Monday, 6 December 2010

Sang Penulis Bayangan



Judul : The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)
Penulis : Robert Harris
Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2, Maret 2010
Tebal : 320 hal
ISBN : 978-979-22-5562-1

Saya tertarik dengan buku ini setelah melihat cuplikan filmnya. Penasaran. Itu yang melatarbelakangi saya membeli buku ini. Saya berburu DVD film ini belum ketemu juga. Selain itu saya melihat penulis bayangan sebagai profesi yang unik. Ketika sebuah karya sudah diterbitkan, maka seorang penulis bayangan otomatis akan terhapus keberadaannya. Mereka benar-benar seperti bayangan. Tak terlihat tapi akan selalu ada berkeliaran disekitar sang penulis utama.


Ghost Writer professional ditunjuk secara tergesa-gesa untuk menulis autobiografi Adam Lang. Seorang mantan perdana mentri Inggris yang terlibat skandal terorisme. Hal ini dilakukan karena penulis sebelumnya Michael McAra (Mike) ditemukan bunuh diri. Mike adalah asisten pribadi, yang mengetahui dengan pasti sepak terjang perpolitikan Lang.


The Ghost Writer sebenarnya merasakan sebuah beban pada pekerjaan kali ini. Ada firasat bahwa ada banyak hal yang tersembunyi dalam pekerjaan ini. Dia juga berpendapat ada beberapa ganjalan dalam kehidupan Lang. Akhirnya, pekerjaan ini diterima karena ada faktor uang yang menggiurkan. Pihak publishing hanya memberikan waktu satu bulan untuk menyelesaikan autobiografi Lang. Sebenarnya, Mike sudah menyelesaikan autobiografi tersebut. Tapi The Ghost writer menilai manuskrip naskah tersebut tidak layak untuk ‘dijual’.


Wawancara mulai dijadwalkan. Data-data di manuskrip Mike mulai ditelusuri dan dipilah-pilah kembali. The Ghost Writer menyusun puzzle autobiografi Lang mulai awal. Suatu hal yang tak mudah karena Lang sedang terlibat masalah dugaan penangkapan teroris illegal di Pakistan. Lang sedang menghadapi ancaman hukuman dari Mahkamah Internasional.

Sementara pihak publishing ingin memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan autobiografi tersebut. Dihantam deadline yang dipercepat dua minggu, The Ghost Writer bekerja ekstra. Dalam kondisi terjepit deadline, malah diketemukan bukti-bukti baru yang ditinggalkan Mike secara tidak sengaja. The Ghost Writer berada dipersimpangan. Dia harus memilih antara mengungkapkan kebenaran atau menyajikan kebohongan dalam hasil karyanya. Apalagi dia menemukan bukti-bukti kalau Mike sebenarnya sengaja dibunuh.


Kalut. Terjebak dalam deadline juga berfikir taktis demi keselamatan nyawa sendiri. The Ghost Writer memilih untuk melanggar perjanjian antara pihak Lang, pihak publishing dan dirinya. Dia membocorkan data-data rahasia tentang Adam Lang. Namun sayang. Ketika semua bukti sudah diberikan pada pihak berwenang, Lang mengalami musibah. Kasus penangkapan teroris illegal pun terkubur rapat.


Jauh setelah Adam Lang ‘terhapus’, The Ghost Writer masih merasa ada yang salah. Seperti ada missing link pada rangkaian bukti yang didapatnya. The Ghost Writer secara diam-diam melakukan penyelidikan lagi. Berbekal manuskrip Mike dan rekaman wawancara terakhir dengan Lang yang berhasil diselundupkan untuk dibawa pulang. Mulailah penyelidikan dimulai.

Tabir rahasia perlahan mulai terungkap. Ternyata, dugaannya salah selama ini. Adam Lang hanya 'boneka'. Ada tokoh penting dibalik Lang yang jauh berbahaya. Dengan mengorbankan hidupnya, The Ghost Writer memilih untuk mengungkapkan kebenaran. Dia bahkan sudah mempersiapkan kematiannya karena dia tahu pasti resiko dari pengungkapan ini adalah kematian. Mati. Itu saja. Tanpa ada penawaran.


Saya sangat menikmati buku ini. Penuh misteri dari awal hingga akhir. Bahkan penulis tidak menyebutkan nama The Ghost Writer. Dia dihadirkan benar-benar sebagai sosok tanpa nama. Hanya The Ghost Writer, itu saja. Deskripsi dan detail emosi yang disuguhkan nyaris sempurna. Hal ini membuat saya seakan menonton film. Apalagi penerjemah berhasil menceritakan dengan mulus dan lancar. Mulus tanpa typo dan penggunaan bahasa percakapan membuat buku ini mudah dicerna.


