Friday, 21 November 2014

AC Dapur

Ijah sedang memasak. Nyonyah masuk dapur.
Nyonyah : Ijah... berapa kali saya bilang. Jangan lupa nutup pintu kulkas
Ijah : Eh... anu...
Nyonyah melirik Ijah kesal lalu berlalu meninggalkan dapur. Ijah membuka lagi pintu kulkas. Dia kembali ke posisinya dan asyik memasak.

Keesokan hari
Nyonyah masuk ke dapur mendapati Ijah yang sedang duduk di depan kulkas yang terbuka. Ijah sedang asyik ketak ketik di HP, sambil sesekali cekikikan.
Nyonyah : (menunduk sambil menarik earphone di telinga kiri) Ijaaaaaaaaaah
Ijah : Eh, nyonyah...
Nyonyah : kamu ngapain di sini? 
Ijah : ngadem, Nyah (cengengesan)
Nyonyah : NGA... DEM...?
Ijah : Iyah (mengangguk mantap). Ini kan AC dapur. ACnya Ijah (senyum-senyum sambil menunjuk kulkas).

Nyonyah : Iiiiijaaaaaaaaaaaaaaaah !@#$%^&*#$%&@#

Thursday, 13 November 2014

Victoria dan Sang Earl (Victoria and The Rogue)

Judul Buku : Victoria dan Sang Earl (Victoria and The Rogue) 
Penulis : Meg Cabot
Alih Bahasa : Ingrid Dwijani Nimpoeno 
Tahun : 2010

“My Lord, untuk menjawab pertanyaanmu, aku akan merasa terhormat menjadi istrimu.”
Sebuah kalimat singkat yang diucapkan Victoria diatas kapal mampu menguncang kehidupan masa depannya. 

Lady Victoria Arbuthnot (Vicky) jatuh cinta pada pandangan pertama pada Lord Malfrey. Seorang bangsawan yang tampan nan modis, dengan kesantunan sangat menawan. Siapa pula yang tak terpesona pada Victoria. Gadis ceria nan jelita pewaris tunggal kekayaan berlimpah orang tuanya yang sudah lama meninggal. Cerita cinta mereka berdua bak dongeng, andai saja tak ada Kapten Jacob Carstairs, busuh bebuyutan Vicky. 

Kapten Carstairs berusaha keras agar pernikahan Vicky dibatalkan. Permusuhan mereka semakin panas. Setiap kali bertemu keduanya selalu saling meluncurkan kata-kata pedas. Vicky yang sedang dibutakan oleh cinta menganggap semua fakta tentang Malfrey yang dibeberkan Sang Kapten adalah fitnah belaka. 

Hingga pada suatu ketika, Vicky menemukan kenyataan bahwa The Lord menikahinya hanya karena kekayaannya. Keluarga bangsawan tersebut ternyata sedang bangkrut dan memiliki banyak hutang. Gadis mungil ini memilih untuk membatalkan pernikahannya. Namun sayang, Bangsawan sombong dibantu oleh Ibunya ‘menculik’ dan menyekap Vicky  di kediaman mereka. Vicky dipaksa untuk menikahi The Lord. Untunglah gadis tangguh tersebut berhasil kabur dan Kapten Carstairs berhasil menyelamatkannya.

Berbagai peristiwa menegangkan yang mereka lalui membuat keduanya tersadar. Mereka saling jatuh cinta. Meski selama ini selalu terlontar teriakan dan makian dari mulut mereka, meski perasaan benci yang terasa. Namun mereka, ternyata saling menyayangi. Ikatan batin keduanya dan juga rasa takut kehilangan satu sama lain baru mereka sadari. 

Konon katanya, dalam setiap kebencian akan menghasilkan percikan cinta. Sedikit demi sedikit cinta itu akan terkumpul dan tiba-tiba akan membara tanpa disadari oleh pemiliknya. Inilah yang dialami oleh Vicky dan Jacob. Tema klise yang abadi sepanjang masa, namun diramu dengan menawan oleh sang penulis.

Wednesday, 12 November 2014

Samurai Kazegatana: Pedang Angin

Judul Buku : Samurai Kazegatana: Pedang Angin
Penulis : Ichirou Yukiyama
Penerbit : Qanita
Tahun : 2009

Azakawa, seorang saudagar yang mewarisi usaha keluarga di usia 20 tahunan. Ketika orang tuanya meninggal, tak ada pilihan lain bagi Azakawa. Usaha keluarga harus tetap berjalan. Tinggal dia dan Tsubame yang masih hidup. Sang adik yang terlihat lembut dari luar tapi sebenarnya sosok perempuan yang pemberani dengan kecerdasan luar biasa.

Saudagar muda ini mampu bekerja keras dan belajar dengan cepat. Perusahaan kain sutra berkembang pesat melebihi pencapaian Sang Ayah. Namun sayang, ada sekelompok perampok baru yang tiba-tiba muncul dan selalu berhasil menggagalkan pengiriman barang ke ibu kota. Begitu juga dengan barang Azakawa. Gorou, seorang samurai kepercayaan keluarga Azakawa meninggal dalam peristiwa itu.

