Skip to main content

Curug Pitu Banjarnegara

Tahun lalu, saya ke Banjarnegara naik bis umum. Nah pas naik bis kecil dari Wonosobo ke Banjarnegara saya melihat harta karun. Halah lebay... Aslinya sih plang petunjuk ke arah Curug Pitu di sebelah kiri jalan. Baru tahu kalau ada tempat wisata ini. 

Sesampai di rumah saudara langsung cari info kanan kiri. Searching di ponsel. Ternyata tempat wisata ini sudah lama ada. Akhir-akhir ini baru 'dipoles' dan dimasukkan daftar tujuan wisata Banjarnegara.

Penasaran? Ingin ke sana? Ya pastilah. Curug pitu ada di Desa Kemiri, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Curug pitu dalam bahasa Indonesia artinya air terjun tujuh. Kenapa tujuh? karena ada tujuh air terjun di lokasi wisata ini.

Dari pusat kota Banjarnegara sekitar 10km ke arah Wonosobo. Ada Plang Curug Pitu di pertigaan Jalan Tekidadi. Plang ini terlihat jelas di jalur Banjarnegara-Wonosobo. Ikuti saja plang ini. Kebetulan saya dan suami naik motor. Sensasinya lebih seru. Jalur sekitar 5km berkelok dan naik turun. Jangan kuatir. Sepanjang jalan beraspal mulus. Angin semilir dan matahari yang tidak terik membuat nyaman sepanjang perjalanan. Kami juga disuguhi pemandangan sawah yang indah. Setelah masuk perkampungan, kebun salak luas menemani perjalanan kami. Kalau musim salak atau durian sepanjang jalan banyak penjual berjejer. Salak dan durian masih segar dari kebun.   



Perjalan tak terasa, tiba-tiba sudah sampai di pintu masuk komplek Curug Pitu. Kami pas ke sini hari kerja. Jadi sepi. Hanya kami berdua pengunjungnya. Bayar 10.000 rupiah untuk tiket masuk dan parkir. Kondisi yang sepi lumayan bikin deg-deg-an. Memang area Curug Pitu ini aslinya adalah hutan di punjak bukit. Kalau sabtu minggu atau tanggal merah biasanya ramai pengunjung. Kalau hari kerja selalu sepi tidak ada pengunjung.

Lanjut lah. Dari pintu masuk, kami naik ke gazebo kecil. Langsung terlihat curug ke 7 dengan tinggi sekitar 50 meter. Kalau mau ke sungai dasarnya, kami harus turun ke bawah. Tak terlalu dalam dasar curug ke 7 ini. Sayang kita datang pas musim kemarau. Aliran airnya tidak terlalu deras. Kalau mau ke curug ke 6 dari gazebo naik lagi. Ada tangga semen dengan pegangan. Ikuti saja tangga ini.

Dari curug ke 6 naik terus sampai ke curug ke 1. Curug ke 7 sampai curug ke 1 tingginya sekitar 468 meter. Saya baru setengah jalan menuju curug ke 6 perut sudah kaku. Selain itu suasana yang sepi bikin saya merinding disko nggak jelas. Nanti-nanti saja kalau ramai pengunjung dilanjutkan naik sampai curug ke 1 inshaa Allah.  Tak apalah nggak sampai tuntas. Yang penting sudah sampai kemari. Sudah tidak penasaran lagi.

Kami datang ke Curug pitu awal agustus 2017. Saat itu sedang dilakukan penambahan fasilitas umum untuk pengunjung. Kamar mandi dan kios makanan ditambah jumlahnya. Aneka tanaman bunga juga ditanam di sepanjang pintu masuk hingga pos pembelian tiket. Area parkir diperluas. Ada anak tangga baru dibeberapa tempat.

tangga menuju curug ke 6


Tips buat yang mau ke sini.

Kondisi badan harus benar-benar bagus. Perjalanan dari curug ke 7 sampai curug ke 1 menanjak terus. Kalau memang nggak kuat tidak usah dipaksa. Lebih baik istirahat dahulu atau turun saja. Nggak usah menuruti ego. Bagi Anda yang bermasalah dengan lutut atau pergelangan kaki, lebih baik menikmati pemandangan dari gazebo saja. Masih sangat indah. Tenang saja. (Kiri: view curug pitu dari gazebo)

Kalau bawa anak-anak yang masih kecil lebih baik digandeng selama perjalanan. Jangan sampai anak-anak lepas dari pengawasan para orang dewasa. Kemiringan tangga lumayan curam. Kondisi geografis bukit memang tidak memungkinkan membuat tangga yang landai.

Pastikan rem mobil atau motor berfungsi dengan sempurna. Perjalanan pulang dari Curug Pitu ada beberapa turunan tajam dan berkelok. Rem motor yang kami gunakan sempat bau gosong. Di perkampungan, ada lapangan luas di sebelah sekolah dasar. Lumayan buat mendinginkan rem.

