Wednesday, 9 March 2011

Review Buku Metropolis: Kebenaran di Metropolis, antara Ada dan Tiada

review buku metropolis buku windry ramadhinaJudul : Metropolis
Pengarang : Windry Ramadhina
Editor : Mira Rainayati
Penerbit : PT Grasindo
Status : Cetakan 1 2009
Grade : 4,5 bintang

Agusta Bram (Bram) seorang polisi bersih bekerja keras untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai para pemimpin sindikat 12. Mereka adalah penguasa pasar narkoba di Jakarta Raya. Bram bekerja sama dengan Erik, seorang polwan handal sebagai asistennya. Dua orang cerdas dan berpengalaman bekerja keras menguraikan kasus ini.

Mereka bukan saja menghadapi penjahat tapi juga kalangan polisi yang bermental penjahat, bahkan juga atasannya sendiri, Burhan. Untung saja bekas atasannya yang telah pensiun, AJUN Komisaris Besar Polisi Moris Greand, memberikan bantuan penuh untuk kasus ini.

Bram sebagai tokoh utama dalam buku ini dideskripsikan secara manusiawi. Segala kelebihan dan kekurangannya berjalan seimbang. Suatu waktu dia adalah hero tanpa cela, sementara di waktu lain Bram tak ubahnya anak nakal yang berusaha mengakali peraturan. Tapi tetap saja dia punya keteguhan hati untuk menjadi polisi yang bersih. Saya tergelak ketika dia menjahili rekan kerjanya yang korup. Acungan jempol untuk penulis yang berani mengangkat sisi gelap dunia kepolisian.

Saya ngeri membayangkan bila cerita dalam buku ini menjadi kenyataan. Apa yang terjadi kalau kepala satserse narkotika adalah big bos di dunia mafia narkoba, yang paling disegani. Jangan kaget kalau anda akan menahan napas berkali-kali ketika Bram harus beradu cerdik dengan atasannya sendiri. Dimana Burhan selalu menggunakan banyak cara untuk menghalang-halangi penyelidikannya.

Momen yang paling berkesan dalam buku ini, ketika Erik meninggal dan Bram tidak bisa menolong. Padahal dia sudah berada dekat dengan Erik, tapi terlambat untuk menyelamatkannya. Rasa kehilangan Bram diterjemahkan dengan mendalam dan menyesap di hati. Pada bagian ini emosi saya bercampur aduk. Antara sedih dan marah yang larut begitu saja. Apalagi waktu tahu siapa yang menyarangkan 6 tembakan di tubuh Erik. Rasanya, saya ingin melempar parang langsung ke lehernya.

Untung saja penulis pandai menetralisir keadaan dan memunculkan sisi rasionalitas Bram. Saya jadi lebih puas dengan cara Bram mengeksekusi pembunuh Erik dan juga para pembunuh sindikat 12. Well… sudah saatnya setiap nyawa yang hilang dibalas juga dengan nyawa. Bila penghilangan nyawa itu dilakukan demi ketamakkan dan kekuasaan materi semata.

Mengikuti perjalanan Bram dan Erik menelusuri fakta demi fakta begitu mengasyikkan. Saya suka gaya penceritaan penulis yang lancar dengan kecepatan konstan. Kadangkala berhenti pada tikungan tajam yang menegangkan.

Banyak kejutan selama dalam perjalanan. Tokoh-tokoh dengan karakter unik dan pencitraan abu-abu bermunculan silih berganti. Selama dalam perjalanan menyusuri buku ini, sulit bagi saya berbagi konsentrasi. Berbagai teka teki bertebaran hampir disetiap bab. Saya terpaku untuk terus menelusuri huruf demi huruf, kuatir ada fakta -yang kelihatannya- remeh, yang mungkin saja terlewatkan. Selayaknya sebuah buku thriller, setiap fakta adalah bagian dari cerita. Saya tak ingin ada bagian yang hilang itu mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini.


Foto: pinjam pakai dari mbah Google


Dongeng Pernikahan yang Mengayakan Hati

Judul : Dongeng Semusim

Penulis : Sefryana Khairil

Editor : Rayina, Christian Simamora & Gita Romadhona

Penerbit : GagasMedia

Cetakan : pertama, 2009

ISBN : 979-780-369-4


Tak selamanya pernikahan bertaburkan bunga-bunga indah dan manisnya madu. Pertemuan dua insan yang berbeda dalam segala hal -pun sebelumnya sudah pacaran bertahun-tahun- tetap saja akan menimbulkan percikan, yang mungkin berpotensi untuk menjadi nyala api besar. Suatu proses alami yang biasa sebenarnya. Penyatuan dua jiwa dalam sebuah proses yang berlangsung dalam sebuah ikatan pernikahan. Hanya saja, jika salah satu atau kedua suami istri tidak siap menjalankan proses ini. Maka keguncangan jiwa yang terjadi. Meski pada awal pernikahan suami istri mempunya visi dan konsep yang sama, kadang kala bisa berubah seiring perjalanan waktu.