Peristiwa tersebut mengguncang Akazawa dan Tsubame. Gorou bukan sekedar pengawal setia namun juga pengganti orang tua bagi mereka berdua. Ditambah lagi pasukan bentukan Daimyou tak mampu menumpas perampok Chigatana yang bermarkas di Lembah Togoruchi. 

Sebuah jalan pintas terpaksa diambil Azakawa. Dia membentuk pasukan kecil yang beranggotakan para samurai hebat. Kazegatana, nama pasukan pembasmi yang dipilih oleh Tsubame. Meski hanya beranggotakan empat orang, Satoru, Hanmaru, Hironobu dan Shinnosuke. Kazegatana berhasil membunuh semua perampok Chigatana. Sepertinya ini hal yang tak masuk akal. Akazawa ternyata seorang penyusun strategi yang genius. Penyerangan yang dilakukan oleh Kazegatana selalu efektif melumpuhkan pertahanan musuh. 


Setiap tindakan pasti ada resikonya. Pimpinan tertinggi Chigatana ternyata masih hidup dan memutuskan untuk membalas dendam. Azakawa yang sudah siap mati ketika membentuk Kazegatana, mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum pimpinan perampok mendatangi kediamannya. Akhir cerita ini sungguh tragis. Semua anggota Kazegatana dan Azakawa meninggal semuanya. Hanya tinggal Tsubame yang masih hidup. Hanmaru berhasil membawa Tsubame ke rumah salah satu sahabat keluarga Akazawa. Tsubame dengan ketegaran yang luar biasa, segera kembali ke kediaman keluarga dan membangun usaha mereka dari awal. Perempuan ini, meski seorang diri namun mampu memajukan kembali perusahaan keluarga akazawa.

Saturday, 4 October 2014

Kutukan Lumba-Lumba

Judul : Kutukan Lumba-Lumba (The Curse of The Dolphin)
Penulis : Beth Swinnerton
Penerjemah : Y. Kartika R. W.
Penerbit : C I Publishing (PT Bentang Pustaka)
Tahun : 2006

Dua sahabat Olly dan Jack secara tidak sengaja berpetualang dalam sebuah misi rahasia, mengembalikan patung lumba-lumba ke sekolah mereka. Pada mulanya, mereka -secara tidak sengaja- melihat dua orang yang hendak mencuri di sekolah. Namun, mereka salah sangka. Orang yang dianggap pencuri ternyata seorang ahli ukir tulisan yang akan mengukir nama pemenang di bawah patung lumba-lumba tersebut.

Mereka menyusun berbagai rencana agar patung lumba-lumba dapat sampai ke rumah ahli ukir. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hambatan yang mereka temui. Mereka harus ‘tersesat’ ke Toko Barang Bekas, menjadi badut, hampir saja menginap di Kantor Polisi dan... masih banyak lagi petualangan seru. 


Buku ini sangat menjiwai imajinasi anak-anak yang liar, konyol dan sok dewasa. Saya terhanyut dengan petualangan mereka yang tak pernah membosankan. Buku ini cocok dibaca anak usia 7-12 tahun.

Wednesday, 1 October 2014

Protes dan Demo dengan Elegan

Dari semalam, saya sedang mempersiapkan sebuah tulisan panjang tentang keputusan konyol yang diambil sebagian orang penting di negeri ini. Tentang keegoisan suatu golongan. Tentang kebijakan nyeleneh seorang pejabat. Serta masih banyak lagi ‘keajaiban nyentrik’ yang ada di negeri ini. 


Saya berusaha menyusun semua kalimat sesopan mungkin. Meski tetap saja ada kalimat yang lumayan keras dan bisa bikin panas. Jujur saya menulis tulisan tersebut dengan hati penuh amarah. Kesal dan sebal yang sudah bertumpuk-tumpuk selama beberapa hari. 

Ketika berdiskusi panjang dengan suami membahas masalah tersebut. Saya beberapa kali bicara dengan nada tinggi. Hingga suami harus melotot untuk memperingatkan, ketika suara saya meninggi. Suami menanggapi orasi panjang saya sambil senyum-senyum.

Saya berniat posting tulisan panjang tersebut. Sambil menunggu loading blog, saya baca-baca status di facebook. Ada seorang teman share status seorang Ricky Elson. Cukup panjang statusnya. Pada titik terakhir status tersebut, saya terdiam cukup lama. Saya sungguh malu. Apa yang sudah saya lakukan selama ini. Apa yang sudah saya perbuat demi perbaikan negara ini. Apakah dengan tulisan panjang yang saya buat itu akan membawa perubahan yang lebih baik buat Indonesia? Naif sekali kalau saya bisa menganggap seperti itu. Negeri ini tak butuh banyak kata, sudah banyak kata yang keluar dari para cerdik pandai tapi ya diabaikan. Sementara saya? siapa saya? 

