Friday, 23 October 2015

Bubur Madura Pertigaan Kedurus Surabaya

Bubur yang satu ini adalah makanan khas Madura yang mudah kita jumpai di Surabaya. Dari Pasar tradisional sampai mall banyak penjualnya. Kalau di kampung-kampung, masih banyak penjual yang berkeliling. Biasanya dengan disunggi (aneka jualan ditaruh bidang segi empat lalu diletakkan di atas kepala), ada juga yang menggunakan gerobak kecil yang didorong. Kalau yang disunggi, biasanya juga menjual rujak gobet. Kalau yang menggunakan gerobak dorong kebanyakan hanya menjual bubur Madura saja dengan panci-panci besar. 

Dalam satu porsi, terhidang beberapa macam bubur. Bubur putih kasar, bubur sumsum, bubur mutiara, bubur ketan hitam dan bubur gerendul lalu disiram dengan kuah gula merah yang kental. Semuanya ini ditata dalam pincuk daun pisang. Untuk makan, biasanya menggunakan sendok dari daun pisang kecil yang di lipat menjadi dua. Sehingga menjadi kaku dan bisa digunakan untuk menggambil bubur lembut nan lezat ini. Harga datu pincuk Bubur Madura bervariasi antara 4-7 ribu. Tergantung bahan bubur dan tempat berjualan. 

Kebetulan di tempat tinggal saya tidak ada penjual bubur keliling. Kalau kangen bubur Madura biasanya saya beli di Pasar Wiyung atau Pasar Blauran. Apabila niat ingin cuci mata baru ke Pasar Atom lantai bawah. Di sini harganya memang lebih mahal tapi rasanya paling makyus. Untunglah, sudah ada yang berjualan Bubur Madura maknyus di daerah pertigaan Kedurus sekarang. Tak perlu berburu sampai ke Pasar Atom di Surabaya Pusat. 




Seorang wanita Madura setengah baya setiap jam 5.30 sudah siap dengan gerobak kecil di depan ruko sebelum lampu merah Kedurus. Kalau dari arah Wiyung ada di sebelah kiri jalan. Di sini, yang paling juara adalah bubur sumsum dan gerendul. Bubur sumsum baik yang kasar ataupun lembut, terasa gurih dengan rasa santan kelapa. Bubur gerendul bijinya pas di mulut dan tidak keras. Satu hal yang istimewa, gerendul bubur ini ketika digigit terasa gurih. Biasanya seasoning hanya terasa dipermukaan tapi yang ini terasa sampai dalam gerendul. Nikmatnya...  












Foto: koleksi pribadi menggunakan Asus Zenfone4 

Saturday, 17 October 2015

Sejarah Iwel-Iwel yang Unik

sejarah iwel iwel
Iwel-iwel adalah makanan tradisional Indonesia yang beredar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan ini termasuk langka karena jarang ada di pasar tradisional atau lapak khusus jajanan pasar. Di Jawa Timur hanya muncul pada upacara tujuh bulanan ibu hamil, aqiqah dan selapanan bayi yang baru lahir. 

Konon, iwel-iwel sudah ada sejak jaman para wali. Berasal dari kata waliwalidayya. Penggalan dari doa untuk orang tua Rabbighfirlii waliwalidayya... Namun karena lidah orang Jawa susah melafalkan, jadinya iwel-iwel. Anak yang dalam kandungan atau yang sudah lahir diharapkan menjadi anak sholeh/sholehah dan selalu mendoakan orang tuanya. Wuih, hanya sebuah kue sederhana ternyata dalam banget filosofinya. 

Ada juga sejarah iwel-iwel versi lain. Iwel-iwel berasal dari bahasa jawa kemiwel. Dalam bahasa Indonesia berarti menggemaskan. Mungkin ini sebagai doa agar anak yang dikandung atau yang sudah lahir akan menjadi anak menggemaskan. Presentasi dari bayi yang sehat, normal tak kurang suatu apapun dan menyenangkan bila dipandang.  

