Saturday, 31 December 2011

Mempopulerkan Khasanah Lokal untuk Meningkatkan Pendapatan


batik jawa timur
Aneka batik Jawa Timur

Mungkin suatu hal yang mudah jika melakukan pengandaian. Namun apa gunanya jika berandai-andai tapi tak bisa melakukannya. Kali ini saya akan berandai-andai yang realistis saja.

Mengangkat Khasanah Lokal

Indonesia kaya akan berbagai ‘harta‘ lokal. Daerah wisata, kuliner, kerajinan, dan juga budaya. Obyek wisata maupun aneka budaya sudah bisa kita lihat keragamannya. Untuk kuliner khas daerah dan juga kerajinan tangan masih belum terekspos dengan merata.

Salah satu hasil kerajinan tangan Indonesia sangat terkenal adalah batik. Bahkan sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Hanya saja selama ini kata batik selalu identik dengan Jawa Tengah. Padahal di wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat tersebar berbagai motif batik yang tidak kalah cantiknya.

Aneka batik Jawa Timur antara lain, batik Madura, batik Pasuruan, batik Malang, batik Surabaya, batik Banyuwangi, batik Lamongan, batik Tuban, batik Tulungagung, dan batik Pacitan. Setiap batik mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti misalnya, Batik Madura dominan dengan warna merah. Batik Lamongan dan Tuban menggunakan warna-warna cerah, seperti kuning, merah, hijau, dan pink. Sedangkan batik Banyuwangi merupakan perbaduan antara batik Madura dan batik Bali dengan motif abstrak. Begitu juga dengan batik dari Jawa Barat, ada motif Cirebonan, Banten, Sukabumi, Tasikmalaya.

Khasanah lokal ini banyak yang belum digali dengan cermat. Banyak motif batik tersebut yang belum mempunyai sertifikat hak cipta. Para pengrajin tidak menyadari akan pentingnya hak cipta. Sudah selayaknya aneka batik ini menjadi primadona di negeri sendiri dan meningkatkan pendapatan para perajinnya.

Peningkatan Ekonomi Usaha Kecil

Negeri kita juga mempunyai aneka kuliner khas disetiap daerah. Sayangnya berbagai makanan ini tidak ditangani dengan serius pemasarannya. Sebagai contoh, makanan ringan alen-alen dan kripik tempe khas Trenggalek. Ada tiga tempat sentra makanan ini, yaitu di kawasan Kedung Lurah, Nggantru, dan Nggandusari. Untuk masalah rasa sudah enak dan bervariatif. Ada alen-alen kecil dan besar. Selain berwarna kuning, juga ada alen-alen berwarna putih dan hijau. Begitu juga dengan kripik tempe, sudah ada rasa bawang dan penambahan irisan daun jeruk purut.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah kemasan. Para penjual kripik tempe khas Trenggalek masih membungkus dengan besek (keranjang dari bilah bambu) atau kardus tipis biasa, yang sering dijual bebas untuk tempat makanan. Meski ada beberapa yang sudah dicetak dengan mencantumkan nama toko.

Hal ini membuat para pembeli ynag membawa pulang oleh-oleh dengan naik kendaraan umum bis, kereta api atau pesawat was-was. Mereka khawatir kalau kripik tempenya hancur tertimpa barang-barang yang lain. Jika dikemas menggunakan karton tebal atau jalinan bambu yang lebih tebal. Tentu akan menambah nilai plus. Jika kemasan bagus dan kuat akan menambah peluang untuk menambah pembeli. Keripik tempe Trenggalek juga bisa dikirim melalui paket ke seluruh penjuru Indonesia. Secara otomatis juga bisa meningkatkan penghasiln pedagang makanan khas tersebut.

Ini adalah salah satu cara sederhana untuk meningkatkan usaha kecil masyarakat. Bukankah semasa krisis moneter justru usaha kecil dan menengah yang bisa bertahan. Masyarakat pedesaan bila mempunyai taraf kehidupan yang baik, mereka tidak perlu lagi harus ke kota untuk mencari pekerjaan. Bahkan mereka bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar.

Foto: pinjam pakai dari https://www.google.co.id/

Tuesday, 29 November 2011

Will You Marry Me?

Selama ini saya mempunyai kebiasaan untuk memeluk dan mencium murid-murid les saya. Biasanya saya lakukan ketika pertama kali datang dan pulang. Saya juga biasa memeluk atau mencium, sebagai hadiah untuk prestasi mereka.

Suatu hari, salah seorang murid saya, Dean (4 tahun) cerita kalau mendapatkan 2 bintang dari sekolahnya. Dia berhasil menyelesaikan soal hitungan tanpa salah. Saya memberikan hadiah berupa pelukan dan mencium keningnya. Tiba-tiba dia melepaskan pelukan saya.

