Skip to main content

Mercusuar Sembilangan Bangkalan Madura


Mercusuar ini berada di desa Sembilangan Kabupaten Bangkalan, Madura. Ada dua mercusuar di Pulau Madura. Satunya lagi di Saronggi Sumenep. Keduanya ini peninggalan Belanda sewaktu masih berkuasa. Bangunannya masih kokoh sampai saat ini.

Lokasi Mercusuar ini dekat dengan Bukit Jaddih. Kalau sudah sampai jalan besar yang akan masuk ke desa Jaddih. Jalan yang ada baliho besar Gua Puteh. Dari jalan besar ini ambil jalan ke kanan. Di kiri jalan nanti ada jalan kembar beraspal, JL Maritim namanya. Belok kiri dan ikuti jalan kembar ini. Jalan ini akan membawa kita langsung ke Mercusuar Sembilangan. Sepanjang jalan Maritim sangat sepi. Kanan kiri lahan kosong. Kalau sudah masuk ke jalan sempit perkampungan, ini berarti kita sudah dekat lokasi.

Apabila ragu-ragu atau takut salah jalan, bisa tanya penduduk sekitar. Namun jangan tanya Mercusuar. Tapi tanya saja lokasi 'lampu Belanda' atau 'lampu Sembilangan'. Masyarakat di sekitar lokasi menyebutnya sebagai 'lampu' bukan 'mercusuar'.

Begitu masuk lokasi Mercusuar, kita disambut deretan pohon yang teduh. Kiri dan kanan jalan banyak warung yang menyediakan aneka minuman dan rujak Madura. Aneka buah dicampur petis Madura nikmat sekali kalau dimakan kala siang yang terik.



Begitu datang kami di sambut penjaga dari TNI AL. Untuk masuk komplek gratis. Mercusuar ini termasuk dalam aset TNI AL sebagai sarana pengawasan wilayah perairan Indonesia saat ini. Kami tidak bisa masuk ke Mercusuar. Namun kami boleh jalan-jalan di dalam kompleks Mercusuar. Sewaktu saya kesana agak sepi. Ada beberapa pasangan yang melakukan pemotretan pre-wedding. Beberapa pengunjung berfoto ria. Namun kebanyakan lebih memilih nongkrong di warung. Kalau saya sih lebih memilih duduk di pinggir pantai sambil menikmati kapal yang lalu lalang.  

Mercusuar Sembilangan dibangun tahun 1879 oleh Z.M. Willem III untuk mengawasi perairan Laut Jawa dan sekitarnya. Menurut cerita yang pernah naik ke Mercusuar, Pulau Sumatra dan Kalimantan bisa terlihat dari puncak.

Tinggi Mercusuar ini sekitar 78 meter. Ada 16 lantai dari bawah hingga puncak. Setiap lantai, terdapat dua jendela di dinding depan dan belakang. Pada setiap lantai terdapat tangga berbentuk melengkung setinggi 3 meter. Tangga ini berwarna hitam. Di setiap ujung bawah tangga ada besi dengan motif sederhana.

 Komplek rumah dinas para petugas jaga Mercusuar

Bagaimana kalau ada kerusakan diatas dan harus diperbaiki? Bagaimana berbagai alat atau bahan bangunan dibawa keatas? Para penjaga kan juga butuh kopi, camilan atau aneka logistik untuk melancarkan tugas penjagaan. Masak semua kebutuhan itu harus dipanggul ke lantai 16. Huaaa... lemes.

Tenang... ternyata ada lift khusus untuk barang. Pada bagian tengah Mercusuar terdapat lubang pipa besi diameter 2 meter. Ini nih lift-nya. Meskipun pengoperasiannya masih secara manual. Lumayan lah... daripada nggendong hehe.

Meski Mercusuar ini di bangun pada Jaman Belanda namun masih berdiri kokoh dan terawat hingga saat ini. Jadi.. tennag saja kalau mau jalan-jalan ke sini.

