Monday, 22 July 2013

Ijin untuk Menawar

       Saya mengenalnya secara kebetulan. Ketika saya membutuh uang untuk menyelesaikan penelitian skripsi. Sedang beliau membutuh pengganti asistennya yang cuti melahirkan. Beliau adalah seorang wanita pengusaha yang mempunyai jabatan penting di beberapa perusahaan dan organisasi sosial.
             Selama kebersamaan dengan beliau saya seperti membuka pintu dunia baru. Beliau tidak segan dalam membagi berbagai ilmu baru. Beliau juga tidak pernah berlagak sebagai bos, tapi memperlakukan saya sebagai teman. Aah... banyak sekali sifat baik beliau yang saya kagumi. Namun ada satu hobi beliau yang membuat saya selalu terkenang pada sosoknya.
            Beliau suka belanja di pasar tradisional. Bukan hanya sekedar belanja tapi beliau punya kebiasaan unik, setiap kali akan menawar barang selalu meminta ijin terlebih dahulu. Jika sang penjual tidak berkenan ditawar, maka beliau akan membayar utuh harga yang diberikan,
              Pertama kali saya melihat ini, gondok setengah mati. Kenapa susah-susah belanja ke pasar tradisional kalau tidak bisa mendapat harga murah. Lebih baik ke supermarket saja. Apabila tak bisa belanja sendiri dan menyuruh saya atau asisten rumah tangga, selalu wanti-wanti agar kami ijin terlebih dahulu untuk menawar barang yang akan dibeli.
        Ketika mendapat perintah ini pertama kali ada yang bertentangan dihati. Saya beranikan diri untuk mengajukan pertanyaan yang sudah lama bersemayam. Setelah memberikan daftar belanjaan, sampailah ke pesan wasiat terakhir.
“Ntar klo belanja jangan ditawar ya, Gik.” beliau meletakkan uang di meja saya.
“Lah, Bu. Ntar kalau kemahalan kan sayang Bu.”
“Ya biarin aja. Buat nambah-nambah tabungan mereka kan lumayan.” beliau tersenyum sambil merapikan baju.
“Bu. Yang namanya belanja ke pasar, tuh seninya ya di tawar menawar itu.”
“Kamu ini, kok seneng bikin orang was-was saja.”
“Was-was gimana, Bu?” saya menunggu-nunggu jawaban beliau.
“Kamu tahu apa yang ada dibenak mereka kalau ada orang yang menawar barangnya? Mereka selalu berdoa ‘jangan turun lagi, jangan murah-murah’ Itu berlangsung terus menerus. Nggak kasihan kamu, mereka sampai was-was begitu.”
“Aah, Ibu nih ada-ada aja. Kalau nggak boleh ditawar. Ya… mending beli di supermarket aja.” saya tertawa tertahan
Oalah cah ayu… kamu ini kok tega banget to. Nolong orang kok gak mau sih.”
“Maksudnya, Bu?” berbagai pertanyaan berkecamuk dibenak saya.
“Para pedagang di pasar-pasar itu tidak punya modal besar. Ada juga yang cuma cukup buat makan sehari-hari, tak punya tabungan. Kalau semakin sedikit yang beli, mereka dapat duitnya darimana? Mereka mau makan apa? Udah yang beli sedikit eh ditawar-tawar dengan harga yang rendah banget. Coba kamu pikir, gimana mereka bisa hidup lebih baik.” beliau menatap saya tajam
“Tapi kan nggak semua kayak gitu, Bu. Banyak yang hidupnya berkecukupan. Sangat berkecukupan malah.”
“Berapa banyak? Sudahlah. Jangan pernah mikir rugi kalau nggak nawar. Niatkan saja untuk menolong. Titik! Aku gak mau dibantah soal ini. Kamu jangan pernah punya niat melanggar perintah saya soal ini!. Bisa saya pecat kamu!”
Glek. Baru kali ini saya melihat beliau bicara keras. Tentu ini sesuatu yang penting hingga beliau bersikap tegas seperti itu.
“Niatkan saja untuk menolong. Titik!” Kata-kata beliau masih tergiang di telinga. Saya mencerna kalimat ini selama perjalanan ke Pasar. Tetap saja, saya tidak menemukan esensi dari kalimat tersebut. Ya sudahlah. Sudah sampai di pasar. Saya menuju ke lapak langganan. Saya tunaikan pesan Ibu bos. Kebetulan sawi putih di langganan tidak ada. Terpaksa saya harus putar-putar untuk mencari di lapak lainnya.
Ada beberapa lapak yang menjual sawi putih namun saya tak berminat membelinya. Oh lala… akhirnya ketemu juga sawi putih yang besar dan terlihat segar. Seorang Ibu tua menyapa saya dengan ramah. Naluri menawar sudah tak tertahankan lagi.
Ndhak bisa, jeng, kalau segitu. Belum balik modal.” perempuan tua itu menjawab pertanyaan saya dengan wajah memelas. Saya tetap saja menawar tanpa melihat ke arahnya. Ah, wajah melas itu pasti hanya akting belaka supaya saya jatuh iba. Tawar-menawar berjalan sangat alot. Gigih juga nenek ini. Akhirnya, saya mengalah. Ya sudahlah. Capek juga ternyata tawar-menawar. Saya letakkan lembaran uang di dekat timbangan, sementara beliau mebungkus sawi putih.
  “Akhirnya… pembeli pertama. Penglaris, yu.” spontan, saya menoleh ke kiri. Seorang ibu setengah baya penjual bumbu-bumbu dapur melongok dengan wajah ceria.
 “Alhamdulillah… laris… laris… yang beli dara manis.” Perempuan tua itu menepuk-nepukkan uang saya ke beberapa bagian dagangannya. Saya tersenyum geli demi melihatnya.
“Semoga laris. Habis semua hari ini ya, Bu.” Saya berbasa-basi demi sopan santun.
“Aamiin. Sepi hari ini. Baru jeng ini, yang pertama beli dagangan saya.” Duh. Mencelos hati ini. Sungguh menyesal tadi saya sudah menawar dengan harga begitu rendah. Saya tolak kembalian dari nenek tersebut. Segera saya berlalu dari sana. Rasa bersalah ini masih tetap saja bergayut. Saya teringat pesan Ibu bos. Ya… ya… belanja diniatkan untuk membantu saja, bukan untuk sekedar membeli barang yang kita butuhkan. Saya menyimpan baik-baik peristiwa hari ini. Semoga saya selalu diingatkan jika lupa nanti.

