Sunday, 16 October 2016

Soto Boyolali Enak dan Segar

soto boyolali enak


Kami yang tinggal di Jawa Timur selama ini terbiasa dengan soto Lamongan atau soto Madura. Kuahnya berbumbu 'lengkap' dan berlemak. Pertama kali mencicipi soto versi Jawa Tengah terasa ringan melayang. Kuahnya bening, sedikit lemak dan berbumbu ringan. Kalau menurut saya pribadi rasanya mirip sop.

Nah, sewaktu mudik balik lebaran yang lalu, Suami mengambil jalan pintas lewat Boyolali. Sepanjang jalan Boyolali-Solo banyak banyak spanduk soto segar Boyolali. Lama-kelamaan, saya jadi penasaran. Kayak apa sih soto segar ini. Ya sudahlah, berhenti sejenak demi menuntaskan rasa penasaran ini.

Hmm... porsinya bikin galau nih. Separuh porsi soto Lamongan atau soto Madura. Mangkuknya juga imut. Ukuran porsinya kalau dibandingkan, dari porsi kecil sampai besar. Soto Kwali, Soto segar Boyolali dan soto Lamongan versi Jawa Timur.

Soto segar ini isinya sederhana. Nasi putih, Kecambah panjang dan seledri lalu disiram kuah. Sebagai pelengkap daging sapi rebus yang dipotong sedang. Kuahnya bening, tidak berwarna kuning dan bumbunya ringan mirip seperti kuah sop. Sama seperti kuah soto versi Jawa Tengah yang lain. Daging sapi yang mencuri perhatian. Empuk dan bumbunya meresap ke seluruh bagian daging. Nikmat banget digigit. Bikin nagih. Sayang, hanya dikasih 3 biji hehe.

Sebagai pendamping soto segar ada beberapa lauk pilihan yang sudah disediakan di meja. Pada setiap meja sudah disediakan deretan piring dengan tudung saji warna warni. Ada tempe mendoan, sate puyuh masak coklat, sate usus, sate jeroan (hati dan ampela), tahu tempe bacem. Silahkan pilih sesuai selera. Nikmat...

Harganya cukup murah. Soto segar saja tanpa tambahan lauk Rp 8.000,-/porsi. Lauk tambahan harganya beragam, Rp 1.000 - 3.000,00. Lumayan... murah dan enak. Kalau lewat Boyolali bisa mampir lagi, nih.

Foto: koleksi pribadi menggunakan Asus Zenfone4S


Thursday, 13 October 2016

Oshin: Pelajaran Tentang Wirausaha di Hampir Semua Episode (Bagian 2)

Judul : Oshin
Jenis : Drama
Produksi : NHK 
Pemain : Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka, Nobuko Otawa
Tayang : Channel WakuWakuJapan 
Hari : Senin - Sabtu jam 20.00 - 20.20 WIB 
Tayang ulang : 
Minggu mulai jam 15.00 WIB langsung 6 episode
Senin mulai jam 09.00 WIB langsung 6 episode


review oshin
Oshin dan Gen (Genji) berjualan di Pasar Jalanan


Toko Tanokura menjadi salah satu korban krisis Jepang. Banyak pelanggan lari karena tak bisa membayar tagihan, bahan kain menumpuk tak terjual. Tak ada penjualan sama sekali. Oshin kembali menata rambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara Ryuzo memilih bekerja sambil menunggu resesi reda, lalu memulai usaha kembali. Lama-lama Oshin pusing dengan utang yang semakin banyak. Mereka harus membayar kain yang sudah diambil Toko. Pabrik tidak menerima pengembalian barang. Harus dibayar cash. Tak bisa disalahkan Pabrik juga butuh uang.

Oshin nekat menjual persediaan kain di Pasar Jalanan. Di sini Oshin berjumpa dengan Ken, preman penguasa Pasar Jalanan. Dari sosok Ken, Oshin belajar bahwa seorang wirausaha harus bernyali besar. Berani menghadapi siapa saja. Meski dalam keadaan takut sekalipun harus tetap pasang 'tampang' berani.

Oshin mendapatkan pelajaran baru. Pembeli di Pasar sangat sensitif terhadap harga. Oshin harus memutar otak agar bisa menjual barang semurah mungkin. Oshin memilih untuk mengambil untung sedikit namun memperbanyak jumlah barang yang dijual. Meski begitu Oshin tetap jujur. Dia akan bilang kondisi barang yang sebenarnya. Kalau memang kain import dari luar negeri, dia akan jual lebih mahal. Kejujuran Oshin ini yang membuat pelanggan makin sayang padanya. Kain dagangannya cepat habis.

