Friday, 21 January 2011

Review Buku Jejak Mawar Hilang

buku linda herliantina utomo buku jejak mawar hilang buku anak
Judul : Jejak Mawar Hilang
Penulis : Linda Herliantina Utomo
Penyunting : Dadan Ramadhan & hendra W.
Penerbit : Dar! Mizan
Cetakan : 1, Februari 2010


Aryo, Jalu, Dul dan Iqbal adalah empat sekawan yang gemar bertualang menjadi detektif cilik. Sewaktu libur sekolah, Iqbal diundang Paman Jatomo datang ke rumahnya. Paman Jatomo mengijinkan Iqbal mengajak teman-temannya. Tentu saja, ketiga sahabat detektif cilik yang diajak Iqbal.

Mereka berempat yang tinggal di pesisir pantai pulau Jawa akan berlibur di lereng gunung. Mereka senang sekali dengan rencana liburan ini. Apalagi Bibi Ruspita pandai memasak. Mereka dijamu dengan aneka makanan lezat menggugah selera. Dul yang gemar makan, semakin kerasan saja tinggal di rumah Paman Jatomo.

Mereka dikejutkan dengan berita koran setempat, yang memuat tentang penculikan. Hal ini menarik perhatian empat sekawan itu. Mereka mulai menyelidiki tentang hilangnya seorang anak dari Padepokan Silat. Penelusuran petunjuk mengarah ke Lembah Ilalang. Empat detektif memutuskan untuk pergi ke Lembah Ilalang untuk memulai penyelidikan.

Ternyata penyelidikan ini tidak berjalan lancar. Salah seorang anggota empat detektif hilang. Dul yang hilang membuat panik ketiganya dan juga Pak Samin. Seorang penunjuk arah yang mereka sewa untuk mengantar ke Lembah Ilalang.
Meski sempat panik dan cemas akan keselamatan temannya, untung mereka berhasil menemukan Dul. Bahkan bersamaan dengan diketemukannya Mawar, anak dari Padepokan Silat. Komplotan penculik juga bisa diringkus dengan bantuan Bapak-Bapak Polisi.


Mengikuti petualangan empat detektif ini mengasyikkan. Setting cerita yang detail membuat saya semangat mengikuti hingga akhir. Penulis juga memberikan tebakan setting lokasi cerita. Seperti misalnya tempat tinggal Paman Jatomo tidak disebutkan nama kotanya. Penulis hanya menyebutkan sebagai kota tempat lahirnya Jendral Sudirman. Menurut saya, buku ini akan lebih menarik jika lebih banyak lagi memaparkan trik-trik dan berbagai petunjuk ketika empat sekawan memecahkan kasus penculikan Mawar.

Foto: pinjam pakai dari Mbah Google


Review Buku 2 Little Detectives: Pencurian Naskah Kuno

buku ramsya buku 2 little detectives pencurian naskah kuno
Judul : 2 Little Detectives: Pencurian Naskah Kuno
Penulis : Ramsya (12 th)
Penyunting naskah : Ridwan Fauzy & Zulfairy
Ilustrasi sampul & isi : Moel’s
Penyunting ilutrasi : Iwan Yuswandi
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : 1, April 2010

Pertamakali saya melihat judul buku ini langsung tertarik. Seri Kecil-Kecil Punya Karya dengan tema yang berbeda dari biasanya. Sampulnya juga unik. Latar belakangnya sebuah bangunan kuno. Dua tokoh utama berdiri gagah.

Sedari awal sudah diperkenalkan dengan dua detektif cilik, Heidi dan Dio. Keduanya bersahabat dan kebetulan teman sekelas. Mereka sangat menyukai memecahkan masalah-masalah yang misterius disekitarnya. Bermula dari berita di koran tentang hilangnya kitab-kitab bersejarah penting dari museum. Salah satunya adalah Pujasastra ‘Negara Panglima’. Sebuah kitab kuno karangan Mpu Pracahya.

Heidi dan Dio memulai petualangan. Mereka mulai mengumpulkan petunjuk dengan datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dengan mengendap-endap mereka masuk museum dari pintu belakang. Di tengah pengintaian, mereka mendengar percakapan transaksi mencurigakan. Tapi sayang Dio bersin, sehingga mereka harus susah payah meninggalkan museum. Ternyata salah seorang dari pelaku transaksi itu mengetahui wajah Dio.

Semakin mendebarkan saja petualangan dua detektif cilik. Tak sengaja penelusuran mereka bersinggungan dengan Ayah Hari. Sosok Pak Arman ini cukup misterius. Beliau bekerja sebagai koki tapi selalu pulang malam dengan alasan yang aneh-aneh. Hari sendiri juga bingung dengan pekerjaan Ayahnya yang sering pulang malam. 