Saya pertama kali tahu kiprah beliau dari acara Kick Andy. Saya angkat topi akan sikap beliau. Tulisan panjang yang sudah saya buat urung diunggah di blog. Saya lebih memilih menyimpannya saja dalam folder laptop. Biar. Biar saja tulisan itu menjadi pengingat untuk diri saya sendiri. Tak perlu saya mengingatkan orang lain. Karena saya belum lebih baik dari mereka yang saya jadikan bahan tulisan.

Saya sepakat dengan Ricky Elson. Protes dan demo dapat dilakukan dengan perbuatan nyata untuk perbaikan Indonesia. Tak perlu banyak kata. Langsung berbuat saja. Berikan yang terbaik dari diri kita dan lakukan dengan sebaik mungkin. 

Berikut ini kutipan status Ricky Elson, yang saya copas dari sini.

Sebenarnya....saya tahu sekali saya bukan orang yg Baik...
Hidup saya adala Protes.. dan Protes..
Apa yang saya lakukan selama ini semuanya adalah "DEMO"
Pembuatan MOBIL LISTRIK adalah DEMO saya ..pada Negara ini..
BECAK BANTU LISTRIK saya adalah Demo pada Negri ini..
Program Lisrtik Tenaga Angin adalah DEMO saya..pada Negara ini..
Mengapa mereka mengabaikan saudara2 saya yang di Timur negri ini..
Mengapa Mereka yg merasa Pintar dalam Teknologi pelit sekali berbagi Ilmu
mengapa Mereka yang disebut Guru Besar tiba tiba merasa menjadi Tuhan..
mengatakan di Indonesia Tak Ada Potensi Angin..
Mengapa mereka menutup Divisi Pengembangan Teknologi Angin nya LAPAN..
Mengapa mereka hanya membuat lomba untuk membunuh kreatifitas..
menjadi persaingan kebanggaan antar universitas saja..
Mengapa mereka meremehkan karya anak Indonesia
Mengapa mereka yg pintar mengelabui rakyat dengan membawa Kincir Abal abal dari Loakan Negri Tetangga...
Mengapa mereka mengada adakan proyek pelistrikan yg hanya 5kW , 10 kW dengan harga Milyaran..
mengapa ada ratusan Perguruan Tinggi di Negri ini..
ada Ratusan jurusan Mesin, Elektro, kimia. dll
ada Ribuan sarjana yg lulus dari juruan tsb..
tapi... Mesin pembangkit kita hampir semuanya buatan Luar..
mengapa program 10000MEGAWATT itu generator buatan PINDAD hanya dibawah 20MW..
lalu darimana yang 9980MW nya lagi?...
mengapa Uang hasil jerih payah bangsa ini lebih banya untuk membayar gaji expert asing?
dan sejuta kekesalan dan mengapa yang lain lain.
tapi tidak dengan membawa masa ke Jalan....
Tidak dengan lempar2 an batu dan molotov dengan pak polisi..
juga tidak menulis #‎ShameOnYou pada orang2 tertentu...
Tidak dengan mematikan karir politik seseorang..
tidak juga dengan Menuduh si A si B korupsi inefesiensi berapa Trilyun..
juga tidak menuduh si A si B antek asing...
juga tak akan bilang saya pro rakyat kecil,
karna rakyat besar dan rakyat kecil itu memang tak ada...
yg ada hanya rakyat indonesia...
tapi dengan yg terbaik dari kami....
Di pulau Sumba...untuk membangun 100 x 500Wpeak kincir angin
(setara dengan 50kW peak)
di 4 lokasi..dengan jaringan instalasinya..
mulai dari pengadaan hingga penyelesaian.. kami hanya menghabiskan dana 3M...
silahkan bandingkan dengan proyek pengadaan negara ini..
seperti di 3 foto terakhir...
hanya utk 5kW saja ditenderkan jauh lebih besar..dari yg kami lakukan..
dan jelaskan pada saya jika saya salah.....
saya tak akan menuduh siapa yg korup siapa yg licik.. siapa yang mengada ada..
silahkan fikirkan sendiri.. jika kita ingin negri ini baik..
Ini Demokrasi saya dengan Tuhan saya..
karna YANG MAHA BERKEHENDAK memberi saya secuil dan benar secuil ilmuNYA...
Ini Demonstrasi saya dan para sahabat saya pada negri ini..
Mana DEMO mu... wahai anak negri...

20140928
Cerita Ciheras Cerita DEMO DEMO an..
MARI BERDEMO..
REVOLUSI INI BELUM SELESAI
MARI BERDEMO...
tapi dengan HATI, AKAL DAN JIWA yg Sehat

Monday, 29 September 2014

My Best Story Chocolate

Judul : My Best Story Chocolate
Penulis : Sri Izzati, dkk.
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun: 2011

Apa yang terjadi jika sebuah buku menceritakan tentang coklat dari awal hingga akhir. Bagi penggemar berat coklat, Anda bisa jadi membaca buku ini sambil meneteskan liur. Kumpulan cerpen di buku ini mempunyai cerita yang beragam yang menarik. Namun cerpen yang paling saya suka adalah Misteri Resep yang Hilang.

