Wednesday, 19 September 2018

Review Drama Korea Mother Lee Bo Young

review drama korea mother drama korea lee bo young

Soo Ji seorang peneliti burung yang menambah penghasilan sebagai guru penganti di SD setempat. Pada mulanya dia hanya menjadi guru setengah hati. Dia memang tidak terlalu suka dengan anak-anak. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Hye Na. Anak ini penampilannya dekil, bau dan selalu kelaparan. Kalau Soo Ji pulang malam sering bertemu anak ini masih berkeliaran di jalan. Soo Ji mulai mendekati Hye Na. Mengajaknya makan bareng. Menggunting kukunya. Mengajari cara membersihkan badan sendiri dan rajin berganti baju. Dia hanya ke penasaran, kenapa anak ini bisa sampai seperti ini?

Hingga suatu hari, Hye Na jatuh sakit di sekolah. Perawat klinik sekolah menemukan lebam di sekujur tubuhnya. Gadis cilik itu mengaku kalau terjatuh dari tangga. Soo Ji dan guru Song mencurigai Hye Na korban KDRT. Saat telinga Hye Na berdarah, lagi-lagi anak ini berkilah kalau terkena bola kasti saat bermain.

Soo Ji dan guru Song memutuskan untuk mengunjungi rumah Hye Na. Terlihat kalau Hye Na ketakutan namun memutuskan untuk diam. Tak sengaja Soo Ji bersitatap dengan pacar Ibunya Hye Na. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa takut dan merinding. Naluri seorang peneliti mulai mengusik. Wanita muda ini mempunyai firasat kalau ada yang tak beres di rumah itu. Soo Ji semakin intens menjalin kedekatan dengan Hye Na, untuk mencari tahu lebih dalam tentang kehidupannya sehari-hari.

review drama korea mother drama korea lee bo young

Namun hari keberangkatan Soo Ji ke Islandia semakin dekat. Sebelum berangkat, Soo Ji ke rumah Hye Na. Dia ingin melihat untuk terakhir kalinya. Ketika Soo Ji sampai di depan rumah tersebut, dia menemukan plastik sampah yang bergerak-gerak. Ternyata isinya adalah Hye Na bercampur dengan aneka sampah. Anak kecil ini hanya mengenakan baju rumah biasa. Padahal saat itu musim dingin. Badannya gemetar karena ketakutan dan kedinginan. Soo Ji segera menggambil keputusan cepat.

Soo Ji nekat akan membawa Hye Na ke Islandia. Saat itu yang ada dalam pikiran Sang Guru hanya ingin menyelamatkan nyawa Hye Na. Kalau mau dilaporkan ke Polisi tidak ada bukti kuat yang bisa diajukan. Keesokan harinya tersiar kabar Hye Na dinyatakan hilang di laut. Ada sebelah sepatu Hye Na yang terapung. Pencarian besar-besaran dilakukan. Polisi juga mulai penyelidikan.

Sementara Soo Ji dan Hye Na memulai petualangan keluar dari kota Mooryung. Ternyata proses ke luar dari Korea tidaklah mudah. Pertama yang dilakukan adalah mencari paspor ilegal untuk Hye Na. Selain itu, Soo Ji dan Hye Na harus berpindah-pindah tempat untuk sembunyi. Tanpa tahu tentang dunia ilegal akhirnya Soo Ji 'apes'. Paspor tak didapat, uang yang sudah dibayarkan tak bisa kembali. Persediaan uang Soo Ji semakin menipis.

review drama korea mother drama korea lee bo young

Soo Ji memutuskan untuk minta uang pada Ibunya. Seorang artis terkenal, Nyonya Cha yang dengan senang hati menolongnya. Soo Ji meminta tolong asisten Ibunya untuk mencari paspor ilegal. Beliau memang sudah berpengalaman dalam urusan-urusan seperti ini. Paspor untuk Hye Na akan siap dalam dua minggu. Namun sayang, kondisi kesehatan Nyonya Cha mulai memburuk. Soo Ji memutuskan untuk mengundur keberangkatannya hingga kondisi Sang Ibu membaik.

Banyak peristiwa terjadi selama pengunduran keberangkatan ini. Soo Ji bertemu ibu kandungnya secara tak sengaja. Penyelidikan polisi Mooryung menemukan bukti kalau Soo Ji yang membawa Hye Na. Soo Ji mendapatkan tuduhan penculikan dan dirinya menjadi buronan. Pacar Ibunya Hye Na menculik anak kecil ini. Dia tahu kalau Soo Ji ternyata anak orang kaya. Selain itu, lelaki ini ingin membunuh Hye Na agar dia tidak menjadi tertuduh pelaku penganiayaan.