Review Buku Gajah Mada 2: Takhta dan Angkara Langit Kresna Hariadi

review buku gajah mada review buku langit kresna hariadi
Judul     : Gajah Mada 2: Takhta dan Angkara
Penulis   : Langit Kresna Hariadi
Penerbit  : Tiga Serangkai

Sebenarnya sudah lama saya ingin membaca buku ini. Ketebalan dan latar belakang sejarah dalam novel ini, yang menghalangi saya. Tulisan berlatar belakang sejarah cukup riskan, jika penulis tidak lihai rasa bosan nanti yang akan muncul. Meski beberapa kali saya membaca resensi buku ini, entah kenapa saya masih belum berniat untuk membawa buku ini pulang. Hingga saat saya berkunjung ke Perpustakaan, buku tersebut teronggok di pojok. Penasaran, saya pun membawa pulang bukunya.

Gajah Mada adalah seorang tokoh populer dalam khasanah sejarah Indonesia. Buku ini menceritakan awal karir Gajah Mada di Majapahit. Kematian Kalagemet atau Jayanegara karena dibunuh Ra Tanca membuka jalan karir Gajah Mada menuju kursi kepatihan. Sosok Gajah Mada memang diatas rata-rata dibandingkan para lurah atau senopati prajurit Majapahit lainnya. Kecerdasan dan kemampuan untuk melihat jauh ke depan menjadi keunggulan tersendiri pada sosok satu ini.

Kematian Jayanegara yang mendadak membuat pergantian tambuk kekuasaan Majapahit menjadi rumit. Ada dua Sekar Kedaton, yaitu Sri Gitarja dan Dyah Wiyat yang nantinya akan dipilih menjadi Ratu Majapahit. Sebenarnya tidak masalah dengan keduanya, justru para suami mereka yang bermasalah.

Raden Cakradara, suami Sri Gitarja dicurigai menjadi pembunuh para pengikut Raden Kudamerta dan juga hampir membunuh Raden Kudamerta. Sedangkan Raden Kudamerta -baru diketahui- ternyata sudah mempunyai istri dan anak laki-laki sebelum menikah dengan Dyah Wiyat. Jika nanti Dyah Wiyat tidak mempunyai keturunan, anak lelaki tersebut dikuatirkan akan bisa merebut kekuasaan trah Majapahit. Gajah Mada mengusulkan agar Ratu Gayatri memegang tambuk kekuasaan sebelum memilih satu diantara dua Sekar Kedaton.

Peristiwa tersebut menjadi awal petualangan Gajah Mada beserta anak buahnya dalam menyelidiki latar belakang Raden Cakradara dan Raden Kudamerta. Permainan detektif dan berbagai strategi kemiliteran banyak bertebaran di buku ini. Daya tarik utama buku  yang mampu membuat saya tahan membacanya adalah cara Gajah Mada menyelidiki berbagai kasus yang ada. Kecerdikan, pengalaman dan juga wawasannya yang luas sering kali membuat saya terpesona.

