Friday, 19 July 2013

Good Wives



Judul     : Good Wives
Penulis   : Louisa May Alcott
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit  : Serambi

Buku ini adalah kelanjutan dari buku Little Woman. Kalau menurut saya, buku ini adalah gerbang kedewasaan gadis-gadis March. Para gadis keluarga March sudah beranjak dewasa dan mulai bersiap menuju ke jenjang pernikahan. Bab awal dibuka dengan riuhnya persiapan Meg yang akan menikah dengan John.

Sebuah pernikahan sudah layaknya dilakukan dengan meriah, namun keluarga March (seperti biasanya) mampu membungkus kemeriahan dengan bersahaja yang manis untuk dikenang.

Kebahagiaan Meg dan juga kepanikan Meg menjadi istri dan ibu baru menyita hampir separuh buku ini. Sementara Jo, tetaplah seorang gadis cerdas yang bengal. Petualangannya dalam mencari jati diri membuat dia sanggup menjelma menjadi sosok wanita dewasa yang mempesona. Pelajaran hidup beruntun yang membuat Jo jatuh bangun tak membuat dirinya terpuruk, justru membentuk dirinya semakin kuat dan mempesona.

Beth, mampu mewarnai kesuraman buku ini dengan kesedihan yang mencekat. Yah, mau bagaimana lagi, tak selamanya perjalanan hidup semulus boneka Barbie. Tak mungkin juga semua tokoh akan mendapat kebahagian. Well, it’s real life beibeh. Meski pada awalnya Beth mampu menguras air mata, namun keluarga March meyakini bahwa Beth telah bahagia dengan caranya sendiri.

Si kecil Amy telah menjelma menjadi kupu-kupu yang menawan. Saya rasa hanya Amy yang mempunyai ‘darah ningrat’ seperti yang dikehendaki oleh Bibi March. Hanya Amy yang menyadari bahwa dirinya seorang keturunan ningrat dan sangat mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang bangsawan suatu hari kelak. Suatu kegembiraan ketika semua mimpi Amy menjadi kenyataan, nyonya baru bangsawan hadir ditengah keluarga March. Tentu saja, lengkap dengan segala kemewahan, keanggunan dan segala pernik sopan santun yang rumit.

Sama dengan buku yang pertama. Buku ini indah dari awal hingga akhir. Penulis mengajak saya untuk membuka wawasan baru tentang kehidupan awal pernikahan yang penuh liku dan penuh kejutan. Untung saja ada kehangatan keluarga yang selalu siap sedia untuk saling mendukung dalam suka maupun duka.




No comments:

Post a Comment