Bagi Anda yang menggunakan mobil. Ketika keluar dari perkampungan, jalan menuju Curug Pitu agak menyempit dan berkelok. Mohon kesabaran dan ketenangannya bila berpapasan dengan mobil dari depan. Lebih baik mengalah kalau memnag tidak memungkinkan untuk jalan bersamaan. Di area kebun salak memang jalan berumput di kanan kiri jalan aspal. Namun ada parit-parit kecil. Kadang  tak terlihat karena tertutup rumput tinggi atau tanaman perdu. Daripada ban mobil terperosok nanti malah repot.

view perjalanan menuju ke Curug Pitu dari Pertigaan Jalan Tekidadi


Foto: koleksi pribadi menggunakan Asus Zenfone4S
   

Comments

Popular posts from this blog

Bebek Kayu Tangan Bratang Gede Surabaya

Bebek goreng kremes plus sambel pencit (mangga muda)
Kalau ke Surabaya tidak makan bebek rasanya kurang afdol. Satu lagi tempat makan olahan bebek goreng favorit saya. Bebek goreng kremes kayu tangan di Jalan Bratang Gede no. 68 Surabaya. tempat ini langganan saya sejak jaman masih kuliah. Sampai sekarang saya masih singgah ke sini.

Tersedia bebek goreng kremes dan bebek bakar. Saya lebih suka yang goreng kremes. Selain bebek empuk dan renyah. Biasanya saya makan plus tulangnya yang juga empuk. Kriuk-kriuk dikunyah. Sajian kremesnya ini yang bikin nagih. Kalau dimakan dengan nasi hangat dan sambel, sedap nian.

Satu lagi yang istimewa. Sambal pencit. Aslinya sambal bajak atau biasa disebut juga sambal matang yang dicampur dengan serutan mangga muda. Sensasi pedas asam ini yang membuat bebek kremes kayu tangan lebih segar.

Tempatnya tidak terlalu besar. Namun selalu ramai pengunjung. Nyempil diatara deretan toko dan aneka tempat makan di sepanjang jalan Bratang Gede. Interior tempatnya…

Iwel-Iwel

Iwel-iwel adalah makanan tradisional Indonesia yang beredar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan ini termasuk langka karena jarang ada di pasar tradisional atau lapak khusus jajanan pasar. Di Jawa Timur hanya muncul pada upacara tujuh bulanan ibu hamil, aqiqah dan selapanan bayi yang baru lahir. 
Konon, iwel-iwel sudah ada sejak jaman para wali. Berasal dari kata waliwalidayya. Penggalan dari doa untuk orang tua Rabbighfirlii waliwalidayya... Namun karena lidah orang Jawa susah melafalkan, jadinya iwel-iwel. Anak yang dalam kandungan atau yang sudah lahir diharapkan menjadi anak sholeh/sholehah dan selalu mendoakan orang tuanya. Wuih, hanya sebuah kue sederhana ternyata dalam banget filosofinya. 
Ada juga sejarah iwel-iwel versi lain. Iwel-iwel berasal dari bahasa jawa kemiwel. Dalam bahasa Indonesia berarti menggemaskan. Mungkin ini sebagai doa agar anak yang dikandung atau yang sudah lahir akan menjadi anak menggemaskan. Presentasi dari bayi yang sehat, normal tak kurang suatu apapu…

Belanja Kain Kiloan di Pasar Ampel Surabaya

Kawasan Ampel Surabaya selama ini identik dengan Masjid Ampel dan Sunan Ampel. Padahal disana ada wisata belanja dan wisata kuliner yang bikin ketagihan. Pasar Ampel berada di kawasan kampung Arab Surabaya Utara. Pasar ini berada di dalam gang-gang kecil yang ada di kawasan kampung Ampel. Antara toko dan rumah biasa bercampur jadi satu.
Pada awalnya hanya beberapa penjual makanan dan aneka toko yang menjual perlengkapan ibadah. Mereka berjualan untuk melayani kebutuhan yang beribadah di Masjid Ampel. Seiring perjalanan waktu, pengunjung masjid Ampel semakin banyak. Aneka barang dan makanan semakin beragam. Maka kampung Ampel menjelma menjadi pasar besar. 
Aneka jenis kuliner tersedia di sini. Masakan indonesia lengkap. Namun yang paling dominan adalah masakan timur tengah. Wajarlah, kampung kampung Ampel ini juga terkenal sebagai kampung Arab. Banyak tersedia nasi kebuli, nasi magali, kambing guling, lontong bumbu, pukis Ampel, uthuk-uthuk, kopi Arab, dan teh rempah. Lain waktu saya aka…