Selama dalam pelarian hubungan Soo Ji dan Hye Na semakin erat. Hye Na sudah menganggap Soo Ji sebagai ibu kandungnya. Dia merasa nyaman dalam pengasuhan ibu gurunya ini dan tidak mau kembali ke Ibu kandungnya. Berbagai cobaan yang datang silih berganti semakin menguatkan hubungan batin antara keduanya.

Namun sayang. Meski Soo Ji membawa Hye Na karena ingin menyelamatkan nyawanya, namun di mata hukum perbuatannya tetap dianggap sebagai penculikan. Akhirnya Soo Ji dan Hye tertangkap. Soo Ji harus masuk penjara. Sedangkan Hye Na tinggal di rumah penitipan anak milik pemerintah. Duh, nelangsa banget mulai adegan ini.

review drama korea mother drama korea lee bo young

Soo Ji 'patah hati'. Status hukumnya ini akan susah untuk mengadopsi Hye Na secara legal. Sesuai keputusan pengadilan, Soo Ji dilarang mendekati Hye Na. Soo Ji terpuruk. Sementara Hye Na memendam kesedihan mendalam. Kesedihan ini berakibat pada pola makan Hye Na yang semakin memburuk. Dia terserang anoreksia. Hye Na terlihat riang sehari-hari, namun dia dinyatakan depresi berat oleh psikiater.

Sewajarnya, Seorang Ibu akan menyayangi dengan tulus anak-anaknya. Namun kenyataannya, ada Ibu yang tega menganiaya bahkan membunuh anak kandungnya sendiri. Ada juga seorang ibu yang bukan ibu biologis. Tidak pernah melahirkannya. Namun memberikan kasih sayang yang tulus sama seperti soerang Ibu kandung. Memang ada Ibu yang ditakdirkan untuk melahirkan seorang anak, namun tidak bisa mengasuh seorang anak secara manusiawi. Sementara itu ada seorang Ibu yang tidak punya hubungan biologis namun mampu menyayangi dan mengasuh seperti seorang Ibu kandung. Sebutan Ibu melekat bukan karena hubungan darah semata, namun pada kasih sayang tulus yang diberikannya.

Itulah inti cerita yang diangkat drama Mother. Drama ini diadaptasi dari drama produksi Jepang. Saya belum pernah nonton yang versi Jepang. Belum bisa membandingkan bagus versi yang mana. Kalau mau nonton drama ini siap-siap bawa tisyu. Lumayan menguras hati. Eh iya, bagaimana dengan akhir kisah Soo Ji dan Hye? Bisakah mereka menjadi Ibu dan anak lagi? Ah, tak asyik kalau saya ceritakan di sini. Silahkan nonton sendiri. Pasti lebih seru.


Sumber foto: http://newsimg.sedaily.com/2018/02/26/1RVURKHRJZ_1.jpg

Tuesday, 11 September 2018

Selamat Tahun Baru 1440 Hijriyah

Hari ini tepat 1 Hijriyah. Tahun baru bagi umat Islam. Selamat tahun baru 1440 hijriyah. Tahun baru merupakan moment perenungan sekaligus perencanaan. Dua keadaan yang berbeda namun saling terkait satu sama yang lain.


Perenungan perlu dilakukan sebagai langkah evaluasi diri. Apa yang sudah dilakukan selama satu tahun kemaren? Apa saja perencanaan yang sudah sukses dilakukan? Apa saja yang masih belum berhasil dilakukan? Apa saja kendalanya? Dari berbagai pertanyaan ini akan bisa ditemukan kelebihan dan kekurangan kita. Bukan hanya pengakuan namun yang terpenting adalah keikhlasan untuk menyadari atas segala kesalahan yang sudah dilakukan. Hal terakhir ini yang sulit dilakukan.

Tetapi harus dilakukan. 
Jika tidak bisa, 
maka tak akan mungkin bisa membuat perencanaan untuk 
satu tahun ke depan. 

Baiklah. Memulai tahun baru lebih baik dengan melakukan perencanaan. Apa saja yang akan dilakukan. Ada yang berpendapat untuk membuat rencana dengan target setinggi mungkin. Ini untuk membuat diri sendiri semangat mengeluarkan kemampuan hingga batas maksimal. Kalau saya pribadi lebih suka membuat rencana yang serealistis mungkin. 