Dean (D): "Miss, kenapa sih selalu peluk dan cium aku?"
Saya (S): "Karena saya sayang sama Dean."
D : "Really?"
S : "Yes. I love you."
D : "Hmm... I love you too." Dean berucap sambil tersenyum lalu mencium pipi saya. Lalu dia turun dari kursi belajarnya, meraih tangan kiri saya lalu berlutut dengan kedua lutut menempel di lantai. "Miss, will you marry me?"
S : ..... (hening). Saya melihat dia dengan 'blank'. Seluruh kosakata yang selama ini bertumpuk di kepala tiba-tiba pergi semua entah kemana.

Mak... aku dilamar bule ganteng.
Tuing... melayang tinggi.
Umur 4 tahun. Gubraks!
Maafkan ganteng, saya tidak sabar menunggumu 20 tahun lagi hehe...

Well... tenang Ugik... tenang... Saya mengajak Dean bicara. Ternyata oh ternyata. Dean pernah bertanya kenapa papa dan mamanya suka memeluk dan mencium (orang tuanya memang terbiasa saling mencium dan memeluk di depan anak-anak) Dean diberi tahu mamanya karena papa dan mama saling mencintai. Mereka saling mencintai, lalu keduanya pun menikah.

Jadi dalam persepsi Dean, kalau dua orang saling memeluk dan mencium artinya mereka saling mencintai lalu menikah. Jangan tanya saya darimana dia tahu soal 'posisi' melamar itu. Akhirnya saya menjelaskan panjang lebar tentang kesalah pahaman ini. Tentu dengan melibatkan Mamanya. Namun, yang pasti, semenjak saat itu, saya jadi bahan ledekan Mama Dean dan susternya.

Friday, 20 May 2011

Apakah Sudah Saatnya?

Kebetulan hari ini, saya diberi kesempatan untuk tidur seharian. Kalau hanya tidur terus, capek lah. Badan akan sakit semua.

Enaknya ngapain ya? Tangan grepe-grepe ke laptop. Sambil tiduran saya bersih-bersih folder. Akhirnya saya bertemu dengan folder mimpi.

Sebuah folder tentang mimpi-mimpi saya. Penelusuran pun dimulai. Senyum-senyum sendiri membaca mimpi-mimpi saya dahulu. Ada yang seru. Banyak juga yang konyol.

Reuni teman-teman SD di depan sekolah kita, sambil jajan pentol merah pedes. Sudah.

Ke Banyuwangi naik kereta ekonomi duduk di pinggir pintu. Sudah.

Punya satu lemari yang isinya buku semua. Sudah.

Saya tandai mimpi-mimpi yang sudah terlaksana. Saya telusuri dengan teliti satu persatu. Saya bongkar semua kenangan.

Backpacker naik kereta ekonomi. Sudah.

Bekerja di dunia buku. Sudah.

Ngincipi merantau dan jadi anak kos. Sudah.


Mandi jam 6 pagi pake air dingin Bandung. Sudah.

Bikin buku anak. Sudah.

Bikin picbook. Sudah

Saya tandai semua mimpi demi mimpi. Ketika sampai di akhir huruf, baru sadar. Ternyata mimpi-mimpi saya sudah terwujud semua. Bahkan, mimpi terakhir saya di tahun 2011 sudah terkabulkan awal mei.

Cukup lama saya terdiam.

Ok, Ugik. Kamu sekarang ingin apa lagi?

Kembali saya terdiam. Cukup lama pertanyaan ini tanpa jawaban.

Apalagi ya? Saya usik sisi seorang Ugik. Saya bangkitkan lagi ambisi keakuan. Diam. Hening. Tak ada gelegak 'aku ingin ini' atau 'aku harus begitu'. Tenang. Tak ada gemuruh rasa yang biasanya menjulang tinggi.


Saya kembali terdiam. Hmm...

Apakah ini sudah saatnya?

Saya kembali terdiam.

Teringat akan doa beberapa tahun silam. Saya ingin menikah jika ambisi 'aku' sudah berkurang. Sisi aku sudah tidak mendominasi lagi. Saya tak ingin ada benturan dalam pernikahan yang disebabkan ambisi 'aku'. Ambisi seorang Ugik yang biasanya gila-gilaan. Saya bertanya dalam diam.


Mungkinkah, sudah saatnya?

Saat untuk mempersilahkan seseorang berada disamping saya.

Saat untuk mengijinkan seseorang menelisik semua ruang hati.

Saat untuk membagi lelah dan tawa.

Saat untuk membiarkan tangan saya dalam genggaman seorang lelaki.


Mungkinkah?

Apakah sudah saatnya?

Untuk

Menikah.

Wednesday, 27 April 2011

Mimpi yang Terkabul

Suatu pagi saya sedang membaca naskah di dekat jendela. Pagi itu langit cerah. Semilir angin dingin menerobos jendela. Deretan gunung Manglayang nampak gagah di kejauhan. Saya tercenung. Sepertinya tidak asing dengan suasana ini.