Ada satu hal yang cukup janggal. Ketika The Ghost Writer berhasil menyelipkan CD wawancara terakhir di saku jas, beberapa menit sebelum Lang mengalami musibah. The Ghost Writer juga mengalami luka berat ketika musibah itu terjadi. Dia harus menggunakan baju rumah sakit selama dirawat. Tapi ketika dia pulang dan memutuskan untuk menggunakan setelan yang sama, CD itu masih tetap di saku jas dengan posisi yang sama persis.

Sebagai salah satu saksi kunci musibah yang menimpa orang penting. Tentu dilakukan penyelidikan ‘istimewa’. Logikanya, seluruh yang ada di TKP akan diperiksa dengan detail. Ketika The Ghost Writer diperiksa dokter dan harus menggunakan baju rumah sakit, tentu saja baju itu juga diperiksa dengan detail. Kalaupun tidak. Ketika baju itu akan disimpan petugas rumah sakit. Minimal seluruh barang yang ada di kemeja, celana dan jas akan dikeluarkan semua. Bagaimana mungkin kepingan CD –meskipun ukuran mini disk- terlewat begitu saja. Diluar itu semua buku ini asyik untuk dinikmati.

Setiap Wanita adalah Cantik

by Ugik Madyo

Seorang teman berdiri tegak dihadapan saya.

“Aku cantik kan Gik? Aku gak gendut kan?” Saya hanya terdiam memandangnya. Bagi saya dia adalah sosok yang menawan. Wajah manis dengan tubuh berisi tapi bukan gendut. Bagi saya tidak ada manusia gendut, hanya lebih berisi saja dari ukuran proposional. Saya enggan untuk menggunakan label negatif pada seseorang. Dia adalah wanita matang yang selalu ceria dan energik. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Kulitnya sawo matang dipadu dengan wajah bulat yang njawani, yang membuat dia semakin eksotik.

“Kamu itu nggak cantik. Tapi mempesona.” Saya menariknya ke cermin besar. Menariknya dan memperlihatkan kecantikannya. Dia tetap saja menyangkal. Yang pipi tembem lah. Hidung besar lah dan banyak lagi. Saya tidak menyalahkan sahabat saya ini. Dia baru saja ditolak mantan calon suaminya. Dengan alasan dia gendut dan tidak putih. Meski saya tahu bagaimana remuk redam hatinya. Tapi saya sangat bahagia mereka tidak jadi menikah. Sahabat saya tak layak mendapatkan pria seperti itu. Seorang pria yang hanya menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja. Meski saya harus bersusah payah membangkitkan kepercayaan dirinya yang jatuh puluhan derajat di bawah nol. Selama 1 tahun dia berjuang, hingga dia bisa berdiri tegak dengan kepercayaan diri penuh seperti sedia kala.

Saya tidak menyangka hanya karena 2 kata itu. Saya melihatnya terperosok dalam jurang rendah diri yang dalam dan tak berujung. Saya saksi hidup yang melihatnya berjuang. Sedikit demi sedikit dia mulai membangun kepercayaan diri. Meski beberapa kali saya melihatnya jatuh tersuruk. Dia menatap saya dan berbicara dengan keras. Dia diet dan olah raga mati-matian serta melakukan berbagai perawatan wajah. Namun tetap saja dia merasa masih tetap gemuk dan tidak cantik. Saya merasa ngeri dengan apa yang dia lakukan. Dia menjadi sosok yang sangat tidak menawan. Saya seperti melihat boneka hidup. Seonggok tubuh dengan daging tanpa ada aliran kehidupan didalamnya. Tidak ada cahaya sama sekali dalam dirinya. Dia terobsesi dengan tubuhnya.

Saya merindukan sosoknya yang dulu. Yang selalu ceria dan mempesona. Yang selalu bersinar dengan senyuman yang tak pernah hilang. Dia terlalu sibuk dengan jadwal senam, pil-pil pelangsing, juga urusan salon dan make up. Saya selalu tak berhenti memanjatkan doa, agar dia kembali seperti dulu. Untunglah, doa saya terjawab. Kami sedang ‘kencan’ di kedai ice cream. 2 porsi ice cream kesukaan kami ada di depan mata. Saya agak kaget waktu dia mengajak makan ice cream. Apa kabar diet? Dia hanya tersenyum.