Cerpen buatan mbak Dewi Cendika ini membuat saya penasaran. Pada pertengahan cerita saya sudah bisa menebak siapa yang mencuri resep rahasia Clara. Ternyata, tebakan saya salah di akhir cerita. Penulis membuat saya penasaran dan harus bersabar hingga akhir cerita.


Sembilan cerita yang lain mempunyai tema yang beragam. Hal ini membuat pembaca tidak bosan menghabiskan buku ini hingga akhir. Setting dan ilustrasinya juga menarik. Aneka font unik bermunculan meninggalkan kesan santai dan segar. Cocok untuk bahan bacaan di waktu senggang kala melepas lelah atau bosan. Terima kasih buat mbak Shinta Handini yang sudah menghadiahkan buku ini, ketika pertama kali kita bertemu di Surabaya.

Friday, 26 September 2014

Kok... Diam Saja

Suatu minggu, Ponakan-ponakan sedang berkumpul di rumah. Kakak dan Abang asyik main game di gadget. Suami lagi asyik main game juga di laptop. Berhubung Adik dicuekin sama Kakak dan Abang, gadis cilik ini menghampiri suami. Dia asyik memperhatikan game yang dimainkan. Adik mulai bertanya ini itu sambil menunjuk-nunjuk layar laptop. Sementara suami habis minum pil jahil.

Adik: Om, itu apa?
Suami: Hem...
Adik: Itu apa, om?
Suami: Hem...
Adik: Kenapa kok gitu?
Suami: Hem...
Dan... masih buanyak lagi pertanyaan Adik. Sementara suami terus saja menjawab dengan ‘hem’. 

Adik mulai kelihatan bete dan berulah menarik perhatian penguasa laptop. Dia berusaha keras agar bisa duduk dipangkuan suami. Namun usahanya gagal. Sementara suami sesekali melihat Adik dengan wajah lempeng tanpa ekspresi. Saya mulai gak tahan melihat mereka berdua. Suami memang suka menggoda ponakan bungsu dengan pura-pura cuek. 

Sisi ke-egoan adik mulai terusik. Gadis kecil itu semakin atraktif menarik perhatian. Suami masih tetap dengan aktingnya. 
Adik: (menekan-tekan tangan kanan suami dengan gemas) Ooom, kalau ada yang TANYA itu harus dijawaaaab. Nggak boleh diam saja. Nggak baik itu namanya. (Lalu adik  ngeloyor pergi meninggalkan suami dengan mulut cemberut)
Suami: (melirik adik dengan wajah tanpa ekspresi tapi bibirnya menahan senyum)
Sementara saya? 
Tentu saja... 

Ngakak-ngakak tralala =)).

Wednesday, 24 September 2014

Balada si Roy 2


Judul : Balada si Roy 2
Penulis : Gola Gong
Penerbit : Beranda Hikmah
Tahun : Oktober 2004

Inilah pertama kalinya saya membaca kisah Roy yang melegenda di tahun 90-an. Roy tetap setia pada hobinya berkelana kemana pun kakinya melangkah. Kali ini Roy memutuskan untuk cuti sejenak dari petualangannya. Dia memutuskan untuk menemani sang Mama yang sedang sakit. Sekaligus untuk bertemu kembali dengan sang kekasih yang telah menikah.

Roy sudah tumbuh dewasa. Dia lebih bisa mengendalikan ke-aku-an dan hasrat petualangannya. Dia sudah berhenti menggunakan ganja. Insyaf bolos sekolah. Meski terkadang jiwa liarnya masih menggelegak namun dia sudah lebih jinak. Petualangannya tetap dilakukan pada saat akhir minggu dan liburan sekolah.

Secara keseluruhan buku ini nikmat untuk dibaca hingga akhir. Petualangan Roy dari satu tempat ke tempat lain menyimpan banyak cerita yang seru.

Thursday, 10 July 2014

Ijah vs Nyonyah: Anak Salmon

Sore itu Ijah sedang duduk-duduk di taman depan bersama putra bungsu majikannya. Wati, pembantu tetangga sebelah yang lewat depan rumah mendekati pagar.
Wati : Santai nih, Jah. Udah masak buat buka puasa?
Ijah : Udah dong. Kamu dari mana?
Wati : Di suruh nyonyah beli makanan. Masak apa, Jah?
Ijah : Oseng-oseng teri sama kacang panjang.
Wati : Hah! Teri! Serius?
Ijah : Iya… ngapain puasa bohong.
Nyonyah yang mendengar percakapan mereka dari teras segera mendekat.
Nyonyah : Ijah. Yang kamu masak tadi tuh anak salmon bukan teri, tahu!
Ijah : Lho, Nyah it…
Nyonyah : Dasar Ijah, mana mungkin saya masak teri. Heh! Nggak mungkin, to?
Ijah : Tadi, Nyonyah kan bilang, masak oseng teri aja. Tanggal tua nggak ada duit.
Nyonyah : Ijaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah
Nyonyah merendahkan suaranya sambil melotot gemas ke arah Ijah. Sementara Wati pergi, sambil menahan ketawa.

Friday, 30 May 2014

Warung Suroboyo: Mari Perang, Metu Apane?

