Thursday, 30 April 2015

Petualangan Memasak yang Seru

Sejak masih lajang, saya tak begitu suka memasak. Saya lebih suka membuat kue dan jajanan. Meski Ibu saya pandai memasak, saya lebih suka jadi asisten beliau di dapur. Ketika bekerja dan kos di Bandung, saya terpaksa memasak demi menghemat pengeluaran.

Berhubung saya pecinta sayuran. Masakan saya simple saja. Lebih banyak tumis dan kukus. Ikan, telur, ayam atau daging saya campur dengan sayuran. Sengaja hal ini saya lakukan demi menghemat waktu di dapur. Biasanya, saya memasak sambil mencontek resep.

Ketika menikah, saya sempat agak panik soal memasak. Saya dan suami mempunyai selera makanan yang bertolak belakang. Suami pecinta goreng-gorengan yang gurih dan tidak suka sayur-sayuran. Kebetulan, suami juga ada alergi pada makanan tertentu. Hanya sedikit daftar makanan yang beliau mau dan bisa makan. Akhirnya ketemu solusinya. Saya yang pemakan segala, mengikuti selera suami. Terkadang, saya memasak dengan dua menu berbeda.

Lama-lama, saya kasihan sama suami. Makan hanya dengan menu-menu itu saja yang diulang-ulang. Saya juga mulai was-was dengan lemak jahat dalam tubuh beliau kalau makan goreng-gorengan terus. Saya mulai searching aneka resep yang sekiranya cocok dengan selera suami. Lalu saya tawarkan beliau. Kita diskusi panjang lebar tentang bahan-bahan dan pemasakannya. 

Biasanya sih, bahan dan bumbu masakan akan di ‘tambal sulam’ sesuai dengan selera suami. Petualangan di dunia masak, saya mulai dari sini. Selain rajin searching resep, saya juga banyak baca tentang manfaat dan cara masak yang benar. Utak atik resep ternyata bisa memacu andrenalin. Rasa penasaran dengan hasil akhir masakan bikin saya semangat di dapur. Suami juga ikutan searching resep dan memberikan tantangan pada saya. Bisa bikin ini, gak? Saya jadi lebih semangat membuat permintaan suami. Meski seringkali, antara resep dan hasil jadi akan jauh berbeda penampakannya. Tak jarang juga, hasil utak atik resep gagal total. Tak masalah. Kalau suami suka dengan hasil masakan saya, hilang deh rasa lelah dan kecewa karena gagal masak :D. 

Beberapa kali saya berusaha menyelundupkan sayuran pada masakan. Sayuran saya potong kecil-kecil untuk menyamarkan. Pada awalnya saya coba wortel. Beliau hanya mau mengambil sedikit, lama-lama porsi makannya terus bertambah. Porsi wortel perlahan tapi pasti saya tambah lebih banyak. Tak ada protes. Ketika suami bilang suka wortel, mulai saya selundupkan buncis, sawi, bayam dan kacang panjang. Alhamdulillah, sekarang, suami sudah suka makan pecel (dengan banyak sayur), sop (rumahan dengan aneka sayuran) dan sayur bening. 


Wah, ternyata seru juga berpetualang dengan masakan. Tantangan berikutnya, menyelundupkan buah dalam masakan. Untuk yang satu ini, saya belum pernah sukses. Saya harus #BeraniLebih kreatif dalam memasak. Target saya, suami bisa dan suka makan sayur dan buah setiap hari. Tak ada salahnya memulai hidup sehat dari makanan, kan?


Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut lomba #BeraniLebih Light of Women  

Wednesday, 29 April 2015

Berani Lebih Gigih Jualan Online

Setelah menikah, saya memutuskan untuk berhenti kerja. Suami mengijinkan saya bekerja tapi dengan syarat bekerja di rumah saja, biar bisa sekalian bantu usaha suami. Setelah konsultasi panjang lebar dengan suami, saya memilih jualan online saja. 

Waktu itu, saya belum punya gambaran akan jualan apa. Saya hanya sebagai reseller barang teman-teman. Apa saja saya jual. Jamu, tas, baju, jilbab, makanan, buku bekas, barang dagangan ibu saya juga. Yang penting bisa dapat duit. Kesannya kayak cewek matrek, nih. Asli saya nggak pake modal. Hanya dropship. Modal pertama saya pulsa HP dan modem. 

Kebetulan teman-teman banyak yang jualan online. Saya belajar dari mereka. Saya pikir gampang lah jualan online. Tinggal pasang foto barang di BBM, whatsapp, facebook, twitter. Lalu kirim broadcast ke contact HP, tag kanan kiri. Beres. Tinggal tunggu pesanan datang sambil mengerjakan kerjaan rumah atau PR dari suami. Pesanan masuk. Duit datang. Kirim barangnya. Gampang.

