih antibiotik ya pada anak padahal sebenarnya nggak perlu banget, jadi kita ortu yang harus waspada dan adware demi kesehatan anak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamduillah sekarang sudah banyak dokter yang RUM. Jadi nggak kuatir lagi dikasih antibiotik sembarangan.

      Hapus
  22. selain semakin tahu ttg antibiotik, pas ikutan acara ini aku jadi tahu kalo dokter pun banyak yang bakat banyolan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya mbak. Aku masih ngakak sendiri kalau lihat rekamanannya.

      Hapus
  23. wah padahal pengalaman saya pas periksa ke dokter, anak kena diare karena infeksi atau virus gitu mesti dikasih antibiotik, sementara itu kudu habis ya dan anak saya susah minum obat sampai jatahnya habis, kan bahaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau anak susah minum obat ini emang bikin dilema ya Mbak. Semoga sehat selalu anaknya.

      Hapus