Minggu, 05 Januari 2020

Program CSR dari Freeport Indonesia untuk Papua

Tambang terbuka Freeport

PT Freeport Indonesia sudah melakukan penambangan di Papua sejak tahun 1967. Saat itu telah dilakukan penandatangan Kontrak Kerja (KK) ke 1 untuk jangka waktu 30 tahun setelah operasi.

Penambangan PT Freeport Indonesia ini bermula dari jurnal ekpedisi pada tahun 1936, yang dilakukan oleh Anton H Colijn, Frits Julius Wissel dan seorang geolog Jean Jacques Dozy. Kelompok ekspedisi ini berhasil mencapai Gunung Gletser Jayawijaya. Mereka juga menemukan Ertsberg/ Gunung Bijih.

Ertsberg ini adalah Bahasa Belanda yang artinya Gunung Bijih. Ertsberg adalah gunung setinggi 3600 meter yang kaya akan kandungan tembaga dan emas.

Pada tahun 1963 Freeport berupaya mencari ladang tambang di luar Amerika. Berbekal catatan ekspedisi Colijin dan team, Forbes wilson dan geolog Del Flint melakukan ekspedisi ke Papua untuk mengecek keberadaan Ertsberg. Ternyata memang benar adanya kandungan tembaga dan emas di pedalaman Papua ini.

Mulailah Freeport mengadakan ekpedisi tambang di Papua. Saat itu Indonesia sedang berada di masa peralihan pemerintahan. Pada tahun 1967 Freeport mengandeng pemerintahan Indonesia secara resmi dengan penandatanganan Kontrak Kerja pertama.

PT Freeport Indonesia mulai memproduksi penambangan dan pengolahan bijih pada tahun 1972. Pada tahun berikutnya melakukan pengapalan konsentrat. Kontak Kerja ke 2 penandatangannya pada tahun 1991. KK ke 2 ini merupakan pembaharuan KK 1 untuk jangka waktu 30 tahun dengan hak perpanjangan sampai dengan 2x10 tahun.

Lazimnya sebuah perusahaan mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan dana CSR. Sejak tahun 1992 PT Freeport Indonesia sudah menjalankan program SCR secara berkala untuk masyarakat Timika dan Papua secara umum. Sampai saat ini dana CSR yang sudah dikeluarkan sekitar USD 15 Milyar.

Pada tahun 1996 PT Freeport Indonesia mulai memberikan dana kemitraan 1% dari penjualan perusahaan untuk pengembangan masyarakat lokal. Dana kemitraan ini adalah dana tambahan dari program CSR. Dana kemitraan ini dikelola oleh institusi masyarakat.

PT Freeport Indonesia mendapatkan TOP CSR Award 2018 dari majalah Business News Indonesia. Ada 3 penghargaan yang didapatkan, yaitu Top leader CSR Commitment 2018, Top CSR 2018 untuk sektor pertambangan dan Top CSR 2018 untuk program infrastruktur. (industri.kontan.co.id tanggal 19 Oktober 2018)

Ada 3 pilot CSR Freeport yang sudah dijalankan, antara lain program kesehatan, pengembangan ekonomi, pendidikan dan infrastruktur. Saya akan menceritakan masing-masing program agar lebih terfokus penjelasannya.



CSR Program Kesehatan

PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) membangun Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) di dataran rendah dan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) di Dataran Tinggi. RSMM dioperasikan oleh Yayasan Caritas Timika Papua sedangkan RSWB dioperasikan oleh International SOS.

RSMM adalah rumah sakit tipe C, ada spesialis bedah, penyakit dalam, kebidanan dan anak. Serta ada kunjungan reguler dokter spesialis mata. Rumah sakit ini dibuka pada bulan Agustus 1999 sebagai rumah sakit rujukan untuk masyarakat di Dataran Tinggi dan kabupaten-kabupaten yang ada di sekitar Timika.

RSMM telah mendapatkan akreditasi dari Kementrian Kesehatan pada tahun 2008. Pada tahun 2011 mendapatkan akreditasi lagi untuk jenis pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan kesehatan, pelayanan gawat darurat, keperawatan dan rekam medis. Sedangkan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) ini termasuk rumah sakit tipe D yang sudah beroperasi sejak 2001.

PT Freeport Indonesia selain mendirikan dua rumah sakit tersebut juga mensponsori pendirian beberapa klinik di Mimika. Klinik tersebut tersebar di SP IX, SP XII, Nayaro dan Pomako. Berbagai klinik tersebut dikelola oleh CPHMC. Lembaga ini adalah salah satu section dari departemen SLD/CR.

Fasilitas kesehatan Freeport juga kerjasama dengan Timika Malaria Control Center. Berbagai program yang dijalankan dalam kerjasama ini telah menurunkan kasus Malaria di Timika sampai 70% selama 3 tahun terakhir.