Saya bongkar lembaran file kenangan, berusaha keras mengingat kembali. Ceklik! Yaah... saya ingat sekarang. Di tahun 2005, puncak kejenuhan saya bekerja di kantor. Suatu pagi, baru satu jam handle customer, mood sudah terjun bebas. Saya memilih untuk menepi sebentar ke pantry. Setelah membuat teh manis hangat, saya menikmatinya sambil menatap ke arah jendela besar. Kebetulan langit sedang cerah, tampak deretan gunung berdiri dengan anggunnya. Saya tak tahu apa nama gunung itu.

Tak sengaja tercetus sebuah mimpi. Suatu saat nanti, saya ingin bekerja di depan jendela, sambil menikmati deretan gunung dan sawah. Tentu saja bekerja yang berkaitan dengan buku, bidang yang sangat saya sukai. Saya masih menikmati secangkir teh hingga tandas dengan wajah ceria. Senyum hadir silih berganti. Seakan, baru mendapat suntikan semangat dosis tinggi.

Semenjak hari itu, saya membulatkan tekad untuk terjun ke dunia menulis secara profesional. Saya juga semakin giat membaca buku apa saja. Meski orang tua tak mengijinkan saya untuk berhenti bekerja, saya tidak peduli. Saat matahari bersinar, saya bekerja di kantor. Begitu malam menjelang, saya asyik dengan dunia menulis. Setiap ada kesempatan memperluas jejaring baik ke penulis senior maupun yunior, menebar 'pesona' ke berbagai milist penulis, belajar menulis berbagai genre, berburu lomba, mencari klien, dan banyak lagi. Keyakinan saya hanya satu. Setiap impian harus diperjuangkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.

Hmm...setiap kali saya melihat ke jendela dengan naskah di tangan, berjuta syukur terselip dari bibir ini. Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan, sudah Kau kabulkan mimpiku. 6 tahun ternyata tak lama. Bodoh sekali. Ternyata, saya baru menyadari hadiah seindah ini.

Wednesday, 9 March 2011

Review Buku Metropolis: Kebenaran di Metropolis, antara Ada dan Tiada

review buku metropolis buku windry ramadhinaJudul : Metropolis
Pengarang : Windry Ramadhina
Editor : Mira Rainayati
Penerbit : PT Grasindo
Status : Cetakan 1 2009
Grade : 4,5 bintang

Agusta Bram (Bram) seorang polisi bersih bekerja keras untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai para pemimpin sindikat 12. Mereka adalah penguasa pasar narkoba di Jakarta Raya. Bram bekerja sama dengan Erik, seorang polwan handal sebagai asistennya. Dua orang cerdas dan berpengalaman bekerja keras menguraikan kasus ini.

Mereka bukan saja menghadapi penjahat tapi juga kalangan polisi yang bermental penjahat, bahkan juga atasannya sendiri, Burhan. Untung saja bekas atasannya yang telah pensiun, AJUN Komisaris Besar Polisi Moris Greand, memberikan bantuan penuh untuk kasus ini.

Bram sebagai tokoh utama dalam buku ini dideskripsikan secara manusiawi. Segala kelebihan dan kekurangannya berjalan seimbang. Suatu waktu dia adalah hero tanpa cela, sementara di waktu lain Bram tak ubahnya anak nakal yang berusaha mengakali peraturan. Tapi tetap saja dia punya keteguhan hati untuk menjadi polisi yang bersih. Saya tergelak ketika dia menjahili rekan kerjanya yang korup. Acungan jempol untuk penulis yang berani mengangkat sisi gelap dunia kepolisian.

Saya ngeri membayangkan bila cerita dalam buku ini menjadi kenyataan. Apa yang terjadi kalau kepala satserse narkotika adalah big bos di dunia mafia narkoba, yang paling disegani. Jangan kaget kalau anda akan menahan napas berkali-kali ketika Bram harus beradu cerdik dengan atasannya sendiri. Dimana Burhan selalu menggunakan banyak cara untuk menghalang-halangi penyelidikannya.

Momen yang paling berkesan dalam buku ini, ketika Erik meninggal dan Bram tidak bisa menolong. Padahal dia sudah berada dekat dengan Erik, tapi terlambat untuk menyelamatkannya. Rasa kehilangan Bram diterjemahkan dengan mendalam dan menyesap di hati. Pada bagian ini emosi saya bercampur aduk. Antara sedih dan marah yang larut begitu saja. Apalagi waktu tahu siapa yang menyarangkan 6 tembakan di tubuh Erik. Rasanya, saya ingin melempar parang langsung ke lehernya.

Untung saja penulis pandai menetralisir keadaan dan memunculkan sisi rasionalitas Bram. Saya jadi lebih puas dengan cara Bram mengeksekusi pembunuh Erik dan juga para pembunuh sindikat 12. Well… sudah saatnya setiap nyawa yang hilang dibalas juga dengan nyawa. Bila penghilangan nyawa itu dilakukan demi ketamakkan dan kekuasaan materi semata.

