Tuesday, 11 October 2016

Oshin : Pelajaran Tentang Wirausaha di Hampir Semua Episode (Bagian 1)

Judul : Oshin
Jenis : Drama
Produksi : NHK 
Pemain : Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka, Nobuko Otawa
Tayang : Channel WakuWakuJapan 
Hari : Senin - Sabtu jam 20.00 - 20.20 WIB 
Tayang ulang
Minggu mulai jam 15.00 WIB langsung 6 episode
Senin mulai jam 09.00 WIB langsung 6 episode 


Pemeran Oshin kecil, remaja, dewasa dan tua.


Sewaktu ada iklan di Channel WakuWaku Japan drama Oshin akan tayang, saya senang sekali. Apalagi Oshin kali ini tayang dengan kualitas HD, lebih senang lagi saya. Akhirnya, bisa nonton drama ini lagi. Oshin pernah tayang di TVRI sewaktu saya masih SD. Saya tak seberapa ingat ceritanya, yang terekam di memori hanya 'Oshin hidupnya menderita terus'. Sekarang ini, saatnya mencerna drama Oshin dengan benar. Drama yang konon masuk katagori legenda dan tayang di 59 negara.

Dari episode 1 saya ikuti hingga akan masuk episode 200 pada minggu ini. Hidup Oshin memang penuh perjuangan semenjak kecil. Saya enggan menggunakan kata penderitaan karena Oshin menganggap semua cobaan sebagai perjuangan. Berasal dari keluarga petani penyewa miskin di Yamagata. Oshin kecil dijual demi mengurangi beban ekonomi keluarga. Semua kakak-kakaknya sudah dijual terlebih dahulu. Hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Oshin.

Oshin dibeli oleh saudagar beras besar di kota. Saudagar mempunyai anak perempuan seusia Oshin bernama Kayo. Meski awalnya terjadi permusuhan sengit antara Oshin dan Kayo (Nona Muda Kagaya) pada akhirnya mereka bersahabat erat hingga meninggal. Oshin yang mempunyai semangat tinggi sekolah menarik perhatian Nenek Kuni (Nyonya Tua Kagaya. Nenek Kuni akhirnya mengajari Oshin membaca menulis dan banyak keterampilan lainnya. Oshin yang cerdas dan cepat mengerti menjadi kesayangan Nenek Kuni. Selain menulis dan membaca, memasak, mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh bayi, dan menjahit dapat dikuasai Oshin dengan cepat.

Wajah bulat Oshin yang tak terlupakan
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/Ez95GPwpuP0/hqdefault.jpg

Keluarga Kagaya akhinya menjadikan Oshin sebagai anak angkat. Dia dibesarkan dan didik sama seperti Kayo. Hanya saja Oshin tidak pernah sekolah. Dia hanya dididik Nenek Kuni di rumah. Ketrampilan standart wanita kelas atas seperti merangkai bunga, merias diri, upacara minum teh, tata krama dan sopan santun 'kelas atas' dapat dikuasai Oshin nyaris sempurna. Nenek Kuni, Tuan besar dan Nyonya Besar Kagaya sangat senang dengan perkembangan ini.

Oshin remaja memilih terus mengabdi di keluarga Kagaya. Nenek Kuni meminta Oshin bekerja di toko dan menjadi asistennya. Dari sini titik awal pelajaran bisnis dimulai. Nenek Kuni mengajarkan tentang arti penting jujur dan adil dalam menjalankan usaha. Nyonya Tua Kagaya yang terkenal dermawan memberikan contoh nyata bahwa usaha harus menggunakan hati. Sebagian keuntungan Kagaya diberikan pada para pekerja, buruh tani dan masyarakat miskin di seluruh kota. Bukannya rugi, Kagaya malah mendapatkan keuntungan berlipat-lipat ganda. Kalau dalam Islam ini adalah konsep sedekah.

Oshin dan Kayo.
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/zPLxmAFc6wo/0.jpg


Oshin yang sudah cukup umur dijodohkan dengan saudagar kenalan Tuan Besar Kagaya. Namun karena suatu hal, perjodohan ini dibatalkan oleh Oshin. Tak lama kemudian terdengar kabar kakak Oshin sakit keras. Oshin memilih untuk keluar dari Kagaya dan merawat kakaknya di desa. Kakaknya mengalami TBC parah. Sebelum meninggal Sang Kakak bercerita kalau cita-citanya ingin menjadi penata rambut ternama. Setelah Sang Kakak meninggal, Oshin bertekad untuk melanjutkan mimpi kakaknya. 

Oshin berangkat ke Tokyo hanya berbekal sisa uang tabungan dan alamat seorang penata rambut kenalan kakaknya. Butuh perjuangan hingga akhirnya Oshin diterima bekerja di Salon milik Ny. Hasegawa. Pada tahap ini ilmu Oshin tentang wirausaha bertambah. Berasal dari Kagaya yang berjualan barang berpindah ke Salon yang berjualan jasa. Pada awalnya, cukup membuat Oshin 'kebingungan'. Berjualan barang berbeda dengan berjualan jasa. Di bidang jasa, Pelanggan adalah raja. Penjual harus takluk dengan keinginan pelanggan. Oshin mulai belajar kreatifitas dan berbagai indikator kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction) dari Ny. Hasegawa.   