Seluruh penjualan kain bisa menutup semua hutang. Sedikit sisa uang dijadikan modal untuk membuka usaha baru baju anak. Oshin menjahit sendiri baju-baju anak tersebut. Ryuzo melihat prospek yang bagus dan akhirnya turut membantu usaha Oshin. Ryuzo sangat ahli dalam bidang tekstil. Oshin mendapatkan banyak pelajaran baru dari Ryuzo. Oshin belajar tentang inovasi produk dan strategi pemasaran.

Sebelum membuat baju anak Ryuzo mengajari tentang bahan kain, model, ukuran baju hingga siapa dan kalangan mana pasar yang dituju. Oshin jadi paham perbedaan baju untuk kalangan menengah atas dan kalangan bawah. Bahan kain dan modelnya harus dibuat berbeda untuk menentukan harga juga. Tergantung pada selera pelanggan yang akan dituju. Usaha baju anak berhasil dengan baik. Mereka bisa mendirikan pabrik dalam waktu setahun. Namun sayang, pabrik belum beroperasi gempa datang menghampiri. Pabrik, toko dan rumah Tanokura habis terbakar. Gen meninggal. Ryuzo, Oshin dan Yu (anak pertamanya) berhasil selamat. Harta yang mereka punya tinggal baju yang menempel di badan. Pembangunan pabrik menggunakan hutang. Habis semua harta Ryuzo dan Oshin. Mereka harus mulai dari nol lagi.


review oshin
Oshin dan Ny. Hasegawa
Sumber: http://i1.ytimg.com/vi/VHMu2pJcOno/0.jpg

Ryuzo memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Saga. Ryuzo dan Oshin menjadi petani. Meski sudah bekerja keras di ladang, namun mereka berdua masih dianggap hidup menumpang. Ladang yang mereka garap selama ini memang milik Tuan Besar Tanokura. Hanya bertahan beberapa tahun hidup di Saga. Oshin tak tahan. Kematian anak keduanya (Ai) dan tangannya yang lumpuh sementara membuat Oshin membuat keputusan besar. Oshin lebih memilih hidup mandiri daripada menadahkan tangan terus pada keluarga Tanokura. Oshin memilih kembali ke Tokyo sementara Ryuzo tetap bertahan di Saga.    

Oshin berangkat ke Tokyo bersama Yu. Dengan bantuan Nona Kayo, Ny. Hasegawa dan Ken, Oshin bisa kembali berjualan di Pasar. Kali ini dia berjualan jajanan anak-anak. Tanpa modal yang banyak, Oshin memilih memanfaatkan keahlian memasaknya. Pelanggan Oshin kali ini anak-anak yang tidak biasa menyuarakan saran dan kritik. Oshin berusaha keras untuk memuaskan pelanggan kecilnya. Oshin belajar untuk memahami selera anak-anak yang jauh berbeda dengan lidahnya sebagai orang dewasa. Oshin mendapatkan pelajaran bahwa pelanggan anak-anak menuntut kesabaran yang tinggi dan juga ketelatenan. 

Kios makanan Oshin yang sudah laris terpaksa ditutup. Oshin ingin menghindari konflik dengan istri Ken yang cemburu padanya. Oshin memutuskan pulang ke rumah Ibunya di desa Yamagata. Dia singgah ke Kagaya. Nona Kayo malah menyuruhnya membuka usaha di Kagaya. Nona Kayo meminjamkan sebuah toko yang tidak terpakai dan juga pinjaman lunak untuk modal. Setelah melihat kondisi sekitar Oshin memutuskan untuk membuka kedai makan masakan rumah yang murah. Pelanggannya adalah para buruh kasar pelabuhan, nelayan dan pelaut. Semua pelanggannya laki-laki. 