Comments

Popular posts from this blog

Bebek Kayu Tangan Bratang Gede Surabaya

Bebek goreng kremes plus sambel pencit (mangga muda)
Kalau ke Surabaya tidak makan bebek rasanya kurang afdol. Satu lagi tempat makan olahan bebek goreng favorit saya. Bebek goreng kremes kayu tangan di Jalan Bratang Gede no. 68 Surabaya. tempat ini langganan saya sejak jaman masih kuliah. Sampai sekarang saya masih singgah ke sini.

Tersedia bebek goreng kremes dan bebek bakar. Saya lebih suka yang goreng kremes. Selain bebek empuk dan renyah. Biasanya saya makan plus tulangnya yang juga empuk. Kriuk-kriuk dikunyah. Sajian kremesnya ini yang bikin nagih. Kalau dimakan dengan nasi hangat dan sambel, sedap nian.

Satu lagi yang istimewa. Sambal pencit. Aslinya sambal bajak atau biasa disebut juga sambal matang yang dicampur dengan serutan mangga muda. Sensasi pedas asam ini yang membuat bebek kremes kayu tangan lebih segar.

Tempatnya tidak terlalu besar. Namun selalu ramai pengunjung. Nyempil diatara deretan toko dan aneka tempat makan di sepanjang jalan Bratang Gede. Interior tempatnya…

Iwel-Iwel

Iwel-iwel adalah makanan tradisional Indonesia yang beredar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan ini termasuk langka karena jarang ada di pasar tradisional atau lapak khusus jajanan pasar. Di Jawa Timur hanya muncul pada upacara tujuh bulanan ibu hamil, aqiqah dan selapanan bayi yang baru lahir. 
Konon, iwel-iwel sudah ada sejak jaman para wali. Berasal dari kata waliwalidayya. Penggalan dari doa untuk orang tua Rabbighfirlii waliwalidayya... Namun karena lidah orang Jawa susah melafalkan, jadinya iwel-iwel. Anak yang dalam kandungan atau yang sudah lahir diharapkan menjadi anak sholeh/sholehah dan selalu mendoakan orang tuanya. Wuih, hanya sebuah kue sederhana ternyata dalam banget filosofinya. 
Ada juga sejarah iwel-iwel versi lain. Iwel-iwel berasal dari bahasa jawa kemiwel. Dalam bahasa Indonesia berarti menggemaskan. Mungkin ini sebagai doa agar anak yang dikandung atau yang sudah lahir akan menjadi anak menggemaskan. Presentasi dari bayi yang sehat, normal tak kurang suatu apapu…

Belanja Kain Kiloan di Pasar Ampel Surabaya

Kawasan Ampel Surabaya selama ini identik dengan Masjid Ampel dan Sunan Ampel. Padahal disana ada wisata belanja dan wisata kuliner yang bikin ketagihan. Pasar Ampel berada di kawasan kampung Arab Surabaya Utara. Pasar ini berada di dalam gang-gang kecil yang ada di kawasan kampung Ampel. Antara toko dan rumah biasa bercampur jadi satu.
Pada awalnya hanya beberapa penjual makanan dan aneka toko yang menjual perlengkapan ibadah. Mereka berjualan untuk melayani kebutuhan yang beribadah di Masjid Ampel. Seiring perjalanan waktu, pengunjung masjid Ampel semakin banyak. Aneka barang dan makanan semakin beragam. Maka kampung Ampel menjelma menjadi pasar besar. 
Aneka jenis kuliner tersedia di sini. Masakan indonesia lengkap. Namun yang paling dominan adalah masakan timur tengah. Wajarlah, kampung kampung Ampel ini juga terkenal sebagai kampung Arab. Banyak tersedia nasi kebuli, nasi magali, kambing guling, lontong bumbu, pukis Ampel, uthuk-uthuk, kopi Arab, dan teh rempah. Lain waktu saya aka…