Monday, 6 December 2010

Sang Penulis Bayangan



Judul : The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)
Penulis : Robert Harris
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2, Maret 2010
Tebal : 320 hal
ISBN : 978-979-22-5562-1

Saya tertarik dengan buku ini setelah melihat cuplikan filmnya. Penasaran. Itu yang melatarbelakangi saya membeli buku ini. Saya berburu DVD film ini belum ketemu juga. Selain itu saya melihat penulis bayangan sebagai profesi yang unik. Ketika sebuah karya sudah diterbitkan, maka seorang penulis bayangan otomatis akan terhapus keberadaannya. Mereka benar-benar seperti bayangan. Tak terlihat tapi akan selalu ada berkeliaran disekitar sang penulis utama.


Ghost Writer professional ditunjuk secara tergesa-gesa untuk menulis autobiografi Adam Lang. Seorang mantan perdana mentri Inggris yang terlibat skandal terorisme. Hal ini dilakukan karena penulis sebelumnya Michael McAra (Mike) ditemukan bunuh diri. Mike adalah asisten pribadi, yang mengetahui dengan pasti sepak terjang perpolitikan Lang.


The Ghost Writer sebenarnya merasakan sebuah beban pada pekerjaan kali ini. Ada firasat bahwa ada banyak hal yang tersembunyi dalam pekerjaan ini. Dia juga berpendapat ada beberapa ganjalan dalam kehidupan Lang. Akhirnya, pekerjaan ini diterima karena ada faktor uang yang menggiurkan. Pihak publishing hanya memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan autobiografi Lang. Sebenarnya, Mike sudah menyelesaikan autobiografi tersebut. Tapi The Ghost writer menilai manuskrip naskah tersebut tidak layak untuk ‘dijual’.


Wawancara mulai dijadwalkan. Data-data di manuskrip Mike mulai ditelusuri dan dipilah-pilah kembali. The Ghost Writer menyusun puzzle autobiografi Lang mulai awal. Suatu hal yang tak mudah karena Lang sedang terlibat masalah dugaan penangkapan teroris illegal di Pakistan. Lang sedang menghadapi ancaman hukuman dari Mahkamah Internasional.

Sementara pihak publishing ingin memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan autobiografi tersebut. Dihantam deadline yang dipercepat dua minggu, The Ghost Writer bekerja ekstra. Dalam kondisi terjepit deadline, malah diketemukan bukti-bukti baru yang ditinggalkan Mike secara tidak sengaja. The Ghost Writer berada dipersimpangan. Dia harus memilih antara mengungkapkan kebenaran atau menyajikan kebohongan dalam hasil karyanya. Apalagi dia menemukan bukti-bukti kalau Mike sebenarnya sengaja dibunuh.


Kalut. Terjebak dalam deadline juga berfikir taktis demi keselamatan nyawa sendiri. The Ghost Writer memilih untuk melanggar perjanjian antara pihak Lang, pihak publishing dan dirinya. Dia membocorkan data-data rahasia tentang Adam Lang. Namun sayang. Ketika semua bukti sudah diberikan pada pihak berwenang, Lang mengalami musibah. Kasus penangkapan teroris illegal pun terkubur rapat.


Jauh setelah Adam Lang ‘terhapus’, The Ghost Writer masih merasa ada yang salah. Seperti ada missing link pada rangkaian bukti yang didapatnya. The Ghost Writer secara diam-diam melakukan penyelidikan lagi. Berbekal manuskrip Mike dan rekaman wawancara terakhir dengan Lang yang berhasil diselundupkan untuk dibawa pulang. Mulailah penyelidikan dimulai.

Tabir rahasia perlahan mulai terungkap. Ternyata, dugaannya salah selama ini. Adam Lang hanya 'boneka'. Ada tokoh penting dibalik Lang yang jauh berbahaya. Dengan mengorbankan hidupnya, The Ghost Writer memilih untuk mengungkapkan kebenaran. Dia bahkan sudah mempersiapkan kematiannya karena dia tahu pasti resiko dari pengungkapan ini adalah kematian. Mati. Itu saja. Tanpa ada penawaran.


Saya sangat menikmati buku ini. Penuh misteri dari awal hingga akhir. Bahkan penulis tidak menyebutkan nama The Ghost Writer. Dia dihadirkan benar-benar sebagai sosok tanpa nama. Hanya The Ghost Writer, itu saja. Deskripsi dan detail emosi yang disuguhkan nyaris sempurna. Hal ini membuat saya seakan menonton film. Apalagi penerjemah berhasil menceritakan dengan mulus dan lancar. Mulus tanpa typo dan penggunaan bahasa percakapan membuat buku ini mudah dicerna.


Ada satu hal yang cukup janggal. Ketika The Ghost Writer berhasil menyelipkan CD wawancara terakhir di saku jas, beberapa menit sebelum Lang mengalami musibah. The Ghost Writer juga mengalami luka berat ketika musibah itu terjadi. Dia harus menggunakan baju rumah sakit selama dirawat. Tapi ketika dia pulang dan memutuskan untuk menggunakan setelan yang sama, CD itu masih tetap di saku jas dengan posisi yang sama persis.

Sebagai salah satu saksi kunci musibah yang menimpa orang penting. Tentu dilakukan penyelidikan ‘istimewa’. Logikanya, seluruh yang ada di TKP akan diperiksa dengan detail. Ketika The Ghost Writer diperiksa dokter dan harus menggunakan baju rumah sakit, tentu saja baju itu juga diperiksa dengan detail. Kalaupun tidak. Ketika baju itu akan disimpan petugas rumah sakit. Minimal seluruh barang yang ada di kemeja, celana dan jas akan dikeluarkan semua. Bagaimana mungkin kepingan CD –meskipun ukuran mini disk- terlewat begitu saja. Diluar itu semua buku ini asyik untuk dinikmati.

No comments:

Post a Comment