Saturday, 12 April 2014

Review Buku The Reunion

review buku triani retno

Judul : The Reunion
Penulis : Triani Retno
Editor : Benedicta Rini W. 
Penerbit : Sheila
Tahun : 2011

Reuni bagi beberapa orang merupakan momok yang mengerikan. Sesuatu yang bikin badan panas dingin, perut mual dan kepala pusing. Image reuni sebagai ajang pamer diri dan kesuksesan sudah berlangsung sejak lama. Wajar jika beberapa orang alergi dengan reuni, bahkan mungkin paranoid. 

Inilah yang dialami oleh Lily Amelia Darmawan, wanita lajang dengan karir cemerlang di Majalah LIFE. Lily ketakutan menyadari bahwa mantan teman-teman SMA jauh lebih sukses di karir. Bahkan banyak pula yang sudah punya anak. Pekerjaannya hanya sebagai penulis dianggap tak sepadan dengan mereka semua. 

Ada banyak ketakutan yang bersemayam dibenaknya. Begitu besar kekhawatiran yang terpendam. Bagaimana jika... Kalau nanti... dan... begitu banyak pertanyaan yang berkelindang silih berganti. Sepertinya ini yang terjadi pada banyak orang, yang merasa 'bukan siapa-siapa'. Setelah maju mundur tak jelas untuk mengikuti reuni. Lily mengambil keputusan besar untuk nekat berangkat. Dan... keputusan itu sepertinya tak akan pernah disesali seumur hidupnya.

Sengaja review hanya sedikit. khawatir mengandung banyak spoiler. Nggak asyik kalau nggak baca sendiri. Buku ini asyik dinikmati dari awal hingga akhir. Tidak bertele-tele. Kecepatan bertutur penulis konstan dari awal sampai akhir. Bikin penasaran. Nggak heran kalau saya jadi cepat menyelesaikan buku ini.


Foto: koleksi pribadi


Friday, 11 April 2014

Gado-Gado dan Sushi

Judul : Gado-Gado dan Sushi
Penulis : Yunitha Fairani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013

Saya jatuh cinta dengan kurikulum dan tata laksana pendidikan Jepang sejak kuliah. Pertama kali melihat sampul buku ini, saya langsung ambil. Apalagi tulisan dalam buku ini adalah kisah nyata dalam mendampingi anak-anaknya selama sekolah di Jepang.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar merupakan pondasi pendidikan anak di Jepang. Anak tidak hanya diasah kemampuan akademiknya. Pembangunan karakter, kecakapan bersosialisasi dengan lingkungan dan juga stabilitas hubungan dengan keluarga bagian dari tata laksana sekolah. 

Orang tua terutama Ibu, diharapkan bisa berperan aktif mendampingi anak-anaknya selama bersekolah. Guru dan pihak sekolah tidak mau kalau orang tua menyerahkan urusan pendidikan pada mereka. Satu hal yang cukup membuat saya terkejut, ada grup teater ibu-ibu para siswa. Saya terpingkal-pingkal membaca proses perekrutan anggota baru teater tersebut. 

Penulis yang notabene adalah orang asing sangat berusaha keras bisa beradaptasi dengan masyarakat asli. Yang membuat saya salut, alasan penulis berbuat demikian agar anaknya tidak dianggap sebagai orang luar dan terkucil dari pergaulan anak-anak. Ibu yang hebat. Banyak pelajaran yang saya ambil dalam buku ini dalam menanamkan disiplin dengan kelembutan yang tegas. Ternyata tegas yang selama ini berkonotasi keras bisa dikombinasi dengan kelembutan yang menyejukkan. 


Saya terkejut dengan fakta yang diungkapkan penulis tentang wanita karir Jepang yang begitu menikah atau memiliki anak akan berhenti bekerja. Kebanyakan wanita di sana menunda bahkan mengorbankan karir untuk mengasuh anak-anaknya. Jika anak-anak sudah remaja para ibu akan kembali bekerja. Namun, lebih banyak wanita Jepang yang memilih bekerja paruh waktu meskipun mampu menjadi pegawai tetap karena ingin berkonsentrasi mengurus keluarganya. Ibu-ibu yang keren.

