Tuesday, 30 November 2010

Dia Manusia Biasa

Bertahun-tahun silam. Seorang teman bertanya "Kamu pengen suami yang kayak apa sih?". Sebagai jawabannya saya membuat tulisan ini. Lelaki seperti inilah yang saya inginkan menjadi suami. Proses dan pernikahan seperti inilah yang saya cita-citakan. Saya sadar bukanlah seorang muslim yang sangat taat. Saya masih perlu banyak belajar. Boleh kan punya cita-cita :)

Saya tidak menyangka kalau banyak yang suka dan mengirimkan tanggapan japri. Tulisan ini beredar di banyak milist dan blog. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Pertama kali menayangkan tulisan ini blog saya di multiply yang sudah almarhum.
=================
Dia Manusia Biasa
by Ugik Madyo

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja.
Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya ). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol –hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.
Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tahu bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besuk pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak.
Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.
Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha mengabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin .

Review Buku The Marriage Bureau for Rich People (Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

buku farahad zama buku the marriage bureau for rich people
Judul : The Marriage Bureau for Rich People (Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)
Penulis : Farahad Zama
Penerjemah : Rinurbad
Penyunting : Lulu Fitri Rahman
Penerbit : M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)
Cetakan : 1, Januari 2010


Topik cinta tidak akan pernah lekang ditelan jaman. Pun liku-liku perjalanan menemukan cinta adalah tema yang selalu laku untuk dijual. Tentu saja dengan catatan keduanya harus diramu dengan apik. Juga dirangkai dengan sentuhan unik yang mempesona. 

Farahad Zama melakukan semuanya dalam buku ini. Dan karena buku ini karya terjemahan. Penerjemah mempunyai peran penting untuk menyajikannya. Rinurbad menyajikan dengan penuh kenikmatan. Terjemahan yang mulus dan penggunaan bahasa sederhana membuat buku ini hadir nyaris sempurna. Membaca buku ini, serasa membaca karya lokal. Salut untuk kerja keras penterjemah dan penyunting terjemahan.

Mr. ali, seorang pensiunan PNS yang mencoba membuka usaha biro jodoh untuk mengisi hari-hari pensiunnya. Sebuah usaha unik yang langka untuk dilirik. Dengan keyakinan penuh, Mr. Ali dibantu dengan istrinya memulai usaha ini. Beliau memperlakukan seluruh kliennya dengan sentuhan personal. Beliau sangat menghargai pilihan-pilihan calon mempelai dan keluarganya. Meski kadang membuat Mr.Ali pusing, saking rumitnya kriteria yang ditentukan. Sistem kasta masih dipegang erat dalam tradisi pernikahan India oleh banyak kliennya. Tapi Mr. Ali selalu mempunyai cara cerdik untuk menyiasati. Beliau mempunyai sistem administrasi yang bagus. Tentu saja didukung oleh Aruna, seorang sekertaris yang cerdas dan cekatan.

Mr. ali tidak hanya sebagai biro jodoh. Beliau menempatkan diri sebagai orang tua yang mencarikan jodoh untuk anak-anaknya. Meski anak kandungnya sendiri, Rehman, masih belum ingin menikah. Dia terlalu sibuk berdemonstrasi membela rakyat kecil. Mr. Ali menentang keras keputusan anaknya. Dia menginginkan Rehman hidup normal, memiliki pekerjaan tetap dan menikah. Tapi Mr. Ali menghargai pilihan anaknya.

Mayoritas buku ini menceritakan keunikan proses perjodohan berbagai kasta di India. Proses yang cukup rumit namun juga unik. Zama mendeskripskan dengan detail. Hal ini membuat saya semakin paham akan berbagai sistem perjodohan sebagai suatu hal yang tak bisa diganggu gugat di India. Meski ada beberapa klien yang fleksibel dan bahkan mengabaikan sistem kasta. Keluarga mempunyai peran yang sangat penting untuk mencarikan jodoh anak atau keponakan. Seorang pemudi atau pemuda menemukan jodohnya sendiri dianggap sebagai hal yang memalukan. Ironis, Hal ini justru terjadi pada Aruna.

Salah satu klien, dr. Ramanujam, seorang dokter dari keluarga terpandang yang kaya raya. Dia jatuh cinta pada Aruna dan menginginkan untuk menikahinya. Ketika sampai pada titik ini, saya memohon dalam hati, jangan sampai buku sebagus ini kejangkitan cinderela complex. Penulis mensiasati dengan berbagai logika cerita yang cukup bisa diterima. Meski awalnya saya menebak Aruna akan menikah dengan seorang kasta Brahmana yang selevel dengannya. Tapi ternyata penulis mempunyai rencana lain untuk Aruna. Ah, tentu saja. Buku yang menarik adalah yang tak bisa ditebak alur dan ending-nya.

Ketika saya membaca buku ini. Saya bukan saja mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya dan sejarah tentang India. Saya juga mendapatkan referensi berbagai makanan khas India yang menerbitkan selera. Yang paling penting, saya mendapatkan banyak banyak sekali nasehat dalam mencari jodoh dan juga pernikahan. Sangat berguna untuk saya. Membaca buku ini seakan saya sedang mendapatkan berjuta ceramah pernikahan dari pengalaman hidup Mr. Ali yang sudah puluhan tahun menikah.

Ada salah satu nasehat Mr. Ali yang membekas mendalam. … kesalahan manusia, selalu mencari pasangan yang sempurna, padahal mereka bisa bahagia jika berdampingan dengan orang yang cukup baik dan bijaksana. (hal. 202). 

Begitupun tentang ucapan Mr. Ali pada Ramanujam, untuk menguji keyakinannya ketika akan menikahi Aruna. Istrimu, siapapun dia, meninggalkan rumah ayahnya dan mengikuti suami ke rumahnya. Dia menaruh kepercayaan luar biasa pada suaminya. Kau, sebagai suami, harus menjaga kepercayaan itu, akan timbul konflik antara orangtuamu, terutama ibu, dan istrimu… Mereka mungkin merasa kehilangan anak dan menyerahkannya pada wanita asing. Kau tak boleh membutakan diri dari konflik seperti ini. Kau harus bersikap tegas pada masalah-masalah ini, tidak selalu berpihak pada istrimu, tapi juga tidak selalu mendukung orangtuamu. (hal. 372). Sebuah nasehat tentang mertua dan menantu yang sangat indah

Menurut saya buku ini sangat direkomendasikan untuk anda yang sedang mencari suami atau istri; anda yang akan menikah; anda yang baru menikah; anda yang sedang goyah dan menginginkan perceraian ataupun anda yang sudah bertahun-tahun menikah. 

Buku ini akan menyegarkan anda untuk menilik kembali komitmen anda dalam sebuah ikatan pernikahan. Suka atau tidak, komitmen pernikahan akan mengandung konsekuensi manis dan pahit. Selamanya. Hingga diujung usia. Terima kasih untuk Teh Rini. Yang sudah menerjemahkan buku ini sehingga sangat nikmat untuk dibaca.


Foto: koleksi pribadi