Iwan karo Cak Kairun lagi nonton tipi karo ngombe kopi panas. Lambene wong loro iki ngoceh ae gak mari-mari. Ning Sur sampe ngelu ngrungokno tapi yo gak isok ngusir.
Cak Kairun : Lho, kan kandani kok. Temen ta omonganku?
Iwan : Omongan sampean sing endi, Cak?
Cak Kairun : Lek ape pilihan presiden lak koyok ape perang.
Cak Yo : Hussh. Lambene yo...
Cak Kairun : Temanan iki, Cak. Iku loh tontoken nang tivi. Lak wis koyok perang. 
Cak Kairun ndhudhing-dhudhing tivi sing lagi onok acara omong-omongane wong-wong  pinter sing lagi ngomongno calon-calon presiden.
Iwan : Endi sing ape perang? Lebay sampean iki, Cak.
Cak Kairun : Eloh, pertamane sing perang lambe. Lek wis gak ngatasi, phesone metu, lek sik gak ngatasi maneh, gobange metu. Terus clurit, tombak sak sembarang kalir e metu kaneh. Perang wis dadine.
Cak Yo : Khayal koen iku Run, Run...
Iwan : Lek wes mari perang metu apane, Cak?
Cak Kairun : Yo metu segone?
Cak Yo : Kok sego?
Cak Kairun : Kan podo mati kabeh. Kari mbancaki ae hehehe

Cak Yo : Wong uedan!!!

Ijah vs Nyonyah: Fashion Show

Nyonyah sudah dandan sejak subuh. Rambutnya disasak tinggi. Pakai highheel. Wajahnya mengunakan make-up tebal dan lipstik merah. Hampir seluruh perhiasannya dipakai. 
Nyonyah : Jah... Siapin sarapan buat anak-anak sama tuan ya. 
Ijah : Iya nyah 
Nyonyah : Ini uang belanjanya. Terserah kamu masak apa.
Ijah : (melihat nyonyah dari atas kebawah, dari kanan ke kiri, dari ujung poni sampai ke ujung sepatu) Nyonyah, mau kemana pagi-pagi?
Nyonyah : Ada kunjungan ke panti asuhan sama ibu-ibu pejabat yang tempo hari aku arisan itu loh.
Ijah : Ooo... ke panti , to... Dandannya kok kayak mau fashion show aja.
Nyonyah : Heh! Ntar tuh disana ada artis, diliput teve segala. Ntar kalau masuk teve biar kelihatan cakep, tahu!
Ijah : Ooo... semua ntar dandan kayak gini, nyah? 
Nyonyah : Ya iya lah. (menambahkan bedak dan lipstik)
Ijah : Semoga disana gak ada panggungnya. Ntar, anak-anak panti itu ngira kalau bakal ada fashion show di tempat mereka
Nyonyah : Iiiijaaaaaaaaaaaah!@#$%^&*%$#@%

Wednesday, 28 May 2014

The Kite Runner

Judul : The Kite Runner
Penulis : Khaled Hosseini
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita
Tahun : Cetakan 6, Desember 2008

Sebenarnya sudah lama saya memiliki buku ini. Meski saya sangat tertarik dengan buku ini, demi membaca beberapa resensi, saya tak kuat hati membacanya. Beberapa waktu lalu, ketika bersih-bersih kamar ketemu lagi dengan buku ini. Ya sudahlah, saya beranikan diri untuk membacanya. 

Amir -seorang anak warga terpandang di Kabul- memiliki sahaya bernama Hasan. Ayah Hasan sudah menjadi sahaya ayah Amir semenjak kecil. Maka otomatis Hasan menjadi sahaya Amir. Latar belakang cerita pada masa kejayaan Kabul dan Afganistan sungguh memukau. Segala skema kota dan panorama alam dituturkan oleh penulis dengan terperinci. 

Amir bukanlah sosok pemberani seperti Ayahnya. Dia lebih suka melarikan diri ketika ada masalah, daripada menghadapinya atau menyelesaikannya. Selama ini Hasan yang selalu menyelesaikan semua masalah-masalahnya. Hingga suatu saat, Hasan mendapatkan masalah. Amir memutuskan untuk ‘melarikan diri’ dan membuat Hasan menderita karena keputusannya tersebut.


Berpuluh tahun kemudian ketika Amir dewasa, Dia mendapat kesempatan untuk memperbaiki masa lalunya. Kali ini anak Hasan, Sohrab dalam masalah. Amir membuat keputusan besar yang nyaris mengorbankan nyawanya. Keputusan ini ternyata membuat dirinya merasa tenang dan tak pernah dikejar-kejar rasa bersalah lagi.

Friday, 23 May 2014

Review Buku Bidadari-Bidadari Surga

review buku tere liye
Judul     : Bidadari-Bidadari Surga
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun : Cetakan 15, Oktober 2013

Laisa adalah sulung dari keluarga Lainuri. Seorang wanita mulia dengan akhlak yang mempesona. Sedari awal hingga akhir, karakter Laisa menyedot semua perhatian saya. Seorang Laisa rela berhenti sekolah agar ke-empat adik-adiknya bisa sekolah semua. 

