Monday, 23 July 2018

Review Drama The Most Beautiful Goodbye

review the most beautiful goodbye
Sumber: https://www.kdramapal.com/wp-content/uploads/2017/12/The-Most-Beautiful-Goodbye-In-The-World.png

Beberapa minggu belakangan, saya berkutat dengan banyak angka dan huruf. Hari ini, kepala sudah nggak kuat buat mikir lagi. Ya wis lah, istirahat dulu. Mau keluar rumah malas. Puanas, rek. Yo wis lah nonton drama Korea saja. Ubek-ubek rekaman Chanel Sony One dari seminggu yang lalu. Tetiba ada iklan Drama The Most Beautiful Goodbye. Saya paling tertarik adegan tiga generasi sedang di kebun. Sepertinya sedang membuat makanan dalam jumlah besar. Seorang wanita menyuapi pria muda dan lelaki tua di sebelahnya. Nyuapinnya sambil bercanda. Bagus nih, kayaknya.

Ternyata hanya 4 episode. Habis, lah dalam sehari. Asyek. Drama ini fokusnya adalah satu keluarga tiga generasi. Nenek, anak lelaki, menantu dan dua cucu. Sang Nenek sakit Demensia. Pada awalnya tinggal di panti jompo lalu dibawa pulang ke rumah. Sang Ibu (Kim In Hee) yang merawat Nenek. Mulai dari memandikan, urusan buang hajat, menyuapi, mengajak jalan-jalan dan ngobrol hingga seluruh perawatan badan. Meski Ibu adalah anak menantu. Namun beliau merawat Nenek dengan sabar. Sering kali Nenek mangamuk dan berhalusinasi. Bahkan In Hee disebut sebagai 'wanita jahat'. Namun jika dalam kondisi sadar, Nenek sangat sayang pada Bu In Hee. 

Suatu ketika, Bu In Hee kesakitan ketika buang air kecil. Beliau cerita pada Sang Suami (Jung Cheol) yang seorang dokter. Pak Jung mengira ada masalah dengan kandung kemihnya. Bu In Hee memeriksakan diri ke rumah sakit tempat praktek suaminya. Dari pemeriksaan ini baru diketahui kalau Bu In Hee sakit kanker ovarium dan sudah menyebar ke organ-organ lain. Pak Jung sangat terpukul. Sebenarnya sudah lama istrinya mengeluh sakit pada perutnya. Selayaknya ibu-ibu yang lain. Kalau badan merasa sakit tidak pernah dianggap serius. Pak Jung merasa bersalah karena sebagai dokter tidak segera menyadari hal ini. 

Pak Jung memutuskan untuk mengoperasi istrinya. Ketika dilakukan operasi ternyata kanker sudah menyebar ke paru-paru, hati dan seluruh organ pencernaan. Operasi dibatalkan. Kanker tidak jadi diangkat. Pak Jung shock. Beliau ingin merahasiakan dari istri dan anak-anaknya. Namun dr Yoon, sahabatnya tidak setuju. Seluruh keluarganya berhak tahu kalau istrinya sedang kritis. Bu In Hee diperkirakan hanya bisa bertahan dua atau tiga bulan lagi.

review the most beautiful goodbye
http://d263ao8qih4miy.cloudfront.net/wp-content/uploads/2017/12/mostbeautifulgoodbye-teaser15.jpg

Akhirnya Pak Jung memberitahu anak sulungnya, Yeon Soo. Sama seperti Sang Ayah, Yeon Soo shock. Reaksi anak lelakinya, Jung Soo lebih parah lagi. Dia histeris. Si bungsu ini paling bermasalah di rumah. Dia harus mengulang sekolah. Dua kali gagal tes masuk universitas. Kesukaannya mabuk dan keluyuran. Saat ini dia sedang mempersiapkan tes ketiga. Jung Soo merasa terpukul karena belum bisa membahagiakan Ibunya. Belum bisa memberi uang tiap bulan seperti kakaknya, yang sudah menjadi wanita karir sukses. Dia merasa belum bisa menjadi kebanggan ibunya. Pak Jung tetap ingin istrinya tidak tahu kalau dia dalam kondisi kritis. Kondisi ini menyadarkan Jung Soo. Dia berubah menjadi anak baik dan penurut. Pria muda ini belajar keras agar bisa lulus ujian masuk universitas. Dia juga lebih sering menemani ibunya di rumah.

