Monday, 6 December 2010

Review Buku The Ghost Writer, Sang Penulis Bayangan

buku robert harris buku the ghost writer

Judul : The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)
Penulis : Robert Harris
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2, Maret 2010


Saya tertarik dengan buku ini setelah melihat cuplikan filmnya. Penasaran. Itu yang melatarbelakangi saya membeli buku ini. Saya berburu DVD film ini belum ketemu juga. Selain itu saya melihat penulis bayangan sebagai profesi yang unik. Ketika sebuah karya sudah diterbitkan, maka seorang penulis bayangan otomatis akan terhapus keberadaannya. Mereka benar-benar seperti bayangan. Tak terlihat tapi akan selalu ada berkeliaran disekitar sang penulis utama.


Ghost Writer professional ditunjuk secara tergesa-gesa untuk menulis autobiografi Adam Lang. Seorang mantan perdana mentri Inggris yang terlibat skandal terorisme. Hal ini dilakukan karena penulis sebelumnya Michael McAra (Mike) ditemukan bunuh diri. Mike adalah asisten pribadi, yang mengetahui dengan pasti sepak terjang perpolitikan Lang.


The Ghost Writer sebenarnya merasakan sebuah beban pada pekerjaan kali ini. Ada firasat bahwa ada banyak hal yang tersembunyi dalam pekerjaan ini. Dia juga berpendapat ada beberapa ganjalan dalam kehidupan Lang. Akhirnya, pekerjaan ini diterima karena ada faktor uang yang menggiurkan. Pihak publishing hanya memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan autobiografi Lang. Sebenarnya, Mike sudah menyelesaikan autobiografi tersebut. Tapi The Ghost writer menilai manuskrip naskah tersebut tidak layak untuk ‘dijual’.


Wawancara mulai dijadwalkan. Data-data di manuskrip Mike mulai ditelusuri dan dipilah-pilah kembali. The Ghost Writer menyusun puzzle autobiografi Lang mulai awal. Suatu hal yang tak mudah karena Lang sedang terlibat masalah dugaan penangkapan teroris illegal di Pakistan. Lang sedang menghadapi ancaman hukuman dari Mahkamah Internasional.

Sementara pihak publishing ingin memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan autobiografi tersebut. Dihantam deadline yang dipercepat dua minggu, The Ghost Writer bekerja ekstra. Dalam kondisi terjepit deadline, malah ditemukan bukti-bukti baru yang ditinggalkan Mike secara tidak sengaja. The Ghost Writer berada dipersimpangan. Dia harus memilih antara mengungkapkan kebenaran atau menyajikan kebohongan dalam hasil karyanya. Apalagi dia menemukan bukti-bukti kalau Mike sebenarnya sengaja dibunuh.


Kalut. Terjebak dalam deadline juga berfikir taktis demi keselamatan nyawa sendiri. The Ghost Writer memilih untuk melanggar perjanjian antara pihak Lang, pihak publishing dan dirinya. Dia membocorkan data-data rahasia tentang Adam Lang. Namun sayang. Ketika semua bukti sudah diberikan pada pihak berwenang, Lang mengalami musibah. Kasus penangkapan teroris illegal pun terkubur rapat.


Jauh setelah Adam Lang ‘terhapus’, The Ghost Writer masih merasa ada yang salah. Seperti ada missing link pada rangkaian bukti yang didapatnya. The Ghost Writer secara diam-diam melakukan penyelidikan lagi. Berbekal manuskrip Mike dan rekaman wawancara terakhir dengan Lang yang berhasil diselundupkan untuk dibawa pulang. Mulailah penyelidikan dimulai.

Tabir rahasia perlahan mulai terungkap. Ternyata, dugaannya salah selama ini. Adam Lang hanya 'boneka'. Ada tokoh penting dibalik Lang yang jauh berbahaya. Dengan mengorbankan hidupnya, The Ghost Writer memilih untuk mengungkapkan kebenaran. Dia bahkan sudah mempersiapkan kematiannya karena dia tahu pasti resiko dari pengungkapan ini. Mati. Itu saja. Tanpa ada penawaran.


Saya sangat menikmati buku ini. Penuh misteri dari awal hingga akhir. Bahkan penulis tidak menyebutkan nama The Ghost Writer. Dia dihadirkan benar-benar sebagai sosok tanpa nama. Hanya The Ghost Writer, itu saja. Deskripsi dan detail emosi yang disuguhkan nyaris sempurna. Hal ini membuat saya seakan menonton film. Apalagi penerjemah berhasil menceritakan dengan mulus dan lancar. Mulus tanpa typo dan penggunaan bahasa percakapan membuat buku ini mudah dicerna.


Ada satu hal yang cukup janggal. Ketika The Ghost Writer berhasil menyelipkan CD wawancara terakhir di saku jas, beberapa menit sebelum Lang mengalami musibah. The Ghost Writer juga mengalami luka berat ketika musibah itu terjadi. Dia harus menggunakan baju rumah sakit selama dirawat. Tapi ketika dia pulang dan memutuskan untuk menggunakan setelan yang sama, CD itu masih tetap di saku jas dengan posisi yang sama persis.