Hanya kita yang paling tahu kemampuan maksimal, yang bisa kita kerahkan. Apa gunanya membuat berderet-deret rencana namun hanya sedikit yang terealisasi. Bukan berarti saya pesimis. Tidak. Namun harus ada keseimbangan dalam membuat rencana. Seimbang antara mimpi dan realitas. Kalau saya, ketika membuat sebuah rencana sudah termasuk bikin mind maping proses realisasi rencana-rencana tersebut. Sudah ada di kepala apa saja yang harus saya lakukan agar rencana-rencana ini terealisasi. Biasanya saya tulis rinci. Mulai Step 1 hingga sampai ke goal.

Kalau seandainya di tengah jalan nanti ada halangan yang membuat rencana saya gagal total. Ya, sudah. Harus dicari jalan yang lain. Bisa jadi sangat jauh dari mind mapping yang sudah saya buat. Ya, mau bagaimana lagi. Allah Subhanahu Wata'alla yang berkuasa mengeksekusi rencana kita. Yang penting kan, proposal sudah diajukan. Rencana sudah dibuat. Kerja keras berikhtiar mewujudkan rencana tersebut sudah dilakukan. Bagian terpenting adalah prosesnya. Penuh pembelajaran. Urusan hasil berhasil atau tidak, ya hak prerogatif Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan.     

Apakah sudah membuat rencana-rencana untuk tahun depan? Semoga rencana-rencana kita sinkron dengan rencana Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin. 


Photo by Ugik Madyo


Friday, 31 August 2018

Resensi Buku Pergi, Kemana Takdir Akan Membawa Pergi?

review buku tere liye review buku pergi

Judul : Pergi
Penulis : Tere Liye
Editor : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika Penerbit 2018

Buku ini dibuka dengan adegan baku tembak di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. Lokasi tepatnya di sebuah gudang kontainer Stasiun Kereta Api. Bujang beserta sahabat-sahabatnya (Salonga, White, si kembar-Yuki dan Kiko) berusaha merebut kembali sebuah alat deteksi serangan siber. Alat ini dicuri oleh keluarga El Pacho. Namun sayang, misi di Meksiko ini gagal total. Padahal anak buah El Pacho sudah dilumpuhkan semuanya, tiba-tiba muncul sosok bertopeng. Seorang pria yang menyamar seperti Zorro berhasil mengalahkan Bujang dengan telak dan mengambil alat tersebut. Mereka terpaksa kembali dengan tangan hampa. Alih-alih marah. Bujang justru penasaran dengan sosok Zorro itu.

"... Orang bertopeng itu bilang ke Bujang, Adios, Hermanito." Salonga mengusap dahinya, diam sejenak.(Hal. 44)  

Hermanito artinya my little brother. Padahal Bujang anak tunggal. Ayahnya, Samad hanya menikah dengan Midah, Mamaknya. 'Zorro' fasih berbahasa Indonesia. Sosok asing itu juga tahu nama aslinya. Bagaimana mungkin bisa tahu nama asli Bujang? Hanya 7 orang yang tahu nama asli Bujang, termasuk Ayah dan Mamak. Lima orang sudah meninggal. Hanya tinggal dua orang, Salonga dan Tuanku Imam. Kedua orang ini juga tidak tahu siapa sosok 'Zorro' ini.

Bujang yakin sosok 'Zorro' ini bagian masa lalunya. Kenapa baru muncul sekarang. Kenapa juga orang itu mengincar alat deteksi serangan siber milik Keluarga Tong? Ada banyak misteri yang harus dipecahkan Bujang. Pada saat bersamaan ada banyak masalah yang menimpa keluarga Tong. Bujang saat ini adalah seorang Tauke Besar. Pucuk pimpinan di Keluarga Tong. Salah satu keluarga penguasa shadow economy di Asia Pasifik.

Ada 8 keluarga penguasa shadow economy di dunia ini. Keluarga Tong di Indonesia, Keluarga El Pacho di Meksiko, Keluarga Yamaguchi di Jepang, Keluarga Lin di Macau, Keluarga Otets di Rusia, Keluarga Master Dragon di Hongkong dan satu lagi di Miami Florida. Mereka semua mempunyai latar belakang yang sama. Pada mulanya adalah para mafia bisnis ilegal di 'dunia kegelapan'.