Pada masa ini Oshin belajar bahwa kepuasan pelanggan bukan berarti senyum ramah dan kata-kata lembut nan manis. Pelanggannya saat ini sangat berbeda dengan pelanggannya di Tokyo. Pelanggan sekarang banyak pria yang kasar dan suka menggodanya. Oshin tetap mengutamakan kepuasan pelanggan namun hanya urusan makanan. Kalau urusan pelayanan dia menjadi penjual yang galak dan tegas. Cara ini manjur. Para pelanggan pria segan dan hormat padanya. Oshin juga harus menghadapi preman wilayah. Namun Oshin tak gentar. Dia sudah cukup mendapatkan bekal menghadapai preman dari Ken. 


review oshin
Persahabatan Oshin, Kayo dan Kota.
Awalnya mereka terlibat cinta segitiga, namun akhirnya mereka menjadi sahabat sejati seumur hidup.
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/PM78qx8EcPc/hqdefault.jpg

Kedai makan Oshin semakin ramai. Dia dibantu oleh Nona Kayo dalam operasioanal setiap hari. Para pelanggan yang mabuk sering kali menyulitkan Oshin dan Nona Kayo. Setelah menimbang banyak hal, Oshin memilih untuk menutup kedai dan beralih usaha lain. Meski hidup terpisah dengan Ryuzo, Oshin tetap seorang nyonya Tanokura. Dia harus menjaga nama baik Tanokura. 

Kota, sahabat lamanya menawarkan Oshin untuk pindah ke Ise dan memulai usaha baru disana. Oshin dan Yu berangkat ke Ise berbekal alamat rumah Ny. Kameyama, Bibinya Kota. Ny. Kameyama (kalau di drama Oshin teks bahasa Inggris bernama Hisa) adalah seorang saudagar ikan di pantai Ise. Beliau mempunyai banyak kapal dan nelayan. Semenjak suaminya meninggal, Ny. Kameyama mengelola sendiri usahanya. 

Oshin disuruh Ny. Kameyama berjualan ikan keliling. Pada hari pertama berjualan Ny. Kameyama berucap "Aku tidak akan mengajarimu cara berjualan keliling. Kamu harus cari sendiri cara yang pas untuk dirimu. Setiap orang akan berbeda cara berjualan yang pas dengan dirinya. Berjualan keliling itu pekerjaan yang sangat susah. Kalau kamu sukses berjualan keliling ini. Kamu pasti akan sukses jadi pengusaha."

Oshin hanya dipinjami gerobak untuk berjualan. Ny. Kameyama menjual ikan dengan harga murah pada Oshin. Terserah nantinya akan dijual dengan harga berapa. Setiap pagi Oshin ke Pantai untuk membeli ikan yang baru turun dari perahu nelayan. Kemudian dia akan mendorong gerobak berkeliling dengan Yu diatasnya. Oshin berjalan 12 km untuk menjajakan ikannya setiap hari.         

review oshin
Oshin, Yu, Ny. kameyama dan Kota. Oshin berjualan ikan keliling menggunakan gerobak
Sumber: https://jonathanseidmanblog.files.wordpress.com/2016/06/oshin-2.png?w=504&h=346

Pada hari pertama, ikannya tidak ada yang laku. Dia memutuskan untuk membagi-bagikan ikan gratis. Seminggu pertama, masih sedikit ikan yang terjual. Persaingan penjual ikan keliling sangat ketat. Sudah banyak penduduk asli yang berjualan ikan keliling. Oshin yang orang asing sangat sulit untuk meraih pembeli.

Oshin memutar otak untuk beryahan hidup. Dia memulai strategi pelayanan pelanggan paripurna. Oshin menempatkan pembeli sebagai sebaik-baiknya raja. Dia menempatkan dirinya sebagai pelayan yang betul-betul melayani raja. Setiap kali ada pembeli Oshin bertanya 'ikan ini akan dimasak apa'. Maka Oshin akan memotong ikan sesuai dengan kebutuhan pembeli. Tidak hanya urusan ikan. oshin akan membantu dan memenuhi kebutuhan pembelinya dalam hal apapun.

Ada pembeli yang mengerjakan ladangnya sendirian. Setiap kali musim tanam dan panen, Oshin akan meminggirkan gerobaknya dan membantu di ladang. Ada pembeli yang anaknya tinggal di kota, Oshin senang hati mengantarkan titipan barang untuk anak pembelinya. Apabila ada pembeli ikan yang mengadakan upacara atau perayaan di rumahnya, maka Oshin akan menyediakan pesanan ikan yang dibutuhkan plus membantu memasak. 