Thursday, 10 April 2014

99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Januari 2014

Saya tertarik dengan buku ini sejak pertama diterbitkan, namun berkali-kali belum berjodoh untuk membawanya pulang. Hingga buku ini hadir sebagai hadiah ulang tahun dari suami tercinta. Saya sampai jingkrak-jingkrak setelah membuka sampul kadonya :D

Saya sengaja tidak membaca resensi buku ini dan juga tidak menonton filmnya. Saya ingin lebih obyektif dalam membaca buku ini. Saya sangat tertarik dengan buku ini karena setting sejarah. Soal sejarah Islam di Eropa, saya memang buta total. Banyak pengetahuan baru, yang saya dapat dari buku ini cukup mengejutkan. Misalnya tentang lukisan bunda Maria yang hijabnya ada Pseudo Kufic kalimat tauhid, atau ‘penciptaan‘ roti croissant dengan tujuan untuk menghina bangsa Turki. Hal terakhir ini yang membuat saya sampai sekarang segan untuk makan croissant. Namun, yang mampu membuat saya tercengang lama fakta bahwa bangunan-bangunan peringatan kemenangan Napoleon di Paris dibuat membentuk garis imajiner, yang searah dengan kiblat di Mekah. Bahkan, Patung Quadriga dan 2 malaikat emas yang ada di atas monumen semua menghadap ke timur tenggara, arah Mekkah.

Perjalanan tokoh Hanum dan teman-temannya ke berbagai tempat dan negara begitu mengasyikkan. Bukan sekedar travelling dan cuci mata. Selalu ada ‘sesuatu‘ yang membekas untuk direnungkan lebih dalam. Deretan sejarah disuguhkan dengan rapi dari Wina hingga Istambul. Berbagai arsitektur bangunan dan tata kota diceritakan dengan detail. Saya yang belum pernah melihat bisa membayangkan dengan jelas. Ketika saya menelusuri foto tempat-tempat tersebut, dengan mudah saya bisa menemukan detail yang  ada di buku ini.


Beberapa konflik pada tokoh cerita bisa selesai dengan cepat, terkadang membuat saya seakan kehilangan unsur drama dalam sebuah novel. Andai ada beberapa tambahan konflik lagi mungkin akan lebih seru. Hal ini mungkin juga bisa membuat tokoh Hanum lebih manusiawi. Pada beberapa bagian cerita, saya sempat kedodoran karena paparan penulis tentang sejarah Islam. Tetapi saya lumayan bisa menikmati dengan nyaman hingga akhir cerita. 

Wednesday, 9 April 2014

Hutan di Mata Anak-Anakku

Judul : Hutan di Mata Anak-Anakku
Penulis : Indah IP
Penerbit : Indie Publishing
Tahun : 2013

Saya merasa puas menikmati sajian 109 puisi dalam buku ini. Aneka tema tersaji penuh warna. Aneka rangkaian kata tersusun dengan indah. Memuaskan mata dan menyejukkan dahaga jiwa. Sosok pribadi penulis yang hangat dan penuh cinta terbaca jelas dalam setiap kisah dari kata per kata. Kecintaannya pada suami, dua buah hati, orang tua, lingkungan dan segala yang ada di sekitarnya. Tentu, juga kepada Tuhan penggenggam takdirnya. 

Saya memang bukan penikmat puisi. Seringkali saya bingung dengan setiap puisi yang tak bisa saya uraikan maksudnya. Namun dalam buku ini penulis mampu membuat saya memahami setiap kedalaman makna dalam setiap puisinya. 


Salah satu puisi yang saya suka adalah ‘Senyum Ibuku’ (halaman 69). Sejuk rasanya. Seakan ada senyum ibu saya di depan mata, yang menemani saya menikmati buku ini hingga akhir.