Mengikuti perjalanan Bram dan Erik menelusuri fakta demi fakta begitu mengasyikkan. Saya suka gaya penceritaan penulis yang lancar dengan kecepatan konstan. Kadangkala berhenti pada tikungan tajam yang menegangkan.

Banyak kejutan selama dalam perjalanan. Tokoh-tokoh dengan karakter unik dan pencitraan abu-abu bermunculan silih berganti. Selama dalam perjalanan menyusuri buku ini, sulit bagi saya berbagi konsentrasi. Berbagai teka teki bertebaran hampir disetiap bab. Saya terpaku untuk terus menelusuri huruf demi huruf, kuatir ada fakta -yang kelihatannya- remeh, yang mungkin saja terlewatkan. Selayaknya sebuah buku thriller, setiap fakta adalah bagian dari cerita. Saya tak ingin ada bagian yang hilang itu mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini.


Foto: pinjam pakai dari mbah Google


Dongeng Pernikahan yang Mengayakan Hati

Judul : Dongeng Semusim

Penulis : Sefryana Khairil

Editor : Rayina, Christian Simamora & Gita Romadhona

Penerbit : GagasMedia

Cetakan : pertama, 2009

ISBN : 979-780-369-4


Tak selamanya pernikahan bertaburkan bunga-bunga indah dan manisnya madu. Pertemuan dua insan yang berbeda dalam segala hal -pun sebelumnya sudah pacaran bertahun-tahun- tetap saja akan menimbulkan percikan, yang mungkin berpotensi untuk menjadi nyala api besar. Suatu proses alami yang biasa sebenarnya. Penyatuan dua jiwa dalam sebuah proses yang berlangsung dalam sebuah ikatan pernikahan. Hanya saja, jika salah satu atau kedua suami istri tidak siap menjalankan proses ini. Maka keguncangan jiwa yang terjadi. Meski pada awal pernikahan suami istri mempunya visi dan konsep yang sama, kadang kala bisa berubah seiring perjalanan waktu.

Hal ini lah yang dituliskan dengan cantik oleh penulis dalam buku ini. Kita dibawa masuk ke ruang pernikahan Sarah dan Nabil. Dua sejoli yang saling jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah. Meski cukup banyak konflik yang mewarnai perjalanan mereka ketika memutuskan untuk menikah, akhirnya bisa menikah meski tanda didampingi Papanya Sarah. Awal pernikahan berjalan dengan mulus hingga lima bulan setelahnya, ketika Sarah dinyatakan positif hamil. Nabil shock. Dalam konsep Nabil, pernikahan adalah dia dan Sarah saja. Anak dianggap sebagai pengganggu dalam hubungan mereka berdua dan juga konsentrasi Nabil sebagai pekerja kreatif. Sayang, hal ini tidak pernah dikatakan dengan jujur pada Sarah. Sedangkan Sarah menginginkan sekali segera punya anak setelah menikah.

Konflik berkepanjangan pun dimulai. Penulis memberikan efek kejut pada bagian ini. Setelah kita menikmati cerita manis cinta mereka berdua, lalu kita diajak berurai air mata menemani perjalanan Sarah seorang diri. Pada 3 bulan awal kehamilan, Sarah harus berjuang dengan ektra keras. Bertarung melawan morning sick dan juga ‘kedinginan’ Nabil yang semakin hari semakin menjadi. Sarah selalu menguatkan diri ditengah badai rumah tangga dan proses pencarian jati diri sebagai seorang muslim. Penulis mendeskripsikan bagian ini dengan menawan. Sarah ditampilkan sebagai sosok yang manusiawi, seorang wanita yang dibalut dengan ketegaran sekaligus berselaput lara dan air mata.

Untunglah penulis menutup kisah ini dengan manis. Sarah dan Nabil akhirnya bersatu kembali ketika Sarah mengalami keguguran. Meski pada mulanya, Nabil harus berjuang keras agar Sarah bisa menerima dirinya kembali. Istri istimewa yang sejak awal sebenarnya sangat mencintai Nabil, memutuskan untuk memberi suaminya kesempatan ke dua.

Dalam buku ini, penulis mampu bertutur dengan lancar dan kecepatan yang konstan. Apalagi banyak bertaburan menu-menu makanan yang bikin saya menyesap liur. Sarah yang diceritakan sebagai redaktur di majalah boga, gemar membuat resep baru dan mencicipi makanan. Selain itu Sarah juga gemar memasak. Proses pembuatan masakan dan rasa masakan yang dia coba diceritakan dengan detail. Sungguh mengasyikkan membaca buku ini, meski perut saya jadi kriuk-kriuk riuh.