Para pembeli itu akhirnya menjadi pelanggan yang loyal pada Oshin. Semakin hari semkain banyak pelanggan yang 'direbut' hatinya. Banyak penjual ikan keliling yang resah dan mengadukan hal ini pada Ny. Kameyama. Wanita tua ini menanggapi dengan bijak. "Inilah yang namanya persaingan. Bersainglah yang sehat. Kalau kalian tidak ingin pelanggan lari. Berbuatlah lebih baik dari Oshin. Jaga pelanggan jangan sampai lari." Para saingan pun tutup mulut dan memilih bekerja lebih keras lagi.

Kerja keras Oshin membuahkan hasil. Oshin sudah menguasai mayoritas pasar ikan di Ise dalam waktu dua tahun. Ryuzo yang gagal bertani di Saga memutuskan untuk menetap di Ise. Pelanggan Oshin semakin banyak. Ny. Kameyama mengusulkan agar Oshin membuka toko dan berhenti jualan ikan berkeliling. Oshin menyetujui usul tersebut. Sudah ada Ryuzo yang akan membantunya untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Sementara Oshin menjaga toko sambil mengasuh Yu.  
    

review oshin
Oshin sangat mencintai Ibunya.
Sumber: http://i1.ytimg.com/vi/wFXCGp4HB8Y/0.jpg


Toko Ikan Murah Tanokura semakin ramai. Usaha ikan berjalan dengan lancar. Fuji, Ibu Oshin sudah singgah di Ise. Oshin merawatnya hingga beliau meninggal. Oshin sangat mencintai ibunya. Apapun akan dia lakukan demi untuk membahagiakan Sang Ibu. 

Minggu ini, Oshin sudah mampu membeli kulkas dan sepeda angin. Yu sudah masuk SMP. Hitoshi (anak kedua Oshin) dan Nozomi (anak tunggal Nona Kayo) mulai masuk SD. Saya masih setia menonton setiap hari. Pasti masih banyak pelajaran yang bisa saya peroleh dari tayangan ini.

Shin Tanokura (Oshin) dan nama-nama yang lain memang hanya nama fiktif. Namun, keseluruhan cerita drama ini adalah kisah nyata Kazuo Wada. Pengusaha wanita Jepang pendiri jaringan supermarket Yaohan. Tahun 90-an, supermarket Yaohan mempunyai 450 outlet di 16 negara. Sayang, Yaohan akhirnya bangkrut dan harus di jual. Meski Yaohan bangkrut, kisah dan perjuangan Kazuo Wada dalam drama Oshin tetap menjadi legenda. (Tamat)  

Tuesday, 11 October 2016

Oshin : Pelajaran Tentang Wirausaha di Hampir Semua Episode (Bagian 1)

Judul : Oshin
Jenis : Drama
Produksi : NHK 
Pemain : Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka, Nobuko Otawa
Tayang : Channel WakuWakuJapan 
Hari : Senin - Sabtu jam 20.00 - 20.20 WIB 
Tayang ulang
Minggu mulai jam 15.00 WIB langsung 6 episode
Senin mulai jam 09.00 WIB langsung 6 episode 


review oshin
Pemeran Oshin kecil, remaja, dewasa dan tua.


Sewaktu ada iklan di Channel WakuWaku Japan drama Oshin akan tayang, saya senang sekali. Apalagi Oshin kali ini tayang dengan kualitas HD, lebih senang lagi saya. Akhirnya, bisa nonton drama ini lagi. Oshin pernah tayang di TVRI sewaktu saya masih SD. Saya tak seberapa ingat ceritanya, yang terekam di memori hanya 'Oshin hidupnya menderita terus'. Sekarang ini, saatnya mencerna drama Oshin dengan benar. Drama yang konon masuk katagori legenda dan tayang di 59 negara.

Dari episode 1 saya ikuti hingga akan masuk episode 200 pada minggu ini. Hidup Oshin memang penuh perjuangan semenjak kecil. Saya enggan menggunakan kata penderitaan karena Oshin menganggap semua cobaan sebagai perjuangan. Berasal dari keluarga petani penyewa miskin di Yamagata. Oshin kecil dijual demi mengurangi beban ekonomi keluarga. Semua kakak-kakaknya sudah dijual terlebih dahulu. Hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Oshin.