Saya jatuh cinta pada makanan ini pada gigitan pertama. Ketika lidah pertama kali merasakan iwel-iwel, saya langsung bertekuk lutut padanya. Tak peduli kalau makanan ini susah dicari. Walau ke ujung dunia, saya akan tetap mencari... aaiiih sedap. Gombal banget... bumi mana ada ujungnya :P

Iwel-iwel biasanya dibungkus daun pisang berbentuk limas segitiga dengan lidi kecil sebagai pengait. Berbahan beras ketan/tepung ketan dicampur dengan parutan kelapa muda. Gula merah ditambahkan dalam adonan. Bila dikukus, gula merah akan meleleh. Ketika matang dan kita gigit, gula merah langsung lumer di mulut. Manis legit bercampur memberikan sensasi kenikmatan tiada tara.

Resep aslinya menggunakan beras ketan yang di rendam lalu diselep menjadi tepung. Nanti kalau matang tekturnya agak kasar. Menurut saya, jauh lebih enak menggunakan beras ketan di banding tepung ketan. Lebih gurih rasanya. Kalau menggunakan tepung ketan lebih lembek dan lengket. 


Foto: koleksi pribadi menggunakan ASUS Zenfone4

Thursday, 1 October 2015

Girl with a Pearl Earring (Gadis dengan Anting-Anting Mutiara)

Judul : Girl with a Pearl Earring (Gadis dengan Anting-Anting Mutiara)
Penulis : Tracy Chevalier
Alih Bahasa : Kathleen SW
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2003

Meski buku ini terbitan lama, namun bagi saya buku ini sangat menawan. Setting tahun 1664-1767 ditampilkan penulis dengan indah. Kehidupan dan proses melukis Vermeer disuguhkan dengan cukup detail. Saya jadi tahu bagaimana sulitnya proses penggerusan dan pencampuran warna yang digunakan untuk melukis. Warna hitam berasal dari tulang yang dibakar, warna merah terang dari biji madder, warna ultramarine diekstrasi dari batu berwarna biru. Tentu masih banyak lagi hal-hal menakjubkan untuk menghasilkan warna-warna indah. 

Cerita dalam novel ini diambil dari sudut pandang seorang pelayan muda di rumah Vermeer bernama Griet. Meski buta huruf, dia mempunyai bakat seni yang kuat. Mungkin genetik dari ayahnya, seorang pembuat keramik, sebelum beliau buta. Pada mulanya Griet bertugas membersihkan studio lukis Vermeer. Suatu saat, Griet melihat ada sesuatu yang kurang pada lukisan tuannya. Dia memutuskan untuk merubah sedikit tatanan di meja model lukisan. Alih-alih marah, ternyata Vermeer merubah lukisannya mengikuti perubahan yang di buat Griet. 

Peristiwa itu membuat Griet dan tuannya melakukan percakapan panjang tentang estetika warna dan lukisan. Setelah itu, Griet diminta untuk mempersiapkan semua warna dan peralatan melukis sang Tuan. Gadis muda ini juga diminta untuk menjadi model pengganti lukisannya. Lambat laun timbul rasa suka diantara keduanya. Namun mereka tak mungkin bersatu. Vermeer sudah menikah dengan Catharina. Sedangkan Griet akan menikah dengan Pieter muda.

Tiba-tiba van Ruijven, seorang kaya raya memesan lukisan dengan Griet sebagai modelnya. Lukisan ini merupakan puncak konflik dan setral dalam novel ini. Banyak sekali peristiwa dan kisah menawan selama proses pembuatan lukisan ini. Sekitar lima bulan kemudian lukisan itu selesai dan diberi judul Gadis dengan Anting-anting Mutiara. Sayang, Griet tidak pernah melihat lukisan dirinya tersebut. 


Kok bisa begitu? Bagaimana mungkin Griet tidak bisa melihat lukisan dirinya? Ah, lebih nikmat kalau Anda membaca sendiri kisahnya. Saya tak akan pernah menyesal membeli buku ini.