Bagi saya pribadi, membaca buku ini sama asyiknya seperti membaca buku detektif dan melihat film kolosal epik. Penuh kejutan, membuka wawasan sejarah baru dan juga mengasyikkan. Meski pada awalnya saya harus berjuang dengan rasa lelah melihat foot note yang bertebaran sangat banyak dan berbagai fakta sejarah yang diulang berkali-kali. Namun setelah saya mampu mengabaikan semua hal tersebut, saya kembali larut dengan petualangan Gajah Mada. Meski pada awalnya mengganggu, foot note itu menjadi pijakan saya untuk membaca buku ini. Meski saya belum membaca seri ke 1, saya tidak merasa ada missing story. Saya pun penasaran untuk mengikuti petualangan Gajah Mada berikutnya.



Foto: pinjam pakai dari google


Friday, 19 July 2013

Review Buku Good Wives Louisa May Alcott

review buku louisa may alcott review buku good wives
Judul     : Good Wives
Penulis   : Louisa May Alcott
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit  : Serambi


Buku ini adalah kelanjutan dari buku Little Woman. Kalau menurut saya, buku ini adalah gerbang kedewasaan gadis-gadis March. Para gadis keluarga March sudah beranjak dewasa dan mulai bersiap menuju ke jenjang pernikahan. Bab awal dibuka dengan riuhnya persiapan Meg yang akan menikah dengan John.

Sebuah pernikahan sudah layaknya dilakukan dengan meriah, namun keluarga March (seperti biasanya) mampu membungkus kemeriahan dengan bersahaja yang manis untuk dikenang.

Kebahagiaan Meg dan juga kepanikan Meg menjadi istri dan ibu baru menyita hampir separuh buku ini. Sementara Jo, tetaplah seorang gadis cerdas yang bengal. Petualangannya dalam mencari jati diri membuat dia sanggup menjelma menjadi sosok wanita dewasa yang mempesona. Pelajaran hidup beruntun yang membuat Jo jatuh bangun tak membuat dirinya terpuruk, justru membentuk dirinya semakin kuat dan mempesona.

Beth, mampu mewarnai kesuraman buku ini dengan kesedihan yang mencekat. Yah, mau bagaimana lagi, tak selamanya perjalanan hidup semulus boneka Barbie. Tak mungkin juga semua tokoh akan mendapat kebahagian. Well, it’s real life beibeh. Meski pada awalnya Beth mampu menguras air mata, namun keluarga March meyakini bahwa Beth telah bahagia dengan caranya sendiri.

Si kecil Amy telah menjelma menjadi kupu-kupu yang menawan. Saya rasa hanya Amy yang mempunyai ‘darah ningrat’ seperti yang dikehendaki oleh Bibi March. Hanya Amy yang menyadari bahwa dirinya seorang keturunan ningrat dan sangat mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang bangsawan suatu hari kelak. Suatu kegembiraan ketika semua mimpi Amy menjadi kenyataan, nyonya baru bangsawan hadir ditengah keluarga March. Tentu saja, lengkap dengan segala kemewahan, keanggunan dan segala pernik sopan santun yang rumit.

Sama dengan buku yang pertama. Buku ini indah dari awal hingga akhir. Penulis mengajak saya untuk membuka wawasan baru tentang kehidupan awal pernikahan yang penuh liku dan penuh kejutan. Untung saja ada kehangatan keluarga yang selalu siap sedia untuk saling mendukung dalam suka maupun duka.



Foto: pinjam pakai dari Google

Saturday, 6 July 2013

Review Buku F.L.U (Fallin’ Love with U) Adnan Buchori

review buku adnan buchori review buku falling love with you

Judul Buku : F.L.U (Fallin’ Love with U)
Penulis        : Adnan Buchori
Penerbit      : Sheila


Kumpulan cerpen yang menyegarkan. Meski ceritanya tentang cinta namun tidak klise, serta mempunyai ending yang susah untuk ditebak. Ini yang membuat saya membaca buku ini dnegan cepat. Alur ceritanya pas. Gaya bertutur penulis membuat saya nyaman untuk membaca buku ini.

Ada berbagai kisah menarik dalam buku ini. Vivie seorang ELF no 1 SUJU yang pontang panting demi idolanya. Randu yang ngambek. Djodi yang malu hati. Aldi yang beromantis ria di gerbong kereta api. Wina pecinta ramalan zodiak yang harus gembira karena ramalan zodiaknya tidak cocok. Lho! kok malah gembira sih? Aih... seru cerpen-cerpen dalam buku ini. Tak akan membosankan dari awal hingga akhir.

Meski kumpulan cerpen dalam buku ini banyak yang sudah pernah diterbitkan. Namun seorang Adnan Buchori dengan jeli merombak dan menyesuaikan dengan kehidupan remaja saat ini.


Foto by Ugik Madyo