CSR Program Pengembangan Ekonomi

Untuk program yang satu ini dititik beratkan pada pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan sumber alam yang ada di sekitar lingkungan masyarakat. Ada beberapa program yang sudah berjalan meliputi program perikanan, peternakan serta pertanian dan ketahanan pangan.

Untuk perikanan, telah berjalan program perikanan tangkap sejak tahun 2009. Program ini melibatkan LPMAK dan Koperasi Maria Bintang Laut dari Keuskupan Timika. Program ini meliputi pendampingan dan bantuan transportasi untuk pemasaran ikan tangkap.

Sedangkan program peternakan dilakukan di Desa Wangirja (SP IX) dan Desa Utikini Baru (SP XII). Program ini diberikan pada warga yang telah sukarela bersedia pindah dari tempat tinggal mereka di Dataran Tinggi ke Dataran Rendah.

Program pertanian dan ketahanan pangan dilakukan dengan memberikan pengetahuan baru tentang tata cara bercocok tanam agar lahan lebih produktif dan lebih banyak menghasilkan. Di Kampung Nayaro ada program pengembangan kebun sagu.

Masyarakat di kampung-kampung Kamoro, SP IX dan SP XII diajarkan menanam sayuran, buah-buahan dan ketela. Sedangkan masyarakat di dataran tinggi Amungme dilakukan pendampingan untuk pengembangan kebun dan usaha kopi.

Usaha perkebunan coklat juga telah dilakukan pada daerah dataran rendah tepatnya di SP IX dan SP XII. Program ini bekerja sama dengan Yayasan Jayasakti Mandiri.




CSR Program Pendidikan

Dana kemitraan untuk program pendidikan ini dikelola oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK). Lembaga ini telah memberikan 650 beasiswa pertahun untuk warga asli Papua. Baik untuk tingkat sekolah (SD sampai SMA) maupun universitas.

LPMK telah mendirikan asrama bagi para penerima beasiswa untuk kuliah. Asrama ini ada di Pulau Jawa dan Papua. Sesuai dengan tempat para pemuda Papua menerima beasiswa. Sarana asrama tersebut untuk 800an orang.

PT Freeport Indonesia juga telah mendirikan Institut Pertambangan Nemangkawi. Institut ini sudah menghasilkan 3.000 lulusan yang siap kerja baik di Freeport maupun berbagai pertambangan baik di Indonesia maupun di luar negeri.

CSR program infrastruktur

Program infrastruktur ini bisa dibilang adalah program pertama PT Freeport Indonesia. Pembangunan sarana jalan pada mulanya memang ditujukan untuk kemudahan transportasi pekerja pertambangan. Namun tentu saja jalan ini juga bisa digunakan oleh masyarakat di sekitar pertambangan.

Ada beberapa pembangunan infrastruktur di Timika yang sudah dilakukan, antara lain Bandara Internasional Mozes Kilangan, jembatan Pomako, kompleks olah raga Mimika dan bantuan pembangunan kantor Pemerintahan Kabupaten Mimika.

Itulah semua program SCR yang sudah dilakukan PT Freeport Indonesia hingga saat ini. Semoga bisa bermanfaat untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua pada khususnya dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya.


Foto: koleksi ptfi.co.id



7 komentar:

  1. CSR-nya Freeport keren keren banget ya Mba.
    Salut ama manajemennya yg bisa mengkreasikan banyak program sarat faedah

    BalasHapus
  2. Kesehatan , ekonomi, pendidikan dan infrastruktur. 4 hal yang sangat dibutuhkan oleh warga papua, khususnya Timika saat ini. Salut sama Freeport yang selain ada program CSR juga bikin program dana kemitraan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Papua semakin maju dengan adanya CSR ini.

      Hapus
  3. Penasaran ... kan dari jurnal ekpedisi pada tahun 1936 bermula. Terus .. pengen tahu saja .... apakah nemu data, bagaimana caranya mereka tahu ya kalau di wilayah Papua ada gunung bijih?Penasaran dengan teknologinya hehe.

    BTW, sebagai perusahaan besar, bagus ya Freeport ada CSR yang serius berkontribusi bagi rakyat Papua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada penjelasan lengkap soal cara ekspedisi pertama itu tahu soal kandungan di Gunung Bijih. Sama Mbak, aku juga penasaran. Tahun 1936 kan teknologinya belum secanggih sekarang. Entah lagi kalau Bangsa Eropa sudah punya teknologi canggih untuk meneliti kandungan tambang di suatu tempat.

      Hapus
  4. Senang sekali ini, program CSR Freeport bagus banget apalagi untuk pengembangan ekonomi di Papua. Memang paling bener deh harus dimulai dari masyarakat sekitar terdahulu.

    BalasHapus