Cover buku ini menarik. Pilihan warna yang tak biasa, juga design cover menjadikan buku ini unik. Hanya sayang, pilihan warna cover dan tulisan judul tidak ‘menonjok’ mata. Hal ini saya rasakan ketika mencari buku ini diantara deretan buku yang disusun meninggi di lantai. Dimana mata langsung memandang ke bawah dengan posisi horizontal strategis. Dibandingkan cover disekitarnya dengan warna dan ilustrasi semarak. Buku ini ‘tenggelam’.

Ketika membaca buku ini, ada pertanyaan yang masih bergelayut dalam benak saya. Ada sebuah fakta kecil yang cukup menggelitik sensor baca saya. Sepulang Sarah dari rumah sakit setelah keguguran, beberapa kali dia sedang sholat dan membaca Al-Qur’an (hal 226 paragraf 1). Saya anggap janggal karena bila dilihat dari setting peristiwa. Seharusnya Sarah dalam kondisi nifas, yang tidak membolehkan seorang wanita untuk sholat dan membaca Al-Qur’an.

Meskipun begitu, buku ini mengungkapkan cerita pernikahan dari sisi yang tak biasa. Yang membuat saya merenung, bahwa siap tidak siap akan selalu ada konflik dalam pernikahan. Siap tidak siap akan ada banyak perubahan yang terjadi dalam proses berumah tangga. Siap tidak siap ada rangkaian kompromi dan toleransi. Siap tidak siap kita akan menghadapi berjuta peristiwa yang menuntut keikhlasan untuk memaafkan dan mencintai. Siap tidak siap, apapun yang terjadi selalu ada bahagia dan lara yang akan mengiringi sepanjang perjalanan pernikahan. Setiap pernikahan layak untuk diperjuangkan untuk dipertahankan bukan semata karena cinta tapi atas nama komitmen.

Tuesday, 15 February 2011

Berkebun di Rumah yang Berlahan Sempit


berkebun di rumah

Bila menilik kalimat berkebun. Pikiran Anda mungkin membayangkan hamparan tanah luas dengan beraneka tanaman baik buah, sayuran ataupun bunga. Bagaimana dengan berkebun di rumah? Imajinasi yang terhidang di depan mata adalah sebuah rumah dengan pekarangan luas. Lahan sekitar rumah ditumbuhi berbagai tanaman sayur, buah maupun bunga. Nyaman dan tentu saja menyehatkan. Bila menilik kenyataan yang ada saat ini, masih banyakkah rumah dengan pekarangn luas? 

Masih ada, bila Anda hidup di desa. Bagaimana kondisi di perkotaan? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Lahan untuk perumahan sudah semakin terbatas. Pembuatan rumah menganut paham efisiensi lahan karena harga tanah yang semakin mahal. Saat ini, membeli rumah merupakan hal yang istimewa. Memiliki Rumah meski sempit dan menyisakan sedikit lahan kosong sudah merupakan karunia indah tak terhingga.

Berkebun di Rumah

Meski Anda mempunyai lahan sisa yang sempit di rumah, tapi Anda masih tetap bisa berkebun. Kenapa harus susah-susah berkebun? Bumi semakin tua. Semakin panas. Sudah saatnya kita membantu meringankan beban bumi tercinta dengan berkebun di rumah, meskipun lahan yang kita punya sangat sempit.

Konsep berkebun yang dimaksud disini adalah membuat rumah Anda menjadi lebih hijau dan sejuk, baik untuk penghuni rumah maupun tetangga di sekitar rumah Anda. Udara perkotaan identik dengan panas menyengat dan polusi tinggi. Tanaman berhijau daun dapat memproduksi oksigen di siang hari. Secara logika, semakin banyak tanaman di rumah, semakin banyak pasokan oksigen di sekitar Anda. Tentu saja akan membuat rumah lebih sehat karena sirkulasi oksigen yang lancar dari luar rumah. Yang kemudian memiliki imbas tak langsung, rumah menjadi lebih sejuk.

Tapi mana mungkin berkebun di lahan seluas 2 x 5 meter? Mungkin saja. Bahkan lebih kecil dari ukuran tersebut juga bisa.

Pot Penyelamat

Yang perlu Anda lakukan pertama kali. Cermati lahan kosong di rumah Anda. Sesempit apapun tidak akan menjadi masalah. Anda bisa berkebun dengan bantuan pot. Tak peduli apakah Anda ingin membuat kebun bunga, sayur mayur atau buah-buahan. Tidak ada kendala sama seklai bila Anda menanam tanaman dengan bantuan pot. Saat ini sudah banyak yang menerapkan sistem tanam tabulampot (tanaman buah dalam pot).

Anda bisa mambuat piramida pot. Buatlah dari kayu atau besi dengan tiga atau empat tingkat. Sesuaikan panjang dan tinggi piramida dengan luas lahan kosong di rumah. Lebih baik memang membuat piramida sama panjang dari atas hingga bawah. Lebih efisien karena bisa memuat banyak pot. Yang lebih penting, Silahkan disesuaikan dengan anggaran keuangan keluarga Anda.

