Tuesday, 24 February 2015

Review Buku Menjemput Pertolongan Allah

Buku menjemput pertolongan allah
Judul : Menjemput Pertolongan Allah
Penulis : Da’i dan Da’iyah Hidayatullah
Editor : Saiful Hamiwanto dan Irawati Istadi
Penerbit : Pustaka Inti dan Baitul Maal Hidayatullah
Tahun : 2005

Saya selalu kagum dengan orang-orang yang mampu menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk Allah. Orang-orang yang mampu memulai langkahnya karena Allah. Mereka yang menggantungkan seluruh hidupnya untuk meraih ridho Allah. Manusia-manusia pilihan, saya menyebutnya. 

Suatu hal yang sangat tidak mudah. Tentu membutuhkan iman tebal, yang terus dipupuk setiap detik dalam untaian dzikir dan deretan ibadah yang tak pernah putus. Keikhlasan hati berpadu dengan keteguhan iman, menghasilkan manusia pilihan.

Bagi saya, para da’i dan da’iyah dalam buku ini adalah manusia pilihan. Mereka mau datang begitu saja di tempat asing sesuai dengan surat keputusan pimpinan pesantren Hidayatullah. Mereka harus membuka ‘ladang’ dakwah baru lalu membangun pesantren. Mereka hanya berbekal sedikit uang, beberapa santri muda dan tentu saja Allah. 

Saya banyak belajar dari buku ini. Satu hal yang utama, jika Allah sudah berkehendak untuk turun tangan tak ada lagi hal yang mustahil. Berbagai permasalahan sulit dipecahkan dengan logika manusia bisa terselesaiakan dengan kekuatan doa. Tentu saja Allah yang menyelesaikan semua masalah tersebut. 

Sunday, 22 February 2015

Review Buku Hicari No Michi, Catatan cinta Mualaf dari Negeri Matahari Terbit

Judul : Hicari No Michi: Catatan cinta Mualaf dari Negeri Matahari Terbit
Penulis : Takanobu Muto, Tethy Ezokanzo, Rose FN dan para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) Jepang
Editor : Azzura Dayana
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Tahun : 2009

Buku ini mengandung banyak rasa yang bercampur menjadi satu. Ada bahagia sekaligus sedih, juga tawa bercampur kesedihan. Ada banyak konsekuensi yang harus disandang seseorang ketika menjadi mualaf. 

Tanpa dukungan orang tua, belajar tentang Islam dari nol, belajar membaca Al qur’an, memberikan pemahaman pada teman dan kerabat, melaksanakan sholat dan puasa ramadhan dan juga memilih makanan halal. Kesemuanya itu, kadang kala menguras seluruh energi dan emosi. Butuh iman yang kuat. Keyakinan bahwa Allah akan selalu memudahkan segalanya, menjadi kekuatan ampuh. 

Para suami/istri dan juga sahabat mempunyai banyak andil di kehidupan para mualaf tersebut. Pengertian, kesabaran dan kehadiran mereka bisa membuat para mualaf ini lebih tenang dalam kehidupan baru yang islami. 

Setiap mualaf pasti mempunyai kisah menarik ketika hidayah itu datang. Cerita-cerita ini dituturkan oleh para penulis buku ini dengan menarik dan sarat hikmah. Beberapa tulisan membuat hati saya bergetar hingga menitikkan air mata. Tentu saja kisah kehidupan sehari-hari mereka dituturkan dengan penuh rasa. 

Gagap islami, saya menyebutnya. Kebanyakan para mualaf tak tahu kalau Islam sudah mengatur seluruh aspek dan tatanan hidup. Mulai bangun tidur hingga tidur. Dari dalam kandungan hingga meninggal nanti. Beberapa terkaget-kaget dengan cara hidup baru mereka dan mengundang senyum kulum hingga gelak tawa. Namun, mereka mampu menjalaninya dengan ketabahan luar biasa. Semoga para mualaf istiqomah di jalur islam hingga ajal menjemput. Aamiin.


Foto: koleksi pribadi


Friday, 20 February 2015

Pantai Bentar Probolinggo

Pantai ini berada di tempat yang strategis. Berada di wilayah kecamatan Gending di pinggir jalur utama Probolinggo-Situbondo. Bagi Anda yang menuju Bali menggunakan jalur darat dari Surabaya, pantai ini ada di sebelah kiri jalan. Kira-kira 8 km dari pusat kota Probolinggo. 