Hal ini lah yang dituliskan dengan cantik oleh penulis dalam buku ini. Kita dibawa masuk ke ruang pernikahan Sarah dan Nabil. Dua sejoli yang saling jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah. Meski cukup banyak konflik yang mewarnai perjalanan mereka ketika memutuskan untuk menikah, akhirnya bisa menikah meski tanda didampingi Papanya Sarah. Awal pernikahan berjalan dengan mulus hingga lima bulan setelahnya, ketika Sarah dinyatakan positif hamil. Nabil shock. Dalam konsep Nabil, pernikahan adalah dia dan Sarah saja. Anak dianggap sebagai pengganggu dalam hubungan mereka berdua dan juga konsentrasi Nabil sebagai pekerja kreatif. Sayang, hal ini tidak pernah dikatakan dengan jujur pada Sarah. Sedangkan Sarah menginginkan sekali segera punya anak setelah menikah.

Konflik berkepanjangan pun dimulai. Penulis memberikan efek kejut pada bagian ini. Setelah kita menikmati cerita manis cinta mereka berdua, lalu kita diajak berurai air mata menemani perjalanan Sarah seorang diri. Pada 3 bulan awal kehamilan, Sarah harus berjuang dengan ektra keras. Bertarung melawan morning sick dan juga ‘kedinginan’ Nabil yang semakin hari semakin menjadi. Sarah selalu menguatkan diri ditengah badai rumah tangga dan proses pencarian jati diri sebagai seorang muslim. Penulis mendeskripsikan bagian ini dengan menawan. Sarah ditampilkan sebagai sosok yang manusiawi, seorang wanita yang dibalut dengan ketegaran sekaligus berselaput lara dan air mata.

Untunglah penulis menutup kisah ini dengan manis. Sarah dan Nabil akhirnya bersatu kembali ketika Sarah mengalami keguguran. Meski pada mulanya, Nabil harus berjuang keras agar Sarah bisa menerima dirinya kembali. Istri istimewa yang sejak awal sebenarnya sangat mencintai Nabil, memutuskan untuk memberi suaminya kesempatan ke dua.

Dalam buku ini, penulis mampu bertutur dengan lancar dan kecepatan yang konstan. Apalagi banyak bertaburan menu-menu makanan yang bikin saya menyesap liur. Sarah yang diceritakan sebagai redaktur di majalah boga, gemar membuat resep baru dan mencicipi makanan. Selain itu Sarah juga gemar memasak. Proses pembuatan masakan dan rasa masakan yang dia coba diceritakan dengan detail. Sungguh mengasyikkan membaca buku ini, meski perut saya jadi kriuk-kriuk riuh.

Cover buku ini menarik. Pilihan warna yang tak biasa, juga design cover menjadikan buku ini unik. Hanya sayang, pilihan warna cover dan tulisan judul tidak ‘menonjok’ mata. Hal ini saya rasakan ketika mencari buku ini diantara deretan buku yang disusun meninggi di lantai. Dimana mata langsung memandang ke bawah dengan posisi horizontal strategis. Dibandingkan cover disekitarnya dengan warna dan ilustrasi semarak. Buku ini ‘tenggelam’.

Ketika membaca buku ini, ada pertanyaan yang masih bergelayut dalam benak saya. Ada sebuah fakta kecil yang cukup menggelitik sensor baca saya. Sepulang Sarah dari rumah sakit setelah keguguran, beberapa kali dia sedang sholat dan membaca Al-Qur’an (hal 226 paragraf 1). Saya anggap janggal karena bila dilihat dari setting peristiwa. Seharusnya Sarah dalam kondisi nifas, yang tidak membolehkan seorang wanita untuk sholat dan membaca Al-Qur’an.

Meskipun begitu, buku ini mengungkapkan cerita pernikahan dari sisi yang tak biasa. Yang membuat saya merenung, bahwa siap tidak siap akan selalu ada konflik dalam pernikahan. Siap tidak siap akan ada banyak perubahan yang terjadi dalam proses berumah tangga. Siap tidak siap ada rangkaian kompromi dan toleransi. Siap tidak siap kita akan menghadapi berjuta peristiwa yang menuntut keikhlasan untuk memaafkan dan mencintai. Siap tidak siap, apapun yang terjadi selalu ada bahagia dan lara yang akan mengiringi sepanjang perjalanan pernikahan. Setiap pernikahan layak untuk diperjuangkan untuk dipertahankan bukan semata karena cinta tapi atas nama komitmen.