Oshin dibeli oleh saudagar beras besar di kota. Saudagar mempunyai anak perempuan seusia Oshin bernama Kayo. Meski awalnya terjadi permusuhan sengit antara Oshin dan Kayo (Nona Muda Kagaya) pada akhirnya mereka bersahabat erat hingga meninggal. Oshin yang mempunyai semangat tinggi sekolah menarik perhatian Nenek Kuni (Nyonya Tua Kagaya). Nenek Kuni akhirnya mengajari Oshin membaca menulis dan banyak keterampilan lainnya. Oshin yang cerdas dan cepat mengerti menjadi kesayangan Nenek Kuni. Selain menulis dan membaca, memasak, mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh bayi, dan menjahit dapat dikuasai Oshin dengan cepat.

review oshin
Wajah bulat Oshin yang tak terlupakan
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/Ez95GPwpuP0/hqdefault.jpg

Keluarga Kagaya akhinya menjadikan Oshin sebagai anak angkat. Dia dibesarkan dan didik sama seperti Kayo. Hanya saja Oshin tidak pernah sekolah. Dia hanya dididik Nenek Kuni di rumah. Ketrampilan standart wanita kelas atas seperti merangkai bunga, merias diri, upacara minum teh, tata krama dan sopan santun 'kelas atas' dapat dikuasai Oshin nyaris sempurna. Nenek Kuni, Tuan besar dan Nyonya Besar Kagaya sangat senang dengan perkembangan ini.

Oshin remaja memilih terus mengabdi di keluarga Kagaya. Nenek Kuni meminta Oshin bekerja di toko dan menjadi asistennya. Dari sini titik awal pelajaran bisnis dimulai. Nenek Kuni mengajarkan tentang arti penting jujur dan adil dalam menjalankan usaha. Nyonya Tua Kagaya yang terkenal dermawan memberikan contoh nyata bahwa usaha harus menggunakan hati. Sebagian keuntungan Kagaya diberikan pada para pekerja, buruh tani dan masyarakat miskin di seluruh kota. Bukannya rugi, Kagaya malah mendapatkan keuntungan berlipat-lipat ganda. Kalau dalam Islam ini adalah konsep sedekah.

review oshin
Oshin dan Kayo.
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/zPLxmAFc6wo/0.jpg


Oshin yang sudah cukup umur dijodohkan dengan saudagar kenalan Tuan Besar Kagaya. Namun karena suatu hal, perjodohan ini dibatalkan oleh Oshin. Tak lama kemudian terdengar kabar kakak Oshin sakit keras. Oshin memilih untuk keluar dari Kagaya dan merawat kakaknya di desa. Kakaknya mengalami TBC parah. Sebelum meninggal Sang Kakak bercerita kalau cita-citanya ingin menjadi penata rambut ternama. Setelah Sang Kakak meninggal, Oshin bertekad untuk melanjutkan mimpi kakaknya. 

Oshin berangkat ke Tokyo hanya berbekal sisa uang tabungan dan alamat seorang penata rambut kenalan kakaknya. Butuh perjuangan hingga akhirnya Oshin diterima bekerja di Salon milik Ny. Hasegawa. Pada tahap ini ilmu Oshin tentang wirausaha bertambah. Berasal dari Kagaya yang berjualan barang berpindah ke Salon yang berjualan jasa. Pada awalnya, cukup membuat Oshin 'kebingungan'. Berjualan barang berbeda dengan berjualan jasa. Di bidang jasa, Pelanggan adalah raja. Penjual harus takluk dengan keinginan pelanggan. Oshin mulai belajar kreatifitas dan berbagai indikator kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction) dari Ny. Hasegawa.   

Saat itu sedang tren gaya rambut barat. Ny. Hasegawa melihat bakat besar pada diri Oshin. Beliau menyuruh Oshin untuk belajar tata rambut barat. Setiap hari dia harus keliling ke salon-salon barat dan mengamati semua gaya rambut barat. Hal ini membuat banyak rekannya iri. Oshin dianggap terlalu cepat melompati teman seangkatannya. Ny. Hasegawa tak peduli dengan hal tersebut. Beliau mengamati Oshin sudah mampu menata rambut dengan bagus. Oshin bisa meniru sebuah tatanan rambut hanya dengan melihat saja. Oshin juga bisa memadu padan tatanan rambut disesuaikan dengan bentuk muka pelanggan. Semua kemampuan Oshin itu tak dimiliki oleh rekan seangkatan maupun senior-seniornya.

Segala keberatan reda demi melihat ketrampilan Oshin menata rambut yang terus meningkat semakin hari. Ny. Hasegawa meredam konflik dengan menyuruh Oshin menangani pesanan layanan rumah. Pelanggan yang tak mau antri ke salon memilih untuk memanggil penata rambut ke rumah. Mereka tidak keberatan meski harus membayar mahal. Ny. Hasegawa melarang Oshin untuk menentukan tarif. Biar pelanggan yang menentukan harganya sendiri. Kalau mereka sangat puas dengan tatanan rambutnya, mereka pasti akan membayar lebih.