Jika menggunakan kendaraan umum, bisa bis atau colt. Anda bisa naik dari terminal Bayuangga, pertigaan Jorong atau Pangger dan turun di depan pintu gerbang Pantai Bentar. Bagi yang naik kendaraan pribadi begitu sampai tempat parkir, Anda akan disuguhi pemandangan labirin dermaga kayu memanjang dan saling berkaitan hingga ke tengah laut. 

Pantai Bentar sepertinya sudah di konsep secara matang sebagai tempat wisata keluarga.    Begitu masuk dari loket, bila kita menuju sebelah kanan kita akan mendapati area luas  lingkaran dengan panggung permanen di tengah. Bila kita masuk lagi ada danau buatan lengkap dengan jembatan kayu, gazebo dan permainan sepeda air berbentuk bebek warna-warni. Danau buatan menjadi pusat dari area wisata ini. Di sekeliling danau ada jalan setapak sekitar 2 m dan jalur kereta api mini. 

Kereta api mini. Dewasa bisa naik.

Sisi danau dekat jalan raya ada berbagai permainan anak, APV, kolam renang, kandang rusa dan merak. Sedangkan sisi dekat pantai aneka warung berderet-deret diselingi dengan gazebo untuk tempat santai pengunjung. Udara di pantai Bentar sejuk karena banyak pohon dan bersebelahan dengan hutan bakau. Namun sayang, disini kita tidak bisa bermain air. Seluruh bibir pantai dibangun pagar batu berplester. Saya datang kesana jam 9 pagi, air laut masih surut. Penduduk sekitar banyak yang turun mencari ikan. Ketinggian air sepinggang orang dewasa di bibir pantai.

Saya lebih memilih duduk di gazebo sambil sarapan lontong bakso. Kebetulan saya duduk dekat dermaga kapal. Kapal ini akan membawa penumpang ke tengah laut untuk melihat hiu totol. Anda bisa naik perorangan dengan membayar Rp 10.000/orang atau menyewa 1 kapal seharga Rp 200.000 - Rp 300.000. Saya lihat banyak wisatawan asing yang membawa perlengkapan snorkeling. Kalau wisatawan lokal kebanyakan hanya naik kapal saja, enggan untuk berenang. 

Persiapan untuk bertemu dengan hiu totol.

Menurut petugas kapal, biasanya hiu totol akan muncul mulai siang hari sekitar 3 atau 4 ekor. Kalau setelah jam 3 sore hiu totol bisa berjumlah 20an ekor yang muncul di permukaan. Berhubung saat itu angin besar, demi melihat kapal yang ada di dermaga bergoyang-goyang dangdut. Ini masih di dekat pantai sudah seperti itu apalagi nanti di tengah laut. Maka saya memutuskan, bye-bye hiu. Meski penasaran setengah mati ingin lihat hiu totol langsung, tapi nyali saya tak sebesar badan hiu hehe. 

Saya lebih memilih mencicipi rujak madura pedas. Maknyuuus. Untunglah sembari makan saya disuguhi pemandangan menarik. Ternyata jalan paving yang ada di sekeliling danau itu jalur jaran bodhang. Yah, rujak terabaikan sejenak. Jaran bodhang adalah kuda mungil (bukan kuda poni tapi anak kuda) dengan aneka hiasan dekoratif warna-warni mencolok, khas warna suku madura. Hanya anak-anak 3-6 tahun yang bisa menaiki kuda ini. Maksimal dua anak yang bisa naik berbarengan. Yah, padahal saya ingin naik *tutup muka.

Jaran Bodhang tampak depan dan belakang.


Mata puas, perut kenyang, pikiran fresh berarti sudah saatnya pulang. Suasana juga sudah mulai ramai. Bagi Anda yang tidak seberapa suka keramaian lebih baik datang pagi hari saja. Bagi yang belum sempat sarapan, tenang... warung aneka makanan sudah banyak yang buka pagi hari.