Jika Anda ingin menghemat, bisa membuat sendiri pot tanaman. Bisa dengan kaleng bekas cat, bekas wadah kue kering, botol mineral besar, bekas ember atau apa saja barang bekas yang ada di rumah bisa dimanfaatkan. Anda bisa juga melibatkan anak-anak untuk melukis pot-pot tanaman. Kebun Anda akan semakin indah meski hanya menempati lahan sempit di depan rumah. Anda juga bisa menempatkan pot gantung di teras. Rumah Anda bisa lebih sejuk dan nyaman.

berkebun di rumah
menyemai tunas baru dalam pot kecil

Pemilihan Tanaman

Pilihlah tanaman yang Anda suka. Bisa menanam aneka bunga kesenangan Anda atau anggota keluarga lainnya. Anda juga bisa memilih menanam sayuran yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga, misalnya sawi, bayam, kangkung atau kacang panjang. Mungkin saja menanam cabe rawit yang harganya sering tiba-tiba naik. Anda juga bisa menanam bawang merah. Semuanya bisa ditanam di pot dan dapat menyemarakkan keberadaan kebun mini.

Bila Anda menginginkan menanam buah-buahan, tidak menjadi masalah. Silahkan pilih buah kesukaan Anda dan keluarga. Bibit pohon dengan cangkok atau stek bisa ditanam di pot dan lebih cepat berbuah dibanding dengan cara tanam biasa. Bahkan bisa menanam pohon duren di pot bekas drum. Yang penting Anda rajin merawat dan memaksimalkan potensi pohon buah-buahan tersebut. Jangan lupa untuk bersabar merawatnya hingga masa panen tiba. 

Jika Anda merasa bukan orang yang telaten merawat tanaman, Anda bisa menanam jenis perdu. Berbagai jenis perdu lebih mudah perawatannya, seperti berbagai jenis suplir, sri rejeki atau beras tumpah. Anda hanya tinggal menyiram air secara teratur pagi dan sore. Jika musim hujan dan tanaman tersebut terkena air hujan, Anda tak perlu menyiramnya lagi. Letakkan pada tempat ynag cukup teduh. Ada juga jenis tanaman yang lebih berkembang subur bila terkena sinar matahari. Tanpa diberi pupuk, tanaman ini bisa tumbuh dnegan subur. Anda hanya mengontrol kebutuhan air saja. Daunnya juga cepat lebat. Rumah Anda akan segar dengan nuansa hijau dari kebun tersebut.

Cukup mudah bukan membuat kebun di rumah meski hanya memiliki lahan kosong yang sempit. Kebun mini ini selain bisa menyegarkan mata. Anda juga akan memperoleh pasokan oksigen yang berlimpah. Yang lebih penting lagi, Anda telah membantu mengurangi efek global warming di sekitar rumah. Apalagi kalau Anda mengajak serta tetangga. Hunian di lingkungan rumah tentu akan lebih asri dan menyejukkan bagi para penghuninya.


Foto: koleksi pribadi menggunakan ASUS Zenfone4


Friday, 21 January 2011

Jejak Mawar Hilang

Judul : Jejak Mawar Hilang

Penulis : Linda Herliantina Utomo

Penyunting : Dadan Ramadhan & hendra W.

Penerbit : Dar! Mizan

Cetakan : 1, Februari 2010

Tebal : 144 halaman

Aryo, Jalu, Dul dan Iqbal adalah empat sekawan yang gemar bertualang menjadi detektif cilik. Sewaktu libur sekolah, Iqbal diundang Paman Jatomo datang ke rumahnya. Paman Jatomo mengijinkan Iqbal mengajak teman-temannya. Tentu saja, ketiga sahabat detektif cilik yang diajak Iqbal.

Mereka berempat yang tinggal di pesisir pantai pulau Jawa akan berlibur di lereng gunung. Mereka senang sekali dengan rencana liburan ini. Apalagi Bibi Ruspita pandai memasak. Mereka dijamu dengan aneka makanan lezat menggugah selera. Dul yang gemar makan, semakin kerasan saja tinggal di rumah Paman Jatomo.

Mereka dikejutkan dengan berita koran setempat, yang memuat tentang penculikan. Hal ini menarik perhatian empat sekawan itu. Mereka mulai menyelidiki tentang hilangnya seorang anak dari Padepokan Silat. Penelusuran petunjuk mengarah ke Lembah Ilalang. Empat detektif memutuskan untuk pergi ke Lembah Ilalang untuk memulai penyelidikan.

Ternyata penyelidikan ini tidak berjalan lancar. Salah seorang anggota empat detektif hilang. Dul yang hilang membuat panik ketiganya juga Pak Samin. Seorang penunjuk arah yang disewa mereka untuk mengantar ke Lembah Ilalang.