Dari sinilah, Oshin menekan dirinya untuk terus meningkatkan ketrampilan menata rambut. Logika Oshin sederhana saja. Kalau banyak orang yang puas dengan tatanan rambutnya pasti dia akan dapat banyak uang. Itu berarti dia bisa mengirimkan uang lebih banyak ke desa. Ya... dia bekerja dari kecil sebagian besar uangnya selalu dikirim untuk membayar hutang keluarganya yang tak kunjung habis. Keluarga Oshin sudah sangat lama terjerat hutang rentenir yang tak pernah ada ujung pangkalnya.


review oshin
Oshin dan Ryuzo Tanokura
Sumber: https://i.ytimg.com/vi/tVhJmnrMXPk/0.jpg 


Pelayanan rumah ini memang menguras seluruh energi dan pikiran Oshin. Tapi... Allah memberikan hadiah indah untuk Oshin. Dia bisa berjumpa dengan Ryuzo Tanokura. Pemilik toko Tanokura yang berjualan bahan kain. Ryuzo sangat mencintai Oshin. Tuan muda satu ini menganggap Oshin yang dinamis dan cerdas adalah istri yang sempurna untuk seorang pengusaha seperti dirinya. Mereka akhirnya menikah meski tidak mendapatkan restu Nyonya Besar Tanokura.

Setelah menikah, Ryuzo tidak mengijinkan Oshin untuk membantu di Toko Tanokura. Dia hanya disuruh mengerurusi pekerjaan rumah tangga. Insting bisnis Oshin mencium ada yang tidak beres pada usaha Ryuzo. Oshin diam-diam meminta Gen (tangan kanan Ryuzo) mengajari buku besar penjualan Toko Tanokura setiap kali Ryuzo pergi. Ternyata, toko mereka sedang kritis. Banyak pelanggan yang belum membayar tagihannya. Saat itu memang masa awal resesi ekonomi Jepang.

Toko Tanokura menjadi salah satu korban krisis Jepang. Banyak pelanggan lari karena tak bisa membayar tagihan, bahan kain menumpuk tak terjual. Tak ada penjualan sama sekali. Oshin kembali menata rambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara Ryuzo memilih bekerja sambil menunggu resesi reda lalu memulai usaha kembali. Lama-lama Oshin pusing dengan utang yang semakin banyak. Mereka harus membayar kain yang sudah diambil dari pabrik. Pabrik tidak menerima pengembalian barang. Harus dibayar cash. Tak bisa disalahkan Pabrik juga butuh uang.(Bersambung)

Masih banyak lagi ilmu yang ada. Tunggu bagian ke 2. 

Foto : koleksi Mbah Google dan Cak Youtube

Monday, 3 October 2016

Sate Ayam Ponorogo

Daging ayam banyak yang diiris memanjang dalam satu tusuk.

Saya yang selama ini tinggal di Surabaya lebih akrab dengan sate Madura. Baik sate ayam biasa, sate ayam Madura ataupun sate daging. Sewaktu ke Ponorogo, ada kesempatan mencicipi sate ayam versi Ponorogo.

Secara tampilan dan rasa sangat berbeda jauh dengan sate Madura. Saya bahas tampilannya dulu ya... Kalau sate ayam Madura potongan daging dalam setiap tusuk kecil-kecil dan tidak terlalu tebal. Sedangkan sate ayam Ponorogo lebar-lebar dan besar. Kalau yang kulit ayam lebih tebal lagi irisannya. Potongan daging ayamnya sangat memuaskan bagi yang suka porsi besar. 

Kadang-kadang dalam satu tusuk dagingnya utuh memanjang, tidak dipotong sama sekali. Susah nih makannya... Tidak sama sekali. Daging ayamnya empuk. Sekali gigi langsung mak prul... jadi beberapa bagian. Sehingga lebih mudah masuk mulut.

Sekarang urusan lidah. Untuk rasa dan bumbu jauh berbeda antara versi Madura dan Ponorogo. Kalau sate ayam Madura, daging ayam mentah sudah ditusuk lalu diberi kecap kemudian dibakar. Kalau versi Ponorogo, daging ayam dilumuri dan direndam bumbu baru disusun di tusukan sate. Kemudian di bakar.      