Seiring berjalannya waktu mereka mulai merambah bisnis legal. Perbankan, properti, pertambangan, transportasi, retail dan hampir semua jenis usaha mereka miliki. Keluarga mafia bertansformasi menjadi keluarga konglomerat. Tidak hanya dunia usaha yang mereka kuasai, politisi dan penegak hukum juga dalam 'genggaman' mereka. Delapan keluarga penguasa ini mempunyai kesepakatan tidak akan saling menggangu wilayah kekuasaan masing-masing.

Namun sayang, Keluarga Master Dragon melanggar kesepakatan ini. Mereka berusaha menguasai keluarga shadow economy yang lain. Bujang hampir saja terbunuh oleh sniper kiriman keluarga dari Hongkong ini. Bujang marah besar, dia mulai menyusun strategi untuk 'menghukum' Keluarga Master Dragon. Pada saat yang sama, Bujang juga harus segera merebut kembali alat deteksi serangan siber.

Bujang susah payah menyelidiki masa lalunya. Ternyata 'Zorro' adalah kakak tirinya Diego Samad. Anak yang disembunyikan di Meksiko. Bahkan Ayahnya, Samad tidak pernah tahu dengan kelahiran Diego. Bujang cukup terguncang dengan masa lalu Ayahnya yang baru muncul sekarang. Sementara itu konflik dengan keluarga Master Dragon semakin memanas. Bujang tidak saja harus mempertahankan eksistensi Keluarga Tong. Dia juga harus mempertahankan nyawanya yang diujung tanduk.

"Kehidupanmu ada di persimpangan berikutnya. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukannya... Ada pertanyaan penting berikutnya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya kemana kamu akan pergi?... Bersama siapa? Apa kendaraanya?... Kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidupmu? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang... Kamu akan pergi kemana, Nak?" (Hal. 86)

Ucapan Tuanku Imam terus terngiang. Bujang mengalami dilema. Ada banyak pertanyaan yang terus bergayut dibenaknya. Sementara itu masalah antara 7 keluarga penguasa Asia Pasifik semakin memanas. Konflik dengan Keluarga Master Dragon membawa perubahan besar pada 7 keluarga shadow economy. Keadaan tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Setelah semua konflik ini berakhir dia akan 'pergi' kemana? Semua pertanyaan akan terjawab di akhir buku. Tak seru kalau saya ceritakan semua di sini.

Buku ini merupakan kelanjutan dari Buku Pulang. Namun jangan kuatir. Jika Anda belum pernah membaca Buku Pulang tidak akan terganggu keasyikannya. Pembaca tetap bisa menikmati karena buku ini rangkaian ceritanya 'berdiri sendiri'.

Pada awalnya, saya agak terganggu dengan sudut penceritaan orang pertama dalam buku ini. Tetapi lama kelamaan bisa menikmatinya. Jalan cerita cenderung lebih lambat dari pada buku genre petualangan Tere Liye lainnya. Kalau menurut saya, bila disajikan dengan alur cerita yang cepat seperti Buku Negeri Para Bedebah mungkin akan lebih menghanyutkan. Alur cerita yang cepat membuat pembaca penasaran untuk bergegas sampai di akhir cerita. Karakter tokoh Bujang hampir mirip dengan Thomas di Buku Negeri Para Bedebah. Muda, cerdas, petarung hebat, mempunyai masa lalu kelam dan jago menyusun strategi. Eh, di tengah cerita ternyata muncul si Thomas. Surprise yang menyenangkan.

Bagi Anda yang menyukai buku perpaduan action dan petualangan akan suka dengan buku ini. Meski bumbu romantis juga ada, namun tak berlebihan.


Foto by Ugik Madyo


Thursday, 23 August 2018

Masjid Depan Pelabuhan Kamal Madura, Masjid Baitul Amal

masjid pelabuhan kamal madura

Dari pertama kali berkunjung ke sini, saya selalu menyebut masjid ini sebagai masjid Pelabuhan Kamal. Sebenarnya lokasi masjid ini tidak di dalam Pelabuhan Kamal Madura. Namun berada pas di depan pintu masuk dan keluar Pelabuhan Kamal. Mudah dikenali. Menara bercat hijau dan kuning terang akan langsung terlihat. Sebenarnya nama aslinya adalah Masjid Baitul Amal.