“Meskipun aku kurus dan cantik. Gak jaminan dia bakal kembali ke aku. Oke lah. Meski aku kurus dan cantik. Kalau misalnya nih… nauzubillah min dzalik yah. Aku kecelakaan trus cacat, gak bisa jalan. Apa dia akan tetap bersamaku? Aku ragu. Aku dalam kondisi sehat dan tanpa cacat saja dia masih belum menerima aku sepenuhnya. Cantik atau gemuk itu kan hanya urusan selera. Perspektif saja. belum tentu orang lain akan berpendapat sama.” Saya ingin berteriak dan memeluknya erat-erat. She’s back. Huaa andai saja ini bukan di tempat umum. Yang bisa saya lakukan hanya menggenggam tangannya dan mempersembahkan senyuman paling manis yang saya punya.

Beberapa bulan berselang. Allah menunjukkan kasih sayangnya pada umat yang selalu penuh cinta itu. Dia yang gemuk, tidak putih dan tidak cantik. Dia yang setelah diet mati-matian tapi tetap saja gemuk. Telah dipinang oleh seorang yang nyaris sempurna luar dalam. Ternyata Allah sengaja menyingkirkan lelaki itu agar sahabat saya tercinta ini bisa dipersandingkan dengan yang lain. Sangat jauh berbeda dari lelaki yang sudah menolak sahabat saya itu. Saya tahu bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Tapi biarkan saja hanya sedikit ketidak sempurnaan yang dimiliki suaminya.

Saya terperajat ketika mengetahui bahwa sang suami telah lama menaruh hati pada sahabat saya. Tapi ada beberapa hal yang membuat beliau menunda untuk melamar. Dengan sabar dan perasaan cemas beliau menunggu saat yang tepat untuk mengajukan lamaran. Allah Maha Berkehendak. Yang buruk digantikan dengan yang lebih baik. Sesuatu yang seakan indah dihapuskan lalu diganti dengan yang jauh lebih indah.

“Tahu gak? Suami gak suka klo aku kurus hihihi.” Saya hanya bisa tertawa. Hati saya riang bukan kepalang. Sahabatku, sudah selayaknya engkau mendapatkan anugerah indah ini. Kesabaranmu berbalas tunai saat ini. Seperti mimpi rasanya. Seperti cerita sebuah novel romantis. Tapi ini adalah benar adanya. Sebuah keajaiban yang datang setelah banjir air mata yang tiada henti.

Tak peduli apakau kau gendut, kurus, berkulit hitam, rambut keriting ataupun merasa tidak cantik. Yakinlah bahwa diluar sana. Ada seseorang yang selalu merindukanmu dan tak sabar untuk segera menjemputmu. Dia yang selalu melihatmu dari jauh dan menunggu dengan sabar hingga saatnya tiba. Dia yang selalu menyematkan namamu dalam setiap doa-doanya. Dia yang selalu menempatkan dirimu sebagai prioritas. Dia yang menempatkan kebahagianmu sebagai impiannya. Dia yang sudah disiapkan oleh Allah, untuk menemanimu. Seumur hidupmu. Dia yang akan melengkapi segala tawa dan tangismu. Dia yang selalu menunggu senyuman di wajahmu. Maka kau harus tahu. setiap wanita adalah cantik. Bagi dia, engkau wanita yang paling cantik. Meski bagi yang lain tidaklah demikian.

Pembunuh Nyamuk



Saya sedang asyik berbincang dengan saudara di teras. Kebetulan malam itu banyak nyamuk berseliweran. Obrolan kita semakin seru diselingi bunyi tepokan tangan membunuh nyamuk.

“TANTE… jangan dibunuh!” Tiba-tiba ponakan menyerbu kami berdua. Dia sibuk menghalangi tangan kami untuk berburu nyamuk.
“Apaan? Ini kan nyamuk, Dek.”
“Jangan dibunuh!” Lelaki ganteng berumur 6 tahun ini, menampakkan wajah ‘keras’. Saya penasaran dengan sikap dia yang aneh ini.
“Emang kenapa nggak boleh?”
“Kalau mati, nyamuknya tambah banyak yang datang.”
“Loh, kok bisa?” Saya semakin penasaran
“Iya. Temen-temennya pada datang ngelayat.”

Lho! Saya bengong dengan sukses.