Sebagai salah satu saksi kunci musibah yang menimpa orang penting. Tentu dilakukan penyelidikan ‘istimewa’. Logikanya, seluruh yang ada di TKP akan diperiksa dengan detail. Ketika The Ghost Writer diperiksa dokter dan harus menggunakan baju rumah sakit, tentu saja baju itu juga diperiksa dengan detail. Kalaupun tidak. Ketika baju itu akan disimpan petugas rumah sakit. Minimal seluruh barang yang ada di kemeja, celana dan jas akan dikeluarkan semua. Bagaimana mungkin kepingan CD –meskipun ukuran mini disk- terlewat begitu saja. Diluar itu semua, buku ini asyik untuk dinikmati.



Foto: koleksi pribadi


Setiap Wanita adalah Cantik

by Ugik Madyo

Seorang teman berdiri tegak dihadapan saya.

“Aku cantik kan Gik? Aku gak gendut kan?” Saya hanya terdiam memandangnya. Bagi saya dia adalah sosok yang menawan. Wajah manis dengan tubuh berisi tapi bukan gendut. Bagi saya tidak ada manusia gendut, hanya lebih berisi saja dari ukuran proposional. Saya enggan untuk menggunakan label negatif pada seseorang. Dia adalah wanita matang yang selalu ceria dan energik. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kulitnya sawo matang dipadu dengan wajah bulat yang njawani, yang membuat dia semakin eksotik.

“Kamu itu nggak cantik. Tapi mempesona.” Saya menariknya ke cermin besar. Menariknya dan memperlihatkan kecantikannya. Dia tetap saja menyangkal. Yang pipi tembem lah. Hidung besar lah dan banyak lagi. Saya tidak menyalahkan sahabat saya ini. Dia baru saja ditolak mantan calon suaminya. Dengan alasan dia gendut dan tidak putih. Meski saya tahu bagaimana remuk redam hatinya. Tapi saya sangat bahagia mereka tidak jadi menikah. Sahabat saya tak layak mendapatkan pria seperti itu. Seorang pria yang hanya menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja. Meski saya harus bersusah payah membangkitkan kepercayaan dirinya yang jatuh puluhan derajat di bawah nol. Selama 1 tahun dia berjuang, hingga dia bisa berdiri tegak dengan kepercayaan diri penuh seperti sedia kala.

Saya tidak menyangka hanya karena 2 kata itu. Saya melihatnya terperosok dalam jurang rendah diri yang dalam dan tak berujung. Saya saksi hidup yang melihatnya berjuang. Sedikit demi sedikit dia mulai membangun kepercayaan diri. Meski beberapa kali saya melihatnya jatuh tersuruk. Dia menatap saya dan berbicara dengan keras. Dia diet dan olah raga mati-matian serta melakukan berbagai perawatan wajah. Namun tetap saja dia merasa masih tetap gemuk dan tidak cantik. Saya merasa ngeri dengan apa yang dia lakukan. Dia menjadi sosok yang sangat tidak menawan. Saya seperti melihat boneka hidup. Seonggok tubuh dengan daging tanpa ada aliran kehidupan didalamnya. Tidak ada cahaya sama sekali dalam dirinya. Dia terobsesi dengan tubuhnya.

Saya merindukan sosoknya yang dulu. Yang selalu ceria dan mempesona. Yang selalu bersinar dengan senyuman yang tak pernah hilang. Dia terlalu sibuk dengan jadwal senam, pil-pil pelangsing, juga urusan salon dan make up. Saya selalu tak berhenti memanjatkan doa, agar dia kembali seperti dulu. Untunglah, doa saya terjawab. Kami sedang ‘kencan’ di kedai ice cream. 2 porsi ice cream kesukaan kami ada di depan mata. Saya agak kaget waktu dia mengajak makan ice cream. Apa kabar diet? Dia hanya tersenyum.

“Meskipun aku kurus dan cantik. Gak jaminan dia bakal kembali ke aku. Oke lah. Meski aku kurus dan cantik. Kalau misalnya nih… nauzubillah min dzalik yah. Aku kecelakaan trus cacat, gak bisa jalan. Apa dia akan tetap bersamaku? Aku ragu. Aku dalam kondisi sehat dan tanpa cacat saja dia masih belum menerima aku sepenuhnya. Cantik atau gemuk itu kan hanya urusan selera. Perspektif saja. belum tentu orang lain akan berpendapat sama.” Saya ingin berteriak dan memeluknya erat-erat. She’s back. Huaa andai saja ini bukan di tempat umum. Yang bisa saya lakukan hanya menggenggam tangannya dan mempersembahkan senyuman paling manis yang saya punya.

Beberapa bulan berselang. Allah menunjukkan kasih sayangnya pada umat yang selalu penuh cinta itu. Dia yang gemuk, tidak putih dan tidak cantik. Dia yang setelah diet mati-matian tapi tetap saja gemuk. Telah dipinang oleh seorang yang nyaris sempurna luar dalam. Ternyata Allah sengaja menyingkirkan lelaki itu agar sahabat saya tercinta ini bisa dipersandingkan dengan yang lain. Sangat jauh berbeda dari lelaki yang sudah menolak sahabat saya itu. Saya tahu bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Tapi biarkan saja hanya sedikit ketidak sempurnaan yang dimiliki suaminya.

