Monday, 29 June 2015

Rawon (The Black Soup)



Saya menyebut rawon sebagai the black soup of Indonesia. Menurut saya, kuah kaldu rawon mirip dengan racikan sup. Hanya saja, pada rawon ditambah dengan kluwek, yang memberi warna hitam.

Salah satu masakan khas Surabaya ini menggunakan daging khusus. Orang Surabaya biasa menyebut daging rawonan. Sebenarnya daging ini adalah sandung lamur. Tekstur daging kenyal dan berlemak.

Aneka ragam rawon

Lazimnya, rawon berisi daging dengan kuah saja. Namun, ada juga yang menambahkan labu siam atau manisah yang dipotong dadu sebagai ‘teman’ daging. Rawon ini biasa disebut dengan rawon rumahan. 

Kalau rawon depot-an penyajiannya sebagai berikut: rawon panas (ada yang dicampur nasi langsung, ada juga yang dipisah tempat rawon dan nasi) ditambah kecambah kecil, sambal bajak dan kerupuk udang. Sebagai pelengkap ada telur asin dan tempe, yang disediakan dalam piring terpisah. 

Dibeberapa tempat, daging ada yang tidak dimasak dengan kuah rawon. Daging sapi biasa bukan rawonan di potong kotak, diempukkan dan dibumbui lalu digoreng. Daging ini biasa disebut dengan empal. Penyajiannya sepiring nasi disiram kuah lalu ditambahkan empal, kecambah pendek, sambal dan kerupuk udang di atasnya. 

Rawon di Surabaya

Rawon itu salah satu menu wajib yang harus dicicipi kalau singgah di Surabaya. Tempat makan rawon kesukaan saya ada di belakang Taman Bungkul. Terkenal dengan sebutan rawon kalkulator, Keistimewaan tempat ini adalah kuah rawon bening, daging rawon tidak ada gajihnya, telur asin selalu masir, tempe goreng menggunakan tempe malang yang gurih. 

Tapi... yang paling istimewa adalah sebuah grup musik di pojok warung, yang selalu memainkan aneka lagu dengan alunan keroncong. Grup musik ini setipe dengan grup Klantink. Kalau makan sambil diiringi musik khas ini, rasanya dunia di luar warung serasa berhenti berputar :D

Foto: koleksi pribadi dengan menggunakan Asus Zenfone4

No comments:

Post a Comment