Penyelidikan bukan saja mendebarkan tapi juga mengkhawatirkan. Hari juga membantu dua detektif mengumpulkan fakta-fakta. Heidi dan Dio senang karena penyelidikan mulai ada titik terang. Sekaligus khawatir kalau Ayah Hari adalah anggota komplotan pencuri. Dua detektif tidak ingin melukai hati teman sekelasnya yang baik hati itu.

Dua detektif cilik akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan penyelidikan. Apapun hasil akhir nanti, penyelidikan harus dituntaskan. Setelah melalui jalan berliku, Heidi dan Dio berhasil memecahkan kasus pencurian naskah-naskah kuno. Mereka bisa tersenyum lega.

Tapi sayang. Setelah tuntas kasus ini, Dio harus pindah keluar kota. Heidi sedih kehilangan sahabatnya. Dia kuatir kalau tidak bisa melakukan aksi penyelidikan lagi. Untung Dio berjanji, untuk tetap menjadi dua detektif bersama Heidi. Mereka meski terpisah kota tapi jarak dua kota ini dekat.


Sungguh asyik menikmati buku ini. Ceritanya mengalir lancar dengan kecepatan konstan. Hebat. Ramsya dengan usia 12 tahun sudah mampu membuat cerita detektif yang menawan. Salut juga untuk illustrator yang menerjemahkan cerita dengan baik. Saya suka dengan rambut Dio yang mirip Go Kong tokoh kartun Dragon Ball. Keren. Buku yang sangat menarik untuk dibaca berulang-ulang.

Foto: pinjam pakai dari Mbah Google


Review Buku The twin Master: Kisah Pesulap Cilik

buku nunik utami buku the twin master kisah pesulap cilik
Judul : The twin Master: Kisah Pesulap Cilik.
Penulis : Nunik Utami
Penyunting naskah : Dadan Ramadhan & Dedew
Ilustrasi isi : Picupacu
Ilustrasi sampul : Nur Cililia
Penyunting ilustrasi : Iwan Y.

Selama ini, saya menganggap matematika sebagai sebuah pelajaran biasa di sekolah. Tapi di buku ini, penulis membuat matematika bisa sebagai permainan. Bahkan bisa sebagai trik sulap dengan mengandalkan kekuatan berhitung cepat.

Vani, seorang gadis yatim yang jago matematika. Dia sangat menyukai matematika dan sanggup menghitung dengan kecepatan luar biasa. Bermula dari perjumpaan tak sengaja dengan seorang pesulap di mall, Vani tertarik belajar sulap matematika. Tak disangka pesulap itu berkenan untuk mengajari Vani. Tentu dia girang bukan kepalang.

Dalam suatu lomba sulap, Vani unjuk kebolehan sulap matematika. Penonton menyukai. Yang membuat Vani lebih senang lagi, dia lolos babak penyisihan dan berhak ikut babak selanjutnya.

Di balik kebahagiaan Vani berduka. Dia tahu kalau ternyata anak tiri. Dia mempunyai saudara kembar pria bernama Alvino. Selama ini Vani sangat sayang pada Ibunya, begitupun dengan Ibu. Vani bingung dengan kondisi tersebut. Dia sangat sayang pada sang Ibu. Tapi dia juga ingin mencari Ibu dan saudara kandungnya. Vani akhirnya memutuskan untuk konsentrasi di lomba sulap yang sudah mencapai babak final. 

Meski banyak penonton yang menyukai permainan sulap matematika. Tapi Vani tidak menjadi juara 1. Tentu saja hatinya sedih. Namun, sejenak kemudian dia berubah jadi sangat gembira. Vani menemukan Mama dan kakak kandungnya diajang lomba sulap itu. Ternyata kakaknya begitu dekat dengannya. Tapi Vani sama sekali tidak menyadarinya. Vani bahagia sekali.

Buku ini tidak saja menampilkan cerita dan ilustrasi yang menawan. Penulis berbaik hati memberikan berbagai rahasia sulap matematika yang dibawakan oleh Vani. Rahasia lengkap dengan contoh-contoh sederhana yang mudah diterapkan. Pembaca bisa mencoba bermain sulap matematika setelah membaca buku ini. Selamat membaca dan juga selamat bermain sulap.



Foto: pinjam pakai dari Google


Pohon Bakpao


Setiap kali saya mendongeng berusaha menggunakan komunikasi dua arah dengan anak-anak. Selain untuk memancing dan melatih anak berkomunikasi, juga mengembangkan imajinasi mereka. Saya biasanya menggunakan metode setengah kalimat. Saya bercerita lalu sengaja saya penggal agar anak-anak melanjutkan kalimat saya.