Saat itu sedang tren gaya rambut barat. Ny. Hasegawa melihat bakat besar pada diri Oshin. Beliau menyuruh Oshin untuk belajar tata rambut barat. Setiap hari dia harus keliling ke salon-salon barat dan mengamati semua gaya rambut barat. Hal ini membuat banyak rekannya iri. Oshin dianggap terlalu cepat melompati teman seangkatannya. Ny. Hasegawa tak peduli dengan hal tersebut. Beliau mengamati Oshin sudah mampu menata rambut dengan bagus. Oshin bisa meniru sebuah tatanan rambut hanya dengan melihat saja. Oshin juga bisa memadu padan tatanan rambut disesuaikan dengan bentuk muka pelanggan. Semua kemampuan Oshin itu tak dimiliki oleh rekan seangkatan maupun senior-seniornya.

Segala keberatan reda demi melihat ketrampilan Oshin menata rambut yang terus meningkat semakin hari. Ny. Hasegawa meredam konflik dengan menyuruh Oshin menangani pesanan layanan rumah. Pelanggan yang tak mau antri ke salon memilih untuk memanggil penata rambut ke rumah. Mereka tidak keberatan meski harus membayar mahal. Ny. Hasegawa melarang Oshin untuk menentukan tarif. Biar pelanggan yang menentukan harganya sendiri. Kalau mereka sangat puas dengan tatanan rambutnya, mereka pasti akan membayar lebih.

Dari sinilah, Oshin menekan dirinya untuk terus meningkatkan ketrampilan menata rambut. Logika Oshin sederhana saja. Kalau banyak orang yang puas dengan tatanan rambutnya pasti dia akan dapat banyak uang. Itu berarti dia bisa mengirimkan uang lebih banyak ke desa. Ya... dia bekerja dari kecil sebagian besar uangnya selalu dikirim untuk membayar hutang keluarganya yang tak kunjung habis. Keluarga Oshin sudah sangat lama terjerat hutang rentenir yang tak pernah ada ujung pangkalnya.


Oshin dan Ryuzo Tanokura
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/tVhJmnrMXPk/0.jpg 


Pelayanan rumah ini memang menguras seluruh energi dan pikiran Oshin. Tapi... Allah memberikan hadiah indah untuk Oshin. Dia bisa berjumpa dengan Ryuzo Tanokura. Pemilik toko Tanokura yang berjualan bahan kain. Ryuzo sangat mencintai Oshin. Tuan muda satu ini menganggap Oshin yang dinamis dan cerdas adalah istri yang sempurna untuk seorang pengusaha seperti dirinya. Mereka akhirnya menikah meski tidak mendapatkan restu Nyonya Besar Tanokura.

Setelah menikah, Ryuzo tidak mengijinkan Oshin untuk membantu di Toko Tanokura. Dia hanya disuruh mengerurusi pekerjaan rumah tangga. Insting bisnis Oshin mencium ada yang tidak beres pada usaha Ryuzo. Oshin diam-diam meminta Gen (tangan kanan Ryuzo) mengajari buku besar penjualan Toko Tanokura setiap kali Ryuzo pergi. Ternyata, toko mereka sedang kritis. Banyak pelanggan yang belum membayar tagihannya. Saat itu memang masa awal resesi ekonomi Jepang.

Toko Tanokura menjadi salah satu korban krisis Jepang. Banyak pelanggan lari karena tak bisa membayar tagihan, bahan kain menumpuk tak terjual. Tak ada penjualan sama sekali. Oshin kembali menata rambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara Ryuzo memilih bekerja sambil menunggu resesi reda lalu memulai usaha kembali. Lama-lama Oshin pusing dengan utang yang semakin banyak. Mereka harus membayar kain yang sudah diambil dari pabrik. Pabrik tidak menerima pengembalian barang. Harus dibayar cash. Tak bisa disalahkan Pabrik juga butuh uang.(Bersambung)

Masih banyak lagi ilmu yang ada. Tunggu bagian ke 2. 

Foto : koleksi Mbah Google dan Cak Youtube

5 comments:

  1. Baaguuuus pengen nonton jadinya. dulu jg ngalamin oshin pas masih pra sekolah jd ga inget. pernah nonton versi movienya jd ga detail gini kehidupannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuuuk nonton lagi. Seru banget ini ceritanya

      Delete
  2. Seru ya kayaknya, ��
    Sayang nggak punya channel TVnya, Thanks for sharing Mba'.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget...
      Ada di Cak Youtube. Lengkap 297 episode.
      Sama-sama Mbak :)

      Delete
  3. Sabtu siang juga 18 episode marathon, diulang dari episode 1 lhoh sejak medio Januari 2017 lalu

    ReplyDelete