“Kalau ada yang mati, banyak temen-temennya yang melayat kan? Iya kan? Trus pas melayat tuh mereka pada bisik-bisik, gitu. Siapa sih yang bunuh? Siapa sih?” Ponakan masih terus berbicara.
“Emang, mereka bisa tahu, siapa yang bunuh?” 

Saya semakin penasaran dengan imajinasi anak ini. Sementara, sepupu saya senyum-senyum sambil mengalihkan pandangan ke sekeliling.

“Ya iya lah. Nyamuk kan datengnya juga berombongan. Pasti ada yang lihat kalau tante bunuh tuh nyamuk.”
“Kalau tak bunuh semua? Serombongan. Kan aman tuh.” Saya mengerling nakal.
“Ya tetep ketahuan. Tangan tante ada bekas darahnya. Nanti bisa ketahuan sama Pak Polisi Nyamuk.” 

Aduh… kok muncul polisi nyamuk segala. Saya mulai menggaruk kepala yang mendadak gatal.

“Ya tanganku tak cuci bersih. Weeek.” Saya menjulurkan lidah padanya.
“Tetep ketahuan, Tante. Bandel amat sih! Kan ada bekas tangan sama bekas kaki nyamuk yang mati. Kan nggak bisa hilang, tuh. Pasti Pak Polisi Nyamuk bakal tahu. Udahlah… emang tante mau disebut pembunuh nyamuk.”

Glek! Kenapa jadi kearah sana. Anak ini, sepertinya terlalu banyak nonton berita kriminal. Kepala saya mendadak diserang pasukan kutu dari empat penjuru mata angin. Hedewww. Sementara itu, ponakan menghalau gerombolan nyamuk, sambil asyik ngobrol dengan para nyamuk.

“Hayoo… pergi… pergi… pergi yang jauh… nanti kamu dibunuh sama Tante Ugik.” 

Jiaaaah… aku kok mendadak jadi manusia paling jahat sedunia. Tapi keren juga sih. Ugik si Pembunuh Nyamuk. Tzaah.

Tuesday, 30 November 2010

Dia Manusia Biasa

Bertahun-tahun silam. Seorang teman bertanya "Kamu pengen suami yang kayak apa sih?". Sebagai jawabannya saya membuat tulisan ini. Lelaki seperti inilah yang saya inginkan menjadi suami. Proses dan pernikahan seperti inilah yang saya cita-citakan. Saya sadar bukanlah seorang muslim yang sangat taat. Saya masih perlu banyak belajar. Boleh kan punya cita-cita :)

Saya tidak menyangka kalau banyak yang suka dan mengirimkan tanggapan japri. Tulisan ini beredar di banyak milist dan blog. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Pertama kali menayangkan tulisan ini blog saya di multiply yang sudah almarhum.
=================
Dia Manusia Biasa
by Ugik Madyo

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja.
Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya ). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol –hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.
Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tahu bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besuk pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak.
Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.
Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha mengabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin .

The Marriage Bureau for Rich People (Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)


Judul : The Marriage Bureau for Rich People (Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

Penulis : Farahad Zama

Penerjemah : Rinurbad

Penyunting : Lulu Fitri Rahman

Penerbit : M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)

Cetakan : 1, Januari 2010

Tebal : 455 hal

ISBN : 602-96255-0-0

Topik cinta tidak akan pernah lekang ditelan jaman. Pun liku-liku perjalanan menemukan cinta adalah tema yang selalu laku untuk dijual. Tentu saja dengan catatan keduanya harus diramu dengan apik. Juga dirangkai dengan sentuhan unik yang mempesona. Farahad Zama melakukan semuanya dalam buku ini. Dan karena buku ini karya terjemahan. Penerjemah mempunyai peran penting untuk menyajikannya. Rinurbad menyajikan dengan penuh kenikmatan. Terjemahan yang mulus dan penggunaan bahasa sederhana membuat buku ini hadir nyaris sempurna. Membaca buku ini, serasa membaca karya lokal. Salut untuk kerja keras penterjemah dan penyunting terjemahan.

Mr. ali, seorang pensiunan PNS yang mencoba membuka usaha biro jodoh untuk mengisi hari-hari pensiunnya. Sebuah usaha unik yang langka untuk dilirik. Dengan keyakinan penuh, Mr. Ali dibantu dengan istrinya memulai usaha ini. Beliau memperlakukan seluruh kliennya dengan sentuhan personal. Beliau sangat menghargai pilihan-pilihan calon mempelai dan keluarganya. Meski kadang membuat Mr.Ali pusing, saking rumitnya kriteria yang ditentukan. Sistem kasta masih dipegang erat dalam tradisi pernikahan India oleh banyak kliennya. Tapi Mr. Ali selalu mempunyai cara cerdik untuk menyiasatinya. Beliau mempunyai system administrasi yang bagus. Tentu saja didukung oleh Aruna, seorang sekertaris yang cerdas dan cekatan.