Foto: koleksi pribadi menggunakan ASUS Zenfone 4 

Thursday, 19 February 2015

Nasi Punel Bangil


Makanan khas Bangil ini kalau dari penampakannya mirip dengan nasi bok atau nasi Madura. Nasinya sedikit dengan banyak lauk-pauk dan sayur. Kalau nasi bok masakannya terasa asin nan gurih, kalau nasi punel manis nan legit. 

Perkiraan saya, mungkin karena mayoritas masyarakat Bangil dari suku Madura. Namun, rasa manis masakan ini yang masih bikin penasaran sampai sekarang. Biasanya makanan daerah pesisir memang ciri khasnya pada rasa asin. Untuk nasi punel pengecualiannya. Sang penjual juga tak mampu menjawab. Dari sejak dahulu sayur dan lauk nasi punel memang sudah begitu. 

Begitu memasuki kota Bangil, banyak bertebaran warung, depot atau restoran nasi punel. Secara umum perlengkapan lauknya sama saja. Hanya tekstur dan sentuhan bumbu yang berbeda. Plus... harga. Kekhasan nasi punel ada pada alas daun pisang segar yang tertimpa makanan panas. Harum daunnya itu... yang bikin perut langsung lapar. Saya berkesempatan mencicipi nasi punel di warung Setia Hati bernuansa hijau yang berada di halaman sebuah rumah tua. Kebetulan warung ini masih menggunakan alas daun pisang segar. Beberapa tempat sudah menggunakan alas plastik coklat.

Nasi punel ini terdiri dari nasi putih yang mempunyai lauk ‘wajib‘ dan lauk pilihan. Nasi putih yang lembut (punel, Bahasa Jawa) dibentuk seperti tumpeng ada di tengah, diatasnya ditaburi serundeng kuning keemasan. Beberapa tempat, nasinya di letakkan beleber biasa saja. Tapi pasti ditaburi serundeng. Ada yang beda dalam serundengnya. Biasanya kalau di daerah jawa timur dan jawa tengah serundeng kelapa berwarna coklat muda atau coklat gelap dan menggumpal karena minyak (kempel, bahasa jawa). Kalau disini, berwarna kuning keemasan dan kering, rasanya sedikit manis. 

Di sekeliling nasi ditata sayur dan banyak lauk. Penataan tak ada urutan pakem namun pasti ditata melingkar. Baik di sekeliling nasi atau diatas nasi. Saya akan menceritakan berdasar susunan foto diatas. Sayur nangka muda bumbu seperti gulai tapi manis. Pada penglihatan awal seperti sayur lodeh namun bumbunya lebih ringan. Dua potong kikil dengan rasa bumbu yang sama di letakkan diatas nangka muda tersebut. Sebelahnya tahu bumbu bali. Namun tak ada rasa pedas. Manis. Saya menduga menggunakan cabai merah besar yang sudah di buang isinya dengan tambahan gula merah untuk rasa manis. Soalnya warna merahnya tidak terang. 

Lalu ada sate kerang dibumbu merah dan tidak pedas. Satu tusuk berisi lima kerang mungil, dengan tusukan tipis dan pendek. Kemudian ada sambal terasi yang pedas sekali dengan tekstur kasar dan dominan rasa asin. Sambal ini di letakkan di atas kacang panjang mentah yang di cincang halus. Rasa pedas bercampur dengan keriuk kacang panjang mampu melibas rasa manis lauk yang lain. Yang tak pernah ketinggalan, bumbu kepala muda (seperti bumbu urap-urap) dibungkus dengan daun pisang dan di kukus hingga matang. Bumbu kelapa muda terasa manis sekali. Bagi yang tak suka manis lebih baik dicampur dengan sambal terasi. 


Lauk tambahan ada banyak pilihan gorengan, antara lain: dendeng, daging, ayam, babat, hati sapi, hati ayam, paru, telor ceplok dan tempe. Sepiring nasi punel beserta teh manis hangat dan seplastik krupuk dibandrol dengan harga dua puluh ribu. Saya pikir cukup sepadan. Bagi anda yang akan ke Bromo atau Bali, jika melewati kota Bangil anda wajib mencoba masakan yang satu ini. Jangan salahkan saya, kalau anda nanti akan ketagihan. 