Saya terperajat ketika mengetahui bahwa sang suami telah lama menaruh hati pada sahabat saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat beliau menunda untuk melamar. Dengan sabar dan perasaan cemas beliau menunggu saat yang tepat untuk mengajukan lamaran. Allah Maha Berkehendak. Yang buruk digantikan dengan yang lebih baik. Sesuatu yang seakan indah dihapuskan lalu diganti dengan yang jauh lebih indah.

“Tahu gak? Suami gak suka klo aku kurus hihihi.” Saya hanya bisa tertawa. Hati saya riang bukan kepalang. Sahabatku, sudah selayaknya engkau mendapatkan anugerah indah ini. Kesabaranmu berbalas tunai saat ini. Seperti mimpi rasanya. Seperti cerita sebuah novel romantis. Tapi ini adalah benar adanya. Sebuah keajaiban yang datang setelah banjir air mata yang tiada henti.

Tak peduli apakau kau gendut, kurus, berkulit hitam, rambut keriting ataupun merasa tidak cantik. Yakinlah bahwa diluar sana. Ada seseorang yang selalu merindukanmu dan tak sabar untuk segera menjemputmu. Dia yang selalu melihatmu dari jauh dan menunggu dengan sabar hingga saatnya tiba. Dia yang selalu menyematkan namamu dalam setiap doa-doanya. Dia yang selalu menempatkan dirimu sebagai prioritas. Dia yang menempatkan kebahagianmu sebagai impiannya. Dia yang sudah disiapkan oleh Allah, untuk menemanimu. Seumur hidupmu. Dia yang akan melengkapi segala tawa dan tangismu. Dia yang selalu menunggu senyuman di wajahmu. Maka kau harus tahu. setiap wanita adalah cantik. Bagi dia, engkau wanita yang paling cantik. Meski bagi yang lain tidaklah demikian.

Pembunuh Nyamuk



Saya sedang asyik berbincang dengan saudara di teras. Kebetulan malam itu banyak nyamuk berseliweran. Obrolan kita semakin seru diselingi bunyi tepokan tangan membunuh nyamuk.

“TANTE… jangan dibunuh!” Tiba-tiba ponakan menyerbu kami berdua. Dia sibuk menghalangi tangan kami untuk berburu nyamuk.
“Apaan? Ini kan nyamuk, Dek.”
“Jangan dibunuh!” Lelaki ganteng berumur 6 tahun ini, menampakkan wajah ‘keras’. Saya penasaran dengan sikap dia yang aneh ini.
“Emang kenapa nggak boleh?”
“Kalau mati, nyamuknya tambah banyak yang datang.”
“Loh, kok bisa?” Saya semakin penasaran
“Iya. Temen-temennya pada datang ngelayat.”

Lho! Saya bengong dengan sukses.

“Kalau ada yang mati, banyak temen-temennya yang melayat kan? Iya kan? Trus pas melayat tuh mereka pada bisik-bisik, gitu. Siapa sih yang bunuh? Siapa sih?” Ponakan masih terus berbicara.
“Emang, mereka bisa tahu, siapa yang bunuh?” 

Saya semakin penasaran dengan imajinasi anak ini. Sementara, sepupu saya senyum-senyum sambil mengalihkan pandangan ke sekeliling.

“Ya iya lah. Nyamuk kan datengnya juga berombongan. Pasti ada yang lihat kalau tante bunuh tuh nyamuk.”
“Kalau tak bunuh semua? Serombongan. Kan aman tuh.” Saya mengerling nakal.
“Ya tetep ketahuan. Tangan tante ada bekas darahnya. Nanti bisa ketahuan sama Pak Polisi Nyamuk.” 

Aduh… kok muncul polisi nyamuk segala. Saya mulai menggaruk kepala yang mendadak gatal.

“Ya tanganku tak cuci bersih. Weeek.” Saya menjulurkan lidah padanya.
“Tetep ketahuan, Tante. Bandel amat sih! Kan ada bekas tangan sama bekas kaki nyamuk yang mati. Kan nggak bisa hilang, tuh. Pasti Pak Polisi Nyamuk bakal tahu. Udahlah… emang tante mau disebut pembunuh nyamuk.”

Glek! Kenapa jadi kearah sana. Anak ini, sepertinya terlalu banyak nonton berita kriminal. Kepala saya mendadak diserang pasukan kutu dari empat penjuru mata angin. Hedewww. Sementara itu, ponakan menghalau gerombolan nyamuk, sambil asyik ngobrol dengan para nyamuk.

“Hayoo… pergi… pergi… pergi yang jauh… nanti kamu dibunuh sama Tante Ugik.” 

Jiaaaah… aku kok mendadak jadi manusia paling jahat sedunia. Tapi keren juga sih. Ugik si Pembunuh Nyamuk. Tzaah.