Bila menggunakan metode ini acara mendongeng menjadi seru. Anak-anak bergembira karena idenya digunakan. Sementara saya deg-degan menebak arah cerita. Seringkali cerita melenceng ke arah yang tidak terkira. Salah satunya, seperti kisah berikut ini:

Saya (S): Domba, Kucing dan Kelinci akhirnya pergi ke...(menunggu anak-anak yang sibuk berfikir).
Anak 1 (A1): Hutan...
S : "Mereka ke hutan untuk mencari..."
A2 : "Paman Gober."
A1 : "Bukan. Baling-baling bambu."
A3 : "Nasi pecel. Mereka kan laper belum sarapan."
A4 : "Susu. Biar kuat jalan-jalannya."
S : hem... "Ya...ya...ok. Udah nih? Hanya itu saja?"
Anak-anak(AA): "Udah..."
S : "Setelah mereka ketemu dengan Paman Gober, baling-baling bambu, nasi pecel dan susu lalu mereka berhenti sebentar di..." Saya mengerling ke arah anak-anak.
A3 : "Bawah pohon" (berteriak kencang.) Anak-anak lain manggut-manggut setuju.
S : "Mereka berhenti sebentar di bawah pohon karena capek dan lapar. Untung saja ada..." (Anak-anak terdiam). Saya berpikir akan ada yang menyebut nasi pecel atau susu. Ternyata... saya salah besar.
A2 : "Pohon bakpao hehe."
S : "Di hutan ada pohon bakpao, ya?" Saya pasang wajah pura-pura heran.
A2 : "Ada. Nih, buahnya lebaat... sekali..." Sambil berbicara anak 2 mendekat kearah saya. Dia mencubit pipi saya, lalu pura-pura makan dengan mulut penuh.
AA : "Aku mau... aku mau..." Sekitar 10 anak menyerbu saya. Mereka 'memetik' kedua pipi ini dan 'memakannya' dengan lahap.
S : Speechless. Cengar-cengir dengan pipi memerah. Sementara Bapak Ibu mereka melihat sambil senyum simpul, ada juga yang berusaha menahan tawa.

Kegiatan mendongeng berhenti sementara, diganti dengan panen bakpao bersama. Hedeeew. Ngimpi apa aku semalam hihihi.

Tuesday, 11 January 2011

Review Buku Satin Merah, Aku ingin Menjadi Signifikan

buku brahmanto anindito buku satin merahJudul : Satin Merah
Penulis : Brahmanto Anindito & Rie Yanti
Penerbit : Gagas Media 2010

Buku yang bikin panas dingin. Hari pertama saya baca buku ini menjelang tidur. Mimpi buruk didatangi Nadya yang membawa asbak helm. Selanjutnya, saya hanya berani baca siang hari.

Unsur Psikologis

Buku ini saya sebut buku pintar. Berisi tentang pembunuhan, sastra Sunda, pelajaran menulis dan psikologis, yang diramu menjadi satu kesatuan. Unsur psikologis banyak mendominasi dalam berbagai sisi.

Saya salut pada penulis yang menampilkan sisi psikologis Nadya dengan detail. Jujur saya ngeri membayangkan sosok Nadya. Seorang anak yang haus pengakuan dari orang tua dan orang-orang disekitarnya, bisa menjadi pembunuh berdarah dingin. Suatu hal yang wajar adanya. Mungkin juga terjadi di dunia nyata.

Buku ini bisa menjadi 'cermin' untuk orang tua dan juga anak yang mempunyai pengalaman sama dengan Nadya. Semoga tidak ada Nadya-Nadya baru dikehidupan nyata.

Permainan Emosi

Pada bagian awal, saya sudah disuguhi penemuan dua mayat di sebuah rumah. Untunglah, setting berpindah di sebuah sekolah SMA, lengkap dengan pernak pernik dunia remaja. Selesai sudah spot jantung di awal buku ini.

Namun sayang, tidak lama saya malah digiring ke cerita yang lebih mencekam. Pembunuhan yang dilakukan seorang remaja belia. Yang membuat saya geleng-geleng, anak itu tidak hanya membunuh satu orang.

Perasaan ngeri, gemas, penasaran dan kasihan bergulat jadi satu. Perasaan penasaran menang dalam pergulatan kali ini. Saya pun meminta ketiga perasaan lain untuk minggir. Penasaran saya kemudian memunculkan kekaguman. Kedua penulis konsisten membangun alur cerita dengan kecepatan yang konstan dari awal hingga akhir.

Pada awalnya saya benci dengan tokoh Nadya. Namun, perasaan itu langsung sirna di akhir cerita. Email Nadya yang dibuat khusus untuk Alfi tak urung membuat saya menahan haru. Nadya ternyata menyayangi adiknya dan tetap ingin menjaganya meski sudah meninggal dunia.

Pertanyaan

Bangunan cerita tertata dengan rapi perlahan-lahan dengan pasti. Trik putus nyambung bisa saya ikuti dengan nyaman. Meski ada pertanyaan dibenak saya. Bagaimana tokoh Didi dan Nining meninggal? Penulis hanya menjelaskan secara tersamar. Menurut saya, justru pada dua peristiwa itu penulis bisa mengumbar trik pembunuhan yang menawan.

Meski begitu, buku ini adalah buku favorit saya setelah metropolis. Semoga semakin banyak penulis-penulis Indonesia yang bergerak di genre ini.


Foto: pinjam pakai dari Google