Foto: koleksi pribadi menggunakan Asus Zenfone4  

Wednesday, 18 February 2015

Review Buku Harriet si Mata-Mata (Harriet the Spy)

buku harriet the spy buku louise fitzhugh
Judul : Harriet si Mata-Mata (Harriet the Spy)
Penulis : Louise Fitzhugh
Penerjemah : Sari Kusuma Wismaningrum
Penerbit : Kaifa
Tahun : 2005

Apa yang terjadi kalau buku catatan yang berisi keburukan seseorang, dibaca oleh yang bersangkutan? Kacau! Eh bukan, sangat kacau sekali. 

Harriet  M. Welsch bercita-cita menjadi seorang mata-mata hebat. Dia berlatih setiap hari untuk menjadi mata-mata. Dia selalu membawa buku catatan hasil pengamatannya ke mana-mana. Apapun penilaiannya akan seseorang akan ditulis dalam buku catatan tersebut. Termasuk juga semua sifat atau sikap buruk mereka. 

Hingga suatu ketika, buku catatan tersebut terjatuh dan diketemukan salah seorang temannya. Semua catatan tentang temannya itu ada di sana. Termasuk juga catatan tentang hal-hal buruk. Dan... tidak hanya temannya itu, teman-teman yang lain bahkan sahabatnya juga. Sport dan Janie, sahabat karibnya marah besar. Mereka semua menganggap Harriet sebagai penghianat. 

Sejak saat itu dunia Harriet menjadi kacau. Dia sendirian di sekolah. Tak ada seorang pun yang mau berbicara dengannya. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan pengasuhnya Ole Golly berhenti bekerja dan pindah ke Kanada. Harriet nelangsa. Dia kesepian di rumah sejak Sang Nanny pergi. Sekarang, dia harus kelilangan sahabat dan teman-temannya. Gadis cilik itu merasa sangat kesepian. Sikapnya berubah menjadi pemarah dan pemberontak.

Bapak dan Ibu Welsch berusaha sangat keras agar Harriet bisa kembali seperti sedia kala. Namun susahnya, selama ini Harriet selalu ditangani oleh Ole Golly. Kedua orang tuanya jarang di rumah dan jarang pula berkomunikasi dengan Harriet. Untunglah, pihak sekolah dan Ole Golly mau campur tangan membantu menyelesaikan masalah Harriet. Gadis cerdas ini mau berjanji untuk tidak lagi menulis tentang hal-hal buruk tentang siapa saja. Ole Golly memberi tugas Harriet membuat cerpen dan mengirimkannya secara rutin ke Kanada.


Foto: koleksi pribadi


Monday, 16 February 2015

Review Buku Getar Asa Negeri Sakura, Kumpulan Kisah Penuh Hikmah

buku forum lingkar pena jepang buku getar asa negeri sakura
Judul : Getar Asa Negeri Sakura: Kumpulan Kisah Penuh Hikmah
Penulis: Komunitas FLP Jepang
Editor : Ahmad Fahrie 
Penerbit : Zikrul Remaja
Tahun : 2007

Tinggal di mana kita menjadi warga minoritas selalu memberikan banyak kisah unik. Beberapa warga negara Indonesia mendapat kesempatan untuk tinggal di Jepang. Sebagai warga asing dan kebetulan seorang muslim, membawa konsekuensi yang tidak mudah. 

Masalah sekolah, pekerjaan sampingan, tempat tinggal, kehidupan bertetangga, sholat dan makanan halal suatu hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi penulis menjadi urusan yang menarik dan kadang berliku. Saya menyebutnya, butuh ekstra sabar dan kecerdikan untuk menyiasatinya. 

20 penulis Forum Lingkar Pena (FLP) Jepang menuangkannya dalam aneka cerita pendek yang mengesankan. Tidak memelulu tentang adab Islam yang mereka tuturkan. Ada tentang pengalaman menghadapi badai dan juga menyiasati aneka pilihan transportasi. 

Saya mengganggap buku ini paket lengkap. Semua aspek kehidupan selama di Jepang mendapat porsi pembahasan. Tidak ada tumpang tindih tema antara tulisan yang satu dan lainnya. Buku ini juga dilengkapi berbagai informasi tentang cara mendapatkan beasiswa di Jepang. Meski terbitan lama, namun berbagai info di buku ini masih relevan untuk dijadikan sumber rujukan.


Foto: koleksi pribadi