Monday, 29 September 2014

My Best Story Chocolate

Judul : My Best Story Chocolate
Penulis : Sri Izzati, dkk.
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun: 2011

Apa yang terjadi jika sebuah buku menceritakan tentang coklat dari awal hingga akhir. Bagi penggemar berat coklat, Anda bisa jadi membaca buku ini sambil meneteskan liur. Kumpulan cerpen di buku ini mempunyai cerita yang beragam yang menarik. Namun cerpen yang paling saya suka adalah Misteri Resep yang Hilang.

Cerpen buatan mbak Dewi Cendika ini membuat saya penasaran. Pada pertengahan cerita saya sudah bisa menebak siapa yang mencuri resep rahasia Clara. Ternyata, tebakan saya salah di akhir cerita. Penulis membuat saya penasaran dan harus bersabar hingga akhir cerita.


Sembilan cerita yang lain mempunyai tema yang beragam. Hal ini membuat pembaca tidak bosan menghabiskan buku ini hingga akhir. Setting dan ilustrasinya juga menarik. Aneka font unik bermunculan meninggalkan kesan santai dan segar. Cocok untuk bahan bacaan di waktu senggang kala melepas lelah atau bosan. Terima kasih buat mbak Shinta Handini yang sudah menghadiahkan buku ini, ketika pertama kali kita bertemu di Surabaya.

Friday, 26 September 2014

Kok... Diam Saja

Suatu minggu, Ponakan-ponakan sedang berkumpul di rumah. Kakak dan Abang asyik main game di gadget. Suami lagi asyik main game juga di laptop. Berhubung Adik dicuekin sama Kakak dan Abang, gadis cilik ini menghampiri suami. Dia asyik memperhatikan game yang dimainkan. Adik mulai bertanya ini itu sambil menunjuk-nunjuk layar laptop. Sementara suami habis minum pil jahil.

Adik: Om, itu apa?
Suami: Hem...
Adik: Itu apa, om?
Suami: Hem...
Adik: Kenapa kok gitu?
Suami: Hem...
Dan... masih buanyak lagi pertanyaan Adik. Sementara suami terus saja menjawab dengan ‘hem’. 

Adik mulai kelihatan bete dan berulah menarik perhatian penguasa laptop. Dia berusaha keras agar bisa duduk dipangkuan suami. Namun usahanya gagal. Sementara suami sesekali melihat Adik dengan wajah lempeng tanpa ekspresi. Saya mulai gak tahan melihat mereka berdua. Suami memang suka menggoda ponakan bungsu dengan pura-pura cuek. 

Sisi ke-egoan adik mulai terusik. Gadis kecil itu semakin atraktif menarik perhatian. Suami masih tetap dengan aktingnya. 
Adik: (menekan-tekan tangan kanan suami dengan gemas) Ooom, kalau ada yang TANYA itu harus dijawaaaab. Nggak boleh diam saja. Nggak baik itu namanya. (Lalu adik  ngeloyor pergi meninggalkan suami dengan mulut cemberut)
Suami: (melirik adik dengan wajah tanpa ekspresi tapi bibirnya menahan senyum)
Sementara saya? 
Tentu saja... 

Ngakak-ngakak tralala =)).

Wednesday, 24 September 2014

Balada si Roy 2


Judul : Balada si Roy 2
Penulis : Gola Gong
Penerbit : Beranda Hikmah
Tahun : Oktober 2004

Inilah pertama kalinya saya membaca kisah Roy yang melegenda di tahun 90-an. Roy tetap setia pada hobinya berkelana kemana pun kakinya melangkah. Kali ini Roy memutuskan untuk cuti sejenak dari petualangannya. Dia memutuskan untuk menemani sang Mama yang sedang sakit. Sekaligus untuk bertemu kembali dengan sang kekasih yang telah menikah.

Roy sudah tumbuh dewasa. Dia lebih bisa mengendalikan ke-aku-an dan hasrat petualangannya. Dia sudah berhenti menggunakan ganja. Insyaf bolos sekolah. Meski terkadang jiwa liarnya masih menggelegak namun dia sudah lebih jinak. Petualangannya tetap dilakukan pada saat akhir minggu dan liburan sekolah.

Secara keseluruhan buku ini nikmat untuk dibaca hingga akhir. Petualangan Roy dari satu tempat ke tempat lain menyimpan banyak cerita yang seru.