Meski sempat panik dan cemas akan keselamatan temannya, untung mereka berhasil menemukan Dul. Bahkan bersamaan dengan diketemukannya Mawar, anak dari Padepokan Silat. Komplotan penculik juga bisa diringkus dengan bantuan Bapak-Bapak Polisi.

Mengikuti petualangan empat detektif ini mengasyikkan. Setting cerita yang detail membuat saya semangat mengikuti hingga akhir. Penulis juga memberikan tebakan setting lokasi cerita. Seperti misalnya tempat tinggal Paman Jatomo tidak disebutkan nama kotanya. Penulis hanya menyebutkan sebagai kota tempat lahirnya Jendral Sudirman. Menurut saya, buku ini akan lebih menarik jika lebih banyak lagi memaparkan trik-trik dan berbagai petunjuk ketika empat sekawan memecahkan kasus penculikan Mawar.(Ugik)

2 Little Detectives: Pencurian Naskah Kuno

Judul : 2 Little Detectives: Pencurian Naskah Kuno

Penulis : Ramsya (12 th)

Penyunting naskah : Ridwan Fauzy & Zulfairy

Ilustrasi sampul & isi : Moel’s

Penyunting ilutrasi : Iwan Yuswandi

Penerbit : DAR! Mizan

Cetakan : 1, April 2010

Pertamakali saya melihat judul buku ini langsung tertarik. Seri Kecil-Kecil Punya Karya dengan tema yang berbeda dari biasanya. Sampulnya juga unik. Latar belakangnya sebuah bangunan kuno. Dua tokoh utama berwajah ramah tampak berdiri gagah.

Sedari awal kita sudah diperkenalkan dengan dua detektif cilik, Heidi dan Dio. Keduanya bersahabat dan kebetulan teman sekelas. Mereka sangat menyukai memecahkan masalah-masalah yang misterius disekitarnya. Bermula dari berita di koran tentang hilangnya kitab-kitab bersejarah penting dari museum. Salah satunya adalah Pujasastra ‘Negara Panglima’. Sebuah kitab kuno karangan Mpu Pracahya.

Heidi dan Dio memulai petualangan. Mereka mulai mengumpulkan petunjuk dengan datang ke museum Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dengan mengendap-endap mereka masuk museum dari pintu belakang. Di tengah pengintaian, mereka mendengar percakapan transaksi mencurigakan. Tapi sayang Dio bersin, sehingga mereka harus susah payah meninggalkan museum. Ternyata salah seorang dari pelaku transaksi itu mengetahui wajah Dio.

Semakin mendebarkan saja petualangan dua detektif cilik. Tak sengaja penelusuran mereka bersinggungan dengan Ayah Hari. Sosok Pak Arman ini cukup misterius. Beliau bekerja sebagai koki tapi selalu pulang malam dengan alasan yang aneh-aneh. Hari sendiri juga bingung dengan pekerjaan Ayahnya yang sering pulang malam. Penyelidikan bukan saja mendebarkan tapi juga mengkhawatirkan. Hari juga membantu dua detektif mengumpulkan fakta-fakta. Heidi dan Dio senang karena penyelidikan mulai ada titik terang. Sekaligus khawatir kalau Ayah Hari adalah anggota komplotan pencuri. Dua detektif tidak ingin melukai hati teman sekelasnya yang baik hati itu.

Dua detektif cilik akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan penyelidikan. Apapun hasil akhir nanti, penyelidikan harus dituntaskan. Setelah melalui jalan berliku, Heidi dan Dio berhasil memecahkan kasus pencurian naskah-naskah kuno. Mereka bisa tersenyum lega.

Tapi sayang. Setelah tuntas kasus ini, Dio harus pindah keluar kota. Heidi sedih kehilangan sahabatnya. Dia kuatir kalau tidak bisa melakukan aksi penyelidikan lagi. Untung Dio berjanji, untuk tetap menjadi dua detektif bersama Heidi. Mereka meski terpisah kota tapi jarak dua kota ini dekat.

Sungguh asyik menikmati buku ini. Ceritanya mengalir dengan lancar dan kecepatan konstan. Hebat. Ramsya dengan usia 12 tahun sudah mampu membuat cerita detektif yang menawan. Salut juga untuk illustrator yang menerjemahkan cerita dengan baik. Saya suka dengan rambut Dio yang mirip Go Kong tokoh kartun Dragon Ball. Keren. Buku yang sangat menarik untuk dibaca berulang-ulang.(Ugik)

The twin Master: Kisah Pesulap Cilik

Judul : The twin Master: Kisah Pesulap Cilik.

Penulis : Nunik Utami

Penyunting naskah : Dadan Ramadhan & Dedew

Ilustrasi isi : Picupacu

Ilustrasi sampul : Nur Cililia

Penyunting ilustrasi : Iwan Y.