Pada saat seperti ini, Pak Jung dikeluarkan dari rumah sakit karena masalah manajerial. Beliau terpaksa pindah ke klinik kecil di pinggir kota dengan gaji rendah. Namun Pak jung merahasiakan masalah pekerjaan ini pada keluarganya. Yeon Soo meninggalkan apartemennya dan pindah ke rumah keluarga. Dia resign dari kantor. Dia ingin merawat Ibunya hingga akhir hayat. Selama ini Yeon Soo tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga. Semua sudah dikerjakan Ibunya. Gadis muda ini bekerja keras belajar menyetrika, memasak dan semua pekerjaan rumah lainnya.       

Kondisi Bu In Hee semakin melemah. Dokter angkat tangan. Pak Jung merawat sendiri istrinya di rumah. Suatu malam, Bu In Hee bangun karena kesakitan. Beliau mual hebat dan muntah darah. Beliau menyadari ada yang berbeda dengan tubuhnya. Setiap kali bertanya pada suaminya, tidak pernah ada jawaban. Hingga pada suatu saat, Pak Jung tak tega melihat istrinya yang susah payah merawat Ibunya. Padahal, Bu In Hee seharusnya istirahat total. Pak Jung memberitahu tentang kondisi kesehatan istrinya yang memburuk. Bu In Hee marah besar. 

Pada awalnya Bu In Hee menolak mengakui kalau dia akan meninggal. Untunglah Beliau bisa cepat berdamai dengan keadaan. Beliau mengajari Yeon Soo memasak dengan 'galak'. Yeon Soo tidak pernah marah karena dia tahu, semua itu demi kebaikannya. Pada titik ini semua menyadari betapa besar peran Sang Ibu dalam kehidupan mereka. Semua hal keperluan mereka sudah dipersiapkan oleh Ibu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

review the most beautiful goodbye
https://4.bp.blogspot.com/-5fmHKePT6SA/WoeizHjSIVI/AAAAAAAAK
c/RAkRQpKBzgUiWvcFeQwBJOA9HDTlSrUMACLcBGAs/s1600/3.jpg


Ada satu adegan Bu In Hee memberikan sebuah kotak besar pada Pak Jung. Isinya adalah sertifikat rumah, surat-surat berharga dan 3 buku tabungan. Bu In Hee meminta sang suami menyimpan kotak itu. Nanti kalau Beliau sudah meninggal, Sang Suami biar tidak kebingungan mencari-cari.

"Itu buku tabunganmu. Asal kau pakai sewajarnya, bisa kau gunakan sampai kau mati nanti. Beruntung kamu punya banyak uang. Buku tabungan yang kuning buat pernikahan Yeon Soo. Yang putih buat biaya Jung Soo kuliah. Jangan coba-coba kamu ambil uang mereka." ucap Bu In Hee.

Pak Jung hanya terdiam mendengar penjelasan istrinya. Beliau tidak menyangka Sang Istri sudah mempersiapkan segala keperluan sejak lama. Pak Jung semakin kalut. Beliau takut membayangkan apa yang terjadi kalau istrinya meninggal nanti.

Mulai adegan Bu In Hee mengetahui kalau sedang sekarat hingga akhir bikin nangis terus. Bu In Hee sambil menahan sakit mempersiapkan suami, anak-anak, adik ipar dan adiknya agar bisa mendiri. Beliau melakukan berbagai cara agar anak-anak dan suaminya tidak hidup menderita setelah Beliau meninggal nanti. Sampai segitunya seorang Ibu. Tidak memikirkan sakitnya, Beliau malah sibuk memikirkan keluarganya. Yang selalu menjadi pikirannya adalah Sang Ibu Mertua. Bu In Hee khawatir kalau anak-anak dan suaminya akan tersiksa jika merawat Nenek setiap hari.

Ada ucapan Yeon Soo yang sangat menohok disela perbincangannya dengan Jung Soo.

"Anak-anak adalah manusia yang egois. Tidak memikirkan Ibu yang sedang kesakitan karena kanker tapi malah sibuk mikir, apa yang akan terjadi dengan hidupku setelah Ibu tidak ada."

Ya, mereka sebenarnya merasa belum siap ditinggalkan Ibu. Mereka baru sadar kalau selama ini sangat tergantung pada Ibu. 'Tiang penyangga' rumah mereka sebenarnya adalah Ibu. Begitu 'tiang penyangga' ini tidak ada, rumah terancam roboh bahkan bisa hancur berantakan. Hal ini yang sangat tidak diinginkan Bu In Hee. Beliau ingin 'rumahnya' tetap berdiri kokoh.


No comments:

Post a Comment