Pada awalnya, banyak yang merespon. Ada yang pesan, ada juga yang sekedar tanya tentang barangnya. Lama kelamaan kok sepi. Pernah selama beberapa hari tidak ada pesanan. Belum lagi ada teman yang keberatan karena sering saya kirimi broadcast message atau di tag. Beberapa dari mereka menghapus saya dari daftar pertemanan. Lah, kok jadi gini. Jualan gak laku. Temen hilang. Waduh, pusing kepala eike. 

Saya sempat down. hampir setahun saya memutuskan berhenti jualan online. Website toko saya hapus. Saya fokus mengurus rumah dan membantu usaha suami. Lama-lama, kangen serunya jualan online lagi.  Dagang bisa sambil haha hihi sama pelanggan atau teman-teman. 

Mulai deh tanya kanan kiri tentang marketing online yang baik dan benar. Saya belajar dari nol. Dunia internet berjalan sangat cepat. Banyak hal-hal baru yang berubah. Harus belajar dengan cepat untuk mengejar ketertinggalan, nih!. Saya pahami betul etika berjualan secara online. Baru tahu, ternyata nge-tag barang dagangan di wall FB hukumnya ‘haram‘ karena itu sama dengan nyelonong masuk ke rumah orang tanpa permisi. Selain itu rajin BM barang dagangan via BBM atau whatsapp ternyata bisa bikin senewen plus merusak mood orang.

Lah, trus promo jualannya bagaimana? 
Dari sini saya mulai belajar memanfaatkan foto profil dan status untuk media promosi. Saya mulai belajar utak atik foto agar menarik dan langsung bikin orang tertarik. Saya juga mulai belajar menggunakan kata-kata singkat, informatif dan unik. Ilmu ini yang biasanya diterapkan di dunia periklanan. Saya juga berjualan diberbagai web toko online.  

Sampai saat ini, saya masih terus belajar. Meski masih tertatih-tatih dan sering salah, tak apalah. Namanya juga sedang belajar. Teman-teman yang sudah sukses jualan online, banyak memberi saran dan suntikan semangat. Begitu juga suami. Lega. Berasa tidak sendirian.  


Meski berjualan online belum begitu ramai. Tak masalah. Tidak ada keberhasilan yang instan, kan? Mengutip ucapan seorang teman, berdagang itu 20% jualan barang (ikhtiar) sedang 80% berdoa dan sedekah. Apapun yang terjadi. Saya tak mau menyerah lagi. Saya harus #beranilebih gigih jualan online.
Twitterku | FBku


Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut lomba di Light of Women #BeraniLebih!

Sunday, 5 April 2015

Review Buku Dekati Dia: Siap-Siap Dikejar Rezeki, Jodoh dan Surga

buku tentang rejeki jodoh dan surga
Judul : Dekati Dia: Siap-Siap Dikejar Rezeki, Jodoh dan Surga
Penulis : @DoaHarian
Penerbit : Loveable
Tahun : 2014

Saya sangat suka dengan tata letak setiap halaman di buku ini. Tulisan dikemas dengan berbagai animasi unik. Penulis menggunakan bahasa tutur yang singkat, padat dan jelas. Hal ini membuat saya cepat paham dan tidak bosan membaca buku ini hingga selesai.

Gimana sih caranya agar dekat pada Allah SWT? Menjalankan semua ibadah sesuai dengan yang dituntunkan Allah SWT. Juga menjalankan semua yang kita lakukan hanya diniatkan untuk mencari ridha Allah. Itu merupakan cara bisa selalu dekat padaNya. Sepertinya mudah. Namun jika tidak dilakukan dengan niat kuat dan istiqomah, niscaya akan berat kita jalankan.

Penulis mengajak kita untuk selalu mendekat dan ‘mesra’ pada Allah SWT. Ada banyak contoh dari Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, betapa sangat dekat beliau-beliau pada Allah SWT. Sedih bahagia, susah senang, sakit sehat, dan tak peduli apapun keadaannya. Beliau-beliau tetap setia dekat dengan Allah SWT. 

Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mendapatkan banyak ujian namun tetap istiqomah selalu dekat dengan Allah SWT. Bagaimana dengan kita?
Dibuku ini, ada banyak aplikasi dan berbagai game menarik tentang evaluasi ibadah dan akhlak. Ada bonus ‘poster’ evaluasi ibadah kita sehari-hari. Insya Allah bisa membantu kita untuk istiqomah sellau dekat dengan Allah SWT.