Mr. ali tidak hanya sebagai biro jodoh. Beliau menempatkan diri sebagai orang tua yang mencarikan jodoh untuk anak-anaknya. Meski anak kandungnya sendiri, Rehman, masih belum ingin menikah. Dia terlalu sibuk berdemonstrasi membela rakyat kecil. Mr. Ali menentang keras keputusan anaknya. Dia menginginkan Rehman hidup normal, memiliki pekerjaan tetap dan menikah. Tapi Mr. Ali menghargai pilihan anaknya.

Mayoritas buku ini menceritakan keunikan proses perjodohan berbagai kasta di India. Proses yang cukup rumit namun juga unik. Zama mendeskripskan dengan detail. Hal ini membuat saya semakin paham akan berbagai sistem perjodohan sebagai suatu hal yang tak bisa diganggu gugat di India. Meski ada beberapa klien yang fleksibel dan bahkan mengabaikan sistem kasta. Keluarga mempunyai peran yang sangat penting untuk mencarikan jodoh anak atau keponakan. Seorang pemudi atau pemuda menemukan jodohnya sendiri dianggap sebagai hal yang memalukan. Ironis, Hal ini justru terjadi pada Aruna.

Salah satu klien, dr. Ramanujam, seorang dokter dari keluarga terpandang yang kaya raya. Dia jatuh cinta pada Aruna dan menginginkan untuk menikahinya. Ketika mendapati cerita sampai pada titik ini, saya memohon dalam hati, jangan sampai buku sebagus ini kejangkitan cinderala complex. Penulis mensiasati dengan berbagai logika cerita yang cukup bisa diterima. Meski awalnya saya menebak Aruna akan menikah dengan seorang kasta Brahmana yang selevel dengannya. Tapi ternyata penulis mempunyai rencana lain untuk Aruna. Ah, tentu saja. Buku yang menarik adalah yang tak bisa ditebak alur dan endingnya.

Ketika saya membaca buku ini. Saya bukan saja mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya dan sejarah tentang India. Saya juga mendapatkan referensi berbakai makanan khas India yang menerbitkan selera. Yang paling penting, saya mendapatkan banyak banyak seklai nasehat dalam mencari jodoh dan juga pernikahan. Hal ini sangat berguna untuk saya. Membaca buku ini seakan saya sedang mendapatkan berjuta ceramah pernikahan dari pengalaman hidup Mr. Ali yang sudah puluhan tahun menikah.

Ada salah satu nasehat Mr. Ali yang membekas mendalam. “… kesalahan manusia, selalu mencari pasangan yang sempurna, padahal mereka bisa bahagia jika berdampingan dengan orang yang cukup baik dan bijaksana.” (hal. 202). Begitupun tentang ucapan Mr. Ali pada Ramanujam, untuk menguji keyakinannya ketika akan menikahi Aruna. Sebuah nasehat tentang mertua dan menantu yang sangat indah “ Istrimu, siapapun dia, meninggalkan rumah ayahnya dan mengikuti suami ke rumahnya. Dia menaruh kepercayaan luar biasa pada suaminya. Kau, sebagai suami, harus menjaga kepercayaan itu, akan timbul konflik antara orangtuamu, terutama ibu, dan istrimu… Mereka mungkin merasa kehilangan anak dan menyerahkannya pada wanita asing. Kau tak boleh membutakan diri dari konflik seperti ini. Kau harus bersikap tegas pada masalah-masalah ini, tidak selalu berpihak pada istrimu, tapi juga tidak selalu mendukung orangtuamu.” (hal. 372).

Menurut saya buku ini sangat direkomendasikan untuk anda yang sedang mencari suami atau istri; anda yang akan menikah; anda yang baru menikah; anda yang sedang goyah dan menginginkan perceraian ataupun anda yang sudah bertahun-tahun menikah. Buku ini akan menyegarkan anda untuk menilik kembali komitmen anda dalam sebuah ikatan pernikahan. Suka atau tidak, komitmen pernikahan akan mengandung konsekuensi manis dan pahit. Selamanya. Hingga diujung usia. Terima kasih untuk Teh Rini. Yang sudah menerjemahkan buku ini sehingga sangat nikmat untuk dibaca.(Ugik)