Sebagai pelengkap makan sama-sama menggunakan bumbu kacang. Kalau sate ayam Madura bumbu kacang lebih kental, gurih dan berwarna coklat gelap. Ada tambahan irisan bawang merah dicampur dengan bumbu kacang. Rasanya cenderung asin. Sedangkan bumbu kacang sate ayam Ponorogo rasanya lebih manis, dan berwarna coklat muda. Bagi penyuka pedas bisa ditambah dengan cabai yang banyak. 

Kalau saya pribadi lebih suka makan sate ayam ponorogo tanpa bumbu kacang. Lebih enak. Terasa lebih berbumbu karena bumbu di daging ayam meresap sampai dalam.  

Bagi Anda yang ingin membawa sate ayam Ponorogo sebagai oleh-oleh juga bisa. Anda tinggal bilang pada Sang penjual, nanti sate akan dibakar setengah matang saja. Penjual sudah menyiapkan kemasan besek bambu dnegan lapisan daun pisang atau kardus putih. Sate ini tahan 12 jam dalam kemasan tertutup tanpa dipanasi.  

Begitu sampai rumah, Anda tinggal manasi. Bisa dibakar atau digoreng tanpa minyak. Sate Ayam Ponorogo siap disantap. Jika sekali gigit Anda ingin terus... terus... dan terus sampai habis. Sudah, nikmati saja. Lupakanlah diet sejenak demi makanan enak ini hehe.


Bumbu kacang sebagai pelengkap rasanya cenderung manis.


Saturday, 1 October 2016

1 Muharram 1438 H Selamat Tahun Baru...

Setelah magrib sore ini akan masuk tanggal 1 Muharram 1438 H. Selamat Tahun Baru...
Semoga kita menjadi lebih baik dalam segala hal dari tahun sebelumnya.
Semoga negara kita menjadi jauh lebih baik dan berkah di tahun ini.

Tahun ini saya sengaja tidak membuat target-target baru. Ada banyak target saya tahun kemarin yang belum saya jalankan. Aduh, ngapain aja saya selama ini? hiks...

Tahun kemaren, saya memang membuat target sangat tinggi. Tahun ini semoga semua target-target tahun kemaren bisa terlaksana semua. Inshaa Allah. Aamiin.

Kebetulan kemaren, seorang sahabat lama menyapa. Dia mengirimkan pesan singkat. 'Aku kangen ide-ide gilamu. Aku kangen kenekatanmu. Kapan lagi aku bisa melihat kamu melakukan sesuatu hanya dengan modal Bismillah?"

Saya hanya tersenyum geli membacanya. Yah memang sih. Terkadang ide gila bisa membuat buku jadi best seller. Atau bikin film menjadi laris. Atau bisa menaikkan penjualan barang dagangan. Sepertinya, ide gila dan nekat itu perlu dilakukan sesekali.

Jaman muda dulu, rasanya gampang saja membuat ide-ide gila dan menjalankannya hanya dengan modal bismillah. Namun, seiring menuanya diri, semakin banyak saja pertimbangan yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Jadinya malah banyak mikir dan nggak jalan-jalan. Kayaknya saya harus mengesampingkan usia sesekali. Bukankah mencetuskan ide gila atau nekat melakukan sesuatu bukan monopoli anak muda. Orang tua juga bisa. Hanya butuh kekuatan niat dan 'ketebalan muka'.

kemaren, seorang sahabat lama mengirimkan image quote yang cukup menohok. "Kegagalan terbesar adalah ketika tidak pernah mencoba". Aih, mak jleb banget. Saya jadi semakin tergelitik. Sudah lama saya tidak mencoba hal-hal baru yang gila dan nekat. Anti mainstream itu perlu. Melawan arus itu bisa dilakukan. Menjadi berbeda bukan berarti kita salah. Ide gila dan nekat bukan berarti salah. Bisa jadi itu adalah hal yang benar, sesuai norma dan agama hanya saja belum ada yang pernah melakukan.

Siapa tahu justru dari ide gila atau langkah nekat ini yang bisa membawa kita menjadi sukses. Siapa yang tahu? wallahualam... Hanya Allah yang tahu.

Tahun baru, semangat baru... Ciiihuuuuuuy

Bismillah... semoga Allah ridho dan menjadi penambah pahala untuk bekal ke akhirat kelak. Aamiin.