Seorang Laisa ikhlas banting tulang di ladang bersama Mamak demi membiayai sekolah adik-adiknya. Seorang Laisa berbesar hati ‘memerintahkan’ ketiga adiknya menikah terlebih dahulu. Seorang Laisa berlapang dada ketika para lelaki tak ada yang berkenan untuk mempersuntingnya. 

Seorang Laisa bersabar untuk menyembunyikan kanker paru-paru yang bersemayam di tubuhnya. Seorang Laisa selalu mencurahkan semua perhatian untuk keluarga dan masyarakat di sekitarnya, hanya sedikit kesempatan yang digunakan untuk memikirkan dirinya sendiri. Seorang Laisa bekerja keras untuk memajukan desanya, menyejahterakan masyarakat, memikirkan masa depan bukan saja adik-adiknya tapi juga semua anak-anak di kampung. 

Ah, rasanya tak cukup kata untuk menguraikan seluruh amal baik Laisa. Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh. Segala kepahitan dan kesakitan ditahan sendiri. Senyum senantiasa tersungging. Wajahnya selalu ceria.

Adik-adiknya selalu menyanjung dan memuliakan Laisa. Beliau adalah orang kedua setelah Mamak, yang seluruh ucapannya adalah titah tak terbantahkan. Apapun ucapan Laisa akan menjadi motor penggerak adik-adiknya. Pun seorang Ikanuri yang pernah melawan habis-habisan, tunduk patuh kepada Laisa. 

Meski awalnya saya tak rela dengan akhir kisah Laisa. Namun akhirnya saya ikhlas. Biarlah sosok Laisa bersemayam dengan segala kemulian dan akan selalu menjadi kenangan terindah bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Semoga beliau diperkenankan Allah untuk menjadi bidadari di Surga.


Foto: koleksi pribadi

   

Saturday, 12 April 2014

Review Buku The Reunion

review buku triani retno

Judul : The Reunion
Penulis : Triani Retno
Editor : Benedicta Rini W. 
Penerbit : Sheila
Tahun : 2011

Reuni bagi beberapa orang merupakan momok yang mengerikan. Sesuatu yang bikin badan panas dingin, perut mual dan kepala pusing. Image reuni sebagai ajang pamer diri dan kesuksesan sudah berlangsung sejak lama. Wajar jika beberapa orang alergi dengan reuni, bahkan mungkin paranoid. 

Inilah yang dialami oleh Lily Amelia Darmawan, wanita lajang dengan karir cemerlang di Majalah LIFE. Lily ketakutan menyadari bahwa mantan teman-teman SMA jauh lebih sukses di karir. Bahkan banyak pula yang sudah punya anak. Pekerjaannya hanya sebagai penulis dianggap tak sepadan dengan mereka semua. 

Ada banyak ketakutan yang bersemayam dibenaknya. Begitu besar kekhawatiran yang terpendam. Bagaimana jika... Kalau nanti... dan... begitu banyak pertanyaan yang berkelindang silih berganti. Sepertinya ini yang terjadi pada banyak orang, yang merasa 'bukan siapa-siapa'. Setelah maju mundur tak jelas untuk mengikuti reuni. Lily mengambil keputusan besar untuk nekat berangkat. Dan... keputusan itu sepertinya tak akan pernah disesali seumur hidupnya.

Sengaja review hanya sedikit. khawatir mengandung banyak spoiler. Nggak asyik kalau nggak baca sendiri. Buku ini asyik dinikmati dari awal hingga akhir. Tidak bertele-tele. Kecepatan bertutur penulis konstan dari awal sampai akhir. Bikin penasaran. Nggak heran kalau saya jadi cepat menyelesaikan buku ini.


Foto: koleksi pribadi


Friday, 11 April 2014

Gado-Gado dan Sushi

Judul : Gado-Gado dan Sushi
Penulis : Yunitha Fairani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013

Saya jatuh cinta dengan kurikulum dan tata laksana pendidikan Jepang sejak kuliah. Pertama kali melihat sampul buku ini, saya langsung ambil. Apalagi tulisan dalam buku ini adalah kisah nyata dalam mendampingi anak-anaknya selama sekolah di Jepang.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar merupakan pondasi pendidikan anak di Jepang. Anak tidak hanya diasah kemampuan akademiknya. Pembangunan karakter, kecakapan bersosialisasi dengan lingkungan dan juga stabilitas hubungan dengan keluarga bagian dari tata laksana sekolah. 

Orang tua terutama Ibu, diharapkan bisa berperan aktif mendampingi anak-anaknya selama bersekolah. Guru dan pihak sekolah tidak mau kalau orang tua menyerahkan urusan pendidikan pada mereka. Satu hal yang cukup membuat saya terkejut, ada grup teater ibu-ibu para siswa. Saya terpingkal-pingkal membaca proses perekrutan anggota baru teater tersebut. 

