Friday, 30 May 2014

Warung Suroboyo: Mari Perang, Metu Apane?

Iwan karo Cak Kairun lagi nonton tipi karo ngombe kopi panas. Lambene wong loro iki ngoceh ae gak mari-mari. Ning Sur sampe ngelu ngrungokno tapi yo gak isok ngusir.
Cak Kairun : Lho, kan kandani kok. Temen ta omonganku?
Iwan : Omongan sampean sing endi, Cak?
Cak Kairun : Lek ape pilihan presiden lak koyok ape perang.
Cak Yo : Hussh. Lambene yo...
Cak Kairun : Temanan iki, Cak. Iku loh tontoken nang tivi. Lak wis koyok perang. 
Cak Kairun ndhudhing-dhudhing tivi sing lagi onok acara omong-omongane wong-wong  pinter sing lagi ngomongno calon-calon presiden.
Iwan : Endi sing ape perang? Lebay sampean iki, Cak.
Cak Kairun : Eloh, pertamane sing perang lambe. Lek wis gak ngatasi, phesone metu, lek sik gak ngatasi maneh, gobange metu. Terus clurit, tombak sak sembarang kalir e metu kaneh. Perang wis dadine.
Cak Yo : Khayal koen iku Run, Run...
Iwan : Lek wes mari perang metu apane, Cak?
Cak Kairun : Yo metu segone?
Cak Yo : Kok sego?
Cak Kairun : Kan podo mati kabeh. Kari mbancaki ae hehehe

Cak Yo : Wong uedan!!!

Ijah vs Nyonyah: Fashion Show

Nyonyah sudah dandan sejak subuh. Rambutnya disasak tinggi. Pakai highheel. Wajahnya mengunakan make-up tebal dan lipstik merah. Hampir seluruh perhiasannya dipakai. 
Nyonyah : Jah... Siapin sarapan buat anak-anak sama tuan ya. 
Ijah : Iya nyah 
Nyonyah : Ini uang belanjanya. Terserah kamu masak apa.
Ijah : (melihat nyonyah dari atas kebawah, dari kanan ke kiri, dari ujung poni sampai ke ujung sepatu) Nyonyah, mau kemana pagi-pagi?
Nyonyah : Ada kunjungan ke panti asuhan sama ibu-ibu pejabat yang tempo hari aku arisan itu loh.
Ijah : Ooo... ke panti , to... Dandannya kok kayak mau fashion show aja.
Nyonyah : Heh! Ntar tuh disana ada artis, diliput teve segala. Ntar kalau masuk teve biar kelihatan cakep, tahu!
Ijah : Ooo... semua ntar dandan kayak gini, nyah? 
Nyonyah : Ya iya lah. (menambahkan bedak dan lipstik)
Ijah : Semoga disana gak ada panggungnya. Ntar, anak-anak panti itu ngira kalau bakal ada fashion show di tempat mereka
Nyonyah : Iiiijaaaaaaaaaaaah!@#$%^&*%$#@%

Wednesday, 28 May 2014

The Kite Runner

Judul : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Tahun : Cetakan 6, Desember 2008

Sebenarnya sudah lama saya memiliki buku ini. Meski saya sangat tertarik dengan buku ini, demi membaca beberapa resensi, saya tak kuat hati membacanya. Beberapa waktu lalu, ketika bersih-bersih kamar ketemu lagi dengan buku ini. Ya sudahlah, saya beranikan diri untuk membacanya. 

Amir -seorang anak warga terpandang di Kabul- memiliki sahaya bernama Hasan. Ayah Hasan sudah menjadi sahaya ayah Amir semenjak kecil. Maka otomatis Hasan menjadi sahaya Amir. Latar belakang cerita pada masa kejayaan Kabul dan Afganistan sungguh memukau. Segala skema kota dan panorama alam dituturkan oleh penulis dengan terperinci. 

Amir bukanlah sosok pemberani seperti Ayahnya. Dia lebih suka melarikan diri ketika ada masalah, daripada menghadapinya atau menyelesaikannya. Selama ini Hasan yang selalu menyelesaikan semua masalah-masalahnya. Hingga suatu saat, Hasan mendapatkan masalah. Amir memutuskan untuk ‘melarikan diri’ dan membuat Hasan menderita karena keputusannya tersebut.


Berpuluh tahun kemudian ketika Amir dewasa, Dia mendapat kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya. Kali ini anak Hasan, Sohrab dalam masalah. Amir membuat keputusan besar yang nyaris mengorbankan nyawanya. Keputusan ini ternyata membuat dirinya merasa tenang dan tak pernah dikejar-kejar rasa bersalah lagi.

Friday, 23 May 2014

Review Buku Bidadari-Bidadari Surga

review buku tere liye
Judul     : Bidadari-Bidadari Surga
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun : Cetakan 15, Oktober 2013

Laisa adalah sulung dari keluarga Lainuri. Seorang wanita mulia dengan akhlak yang mempesona. Sedari awal hingga akhir, karakter Laisa menyedot semua perhatian saya. Seorang Laisa rela berhenti sekolah agar ke-empat adik-adiknya bisa sekolah semua. 

Seorang Laisa ikhlas banting tulang di ladang bersama Mamak demi membiayai sekolah adik-adiknya. Seorang Laisa berbesar hati ‘memerintahkan’ ketiga adiknya menikah terlebih dahulu. Seorang Laisa berlapang dada ketika para lelaki tak ada yang berkenan untuk mempersuntingnya. 

Seorang Laisa bersabar untuk menyembunyikan kanker paru-paru yang bersemayam di tubuhnya. Seorang Laisa selalu mencurahkan semua perhatian untuk keluarga dan masyarakat di sekitarnya, hanya sedikit kesempatan yang digunakan untuk memikirkan dirinya sendiri. Seorang Laisa bekerja keras untuk memajukan desanya, menyejahterakan masyarakat, memikirkan masa depan bukan saja adik-adiknya tapi juga semua anak-anak di kampung. 

Ah, rasanya tak cukup kata untuk menguraikan seluruh amal baik Laisa. Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh. Segala kepahitan dan kesakitan ditahan sendiri. Senyum senantiasa tersungging. Wajahnya selalu ceria.

Adik-adiknya selalu menyanjung dan memuliakan Laisa. Beliau adalah orang kedua setelah Mamak, yang seluruh ucapannya adalah titah tak terbantahkan. Apapun ucapan Laisa akan menjadi motor penggerak adik-adiknya. Pun seorang Ikanuri yang pernah melawan habis-habisan, tunduk patuh kepada Laisa. 

Meski awalnya saya tak rela dengan akhir kisah Laisa. Namun akhirnya saya ikhlas. Biarlah sosok Laisa bersemayam dengan segala kemulian dan akan selalu menjadi kenangan terindah bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Semoga beliau diperkenankan Allah untuk menjadi bidadari di Surga.


Foto: koleksi pribadi