Selama ini, saya menganggap matematika sebagai sebuah pelajaran biasa di sekolah. Tapi di buku ini, penulis membuat matematika bisa sebagai permainan. Bahkan bisa sebagai trik sulap dengan mengandalkan kekuatan berhitung cepat.

Vani, seorang gadis yatim yang jago matematika. Dia sangat menyukai matematika dan sanggup menghitung dengan kecepatan luar biasa. Bermula dari perjumpaan tak sengaja dengan seorang pesulap di mall, Vani tertarik belajar sulap matematika. Tak disangka pesulap itu berkenan untuk mengajari Vani. Tentu dia girang bukan kepalang.

Dalam suatu lomba sulap, Vani unjuk kebolehan sulap matematika. Penonton menyukai. Yang membuat Vani lebih senang lagi, dia lolos babak penyisihan dan berhak ikut babak selanjutnya.

Di balik kebahagiaan Vani berduka. Dia tahu kalau ternyata anak tiri. Dia mempunyai saudara kembar pria bernama Alvino. Selama ini Vani sangat sayang pada Ibunya, begitupun dengan Ibu. Vani bingung dengan kondisi tersebut. Dia sangat sayang pada sang Ibu. Tapi dia juga ingin mencari Ibu dan saudara kandungnya. Vani akhirnya memutuskan untuk konsentrasi di lomba sulap yang sudah mencapai babak final.

Meski banyak penonton yang menyukai permainan sulap matematika. Tapi Vani tidak menjadi juara 1. Tentu saja hatinya sedih. Namun, sejenak kemudian dia berubah jadi sangat gembira. Vani menemukan Mama dan kakak kandungnya diajang lomba sulap itu. Ternyata kakaknya begitu dekat dengannya. Tapi Vani sama sekali tidak menyadarinya. Vani bahagia sekali.

Buku ini tidak saja menampilkan cerita dan ilustrasi yang menawan. Penulis berbaik hati memberikan berbagai rahasia sulap matematika yang dibawakan oleh Vani. Rahasia lengkap dengan contoh-contoh sederhana yang mudah diterapkan. Pembaca bisa mencoba bermain sulap matematika setelah membaca buku ini. Selamat membaca dan juga selamat bermain sulap.(Ugik)

Pohon Bakpao


Setiap kali saya mendongeng berusaha menggunakan komunikasi dua arah dengan anak-anak. Selain untuk memancing dan melatih anak berkomunikasi, juga mengembangkan imajinasi mereka. Saya biasanya menggunakan metode setengah kalimat. Saya bercerita lalu sengaja saya penggal agar anak-anak melanjutkan kalimat saya.


Bila menggunakan metode ini acara mendongeng menjadi seru. Anak-anak bergembira karena idenya digunakan. Sementara saya deg-degan menebak arah cerita. Seringkali cerita melenceng ke arah yang tidak terkira. Salah satunya, seperti kisah berikut ini:

Saya (S): Domba, Kucing dan Kelinci akhirnya pergi ke...(menunggu anak-anak yang sibuk berfikir).
Anak 1 (A1): Hutan...
S : "Mereka ke hutan untuk mencari..."
A2 : "Paman Gober."
A1 : "Bukan. Baling-baling bambu."
A3 : "Nasi pecel. Mereka kan laper belum sarapan."
A4 : "Susu. Biar kuat jalan-jalannya."
S : hem... "Ya...ya...ok. Udah nih? Hanya itu saja?"
Anak-anak(AA): "Udah..."
S : "Setelah mereka ketemu dengan Paman Gober, baling-baling bambu, nasi pecel dan susu lalu mereka berhenti sebentar di..." Saya mengerling ke arah anak-anak.
A3 : "Bawah pohon" (berteriak kencang.) Anak-anak lain manggut-manggut setuju.
S : "Mereka berhenti sebentar di bawah pohon karena capek dan lapar. Untung saja ada..." (Anak-anak terdiam). Saya berpikir akan ada yang menyebut nasi pecel atau susu. Ternyata... saya salah besar.
A2 : "Pohon bakpao hehe."
S : "Di hutan ada pohon bakpao, ya?" Saya pasang wajah pura-pura heran.
A2 : "Ada. Nih, buahnya lebaat... sekali..." Sambil berbicara anak 2 mendekat kearah saya. Dia mencubit pipi saya, lalu pura-pura makan dengan mulut penuh.
AA : "Aku mau... aku mau..." Sekitar 10 anak menyerbu saya. Mereka 'memetik' kedua pipi ini dan 'memakannya' dengan lahap.
S : Speechless. Cengar-cengir dengan pipi memerah. Sementara Bapak Ibu mereka melihat sambil senyum simpul, ada juga yang berusaha menahan tawa.

Kegiatan mendongeng berhenti sementara, diganti dengan panen bakpao bersama. Hedeeew. Ngimpi apa aku semalam hihihi.