Penulis yang notabene adalah orang asing sangat berusaha keras bisa beradaptasi dengan masyarakat asli. Yang membuat saya salut, alasan penulis berbuat demikian agar anaknya tidak dianggap sebagai orang luar dan terkucil dari pergaulan anak-anak. Ibu yang hebat. Banyak pelajaran yang saya ambil dalam buku ini dalam menanamkan disiplin dengan kelembutan yang tegas. Ternyata tegas yang selama ini berkonotasi keras bisa dikombinasi dengan kelembutan yang menyejukkan. 


Saya terkejut dengan fakta yang diungkapkan penulis tentang wanita karir Jepang yang begitu menikah atau memiliki anak akan berhenti bekerja. Kebanyakan wanita di sana menunda bahkan mengorbankan karir untuk mengasuh anak-anaknya. Jika anak-anak sudah remaja para ibu akan kembali bekerja. Namun, lebih banyak wanita Jepang yang memilih bekerja paruh waktu meskipun mampu menjadi pegawai tetap karena ingin berkonsentrasi mengurus keluarganya. Ibu-ibu yang keren.

Thursday, 10 April 2014

99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Januari 2014

Saya tertarik dengan buku ini sejak pertama diterbitkan, namun berkali-kali belum berjodoh untuk membawanya pulang. Hingga buku ini hadir sebagai hadiah ulang tahun dari suami tercinta. Saya sampai jingkrak-jingkrak setelah membuka sampul kadonya :D

Saya sengaja tidak membaca resensi buku ini dan juga tidak menonton filmnya. Saya ingin lebih obyektif dalam membaca buku ini. Saya sangat tertarik dengan buku ini karena setting sejarah. Soal sejarah Islam di Eropa, saya memang buta total. Banyak pengetahuan baru, yang saya dapat dari buku ini cukup mengejutkan. Misalnya tentang lukisan bunda Maria yang hijabnya ada Pseudo Kufic kalimat tauhid, atau ‘penciptaan‘ roti croissant dengan tujuan untuk menghina bangsa Turki. Hal terakhir ini yang membuat saya sampai sekarang segan untuk makan croissant. Namun, yang mampu membuat saya tercengang lama fakta bahwa bangunan-bangunan peringatan kemenangan Napoleon di Paris dibuat membentuk garis imajiner, yang searah dengan kiblat di Mekah. Bahkan, Patung Quadriga dan 2 malaikat emas yang ada di atas monumen semua menghadap ke timur tenggara, arah Mekkah.

Perjalanan tokoh Hanum dan teman-temannya ke berbagai tempat dan negara begitu mengasyikkan. Bukan sekedar travelling dan cuci mata. Selalu ada ‘sesuatu‘ yang membekas untuk direnungkan lebih dalam. Deretan sejarah disuguhkan dengan rapi dari Wina hingga Istambul. Berbagai arsitektur bangunan dan tata kota diceritakan dengan detail. Saya yang belum pernah melihat bisa membayangkan dengan jelas. Ketika saya menelusuri foto tempat-tempat tersebut, dengan mudah saya bisa menemukan detail yang  ada di buku ini.


Beberapa konflik pada tokoh cerita bisa selesai dengan cepat, terkadang membuat saya seakan kehilangan unsur drama dalam sebuah novel. Andai ada beberapa tambahan konflik lagi mungkin akan lebih seru. Hal ini mungkin juga bisa membuat tokoh Hanum lebih manusiawi. Pada beberapa bagian cerita, saya sempat kedodoran karena paparan penulis tentang sejarah Islam. Tetapi saya lumayan bisa menikmati dengan nyaman hingga akhir cerita. 

Wednesday, 9 April 2014

Hutan di Mata Anak-Anakku

Judul : Hutan di Mata Anak-Anakku
Penulis : Indah IP
Penerbit : Indie Publishing
Tahun : 2013

Saya merasa puas menikmati sajian 109 puisi dalam buku ini. Aneka tema tersaji penuh warna. Aneka rangkaian kata tersusun dengan indah. Memuaskan mata dan menyejukkan dahaga jiwa. Sosok pribadi penulis yang hangat dan penuh cinta terbaca jelas dalam setiap kisah dari kata per kata. Kecintaannya pada suami, dua buah hati, orang tua, lingkungan dan segala yang ada di sekitarnya. Tentu, juga kepada Tuhan penggenggam takdirnya. 

Saya memang bukan penikmat puisi. Seringkali saya bingung dengan setiap puisi yang tak bisa saya uraikan maksudnya. Namun dalam buku ini penulis mampu membuat saya memahami setiap kedalaman makna dalam setiap puisinya. 


Salah satu puisi yang saya suka adalah ‘Senyum Ibuku’ (halaman 69). Sejuk rasanya. Seakan ada senyum ibu saya di depan mata, yang menemani saya menikmati buku ini hingga akhir.

Monday, 3 March 2014

Patroli Kosmik 1

Judul : Patroli Kosmik 1
Penulis : Mauricet
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Penerbit : M&C!
Tahun : 2010

Saya tidak menyangka sama sekali akan mendapatkan hadiah komik ini dari Teteh yang baik hati. Saya tahu komik ini ketika ngobrol dengan Beliau. Meski belum membaca saya udah ngakak sendiri membayangkannya. Janji dalam hati terpatri. Kalau udah keluar saya harus beli buku itu. Eeh, belum kesampaian beli ternyata…. dapet paket kejutan dari beliau. Huaaaa lonjak-lonjak bergembira waktu buka paket. halah. lebay kuadrat *merona* pasang cadar aaah biar nggak ada yang tahu hihihi.

