Review Buku Metropolis: Kebenaran di Metropolis, antara Ada dan Tiada

review buku metropolis buku windry ramadhinaJudul : Metropolis
Pengarang : Windry Ramadhina
Editor : Mira Rainayati
Penerbit : PT Grasindo
Status : Cetakan 1 2009
Grade : 4,5 bintang

Agusta Bram (Bram) seorang polisi bersih bekerja keras untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai para pemimpin sindikat 12. Mereka adalah penguasa pasar narkoba di Jakarta Raya. Bram bekerja sama dengan Erik, seorang polwan handal sebagai asistennya. Dua orang cerdas dan berpengalaman bekerja keras menguraikan kasus ini.

Mereka bukan saja menghadapi penjahat tapi juga kalangan polisi yang bermental penjahat, bahkan juga atasannya sendiri, Burhan. Untung saja bekas atasannya yang telah pensiun, AJUN Komisaris Besar Polisi Moris Greand, memberikan bantuan penuh untuk kasus ini.

Bram sebagai tokoh utama dalam buku ini dideskripsikan secara manusiawi. Segala kelebihan dan kekurangannya berjalan seimbang. Suatu waktu dia adalah hero tanpa cela, sementara di waktu lain Bram tak ubahnya anak nakal yang berusaha mengakali peraturan. Tapi tetap saja dia punya keteguhan hati untuk menjadi polisi yang bersih. Saya tergelak ketika dia menjahili rekan kerjanya yang korup. Acungan jempol untuk penulis yang berani mengangkat sisi gelap dunia kepolisian.

Saya ngeri membayangkan bila cerita dalam buku ini menjadi kenyataan. Apa yang terjadi kalau kepala satserse narkotika adalah big bos di dunia mafia narkoba, yang paling disegani. Jangan kaget kalau anda akan menahan napas berkali-kali ketika Bram harus beradu cerdik dengan atasannya sendiri. Dimana Burhan selalu menggunakan banyak cara untuk menghalang-halangi penyelidikannya.

Momen yang paling berkesan dalam buku ini, ketika Erik meninggal dan Bram tidak bisa menolong. Padahal dia sudah berada dekat dengan Erik, tapi terlambat untuk menyelamatkannya. Rasa kehilangan Bram diterjemahkan dengan mendalam dan menyesap di hati. Pada bagian ini emosi saya bercampur aduk. Antara sedih dan marah yang larut begitu saja. Apalagi waktu tahu siapa yang menyarangkan 6 tembakan di tubuh Erik. Rasanya, saya ingin melempar parang langsung ke lehernya.

Untung saja penulis pandai menetralisir keadaan dan memunculkan sisi rasionalitas Bram. Saya jadi lebih puas dengan cara Bram mengeksekusi pembunuh Erik dan juga para pembunuh sindikat 12. Well… sudah saatnya setiap nyawa yang hilang dibalas juga dengan nyawa. Bila penghilangan nyawa itu dilakukan demi ketamakkan dan kekuasaan materi semata.

Mengikuti perjalanan Bram dan Erik menelusuri fakta demi fakta begitu mengasyikkan. Saya suka gaya penceritaan penulis yang lancar dengan kecepatan konstan. Kadangkala berhenti pada tikungan tajam yang menegangkan.

Banyak kejutan selama dalam perjalanan. Tokoh-tokoh dengan karakter unik dan pencitraan abu-abu bermunculan silih berganti. Selama dalam perjalanan menyusuri buku ini, sulit bagi saya berbagi konsentrasi. Berbagai teka teki bertebaran hampir disetiap bab. Saya terpaku untuk terus menelusuri huruf demi huruf, kuatir ada fakta -yang kelihatannya- remeh, yang mungkin saja terlewatkan. Selayaknya sebuah buku thriller, setiap fakta adalah bagian dari cerita. Saya tak ingin ada bagian yang hilang itu mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini.


Foto: pinjam pakai dari mbah Google


Komentar