Masjid ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dahulu kecil bangunannya. Sederhana. Hanya satu lantai. Sudah banyak berubah. Banyak renovasi yang dilakukan, yang tampak Masjid dua lantai berdiri megah sekarang. Dahulu, ada makam penduduk sekitar di sebelah kiri masjid. Pada saat perluasan masjid, lahan makam terpakai. Sudah banyak makam yang dipindahkan. Namun, masih ada beberapa nisan di pojok kiri halaman.

masjid pelabuhan kamal madura


Setelah sholat, saya paling suka duduk-duduk di teras lantai 2. Anginnya sejuk. Meski siang hari panas menyengat namun anginnya tetap sejuk. Kalau capek perjalanan dari Surabaya bisa istirahat di sini. Meluruskan punggung sejenak. Lebih sering sih ketiduran. Saking segarnya menikmati angin sepoi-sepoi. Tidak banyak pengunjung pada siang hari. Lebih tenang. Eh, iya. Meskipun di dalam masjid masih terasa sejuk. Banyak jendela terbuka di sekeliling dinding masjid. Jendelanya tinggi dan lebar. Sirkulasi udara bebas keluar masuk.

Satu lagi yang saya suka di masjid ini ada di dinding dekat tangga yang menuju tempat wudhu wanita. Ada lukisan timbul aneka tumbuhan. Lukisannya detail. Sederhana namun menawan. Secara keseluruhan interior masjid ini sederhana namun tetap elegan. Ciri khas interior Madura tetap ada namun tidak berlebihan.        

masjid pelabuhan kamal madura



Foto: koleksi pribadi


Wednesday, 15 August 2018

Sego Macan Karangan Surabaya, Tempat Cozy dan Makanan Enak

sego macan surabaya

Selama ini yang sudah kondang adalah sego kucing. Biasanya dijual di tempat angkringan. Porsinya sedikit. Kalau saya pribadi minimal beli harus dua porsi. Bagaimana dengan sego macan? Sesuai dengan namanya. Porsi nasi dalam lebih banyak. Tapi ya nggak banyak banget. Sego (nasi) macan porsinya sekitar 1,5 kali lebih banyak dari sego kucing. Lumayan. Bisa mengenyangkan.

Lokasi warung sego macan ini ada di pinggir Jalan Raya Menganti Karangan. Ada di sebelah kiri kalau dari arah pertigaan lampu merah Unesa (Universitas Negeri Surabaya) ke arah Kedurus. Konsep tempatnya seperti warung tradisional. Gerai makanan didominasi dengan kayu dan bambu. Tempat duduk pengunjung didominasi dengan kayu. Cukup sederhana. Hanya meja kursi memanjang dari kayu yang dipelitur terang.

sego macan surabaya


Konsep warung ini model terbuka. Ada kipas angin di ruangan. Lumayan sejuk kalau mau nongkrong lama di sini. Namun agak bising. Selain suara musik yang selalu mengalun, kendaraan lalu lalang tak pernah berhenti. Maklum, lokasinya memang persis di pinggir jalan. Meski agak bising tapi masih bisa ngobrol dengan nyaman. Tapi ya nggak bisa ngobrol rahasia yang perlu harus berbisik.

Ada banyak variasi makanan di sini. Saya akan bahas satu persatu. Mulai dari menu utama. Nasi macan ini dibungkus daun pisang. Sebelum disajikan akan dipanasi dulu. Konsep sego macan ini mirip dengan nasi bakar. Satu bungkus nasi sudah dilengkapi aneka topping. Ada sambel teri, sambel klotok, telur asin bumbu pedas dan orek tempe. Bagi Anda yang bukan termasuk pecinta pedas silahkan memilih orek tempe. Masih terasa pedas tapi nggak pedas banget. Meski sudah ada aneka topping pedas masih disediakan sambel terpisah. Bebas ambil sebanyak-banyaknya.

sego macan surabaya

Untuk lauk pauk bisa ambil sendiri nanti dipanasin dulu baru disajikan. Ada banyak lauk pauk. Usus, hati ampela, cecek, telur puyuh, kulit ayam, brutu (bagian pantat ayam) disajikan per-tusuk seperti sate. Selain aneka tusuk-an seperti di angkringan ada juga aneka tusuk-an frozen food. Aneka sosis, nuget, ayam fillet dan aneka bakwan. Ada juga bukan menu tusuk, yaitu lele goreng, kepala ayam dan sayap ayam yang dibumbu kecap atau digoreng. Ada juga roti Jhoni dan aneka mie instan. Lengkap. Tinggal pilih sesuai selera.

Bagaimana dengan minuman? Tenang saja. Menu minuman lengkap di sini. Ada aneka kopi yang diracik dengan istimewa. Ada juga aneka juice dan minuman hangat. Minuman andalan di sini adalah es kunir asem dan es beras kencur. Seger sampai tetes terakhir.