Komik ini dibuat khusus untuk pembaca dewasa. Tolong jangan coba-coba diberikan ke anak-anak. Selain banyak umpatan mejeng berendeng dari halaman depan sampai belakang, juga ada gambar beberapa tokoh yang sexy. Meski hanya muncul di 3 scene tapi lumayan lah… bisa bikin mata lelaki jereng :D. Komik ini berkisah parodi superhero yang kocak. Dari postur, ekspresi dan karakternya sukses bikin saya ngakak nungging sambil cubit-cubit kasur. Lho! Apalagi plesetan nama tokohnya… huaaa seru banget. 


Penterjemah lihai mengutik-utik namanya. Salut pada penerjemah yang kreatif menggunakan istilah dan kosakata yang unik dan masuk ke ceritanya.Superhero disini jauuuh dari gambaran yang sudah kita kenal selama ini. Sebuah paradigma baru akan superhero. Kalau menurut saya sih. Komik ini merupakan kritik pedas komikus terhadap keberadaan sosok superhero yang terlanjur mengakar di masyarakat.

Sunday, 2 March 2014

Lusi Lindri

Judul : Lusi Lindri
Penulis : Y.B. Mangunwijaya
Tahun : 1994

Seri ke 3 dari trilogi Roro Mendut versi asli, cetakan tahun 1994. Saya dapat buku ini hadiah dari seorang teman januari lalu. Saya paling suka dengan seri yang terakhir ini. Lusi Lindri anak Genduk Duku dikisahkan menjadi pasukan Trinisat Kenya (pasukan elit khusus wanita pengawal Amangkurat). Dia bersuamikan seorang mata-mata Mataram untuk Batavia. 

Buku ini lebih dinamis dari dua buku sebelumnya (Roro Mendut dan Genduk Duku). Meski unsur percintaan masih bertebaran, tapi dunia kemiliteran dan spionase membuat buku ini jadi lebih menarik. Menantang dan mencabik-cabik saraf penasaran. Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah kehalusan Romo Mangun mengisahkan (maaf) adegan ranjang. Meski yang paling panas sekalipun (Lusi Lindri dan Hans) disajikan dengan sangat halus, menggunakan bahasa kiasan yang kaya makna. Menggetarkan dalam porsi yang secukupnya. 


Saya belajar banyak kosakata baru dalam buku ini. Dari awal hingga akhir buku ini juga mengupas intisari Kama-Ratih yang lumayan detil ehem… *merona*. Salut pada teman yang berhasil menebak selera saya dengan menghadiahkan buku ini. Terima kasih teman, kau tahu yang aku mau.

Saturday, 1 March 2014

Hubbu

Judul : Hubbu
Penulis : Mashuri
Penerbit :
Tahun : 2009

Embel-embel 'Pemenang I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006' yang mampu menggerakkan tangan saya untuk mengambil buku ini di pajangan toko. Saya penasaran seperti apa novel ini. 

Keseluruhan cerita tersedot ke sosok Abdullah Sattar atau Jarot. Bergulatan batin antara batas hitam dan putih, percampuran islam dan jawa mengiringi perjalanan Jarot untuk mencari identitas diri. Buku yang kental akan falsafah jawa dan filsafat islam. Penggunaan bahasa kawi dan tebaran sansekerta sering membuat kening saya berkerut-kerut, mampu memaksa saya untuk membuka lagi beberapa referensi sastra jawa. 

Membaca buku ini melelahkan. Seakan berjalan di lorong panjang lalu terperangkap dalam ruang gelap dalam waktu yang lama atau mungkin saya yang tidak terbiasa dengan bacaan nyastra. Beberapa kali saya masuk pitstop, meninggalkan buku ini dan berselingkuh dengan bacaan ringan. Demi menghindari kepala yang mendadak nyut-nyutan :D

Thursday, 27 February 2014

Dengan Pujian, Bukan Kemarahan: Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura

Judul : Dengan Pujian, Bukan Kemarahan (Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura)
Penulis : Nesia Andriana Arif
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun : 2010

Banyak sekali pelajaran yang saya petik di buku ini. Mendidik anak memang bukan hal mudah tapi ternyata juga tidak sulit. Penulis memaparkan dengan gamblang berbagai pengalaman 'menjinakkan' anak-anak :D


Penulis juga memaparkan tidak selamanya orang tua itu selalu benar dan menjadi guru anak-anak. Salut pada penulis yang secara gentle mengakui hal ini. Saya terpesona dengan penulis yang tanpa malu meminta diajari huruf kanji pada sang anak. Penulis juga jujur mengungkapkan kalau belajar sabar, empati dan kepandaian sosialisasi justru dari ketiga anaknya. Aaah anak-anak. Selalu menyimpan sejuta pesona.