Harga
- Sego macan Rp 7.000/bungkus
- Aneka lauk Rp 2.000 - 8.000/biji
- Aneka minuman Rp 3.000 - 10.000/porsi

Buka  jam 17.00 - 01.00

Contact: 0897-0971-897/0896-9688-5228


Foto: koleksi pribadi

Saturday, 11 August 2018

Ayam Geprek Enak Bu Etik Surabaya

ayam geprek enak di surabaya

Ayam geprek sedang hits saat ini. Banyak kedai baru yang menyediakan ayam geprek bermunculan. Namun dari sekian banyak kedai itu hanya beberapa saja, yang menyediakan ayam geprek enak. Saya sudah coba beberapa tempat. Baru ketemu beberapa ayam geprek enak di Surabaya. Salah satunya ini yang sedang saya tulis kali ini.

Baru datang di dunia pergeprekan. Namun pembuatnya sudah puluhan tahun malang melintang di dunia perkulineran. Bu Etik sudah membuka jasa katering sejak tahun 2000-an. Sebenarnya ayam geprek ini varian baru. Katering beliau menyediakan berbagai varian nasi kotak, nasi bungkus dan nasi kuning. Juga melayani pemesanan tumpeng. Baik tumpeng minimalis ataupun tumpeng lengkap. Menu terbaru adalah ayam geprek dan sego sambel.

Katanya, Ayam geprek enak dimakan dengan sambel pedas. Itu kata orang. Kalau kata saya nggak perlu sambal pedas. Nanti bisa merusak cita rasa ayam geprek. Aih. Ini sih cuma ngeles. Untung sambelnya dibuat dadakan di sini. Jadi enak. Nggak perlu kuatir kepedesan. Bisa pesan sesuai kemampuan mulut dan perut.

ayam geprek enak di surabaya

Ayam geprekny aenak. Kriyuk di luar tapi lembut dibagian daging ayam yang dalam. Bumbu ayam gurihnya pas. Merasuk sampai daging bagian dalam. Harganya juga tidak mahal. Hanya Rp 10.000/porsi. Eh, iya porsinya termasuk besar. Saya kekenyangan ketika makan. Ada tambahan lauk tempe goreng, tahu goreng dan terong goreng plus serundeng lezat. Lengkap.

Buka setiap hari dari jam 10.00 - 21.00 WIB.
Alamat: Jalan Karangan Gang 4 Gang Tengah no 9 Surabaya
Pemesanan : 0813-3364-9446

Foto: koleksi pribadi

Sunday, 5 August 2018

Nasi Pecel SPBU Wiyung Surabaya


Pagi buta mendadak kelaparan. Hawa dingin malam hari di musim kemarau seringkali bikin kelaparan. Halah... modus. Kok ya pas masakan semalam habis semua. Mulailah gerilya di dapur. Ada tumpukan mie instan. Waduh. Makan mie instan lagi? Nggak lah. Eh, mendadak ingat warung pecel langganan yang buka mulai jam 4 pagi. Ya wis lah. Nanti habis sholat subuh langsung ke sana.

Saya nekat menembus hawa dingin menggigit tulang pagi-pagi. Halah. Sinetron banget. Demi... demi perut yang sudah berontak. Keroncongan. Lokasi warung nasi pecel ini pas sebelumnya SPBU Wiyung. Ada di depan bengkel dan reparasi arloji. Penjualnya suami istri setengah baya. Sebenarnya sih nggak bisa di bilang warung. Jualannya di teras bengkel. Hanya ada etalase tempat makanan serta meja panjang dan kursi-kursi plastik. Meski lokasinya di depan bengkel tapi tempatnya selalu bersih.


Yang saya suka di sini adalah peyek dan sambal pecelnya. Peyeknya digoreng tipis dan lebar. Renyah dan berbumbu. Kalau komposisi bumbu sambel pecelnya pas. Pedesnya juga pas. Tiap porsi nasi pecel akan mendapatkan lauk serundeng, kering tahu tempe, tahu bali dan peyek. Kalau lauk tambahannya ada telur dadar, telur bali bulat, ayam goreng, opor ayam, daging goreng dan sate jerohan. Harga masing-masing lauk tambahan sesuai dengan harga bahan mentah di pasaran.

Harga mulai Rp 13.000/porsi
Buka setiap hari jam 04.00 - 07.30 WIB

Foto : koleksi pribadi